Thich Nhat Hanh

Thich Nhat Hanh
Thich Nhat Hanh
Thich Nhat Hanh, foto oleh Paul Davis

Thich Nhat (Vietnam: Nhất Hạnh) lahir pada bulan 11 Oktober 1926 di Sentral Vietnam, beliau yang akrab di sapa Thay yang berarti guru; merupakan biksu zen yang berasal dari Vietnam, penulis, penyair, dan aktivis hak azasi manusia, ia yang sudah berusia 99 tahun sekarang ini juga merupakan sosok yang sangat dikagumi oleh masyarakat dunia dewasa ini.

Thay bergabung dengan Biara Zen pada umur 16 tahun, mulai belajar ajaran Buddha sejak samanera, kemudian menerima penahbisan penuh sebagai biksu pada tahun 1949. Nama lengkap Thay adalah Thich Nhat Hanh (Vietnam: Thích Nhất Hạnh), nama keluarga Thích diberikan kepada semua biksu maupun bhiksuni di Vietnam, yang berarti bagian dari suku Shakya (Buddha Shakyamuni).

Di awal tahun 1960an, pada masa perang Vietnam, Thay mendirikan organisasi sosial School of Youth for Social Service (SYSS) di Saigon yang terdiri dari lapisan masyarakat akar-rumput untuk membantu meringankan penderitaan korban perang dan membangun kembali desa-desa yang hancur akibat bom, membangun sekolah dan pusat perawatan kesehatan, mencari cara untuk melakukan penempatan ulang masyarakat yang kehilangan rumahnya.

Thay menempuh perjalanan ke Amerika Serikat dan belajar di Universitas Princeton, dan kemudian menjadi dosen di Universitas Cornell dan Universitas Columbia.

Tujuan utama kunjungannya ke Amerika adalah untuk mendesak pemerintah Amerika untuk menarik diri dari kancah perang Vietnam, Thay sungguh tidak ingin melihat saudara membunuh saudara di Vietnam, Dr. Martin Luther King, Jr tersentuh oleh pembawaan eling, damai dan tenang Thay ikut mendukung untuk segera mengakhiri perang Vietnam melalui gerakan non kekerasan, Thay juga berbicara di hadapan berbagai kelompok perdamaian. Thay juga memimpin delegasi Buddhis berpartisipasi dalam Perbincangan Perdamaian di Paris.

Pada tanggal 25 January 1967 Institut Nobel di Norwegia melayangkan sebuah surat untuknya, Martin Luther King menominasi Thay sebagai penerima Hadiah Perdamaian Nobel.

Seorang guru yang sangat dikagumi oleh dunia barat, Thay termasuk tokoh yang berjasa dalam membawa Ajaran Buddha ke dunia barat, melalui latihan hidup sadar ternyata berbagai kalangan yang berasal dari latar belakang relijius, spiritual dan pandangan politik berbeda-beda bisa menerimanya dengan begitu alami. Latihan hidup sadar dengan perhatian penuh (mindfulness) merupakan adaptasi dari sensibilitas nuansa Barat. Pada tahun 1966 Thay mendirikan Order of Interbeing, secara alami berbagai pusat latihan monastik dan pusat latihan lainnya juga bermunculan di berbagai belahan dunia.

Sejak perjalanannya ke dunia barat dan aktivitas menyerukan perdamaian, Thay harus mengasingkan diri di dunia eropa, ia tidak bisa pulang kembali ke kampung halamanya lagi yaitu Vietnam, kejadian ini melahirkan pusat retret seni hidup berkesadaran yang bertempat di daerah Dordogne Perancis Selatan, bernama Plum Village, telah menjadi rumahnya, sejak itu beliau berkunjung ke komunitas internasional untuk memberikan ceramah dan retret. Thay juga yang merupakan inisiator istilah Engaged Buddhism (Ajaran Buddha yang aktif terjun ke berbagai aspek kehidupan) dalam bukunya yang berbahasa Vietnam dengan judul: Lotus in a Sea of Fire.

Karena menolak berpihak pada salah satu blok (komunis maupun anti komunis), beliau diasingkan oleh pemerintah Vietnam sejak lama. Thay baru diizinkan pulang ke Vietnam pada tahun 2005 dan 2007. Thay telah menulis lebih dari 100 judul buku, mencakup lebih dari 40 judul yang berbahasa Inggris. Beliau juga menerbitkan Ceramah Dharma per kuarter dalam Jurnal Order of Interbeing, The Mindfulness Bell. Thay terus aktif berkarya dalam pergerakan perdamaian, memberi sponsor retret untuk peserta dari Israel dan Palestina, mendukung kedua pihak untuk mendengar secara mendalam dan saling belajar dari sesamanya. Beliau berulang kali memberi pidato untuk mendesak negara-negara yang terlibat dalam pertikaian untuk berhenti berperang dan jadikan non-kekerasan sebagai solusi bagi berbagai sengketa; Pada tahun 2005 dan 2007, beliau meminpin “perjalanan perdamaian” di Los Angeles, dihadiri oleh ribuan orang demi untuk memberi dukungan kepada para biksu yang sedang melakukan demonstrasi di Myanmar. Beliau juga dianugerahkan “Courage of Conscience” pada 16 Juni 1991. Selain memberi bimbingan retret, ia juga tur ke berbagai negara Eropa, Amerika, dan Asia untuk berbagi seni hidup berkesadaran bersama 4 lapisan sangha (monastik dan sahabat awam).

Selamat Datang OI Baru

Selamat Datang OI Baru

Tepatnya sehari sebelum natal, 24 Desember 2016, grup sukarelawan (volunteers) dari Jakarta, Bogor, dan Medan berangkat ke Plum Village Thailand untuk mengikuti Core Sangha Retreat yang berlangsung dari 25 Desember 2016 sampai dengan 1 Januari 2017.

Ditengah hiruk-pikuk di luar, justru banyak orang asia yang berdatangan dari Singapura, Malaysia, Filipina, Korea, Taiwan, Tiongkok, Jepang, Vietnam, dan masih banyak lagi. Mereka datang untuk mengikuti retret tahunan untuk para sukarelawan yang merupakan praktisi dan sekaligus aktivis yang membantu dalam menyelenggarakan retret dan kegiatan di masing-masing negara.

Desember 2016. Zen Master Thich Nhat Hanh di Plum Village Thailand

Retret kali ini merupakan berkah tersendiri, karena Zen Master Thich Nhat Hanh sedang berada di Plum Village Thailand, semua orang sempat terkesima dan merasa takjub karena beliau masih begitu “jernih” dalam berbagai hal. Beliau ditemanin Sr. Chan Khong beserta asisten lainnya yang berjumlah puluhan yang terbang dari Perancis ke Thailand.

