Radio 24 Jam Nonstop

Radio 24 Jam Nonstop

Ide ideal dalam bayangan saya dalam mengikuti retret adalah berhasil memperhatikan napas baik frekuensi, panjang napas dan lamanya perhatian penuh, singkatnya kualitas memperhatikan napasnya meningkat, syukur-syukur tercerahkan seperti Sidharta Gautama.

Saat meditasi dibimbing hari kedua, tiba-tiba saya menyadari pikiran saya penuh dengan segala jenis nama buah-buahan dan sayur-sayuran. Napas masuk, saya tahu saya sedang bernapas masuk, kemudian muncul brokoli, mau dimasak kapan dan hari apa. Teng…… suara genta, oow….. 2 menit hilang karena brokoli. 

Retret Volunteer 27 – 30 Okt 2022 @PondokSadhanaAmitayus

Syair kedua dibacakan, alih-alih memperhatikan napas dan kata kunci, muncul silih berganti buah naga, papaya, nanas dan lain-lain. Meditasi berakhir antara memperhatikan napas dan upaya membuang pikiran yang penuh dengan segala urusan bahan baku.

Saya mengikuti retret sekaligus berperan sebagai penanggung jawab harian bagian konsumsi bersama beberapa teman yang lain. Karena ini retret panjang maka persediaan bahan mentah pun menggunung memenuhi lemari pendingin dan dapur, entah karena merasa bertanggung jawab terhadap kesejahteraan perut semua peserta, kesegararan bahan baku atau mix match bahan untuk mendapatkan keragaman menu.

Dari sini saya menyadari, ketenangan yang digambarkan orang lain untuk menilai pribadi saya masih  ditahap permukaan, saya masih tidak bisa tenang dan damai memikirkan urusan konsumsi yang terlihat jelas mempengaruhi meditasi formal saya.

Metode latihan yang ditawarkan Plum Village adalah Engaged Buddhism, membawa Dharma dalam hidup keseharian, secara mandiri berlatih untuk berhenti berpikir, bergerak ataupun berbicara dan menggunakan terutama bunyi genta untuk kembali ke napas, makin menyadari tubuh, pikiran ataupun emosi, maka kita akan makin melambat secara alami. 

Monastik dari Plum Village Thailand

Kalau dalam bahasa slank, INI GUA BANGET sampai di hari terakhir saya tiba-tiba menyadari bahwa energi kebiasaan saya dan peserta lain sangat kuat sehingga kami lebih sering tidak berhenti dalam menghabiskan waktu, kami masih dipaksa untuk berhenti pada saat genta atau jam dinding berbunyi. 

Pikiran itu seperti monyet lincah yang meloncat dari satu pohon ke pohon lain, konon itu yang dikatakan para bijaksana, dalam retret ini saya merealisasikan kebenarannya dengan sangat jelas bahwa saya tidak menyadari bahwa otak saya riuh rendah dengan beragam pemikiran dan segala jenis pembicaraan sendiri dan saya tidak menyadari dan mengira semuanya baik-baik saja. Otak saya itu persis seperti kata Thay, radio 24 jam nonstop, alamak!

Pada satu kali Dharma sharing, kami diminta untuk menggambarkan cuaca hati pada hari itu dan menceritakan kepada keluarga diskusi setelahnya, beberapa orang menggambarkan keluarga selain dirinya sendiri, compare to them I felt how selfish I am. Perasaan itu muncul begitu saja, walaupun permintaan fasilitator adalah menggambarkan cuaca hati sendiri, saya tidak salah menggambar diri sendiri namun kenapa ada yang bisa mengikutsertakan orang lain? 

Dalam observasi saya sejauh ini, ini merupakan refleksi dari latihan bodhisatwa, saya bisa benar dan bisa salah, namun latihan ini membuka pintu hati dan pikiran saya, latihan ini tidak bisa dilakukan instan-dadakan, karakter dan terutama kemampuan untuk berhenti adalah hasil dari latihan berkelanjutan.

