Menepi Sebentar Mengeluarkan Kerikil Kecil dari Sepatu

Menepi sebentar

Sudah 40 tahun lebih saya menjalani hidup, walaupun banyak kondisi yang sudah saya lalui, tetapi saya tidak pernah paham arti kehidupan. Bagi saya bangun pagi, ke kantor, pulang dan tidur merupakan rutinitas yang kewajiban yang dilakoni setiap hari.

Ada seorang guru yang saya hormati, ia sering memberikan kata “kunci” untuk membuka pintu kebodohan dan kemelekatan saya. Suatu hari ia memberikan izin kepada saya untuk pergi berlatih di Plum Village Thailand.

Saya juga bersyukur karena ada seorang sahabat juga mendukung saya. Kami berkumpul dan belajar dalam jumlah peserta yang lumayan banyak dan dari berbagai Negara dan dari berbagai daerah di Indonesia.

Ritme Berjalan

Saat meditasi pagi, kami diminta duduk hening di baktisala,  setelah itu kami meditasi jalan. Saya mengenakan jaket karena masih sangat pagi dan cuaca dingin. Kondisi sekitar gelap, sehingga penglihatan sungguh terganggu. Tidak bisa melihat dengan jelas, berjalan tanpa arah tujuan, hanya mengikuti peserta lain yang jalan di depan.

Semua peserta berjalan dengan ritme yang berbeda, dengan cara yang berbeda. Tidak lama berjalan, ada batu kecil yang masuk dalam sepatu, membuat langkah saya tidak nyaman karena sakit. Saya masih tetap berjalan sampai akhirnya menepi. Agar tidak menghalangi peserta di belakang saya untuk melangkah, saya mengeluarkan batu kecil dari sepatu, setelah itu melangkah kembali.

Jalan yang kami lalui ada yang berbatu kecil-kecil, ada yang hanya tanah tanpa rumput, ada juga jalan yang lebih lembut karena basah, ada juga jalan yang datar dan yang tidak datar.

Selama kurang lebih 45 menit kami berjalan, matahari mulai bersinar, lingkungan di sekitar mulai kelihatan dengan jelas, ada berbagai tanaman buah, bunga dan rumput yang ikut tumbuh, ada banyak jenis dan bentuk batu di tempat kami berjalan.

Mengikuti Rutinitas

Saya mulai menikmati pemadangan, merasakan hangatnya matahari, melihat langit, matahari dan tanaman di sekitar terasa indah. Apa pun yang saya lihat indah, udara menyegarkan, cuaca menyejukkan, suara alam begitu damai. Matahari terbit terasa indah, terbenam juga indah, bulan juga indah, sampai rumput yang tumbuh pun terasa indah, membawa kedamaian.

Hari kedua meditasi jalan, saya memaknai hidup sama dengan meditasi jalan. Hidup tanpa tujuan, tanpa mengetahui apa yang kita inginkan dan kita butuhkan, sama halnya dengan berjalan dalam kegelapan, kita melewati hari hanya mengikuti rutinitas.

Semua orang punya cara dan reaksi yang berbeda dalam setiap kondisi yang dihadapinya, sama halnya saat berjalan dengan ritme berbeda dan juga cara berjalannya. Saat orang lain yang tidak sengaja melukai kita, sama halnya dengan batu kecil tidak tidak sengaja masuk ke dalam sepatu.

Perjalan hidup terkadang lancar, terkadang tidak lancar, sama halnya dengan medan jalan yang dilalui, berbatu, berpasir, penuh rumput atau tidak rata.

Titik Terang

Jika kita dapat terus bertahan dan melangkah maju, akan ada titik terangnya, tidak selamanya berjalan dalam kegelapan, ada matahari yang terbit menggantikan gelap menuju terang, hangatnya matahari mengusir rasa dingin yang dirasakan di awal berjalan.

Sepanjang menjalani kehidupan, pikiran dipenuhi dengan hal-hal positif, memancarkan cinta kasih ke semua akan terasa begitu indah. Matahari di Thailand dan di Indonesia sama saja,yang berbeda adalah bagaimana cara kita melihat, merasakan dan menanggapi hal yang berada di hadapan kita.

Jika sangat lelah, sedih dan kecewa, jangan dipaksakan, kita bisa menepi sebentar, mengeluarkan batu kerikil kecil yang tanpa sengaja masuk ke sepatu kita. Setelah siap kita baru melangkah kembali.

Saat berjalan terlalu cepat, di dalam kegelapan, tanpa sengaja menabrak atau menyakiti orang yang kita lalui dan tidak melihat sekitar, kita hanya fokus di depan, bagaimana bisa lebih cepat.

Saat berjalan terlalu lambat, kita ketinggalan barisan, tidak ada yang bisa kita minta bantuan. Berjalan tidak perlu terlalu cepat atau terlalu lambat, tapi mengikuti irama, mendengar suara alam, melihat keindahan di hadapan kita, perasaan damai membawa kebahagiaan.

Lepaskan

Sahabatku, terima kasih punya kondisi yang sangat baik bisa bertemu dan berlatih bersama. Sahabatku begitu luar biasa, belajar bersama selama beberapa hari, membuat saya mengerti bahwa di atas langit ada langit lagi. Membuat saya merasa begitu kecil dan membuat saya melihat keakuan yang ada di dalam diri saya.

Saya bukan orang yang paling menderita, saya bukan orang yang paling benar, semua orang ada masalah yang dihadapinya, akan tetapi reaksi dan cara menyelesaikannya adalah yang paling penting. Akhirnya sampah yang saya pungut dalam perjalanan hidup akhirnya bisa saya lepaskan.

Jika Anda melepas sedikit, Anda akan sedikit damai, Jika Anda melepas banyak, Anda akan banyak damai, Jika anda melepas penuh, Anda akan mengetahui kedamaian dan kebebasan penuh, Pergulatan Anda dengan dunia akan berakhir sudah

(Hello Happiness, Ajahn Brahm)

Saya akan berbagi sebuah kata kunci dari suhu :
Janganlah terpengaruh oleh masalah, kegelisahan, tidak nyaman, dan kemelekatan orang lain. Itu adalah urusan mereka. Suka, tidak suka, senang, tidak senang, nyaman, tidak nyaman biarlah mereka sendiri mengurusnya. Sementara ini, kita cukup menjaga kesadaran, terus belajar, berlatih dan berpraktik Dharma.

Terima kasih SUHU,

SVD