Delegasi Indonesia berfoto bersama Sr. Chan Khong

Suasana retret memberi siraman energi sadar, damai, ketenangan, dan kebahagiaan buat semua. Sebanyak 2 orang dari Medan menerima penahbisan Ordo Interbeing dengan berkomitmen menjalankan 14 Latihan Sadar Penuh, mereka adalah Wati yang akrab di sapa Sis Wenjuan dan satu lagi Erly.

Dari Kiri, Anita, Wati (OI Baru), Liana, Br. Phap Thuyen, Br.Phap Tu, Finny, Erly (OI Baru), Ellyana, Ongraini

Di penghujung retret, masing-masing negara juga berkesempatan memperkenalkan makanan daerahnya masing-masing. Teman-teman dari Indonesia sama-sama menyediakan pecel. Makanan diletakkan di meja untuk dinikmati dalam bentuk buffet. Sore itu indah dan sejuk, semua peserta mencicipi masakan dan makanan dari berbagai negara sambil duduk lesehan di tikar yang sudah disediakan, suasana kekeluargaan sungguh menyejukkan.

Buffet Internasional, Pecel Indonesia

Retret berakhir tanggal 1 Januari, dan delegasi Indonesia menyempatkan diri bermain-main 2 hari di Bangkok dan sekitarnya, mengakhiri perjalanan menyenangkan retret akhir tahun di Plum Village Thailand.

Jalan-jalan di Bangkok dan sekitarnya
Peserta termuda dari Indonesia; Feri dan Miliardi

Jalan Berkesadaran – Thich Nhat Hanh

Jalan Berkesadaran – Thich Nhat Hanh

Sosok tubuh seperti melayang menuju ke tengah panggung kosong. Setiap geraknya hening, seperti menghayati setiap tarikan dan embusan napas. Setelah duduk merapikan jubah, Thich Nhat Hanh (84) melalukan anjali. Ia membungkukkan tubuh, mengatupkan kedua tangan, membentuk kuncup bunga, seperti menyodorkan “sekuntum teratai untukmu”; simbol kedamaian dan kesadaran akan kesalingterkaitan.

Oleh: Maria Hartiningsih
Sumber: Kompas cetak tahun 2010

Zen Master Thich Nhat Hanh memberikan wejangan Dharma di tahun 2010 di Indonesia

Keheningan sekitar lima menit seperti ritual, membumikan kaligrafi “Practice from the heart” yang melatari panggung, sebelum Thay—sapaan akrab Bhante Thich Nhat Hanh di Plum Village, yang artinya Guru, dalam bahasa Vietnam—memulai ceramahnya di depan sekitar 900 peserta retret di Caringin, Sukabumi, pekan lalu.

Ia berbicara tanpa teks, sambil duduk, kadang berdiri, berjalan perlahan ke papan tulis, menjelaskan istilah-istilah dalam psikologi Buddhisme dengan contoh-contoh sederhana dari kehidupan riel. Humornya subtil. Ketika lonceng kesadaran bergema, dia berhenti, kembali pada keheningan sepanjang tiga kali embusan napas.

Keteduhan Thay memancarkan tatapan mata dan bibir yang selalu tersenyum, Namun, suara lembut di balik tubuh yang tampak ringkih itu mengandung energi ajaib yang menggedor kesadaran terdalam, menguakkan selubung demi selubung penderitaan di balik realitas yang ditangkap sepintas oleh lima indera.

Ceramah Dharma selama empat hari itu mengeluarkan orang dari gulungan hidup serba cepat, kompetisi ketat meraih lebih banyak dan lebih banyak lagi, mengejar batas tak terbatas; ilusi “kemajuan” dan “kesuksesan”.

Kejaran target membuat orang tak punya lagi kemampuan menghidupi momen demi momen berharga dalam kehidupan sehari-hari, seberapa pun besar kekayaan dan kemewahan material yang dimiliki. Kemampuan mendengar sirna. Komunikasi di dalam dan di luar rumah macet, tidak bisa saling mengerti, tidak bisa melihat penderitaan orang lain, terus menuduh dan menyalahkan pihak lain. Sikap itu menggelembungkan persepsi yang keliru, melahirkan kegelisahan, kemarahan, kebencian, ketakutan, kekerasan, kalau akarnya tidak dikenali.

Ia menceritakan kisah seorang suami yang menuduh istrinya berselingkuh selama beberapa tahun ia berada di medan perang. Persepsi itu keliru, tetapi tak pernah terkuak karena keduanya membisu, sang istri dikuasai kesedihan, sampai memutuskan bunuh diri. Suatu malam, di bawah lentera, si anak menunjuk bayangan di dinding, “Pak, Ibu bilang itu ayahku…”

Perang dan terorisme, menurut Thay, juga lahir dari persepsi keliru. Akarnya, kesalahpahaman, nir-toleransi, kebencian, ketiadaan harapan dan pembalasan, tak bisa disentuh apalagi dihancurkan oleh bom dan peluru kendali. “Persepsi keliru adalah sumber segala penderitaan,” tutur Thay.

Ajakan “Pulang”

Retret selama lima hari itu adalah ajakan “pulang ke rumah”; di sini, kini (in the here and now). Latihan meditasi adalah kembali kepada napas berkesadaran dan jalan berkesadaran. Napas adalah sahabat setia, seperti bumi solid tempat berlindung dari berbagai situasi mental, pikiran, emosi, dan persepsi.
“Bagi praktisi meditasi, kalau Anda sedang marah, Anda tidak akan melakukan apa pun kecuali kembali kepada napas untuk mengetahui apakah akar kemarahanmu berasal dari persepsi kekeliruan. Kalau Anda mengenalinya, Anda terbebaskan….”

Meditasi Jalan berkesadaran bersama di pagi hari

Menurut Thay, di dalam kesadaran terdapat sedikitnya dua lapisan. Di lapisan bawah, menurut tradisi Buddha, tersimpan 51 benih yang muncul sebagai mental positif dan negatif. Di lapisan atas adalah kesadaran pikiran atau bentuk-bentuk mental.
“Ketika benih kemarahan bermanifestasi menjadi bentuk mental, kita tak boleh membiarkannya terlalu lama sendirian di dalam kesadaran kita. Kita harus mengundang benih kebersadaran untuk menjaganya, menenangkannya.”

Thay melanjutkan, “Benih kebersadaran akan mengenali benih-benih negatif yang muncul. Tiada ada pertempuran di antara dua energi itu. Tugas benih kebersadaran adalah mengenali benih lain sebagaimana adanya, lalu memeluknya lembut, seperti ibu memeluk anaknya yang menangis. Prinsip meditasi Buddhis adalah nondualitas dan nonkekerasan. Nondualitas berarti engkau adalah kemarahan dan kebersadaran.”