Tubuh, pikiran dan emosi adalah kesatuan. Emosi akan merefleksikan bentuknya dalam gesture tubuh, semuanya bisa dibentuk dengan pikiran yang stabil terlatih, so far that are what I get from those retreats, thanks for train me. (Kshantica)

Sudahlah, Makan Dahulu Buburmu

Sudahlah, Makan Dahulu Buburmu

Retret @VipassanaCenter Sibolangit

Retret Mindfulness barusan merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Komunitas DOM Menara Air bersama Siddhi dengan dukungan dari Wihara Borobudur Medan. Lokasinya di Sibolangit, Wihara Vipassana Center, dari tanggal 24 sampai dengan 26 November 2017.

Beberapa hari mengikuti retret membuat saya merasa segar kembali, tidak hanya pengetahuan bertambah juga sekaligus memperkuat latihan secara formal dan kemudian dibawa kembali ke latihan sehari-hari yaitu latihan non formal.

Lanjut Tidur
Hari Jumat sore sekitar pukul 15:00an, saya bersama suami berangkat ke lokasi retret dari kantor. Kami berdua meluncur ke Sibolangit dengan kendaraan pribadi, sedangkan peserta lainnya berkumpul di Wihara Borobudur untuk berangkat bersama dengan bus yang telah disewa oleh panitia.

Malam pertama tiba di lokasi, acara dimulai dengan orientasi singkat oleh Suhu Nyanabhadra, kemudian diakhiri dengan mengumpulkan handphone dan pengumuman tambahan dari panitia tentang beberapa hal yang perlu diketahui, setelah itu kami berlatih hening bening (noble silent).

Keesokan harinya, semua peserta bangun pada pukul 05:00 pagi, setelah itu 05:30 sudah berkumpul di aula meditasi untuk memulai sesi meditasi duduk. Maaf, saya tidak bisa ikut pada waktu itu karena saya masih batuk. Saya melihat ke samping tempat tidur melihat anak perempuan saya juga masih tidur, dia tidak ikut meditasi duduk pagi. Anak dan ibu melanjutkan meditasi “tidur”.

Kegiatan berlanjut dengan meditasi jalan pelan di ruangan, mendengarkan pembacaan sutra lalu meditasi jalan pelan di pekarangan wihara. Para peserta biasanya diajak meditasi gerak badan kemudian melanjutkan meditasi jalan menuju ruang makan.

Nikmatnya Bubur
Saya lihat jam sarapan sudah hampir tiba, lalu bergegas ke ruang makan untuk ikut sarapan bersama-sama. Setiap sesi meditasi makan, semua akan duduk dengan hening mendengarkan lima renungan sebelum makan. Pagi itu sungguh beruntung, menunya adalah bubur, dalam hati berkata “Wow, nikmat sekali…..”.

Sarapan pagi itu terasa indah dan nikmat karena ditemani suami, anak, dan semua keluarga besar seperjuangan dalam retret. Saya senang bisa ikut retret bersama keluarga. Saya juga senang dengan meditasi makan (mindfulness eating), setiap orang diwajibkan untuk mengunyah sebanyak 32 kali, dalam hati berkata “Wow, ini kan bubur!”.

Suhu mengangkat pelantang suara (microphone) lalu menyampaikan, “Hari ini kita akan berlatih makan berkesadaran dengan mengunyah 32 kali sebelum ditelan, cukup satu sendok saja, lalu kunyah. Namun, berhubungan hari ini menunya bubur, jadi Anda semua mendapat diskon, boleh kunyah 20 kali saja”.