Latihan berkesadaran melalui bernapas dan berjalan membuat benih kebersadaran menjadi bentuk mental dan meningkatkan energi kebersadaran.

“Sebagai praktisi meditasi, Anda harus mengawasi hakikat pikiran yang berasal dari salah satu dari 51 bentuk mental. Kalau yang diproduksi adalah pikiran welas asih, maka yang muncul adalah sikap saling pengertian, welas asih dan non-diskriminasi. Inilah yang disebut berpikir benar oleh Buddha.”

Latihan kebersadaran juga mencakup berpikir benar, pandangan benar, berbicara benar, dan bertindak benar. “Berpandangan benar yang didapat dari latihan meditasi, kebersadaran, dan konsentrasi membantu kita menyentuh kebenaran interbeing (saling menjadikan), kesalingterkaitan, kebenaran kesementaraan dan non-diri..”

Dalam bahasa yang lebih sederhana, latihan hidup berkesadaran adalah latihan eling (dan wasapada), dengan menemukan “maitri” di dalam diri. Kualitasnya disimbolkan sebagai bunga merekah, embun segar, kesolidan gunung, dan kekokohan bumi, ketenangan dan kejernihan air, dan ruang tak bersekat di angkasa luas.
“Maitri tak bisa dibeli dengan uang berapa pun banyaknya,” ujar Thay.

Sang Guru

Thich Nhat Hanh dikenal sebagai salah satu Guru Zen terkemuka, intelektual, sekaligus penyair, penulis (menulis lebih dari 100 buku, diterjemahkan dalam berbagai bahasa, yang terbaru adalah The World We Have: A Buddhist Approach to Peace and Ecology), tokoh perdamaian internasional. Menurut Sister Chan Khong dalam bukunya Learning True Love: Pengamalan Ajaran Buddha di Masa Tersulit (1933, terjemahan 2009), Thay suka berkebun dan ahli dalam pekerjaan manual.

Sister Chan Khong, asisten dan murid tertua Bhante Thich Nhat Hanh

Dilahirkan di Vietnam Tengah, 11 Oktober 1926, ia menjalani hidup yang luar biasa. Ia mengalamai tiga perang, bertahan hidup dari penyiksaan, dan lebih dari 30 tahun di pengasingan. Lulusan Universitas Princeton, Amerika Serikat dan pernah mengajar di Universitas Cornell dan Universitas Colombia di AS itu juga mendirikan organisasi pelayanan sosial, menyelamatkan manusia perahu, dan memimpin Delegasi Buddhis Vietnam pada Perundingan Perdamaian Paris. Martin Luther King menominasikannya sebagai penerima Penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1967.

Sejak usia 16 tahun, ia telah menjadi samanera (calon biksu), aktivis perdamaian, dan pencari jalan. Dia adalah kepala sebuah wihara di Vietnam yang silsilahnya dapat ditelusuri sampai lebih dari 2.000 tahun ke belakang.

Ia mendirikan Universitas Buddhis Van Hanh dan Ordo Interbeing, dan membangun jalan untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai “Engaged Buddhism”; praktik penghayatan nilai-nilai spiritual dalam tindakan sehari-hari.

Thay mendapat suaka dari pemerintah Perancis dan kemudian membangun dan memimpin komunitas Plum Village di Selatan Perancis, wihara Buddha dan pusat pelatihan hidup berkesadaran bagi orang awam.

Biksuni Chan Khong Kembali Datang Ke Indonesia

Biksuni Chan Khong Kembali Datang Ke Indonesia
Sister Chan Khong bersama asisten

Kesempatan untuk dapat belajar langsung dan merasakan aura kedamaian dari para guru Dharma internasional yang berkualitas tidaklah mudah didapat, dibutuhkan adanya akar kebajikan yang cukup pada diri kita. Sebagian dari guru Dharma tersebut kini sudah wafat, sebagian lagi juga sudah lanjut usia. Kadang kita berkejaran dengan waktu untuk dapat berjumpa dengan mereka.

Biksuni Thich Nu Chan Khong, atau biasa disapa Sister Chan Khong, adalah murid paling senior dari Zen Master Thich Nhat Hanh, beliau memiliki kemampuan untuk mengajarkan Dharma dengan cara yang menyentuh hati. Retret yang diadakan di Kinasih Resort pada tanggal 7-10 Mei 2009 ternyata begitu menarik perhatian umat Buddha di Indonesia sehingga jumlah pendaftar mencapai 400 orang.

Retret tahun 2009 bersama Sister Chan Khong, yang memberikan manfaat dan sangat berkesan bagi para peserta, ternyata telah membuka jalan bagi kehadiran Zen Master Thich Nhat Hanh di Indonesia setahun kemudian. Retret yang berlangsung di Kinasih Resort pada tanggal 29 September – 4 Oktober 2010 yang semula ditargetkan untuk 700 peserta akhirnya diikuti oleh 900 peserta dengan 68 monastik Plum Village dan 30 monastik Indonesia.

Thich Nhat Hanh di Indonesia 2010

Indonesia menanti 5 tahun untuk dapat kembali mengadakan retret yang jumlah pesertanya besar namun hasilnya menakjubkan ini. Metode Plum Village memang menekankan kekuatan dukungan komunitas yang bersama-sama berlatih hidup sadar (mindfulness). Zen Master Thich Nhat Hanh (89 tahun) saat ini masih dalam pemulihan dari kondisi sakit, namun melalui Sister Chan Khong (77 tahun) beserta 40 monastik Plum Village lainnya kehadiran Zen Master Thich Nhat Hanh akan dapat dirasakan oleh para peserta Retret Umum & Keluarga pada long weekend 14 – 18 Mei 2015 di Hotel Yasmin, Cipanas-Cianjur.

Ular, Tali, dan Kekosongan Sejati

Ular, Tali, dan Kekosongan Sejati

Pertemuan dengan Biksuni Chan Khong dimulai dengan makan pagi di sebuah rumah di kawasan Tanjung Duren, Jakarta, F-22 sebutannya. Kami dipenuhi rasa syukur akan karunia kosmos yang muncul dalam bentuk sarapan. Nasi tim dan sop menjadi lebih nikmat ketika kami mengunyah dan menelan dengan berkesadaran (mindfulness), Sekitar setengah jam kami mencurahkan segala indera kami untuk menikmati sarapan, diselingi satu-dua kalimat.

Oleh: Brigitta Isworo Laksmi (11 Mei 2009)

Sr. Chan Khong

Biksuni Chan Khong—berarti “Kekosongan Sejati”–pada kamis (7/5) pagi itu bertutur panjang tentang misperception, diawali dengan cerita tentang perang tiga dekade di negeri leluhurnya, Vietnam, yang berawal pertengahan 1940-an. Pengalaman semasa Perang Vietnam mengisi 2/3 bagian dari bukunya, Learning True Love, Pengamalan Ajaran Buddha di Masa Tersulit, yang kamis itu diluncurkan.

Dia menuturkan momen ketika dia didera keputusasaan dan dikuasai kemarahan. Saat itulah dia mencoba bertahan, bertahan tetap mengarahkan diri pada keindahan, keluhuran, dan pengertian. Momen itu muncul ketika ratusan orang berkumpul dan granat diledakkan di situ. Sebanyak 24 temannya langsung tewas, sementara 24 orang di bawah ke rumah sakit, luka parah.

“Sulit memang, namun ingat apa yang ditawarkan Buddha, bahwa setiap orang, tidak harus pengikut ajaran Siddharta Buddha, memiliki perasaan damai, iba, cinta, dan memiliki terang di dalam diri mereka yang terdalam,” katanya.

“Ketika perang berkecamuk, saya menyaksikan teman saya melepas ajal. Pada saat seperti itu, kita bisa menyentuh kedamaian dalam diri, melalui pernapasan. Saya menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan. Berkali-kali, satu…dua… Itu untuk memutus hubungan kita dengan perasan marah,” ungkapnya.

Bernapas, benar-benar menghayati proses pernapasan, amatlah penting. “Kita tidak bicara, tidak bertindak, dan tidak berpikir. Bernapas adalah jalan keluar dari kemarahan, kebencian, keputusasaan, dan rasa takut. Pernapasan adalah penghubung antara pikiran dan tubuh. Solusi hadir ketika kita bernapas,” ujarnya.

Di bukunya dia menulis: suatu kali dia dilarang mendampingi 566 manusia perahu ke Australia. Dia menangis dan menangis. “Kalau saja ketika itu saya bernapas, mungkin saya bisa berpikir dan bisa mencarikan donatur agar mereka bisa diangkut dengan kapal yang lebih layak,” kenangnya kemudian.

Pernapasan adalah cara baik untuk menyentuh realitas perdamaian, pengertian, dan cinta kasih—sebut sebagai Buddha Nature, God in You, Allah in You, atau perasaan akan kebaikan, pengertian, dan rasa cinta. Dalam diri setiap manusia ada bibit-bibit perdamaian, cinta, dan rasa kasih.

“Ketika sampai ke titik itu, saya bisa menyatakan kepada pembunuh itu, ‘Kami tidak membenci kalian. Ini hanyalah akibat pemahaman yang keliru (misperception) terhadap kami.’ Salah satu pembunuh itu lalu mengelus kepala temannya dan bertanya, ‘Engkau benar dari sekolah itu?’ Ketika diiyakan, pembunuh itu berkata, ‘Maafkan, tetapi saya diperintahkan membunuh kamu.’ Dan pistol pun meledak. Pembunuh itu meminta maaf. Di dalam hatinya yang terdalam dia punya kasih,” ujar Chan Khong.

Misperception telah menyingkirkan perdamaian dan membawa penderitaan. Dalam ajaran Buddha disebutkan, saat memandang sesuatu sesungguhnya kita hanya bisa menangkap 20 persen dari apa yang kita lihat. Meski demikian, kita selalu berkeyakinan mampu menangkap keseluruhannya. Bahkan suami-istri pun demikian. Selalu merasa tahu semua tentang pasangannya, padahal hanya tahu 40-50 persen. Sisanya terpengaruh latar belakang sosial dan pendidikan. Ketika pasangan bertindak berbeda dari yang dia pikir, mereka pun bertengkar. Menurut Chan Khong, yang harus dilakukan hanya bertanya dengan penuh rasa cinta tentang apa sebenarnya maksud pasangan.

Ketika muncul misperception, yang tampak adalah ular. Ular yang harus dipukul. Padahal sebenarnya adalah tali (rope). “Kalau itu tali, yang dia pukul hanya tali. Namun ketika misperception terhadap orang lain, dia bisa melukai orang.” ujarnya. “Terorisme lahir dari bagian itu,” tambahnya.

Kematian Seorang Sahabat

Thich Nhat Hanh dan Sr. Chan Khong di Vietnam

Chan Khong terlahir sebagai Cao Ngoc Phuong. Dibesarkan oleh orangtua yang murah hati kepada kaum miskin dan butuh pertolongan. Dia pun tumbuh sebagai remaja putri yang murah hati dan penuh belas kasih. Dia sebut ayah ibunya sebagai pohon ek yang menaungi 22 “anak mereka”–13 diantaranya adalah anak angkat.

Di usia belasan tahun, anak kedelapan dari sembilan bersaudara ini telah menyaksikan kekejian manusia. Pada akhir tahun 1940-an, Vietnam menjadi ajang perebutan kekuasaan antara Partai Komunis dan Perancis. Tetangganya dan suami guru SD-nya tewas.

Dia aktif di School of Youth for Social Service (SYSS) bentukan Thich Nhat Hanh—Master Zen yang menggalang gerakan perdamaian. Pada suatu selasa pagi, sahabat terdekatnya, Nhat Chi Mai dari SYSS, membakar diri demi perdamaian. Ngoc Phuong amat terpukul.

Dia terus aktif membantu para korban perang dengan makanan dan obat-obatan bagi penduduk sekitar Saigon. Tahun 1968 dia bergabung dengan Thich Nhat Hanh di Hongkong. Tahun 1970-an Thich Nhat Hanh menjadi kandidat peraih Nobel Perdamaian karena gerakan perdamaian Vietnam. Ngoc Phuong lalu menjadi Biksuni Chan Khong dan menjadi tangan kanan Thich Nhat Hanh. Dalam pengasingan, mereka mendirikan komunitas Plum Village di Bordeaux, Perancis. Ajaran perdamaian mereka dinilai berbahaya oleh Vietnam. Mereka juga membantu ribuan manusia perahu dengan berbagai cara.

Di Plum Village, Chan Khong mengajarkan perdamaian, meditasi laku, pernapasan, dan “to smile (tindakan tersenyum).” Tutur katanya pelan, halus, tegas, namun penuh kegembiraan, membawa nuansa meditatif.

Kini, di tengah tantangan ekonomi global yang menggurita dan perasaan permusuhan yang merebak di mana-mana, Chan Khong mengajarkan Global Ethics (Etika Global). “Ketika semua orang, baik Muslim, Kristiani, orang Amerika, orang Arab, orang Palestina, Indonesia, bisa berujar, ‘ya..ya.. itu etika saya’, maka itulah Etika Global,” jelasnya.