Di saat itu, kenangan saya muncul begitu saja. Saya ingat bahwa hal ini pernah saya lakukan ketika berusia 8 tahun, waktu itu saya masih kecil. Ketahuilah bahwa pada saat itu kami sekeluarga sering makan bersama-sama. Kakak, adik, dan kedua orang tua. Sekarang saya merasakan perasaan yang serupa makan bersama keluarga. Bayangan itu muncul seketika, lalu saya kembali lagi kepada aktivitas utama saya yaitu mengunyah bubur. Saya sempat membatin, “Sudahlah, makan dahulu buburmu”.

Kamu adalah Dharma
Selesai makan bubur, saya masih duduk merenungkan hal apa yang menarik ketika sedang makan bersama tadi. Doa tadi, doa yang disebut Lima Perenungan Sebelum Makan. Selama ini ketika saya makan yah sudah makan saja. Ternyata apa yang saya makan tadi adalah anugerah dari alam semesta dan hasil kerja keras semua makhluk.

Ya ampun, selama ini saya sering tidak terlalu peduli. Saya sering kesal ketika apa yang mau saya makan tidak sesuai dengan keinginan. Saya selalu merasa ada saja yang kurang, kurang ini, kurang itu, kurang kecap, kurang kerupuk, dan segala jenis kekurangan. Bahkan ketika selesai makan juga masih saja berpikir kurang ini dan itu, merasa tidak puas.

Perenungan sejenak itu membuat saya merasa bahwa sebetulnya kondisi untuk berbahagia sudah tersedia saat ini. “Wahai bubur, terima kasih, hari ini saya mendapatkan pelajaran yang berharga. Wahai bubur, kamu adalah Dharma saya saat itu”.

Sebelum beranjak dari meja makan, saya dengan hening berkata dalam hati, “Semoga apa yang saya makan hari ini dan saat ini menjadi berkah bagi saya atas hasil kerja keras dari semua makhluk dan semoga semua makhluk berbahagia, sadhu…sadhu…sadhu”.

Cerita di atas adalah Dharma Sharing yang saya sampaikan pada sabtu sore, kebetulan waktu itu hanya di bagi 2 grup. Sebut saja grup Bunga, yang mana grup ini adalah semua peserta yang baru pertama kali mengikuti retret hidup berkesadaran. (Sri Astuti)*

*Istri dari 1 orang suami dan Ibu dari 2 orang anak, seorang putra dan putri.

Pertemuan Ordo Interbeing dan Relawan

Pertemuan Ordo Interbeing dan Relawan

Foto Bersama Ordo Interbeing dan Relawan

Ini adalah pertemuan Ordo Interbeing dan Volunteers yang selalu membantu dalam kegiatan Day of Mindfulness (DOM) dan Retret. Ada juga teman-teman dari SIDDHI Medan yang turut serta. Lokasi pertemuan bertempat di cetiya kecil dari Sis Wen Juan (nomor enam dari kanan).

Kegiatan ini mencakup makan dengan hening, meditasi duduk, menikmati teh bersama, dan berbagi Dharma. Pada hari kedua ada workshop bagaimana mengundang genta beserta hal-hal penting yang perlu diperhatikan sebagai fasilitator berbagi Dharma.

Minum teh dengan hening bersama

Bagaimana mengundang genta

Istirahat

Istirahat

Mengetahui kapan perlu istirahat itu penting. Kadang-kadang, kita memaksakan diri dalam latihan atau menerima tanggung jawab terlalu banyak tanpa pertimbangan matang; sehingga kita menjadi sangat lelah dengan mudah marah. Latihan hidup sadar seharusnya tidak melelahkan tetapi semestinya lebih menghasilkan tenaga baru. Namun bilamana kita mengetahui kita sudah lelah, sebaiknya kita segera beristirahat. Minta bantuan teman-teman.