Ada lima panduan Etika Global, yaitu, pertama, jangan membunuh karena membunuh akan memunculkan penderitaan—termasuk membunuh binatang untuk konsumsi. Kedua, jangan mencuri karena membawa ketidakadilan.

Ketiga, jangan mempraktikkan hubungan seksual secara keliru karena akan tidak ada lagi kebahagiaan mendalam pada relasi antaramanusia. Dia memberi contoh, “Banyak orang di Perancis tak mau menikah. Angka bunuh diri pun meningkat, 40-50 per hari. Hidup tak lagi ada tujuan,” ujarnya prihatin.

Yang keempat adalah berhati-hati dengan kata-kata. “Kata-kata bisa menghancurkan orang (membunuh). Kembangkan kemampuan mendengarkan,” tuturnya.

Pegangan kelima, mengonsumsi secara benar. “Indera harus diberi ‘makan’ terpilih yang sehat. Tontonan dan bacaan sehat untuk pikiran dan makanan sehat untuk tubuh,” ujarnya menutup pembicaraan.

Chan Khong percaya, ketika Etika Global terbentuk dan semua orang mempraktikkan, perdamaian telah tiba untuk mengetuk pintu kehidupan kita.

Biodata Chan Khong:
Nama: Chan Khong berarti Kekosongan Sejati, terlahir Cao Ngoc Phuong

Lahir: Kota Ben Tre, Vietnam, 1938

Pencapaian: Mengajar meditasi, perdamaian dengan penapasan di Plum Village, Bordeaux, Perancis selatan, yang dipimpin oleh Thich Nhat Hanh.

Sumber: Sosok, Kompas, Senin, 11 Mei 2009

Ada Damai di Hatiku

Ada Damai di Hatiku

Judul Buku: Ada Damai Di Hatiku
Penulis: Master Zen Thich Nhat Hanh
Penerbit: Yayasan Karaniya
Pesan Lewat Telepon : +62 21 5687957

Kedamaian sejati itu tidak mustahil. Namun membutuhkan kegigihan dan latihan, apalagi pada masa-masa sulit. Bagi sebagian orang, kedamaian dan semangat ahimsa (tanpa-kekerasan) sama dengan sikap terima saja dan tidak berdaya. Justru, melatih kedamaian dan semangat ahimsa itu sebaliknya. Berlatih menjadi damai, menghadirkan kedamaian di dalam diri sendiri, berarti secara terus menerus memupuk pengertian, cinta dan belas kasih walaupun harus berhadapan dengan kesalahpahaman dan konflik. Menghadirkan kedamaian diri dalam suasana perang membutuhkan keberanian.

Kita semua bisa mempraktikkan semangat ahimsa. Kita mulai dengan mengenali bahwa di kedalaman kesadaran kita ada benih kasih sayang dan juga benih kekerasan. Kita tiba-tiba sadar bahwa pikiran itu seperti kebun yang mengandung semua jenis benih: benih-benih pengertian, benih memaafkan, benih sadar penuh, dan juga benih kebodohan, ketakutan, dan kebencian. Kita sadar bahwa setiap saat kita bisa saja bertindak dengan kekerasan ataupun belas kasih, tergantung dari kekuatan benih-benih ini di dalam diri kita.

Bilamana benih kemarahan, kekerasan, dan ketakutan di dalam diri kita disirami beberapa kali sehari, benih itu akan tumbuh makin kuat. Maka kita tidak bisa berbahagia dan tidak dapat menerima diri apa adanya; kita menderita dan juga membuat banyak orang menderita. Namun bilamana kita cerdas dalam memupuk benih cinta kasih, kasih sayang, dan pengertian dalam diri kita setiap hari, benih-benih tersebut akan menjadi kuat dan benih kekerasan dan kebencian akan makin lemah. Kita tahu apabila benih-benih kemarahan, kekerasan, dan ketakutan tersirami, maka kita menjadi tidak damai dan tidak stabil. Kita akan menderita dan sekaligus menyebabkan banyak orang menderita. Kita wajib merawat benih-benih belas kasih, memupuk kedamaian dan lingkungan. Melalui cara demikian kita sudah melangkah di jalan untuk mewujudkan kedamaian.

Ajaran-ajaran di dalam buku ini dipersembahkan untuk menolong siapa saja yang ingin menempuh hidup ahimsa. Latihan ini merupakan warisan nyata dari Buddha dan para guru-guru leluhur saya. Latihan ini masih begitu ampuh di zaman modern ini, sama persis dengan 2.600 tahun lalu waktu Buddha mencapai penerangan sempurna. Mereka bersama-sama merangkai petunjuk-petunjuk praktis bagaimana menjadi damai untuk diri sendiri, keluarga, komunitas, dan dunia ini. Pada saat ini, kita berhadapan dengan demikian banyak konflik di dunia, saya persembahkan buku ini untuk membantu Anda agar menyadari bahwa Anda bisa menghindari kekerasan. Kedamaian sudah tersedia bagi kita di setiap saat. Tergantung pilihan kita.

Beli di Karaniya – Ada Damai Di Hatiku

Memperbarui Sutra Hati

Memperbarui Sutra Hati

Pada Tanggal 11 September 2014, Bhante Thich Nhat Hnah telah menyelesaikan penerjemahan ulang satu dari Sutra sangat penting dalam Mahayana yakni Sutra Hati ke dalam Bahasa Inggris.

Sutra Hati vesi Inggris ini diterjemahkan dari Bahasa Vietnam yang mana versi Vietnman ini juga hasil penerjemahan baru oleh Bhante setelah sekitar 3 minggu di European Institute of Applied Buddhism di Jerman.

Hasil penerjemahan versi Inggris yang baru ini akan dimasukkan dalam buku Pendarasan Plum Village, dan tentu saja akan dimasukkan dalam buku pendarasan versi baru nanti. Sutra Hati versi baru ini sedang dalam proses penataan irama dan lagu oleh monastik di Plum Village, semoga bisa segera dipublikasikan nanti.

Sutra Hati:
Prajna Paramita

Avalokiteshvara
merenungkan mendalam
wawasan pembawa ke pantai seberang
seketika sadar bahwa
semua pancaskanda adalah sunyata adanya
merealisasikan ini
teratasi semua duka (G)

Wahai Sariputra,
tubuh ini adalah sunyata
dan sunyata adalah tubuh ini
tubuh ini tiada beda dengan sunyata
dan sunyata tiada beda dengan tubuh ini
begitu juga dengan perasaan,
persepsi, formasi mental,
dan kesadaran. (G)

Wahai Sariputra,
semua fenomena bercirikan sunyata;
sifat dasarnya adalah
tiada lahir tiada mati,
tiada eksis, tiada non eksis,
tiada noda, tiada suci
tiada bertambah tiada berkurang.
Maka itu sunyata,
tubuh, perasaan, persepsi,
formasi mental, dan kesadaran
bukanlah entitas tunggal terpisah. (G)

Delapan belas ranah fenomena
yaitu enam organ indra,
enam objek indra,
dan enam kesadaran
juga bukanlah entitas tunggal terpisah.
Dua belas rantai interdependen kemunculan
dan kemusnahannya
juga bukanlah entitas tunggal terpisah.
Duka, duka samudaya,
duka nirodha, marga
wawasan dan pencapaian,
juga bukanlah entitas tunggal terpisah.
Mereka yang melihat semua ini
tak perlu mencapai apa pun lagi. (G)

Bodhisattwa mempraktikkan
wawasan pembawa ke pantai seberang
tidak melihat adanya penghalang pikiran,
dan karena
tiada lagi penghalang pikiran, semua ketakutan teratasi,
musnahlah semua persepsi keliru
dan merealisasikan nirwana sempurna. (G)

Semua Buddha pada tiga masa
mempraktikkan wawasan pembawa ke pantai seberang
semua mampu mencapai
pencerahan autentik sempurna. (G)

Maka itu Sariputra,
ketahuilah bahwa
wawasan pembawa ke pantai seberang
adalah maha mantra,
maha vidya mantra,
anuttara mantra,
samasama mantra,
kearifan sejati berkekuatan
mengakhiri semua jenis duka. (G)

Maka itu marilah mendaraskan
mantra untuk memuja
wawasan pembawa ke pantai seberang

Gate gate paragate paramsagate bodhi swaha (3x)

Alasan Thich Nhat Hanh menerjemahkan ulang Sutra Hati

Keluarga terkasih,

Alasan Thay (Bhante Thich Nhat Hanh akrab disapa Thay, Bahasa Vietnam yang berarti Bhante) menerjemahkan ulang Sutra Hati adalah karena para sesepuh belum memaksimalkan penggunaan bahasa secara utuh dalam menuliskannya. Oleh karena itu hampir 2000 tahun banyak terjadi pemahaman keliru.

Thay ingin menceritakan ulang dua buah kisah: yang pertama adalah kisah seorang samanera yang pergi bertemu dengan guru zen, dan kisah kedua berkaitan dengan seorang biksu yang datang untuk bertanya kepada Master Tue Trung.

Kisah Samanera Kecil
Dalam kisah pertama, seorang guru zen bertanya kepada samanera: “Apa yang engkau pahami tentang Sutra Hati?”

Samanera itu beranjali dan membalas:
“Saya telah mengerti bahwa pancaskandha itu kosong. Tidak ada mata, tidak ada telinga, tidak ada hidung, tidak ada lidah, tidak ada badan jasmani juga pikiran; tiada bentuk, tiada suara, tiada bau, tiada rasa, tiada perasaan, tiada objek pikiran; enam kesadaran indra juga tidak eksis, enam belas fenomena juga tidak eksis, dua belas rantai saling memunculkan juga tidak eksis, bahkan kearifan dan pencapaian juga tidak eksis.”

Guru bertanya, “Apakah Anda percaya apa yang tertera dalam Sutra Hati?”
Samanera menjawab, “Ya, saya percaya sepenuhnya.”

“Coba kamu ke sini,” ucap Guru seraya memanggil samanera tersebut. Ketika samanera mendekat, Ia menggunakan jempol dan jari telunjuknya untuk mencubit hidung samanera itu.
Samanera kontan meronta kesakitan, “Guru! Mengapa engkau mencubit hidungku?!” Guru menatap samanera itu dan berkata “Barusan kamu bilang hidung itu tidak eksis, kalau memang benar hidung itu tidak eksis lalu apa yang sakit?”

Kisah Master Tue Trung
Master Tue Trung merupakan seorang guru zen perumah tangga, beliau pernah menjadi mentor bagi raja muda Tran Nhan Tong pada abad ke-13 di Vietnam. Suatu hari, seorang biksu datang berkunjung untuk bertanya tentang Sutra Hati.

“Yang mulia, Apa arti dari kalimat ‘badan jasmani adalah sunyata, sunyata adalah badan jasmani’? Apa makna sesungguhnya?”
Pada awalnya Master Tue Trung hanya terdiam saja, dan kemudian dia bertanya kepada biksu itu, “Apakah Anda punya badan jasmani?”
“Iya, punya.”
“Lantas, mengapa engkau bilang tidak punya badan jasmani?”

Master Tue Trung melanjutkan, “Coba bayangkan angkasa, apakah angkasa juga berwujud?”
“Tidak, angkasa tidak berwujud.”
“Lantas mengapa engkau bilang kekosongan adalah wujud?”

Biksu itu berdiri, membungkuk hormat, dan pergi. Tapi Master Tue Trung segera memanggil dia kembali dan melantunkan gatha berikut ini:

Wujud adalah kekosongan, kekosongan adalah wujud,
Merupakan suatu cara upaya kausalya sementara yang digunakan oleh para Buddha tiga masa
Kekosongan bukanlah wujud, dan wujud bukanlah kekosongan
Hakikat kekosongan dan wujud selalu jernih dan terang, tidak terjebak pada ada maupun tiada

Kisah Master Tue Trung tampaknya memunculkan kontradiksi Sutra Hati dan menantang konsep “Wujud adalah kekosongan dan kekosongan adalah wujud”, konsep yang dianggap pakem dalam literatur Prajñāpāramitā.

Thay merasa bahwa Master Tue Trung terlalu berlebihan dalam kisah itu. Master Tue Trung tidak mampu melihat bahwa kesalahan bukan terletak pada konsep ‘wujud adalah kekosongan’, justru kesalahannya terletak pada struktur kalimatnya, ‘Oleh karena itu dalam kekosongan tiada wujud’. Menurut Thay, struktur syair dalam Sutra Hati dari awal hingga baris yang berbunyi ‘tiada kelahiran, tiada kematian, tiada noda, tiada murni, tiada penambahan, tiada pengurangan’ sudah bagus adanya. Thay menyayangkan bahwa para sesepuh yang menyalin Sutra Hati tidak mengikutsertakan istilah ‘tiada ada dan tiada tak ada’ yang seharusnya diletakkan sebelum ‘tiada kelahiran, tiada kematian’, karena dua istilah itu bisa membantu kita melampaui gagasan ada dan tiada, dan kita tidak lagi terjebak pada ide seperti ‘tiada mata, tiada telinga, tiada hidung, tiada lidah, dan seterusnya’. Hidung samanera itu masih sakit hingga hari ini, pahamkah Anda?