Berlatih dengan kondisi tubuh dan pikiran yang lelah tidaklah bermanfaat; justru bisa memunculkan masalah lebih banyak lagi. Menjaga diri sendiri berarti menjaga komunitas. Istirahat bisa berarti menghentikan apa yang sedang kita kerjakan dan gunakan waktu lima menit untuk berjalan di luar, atau menjalankan puasa selama satu atau dua hari, atau berlatih hening bening (noble silence) selama sekian waktu. Ada banyak cara untuk kita beristirahat, jadi mohon perhatikan irama tubuh dan batin demi kebaikan semua. Relaksasi total adalah sebuah praktik istirahat.

Lakukanlah pernapasan sadar penuh dalam posisi duduk atau berbaring, inilah praktik istirahat. Mari kita pelajari seni beristirahat dan biarkan tubuh dan batin kita memulihkan dirinya sendiri. Dengan tidak memikirkan dan tidak melakukan apa pun adalah seni beristirahat dan penyembuhan.

Mengatasi Kemarahan

Mengatasi Kemarahan

Sewaktu energi marah dan kekesalan muncul, sebagai praktisi meditasi kita harus segera kembali ke bernapas secara sadar dan melakukan meditasi berjalan, untuk menghasilkan energi keadaan sadar-penuh supaya kita dapat mengenali dan mengatasi kemarahan itu.

Napas masuk, aku tahu ada marah yang sedang berada di dalam diriku
Napas keluar, kuatasi energi marah dalam diriku ini dengan baik

Lanjutkan praktik dengan cara itu untuk memproduksi energi keadaan sadar-penuh, untuk mengenali dan memeluk energi marah itu.

Kita sebaiknya jangan membiarkan energi marah itu membesar sendiri; kita harus mengerahkan energi sadar-penuh untuk datang dan menanganinya. Keadaan sadar-penuh itu mirip seorang ibu yang datang memeluk deritanya sendiri yakni bayinya yang sedang menangis. Bila sang ibu sudah mengangkat si bayi yang nangis itu dan dengan lembut menggendongnya, si bayi sudah mulai merasa nyaman. Bila marah dipeluk oleh keadaan sadar-penuh, dia mulai tenang kembali.

Setiap kali marah muncul, silakan praktikkan cara itu, dan jangan mengatakan atau melakukan apa pun atas situasi yang Anda hadapi. Bayangkanlah Anda sedang berada jauh dari rumah, tengah membereskan suatu urusan di luar, dan Anda baru saja kembali dan menemukan rumah Anda terbakar. Hal pertama yang perlu Anda lakukan bukanlah berlari ke lingkungan sekitar Anda untuk mencari biang keladinya, memarahinya, dan menyeretnya ke pengadilan. Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengatasi kebakaran itu sendiri, supaya tidak menghanguskan semuanya. Bila marah sedang mendera Anda, jangan menunduk pada dorongannya untuk mengeluarkan marah dan bertindak. Kembalilah pada pernapasan Anda dan atasi lebih dulu emosi Anda sendiri.

Begitu marah mulai mereda, kita bisa mulai melihat akar masalahnya. Mungkin persepsi keliru yang telah memicunya. Mungkin kita merasa yakin bahwa ada orang yang dengan sengaja telah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati kita, padahal sebenarnya dia tidak bermaksud demikian. Setelah merenungkannya, kita mungkin dapat mengenali persepsi kita yang keliru, yang akan meredakan marah kita. Bila setelah dua puluh empat jam setelah mempraktikkan itu, kita masih belum menemukan jalan keluar maka kita perlu menyampaikan kepada orang itu apa yang terjadi. Bila kita tidak mampu melakukannya dengan tenang secara langsung, kita dapat menulis pesan. Ada tiga hal yang perlu kita sampaikan:

1. Aku marah kepadamu, dan aku ingin tahu kamu tahu
2. Aku berusaha sebisaku untuk bersabar
3. Bantulah aku.

Begitu selesai menuliskan ketiga kalimat itu saja, meski pesan itu belum dikirim, kemarahan kita sudah sedikit mereda.