Perkaranya mulai dari kalimat: “Dengarlah Shariputra, karena dalam kekosongan, tiada wujud, tiada perasaan, tiada persepsi, tiada bentuk-bentuk mental, dan tiada kesadaran indra (sanskerta: TasmācŚāriputraśūnyatayāmnarūpamnavedanānasamjñānasamskārānavijñānam). Sungguh aneh! Sebelumnya dinyatakan bahwa kekosongan adalah wujud, dan wujud adalah kekosongan, tapi sekarang malahan pernyataan berlawanan: Tiada kekosongan, tiada badan jasmani. Bagian dalam Sutra Hati ini bisa membawa mudarat kekeliruan pemahaman. Bagian ini menyatakan bahwa semua fenomena itu bukan bagian dari kategori ‘ada’, dan dengan demikian menyatakan bahwa semua fenomena termasuk bagian dari ‘tiada’ (tiada wujud, tiada perasaan, tiada persepsi, tiada bentuk-bentuk mental, tiada kesadaran indra). Sementara hakikat dari semua fenomena merupakan tiada juga tiada tak ada, tiada lahir dan tiada mati. Pandangan ‘ada’ merupakan pandangan ekstrem dan pandangan ‘tiada’ juga merupakan pandangan ekstrem. Hanya karena kalimat yang tidak tepat inilah hidung samanera itu masih sakit hingga kini.

Gatha tersohor yang ditulis oleh Patriak ke-6 Hui Neng, yang beliau sampaikan kepada Patriak ke-5 Hung Ren, juga menyatakan demikian dan Hui Neng juga terjebak pada pandangan keliru:

Sesungguhnya, tiada pohon bodhi
Cermin jernih juga tidak pernah eksis
Tiada sesuatu yang pernah eksis dari waktu tanpa awal
Lantas bagaimana mungkin ada debu bisa menempel padanya?

Iringan awan bergerak menutupi lubang gua
Menyebabkan banyak burung tidak bisa pulang ke rumah

Pengertian mendalam dari prajñāpāramitā merupakan pengertian yang sangat ampuh, membantu kita mengatasi dua sisi yang saling bertolak belakang seperti: lahir dan mati, ada dan tiada, noda dan suci, bertambah dan berkurang, subjek dan objek, dan sebagainya,. Pengertian itu juga membantu kita bersentuhan dengan hakikat sejatinya tiada lahir atau tiada mati, tiada ada dan tiada tak ada, dan sebagainya, yang merupakan hakikat sejati dari semua fenomena. Keadaan bebas ini disebut keadaan dingin, damai, tiada ketakutan; yang bisa kita alami dalam kehidupan ini juga, di dalam badan jasmanimu, dan juga dalam pancaskandhamu, yakni Nirwana. Sebagaimana burung terbang ke angkasa, para rusa berlari bebas di hutan, demikian pula para bijaksana bersemayam dalam keadaan Nirwana. Kalimat ini sungguh indah, bisa ditemukan dalam bab Nirwana dalam Dharmapada versi mandarin.

Pengertian mendalam dari prajñāpāramitā merupakan kebenaran tertinggi, menembus batas semua kebenaran konvensional. Pengertian ini merupakan visi tertinggi dari Buddha. Apa pun yang tercantum dalam Tripitaka, bahkan koleksi prajñāpāramitā yang sangat menakjubkan sekalipun, apabila isinya bertolak belakang dengan konsep itu, maka itu sama saja masih terjebak dalam kebenaran konvensional. Sungguh malangnya, ternyata ada paragraf cukup panjang dalam Sutra Hati saat ini yang juga mengandung kontradiksi tersebut.

Oleh karena alasan inilah Thay telah mengubah penggunaan istilah dalam versi terjemahan baru Sutra Hati (sebelumnya berbahasa Sanskerta maupun Mandarin) yang diterjemahkan oleh Xuan Zang. Thay menerjemahkannya sebagai berikut: ‘Oleh karena itu dalam kekosongan, badan jasmani, perasaan, persepsi, dan bentuk-bentuk mental, dan kesadaran indra tidak bisa berdiri sendirian.’ Semua fenomena merupakan produk dari saling ketergantungan: Inilah poin utama dari ajaran prajñāpāramitā. ‘Bahkan pengertian mendalam dan pencapaian juga tidak bisa terwujud sendirian.’ Thay juga menambahkan istilah ‘tiada ada (kurang ‘ada’ ya?) dan tiada tak ada’ dalam teks terjemahan baru. Tiada & tiada tak ada merupakan visi mendalam Buddha yang dinyatakan dalam Sutra Kātyāyana ketika Buddha menjelaskan tentang pandangan tepat. Istilah tiada dan tiada tak ada akan membantu generasi mendatang agar tidak menderita lagi akibat cubitan di hidung.

Sutra Hati ditujukan untuk membantu para Sarvāstivādin melepaskan pandangan tiada aku dan tiada dharma. Esensi paling dalam dari Prājñāpāramitā adalah kekosongan ‘aku’ (ātmaśūnyatā) dan kekosongan dharma (dharmanairātmya) dan bukan tiada dari aku dan dharma. Dalam Sutra Kātyāyana Buddha bersabda bahwa banyak di antara manusia terjebak dalam pandangan ada dan tiada. Oleh karena itulah kalimat ‘dalam kekosongan tiada wujud, perasaan…’ sudah jelas sekali masih terjebak dalam konsep ‘tiada’ dan tidak sesuai dengan kebenaran tertinggi. Kekosongan aku hanya berarti aku yang tidak bisa berdiri sendiri, bukan aku yang tidak eksis; sebagaimana balon yang bagian tengahnya kosong bukan berarti balon tidak eksis. Demikian juga kekosongan dharma: berarti bahwa fenomena tidak bisa berdiri sendiri dan bukan semua dharma tidak eksis. Contohnya bunga yang terbuat dari elemen non bunga. Bunga itu tidak bisa terwujud tanpa elemen lain, tapi itu bukan berarti bunga itu tidak ada.

Sutra Hati sedikit terlambat muncul yang mana pada saat itu ajaran Tantra telah menyebar. Sesepuh Buddhis mengompilasi Sutra Hati agar para penganut ajaran Tantra juga berlatih dan melafalkan Sutra Hati, oleh karena itulah Sutra Hati dibuat dalam bentuk Mantra. Ini juga termasuk upaya mahir. Thay menggunakan kalimat, ‘Kearifan yang menyeberangkan kita ke pantai seberang’, karena dalam mantra itu ada istilah pāragate yang berarti ‘pergi menuju pantai seberang, pantai kearifan.’