Bila kita merasa kesal, kita bertanggung jawab untuk memberitahu orang yang membuat kita kesal itu. Orang itu bisa jadi adalah ayah, ibu, kakak atau abang, anak-anak, teman, kolega, atau rekan kerja kita.

Bila orang itu tahu bahwa kita merasa kesal, dia akan menengok ke belakang dan berpikir, “Apa yang telah kulakukan? Apa yang telah kukatakan yang membuatnya kesal?” Maka ketiga kalimat kita tadi juga bisa berfungsi sebagai undangan bagi orang itu untuk berkesempatan belajar pula. Orang itu akan menghargai dan menghormati Anda karena tidak bertindak gegabah karena marah, seperti yang biasa dilakukan oleh orang lain, dan juga menghargai Anda karena tahu apa yang harus dilakukan ketika sedang marah, dan Anda berkesempatan untuk kembali ke pernapasan sadar penuh dan merenungkan situasinya.

Kalimat ketiga adalah kalimat yang paling sulit untuk dikatakan atau dituliskan, karena bila kita sedang marah pada seseorang, kita punya kecenderungan untuk menghukum orang itu dengan mengatakan bahwa kita tidak membutuhkannya sama sekali. Alih-alih melakukan itu, kita harus menemukan keberanian untuk meminta bantuan kepadanya. Kita tahu kenyataan yang sebenarnya—kita memang membutuhkannya—dan kita tidak boleh membiarkan kesombongan menghalangi kita melewati situasi-situasi yang sulit.

Maka setiap kali Anda berhasil mengatakan atau menuliskan kalimat ketiga itu, Anda mulai dapat merasakan kekesalan Anda sudah mulai berkurang.

Silakan tulis tiga kalimat itu dalam selembar kertas seukuran kartu kredit dan simpan dalam dompet Anda. Bila Anda sedang marah, dan terutama bila Anda marah pada seorang yang paling Anda cintai, keluarkanlah kertas itu dan bacalah. Kemudian bila Anda masih saja berada dalam cengkeraman marah, Anda akan tahu apa yang ingin Anda lakukan—dan tidak ingin lakukan.

Ribuan orang kini mempraktikkan ini dan, dengan menggunakan praktik ini, mereka sudah berhasil mengatasi berbagai kesulitan. Semoga Anda pun berhasil!

Sutra Mengetahui Cara Baik Untuk Hidup Sendirian

Sutra Mengetahui Cara Baik Untuk Hidup Sendirian

Aku mendengar sabda ini dari Buddha, suatu ketika beliau tinggal di Wihara Hutan Jeta di kota Sawatthi. Beliau mengundang semua biksu datang dan memberikan petunjuk
“Para biksu”
Dan kemudian para biksu menjawab, “Ya kami sudah hadir di sini”

Buddha menyampaikan, “Saya akan menjelaskan makna dari “mengetahui cara baik untuk hidup sendirian.” Saya akan mulai dengan garis-garis besarnya, dan saya akan memberikan penjelasan mendetail kemudian. Biksu mohon dengarkanlah secara seksama”

“Buddha, kami sudah siap”

Buddha bersabda:
“Jangan mengejar masa lalu
Jangan terhanyut oleh masa depan
Masa lalu sudah pergi
Masa depan belum juga tiba
Menatap secara mendalam atas kehidupan sebagaimana adanya
Di saat ini dan di sini,
Praktisi bersemayam
Dalam stabilitas dan kebebasan.
Hari ini kita harus rajin.
Jangan menunggu sampai besok, karena terlambat sudah
Kematian datang secara mendadak
Bagaimana engkau bisa tawar-menawar degannya?
Para orang suci menyebut mereka yang
Bersemayam dengan penuh kesadaran
Siang dan malam adalah
Mereka yang tahu cara baik untuk hidup sendirian.’

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘Mengejar masa lalu’? Ketika seseorang memikirkan bahwa demikianlah bentuk badan jasmani pada masa lalu, demikianlah perasaan pada masa lalu, demikianlah persepsi pada masa lalu, demikianlah bentuk-bentuk mental pada masa lalu, demikianlah kesadaran pada masa lalu, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya terbebani dan melekat pada hal-hal yang telah terjadi pada masa lalu, maka orang tersebut sedang mengejar masa lalu”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘tidak mengejar masa lalu’? Ketika seseorang memikirkan bahwa demikianlah bentuk badan jasmani pada masa lalu, demikianlah perasaan pada masa lalu, demikianlah persepsi pada masa lalu, demikianlah bentuk-bentuk mental pada masa lalu, demikianlah kesadaran pada masa lalu, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya tidak diperbudak oleh kemelekatan dan juga tidak melekat pada hal-hal yang telah terjadi pada masa lalu, maka orang tersebut tidak mengejar masa lalu”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘terhanyut oleh masa depan’? Ketika seseorang memikirkan seperti apa bentuk badan jasmani di masa depan, memikirkan seperti apa perasaan di masa depan, memikirkan seperti apa persepsi di masa depan, memikirkan seperti apa bentuk-bentuk mental di masa depan, memikirkan seperti apa kesadaran di masa depan, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya terbebani dan melamun akan hal-hal di masa depan, maka orang tersebut terhanyut oleh masa depan”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘tidak terhanyut oleh masa depan’? Ketika seseorang memikirkan seperti apa bentuk badan jasmaninya di masa depan, memikirkan seperti apa perasaannya di masa depan, memikirkan seperti apa persepsinya di masa depan, memikirkan seperti apa bentuk-bentuk mentalnya di masa depan, memikirkan seperti apa kesadarannya di masa depan, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya tidak terbebani dan tidak melamun akan hal-hal di masa depan, maka orang tersebut tidak terhanyut oleh masa depan”

“Para biksu, apa yang dimaksud ‘terlena jauh oleh masa kini’? ketika seseorang tidak studi atau tidak belajar sesuatu tentang Buddha, atau ajaran tentang cinta kasih dan pengertian, atau komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan kesadaran, ketika orang tesebut tidak tahu apa pun tentang guru mulia dan ajaran-ajarannya, dan tidak berlatih ajarannya, kemudian dia merasa bahwa ‘badan jasmani ini adalah diriku; diriku adalah jasmani ini, perasaan ini adalah diriku; diriku adalah perasaan ini. Persepsi ini adalah diriku, diriku adalah persepsi ini. Bentuk-bentuk mental ini adalah diriku, diriku adalah bentuk-bentuk mental ini. Kesadaran ini adalah diriku, diriku adalah kesadaran’ maka orang tersebut sedang terlena jauh oleh masa kini.’

“Para biksu, apa yang dimaksud ‘tidak terlena jauh oleh masa kini’? ketika seseorang studi atau belajar sesuatu tentang dia yang telah tercerahkan, atau ajaran tentang cinta kasih dan pengertian, atau komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan kesadaran, ketika orang tesebut tidak tahu apa pun tentang guru mulia dan ajaran-ajarannya, dan tidak berlatih ajarannya, kemudian dia tidak merasa bahwa ‘badan jasmani ini adalah diriku; diriku adalah jasmani ini, perasaan ini adalah diriku; diriku adalah perasaan ini. Persepsi ini adalah diriku, diriku adalah persepsi ini. Bentuk-bentuk mental ini adalah diriku, diriku adalah bentuk-bentuk mental ini. Kesadaran ini adalah diriku, diriku adalah kesadaran’ maka orang tersebut tidak terlena jauh oleh masa kini.

“Para biksu, saya telah menyampaikan garis-garis besar dan penjelasan detail tentang bagaimana cara baik hidup sendirian.”

Demikianlah yang diajarkan oleh Buddha, dan para biksu dengan senang hati menerapkan ajaran.

Bhaddekaratta Sutta, Majjhima Nikaya 131