Pārāyana dan pāramitā sama-sama diterjemahkan menjadi ‘menyeberang ke pantai sana’. Dalam Sutta Nipāta ada bab yang berjudul Pārāyana yang juga diterjemahkan sebagai ‘menyeberang ke pantai sana’.

Para sahabat, saya harap Anda bisa menikmati berlatih Sutra Hati baru versi Inggris. Brother Phap Linh sedang menciptakan irama pendarasan yang baru. Sutra Hati versi baru ini akan diikutsertakan dalam Edisi baru Buku Pendarasan Plum Village. Kemarin, tanggal 21 Agustus, setelah selesai menerjemahkan Sutra Hati sekitar pukul 3 subuh, seberkas cahaya bulan menyinari kamar Thay.

Dengan kasih sayang dan kepercayaan,
Gurumu,

Insitut Ashoka, EIAB Waldbröl – Jerman

Doa Tahun 2014

Doa Tahun 2014

Doa dari Empat lapisan Sangha Plum Village sebagai bagian dari seremoni tengah malam menjelang menyingsing tahun baru 2014


Ayahanda Matahari Terkasih – Bodhisattwa Mahawairocana Tathagata,
Ibunda Bumi Terkasih – Bodhisattwa Maha Gaia,
Para Leluhur Terkasih, Leluhur Spiritual dan Leluhur Kandung,

Sebagai keluarga spiritual, kami hadir di hadapanmu pada saat yang penuh khidmat di tahun baru ini untuk menyampaikan rasa syukur dan aspirasi mendalam.

Ayahanda Matahari terkasih, engkau memancarkan cahaya tanpa batas, cahaya yang merupakan sumber kehidupan bagi semua spesies. Engkau adalah Matahari, Maha Buddha, Maha Boddisattwa, Maha Tathagata, sumber cahaya dan kehidupan tanpa batas. Engkau tidak hanya berada di langit tetapi juga terkandung di dalam Ibunda Bumi dan dalam diri kami. Sebagaimana hidup kami tergantung pada jantung, demikian juga hidup kami tergantung kepadamu. Malam ini kami membungkukkan kepala dengan penuh rasa syukur atas pancaran non diskriminasi dan kehidupan yang telah engkau hadiahkan kepada kami.

Ibunda Bumi terkasih, dalam banyak kehidupan, engkau telah membimbing dan mengisi kehidupan kami dengan kesabaran, stabilitas, ketabahan serta kreativitas. Engkau telah melahirkan kami, Engkau juga telah melahirkan Buddha, Bodhisattwa dan manusia tercerahkan yang tak terhitung jumlahnya. Engkau adalah planet biru yang indah, Engkau adalah Bodhisattwa Penyegaran Bumi–harum semerbak, menyejukkan dan berbudi luhur. Sementara itu dalam banyak kehidupan kami telah menderita, dan kami juga telah membuatmu menderita, karena kami belum mampu melihatmu sebagai tanah suci, sebagai Kerajaan Allah, tempat yang paling indah di surga. Meskipun banyak kesalahan kami, Engkau selalu memaafkan, dan selalu sudi membentangkan tanganmu untuk memeluk kami.

Bermula dari persepsi keliru dan diskriminasi, kami telah hidup dalam pengucilan, kebencian, kesepian, kekerasan, dan keputusasaan. Kami telah membiarkan individualisme terus merebak, menyebabkan banyak kehancuran dan kesulitan dalam diri kami dan dirimu, Ibunda Bumi terkasih. Kami terus mengejar ketenaran, kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan sensual, melupakan bahwa mengejar itu semua ternyata tidak pernah memberikan kami kebahagiaan sesungguhnya. Kami menjadi terlena dan terusik, berlari makin jauh dari diri sendiri, dari mereka yang kami cintai dan darimu, Ibunda Bumi terkasih. Kami sebagai sebuah masyarakat dan peradaban sedang menuju ke arah kebinasaan.

Ibunda Bumi, Ayahanda Matahari dan para leluhur terkasih, malam ini, dalam rangka tahun baru 2014, kami membangkitkan aspirasi terdalam untuk memulai lembaran baru, untuk menuju ke arah baru dan kami memohon kiranya Engkau sudi memaafkan semua kesalahan kami. Dengan penuh rasa hormat, kami membangkitkan aspirasi terdalam untuk hidup sadar di setiap momen dalam kehidupan sehari-hari. Kami berjanji untuk tidak menutupi penderitaan dengan cara tenggelam dalam konsumerisme, Kami berjanji untuk kembali ke dalam diri sendiri dengan welas asih, untuk mengenali, memeluk dan melihat mendalam atas penderitaan. Kami berjanji untuk berlindung pada dirimu, Ibunda Bumi terkasih, berlindung pada kapasitasmu untuk memperkuat, menyembuhkan dan memeluk segala sesuatu tanpa mebeda-bedakan. Kami berjanji untuk hadir sepenuhnya di hadapan orang yang kami sayangi dan tidak tenggelam dalam kesibukan demi mengejar kesuksesan – maupun cita-cita. Kami tahu bahwa cita-cita dapat dicapai dalam setiap momen, dan kami bertekad untuk hidup sadar setiap hari di tahun 2014 sebagai cara untuk mengapai cita-cita. Kami tahu bahwa waktu bukanlah uang. Waktu adalah kehidupan, dan waktu adalah cinta kasih. Kami bersedia hidup sederhana, untuk saling mencintai tanpa diskriminasi, untuk membangun persaudaraan kakak dan adik yang sesungguhnya dan menghormati aspirasi terdalam masing-masing orang.

Ibunda Bumi terkasih, Engkau telah menyerukan semua kepedihamu kepada kami dalam banyak kehidupan, namun hanya beberapa di antara kami yang dapat mendengarmu. Engkau telah bertanya apakah Engkau dapat mengandalkan kami, para anak-anakmu, untuk menyembuhkan dengan kasih dan mentransformasi diri kami dan situasi saat ini. Dalam momen yang khidmat di Tahun baru ini, dengan beranjali, badan jasmani dan pikiran bersatu padu, kami menyatakan bahwa Engkau dapat mengandalkan kami. Engkau dapat mempercayai dan yakin kepada kami.

Kami akan berlatih untukmu, Ibunda Bumi, Ayahanda Matahari, untuk semua para leluhur kami dan generasi masa akan datang sehingga sukacita, kedamaian, keharmonisan serta cinta kasih selalu hadir di dunia ini. Mohon terimalah persembahan dupa, bunga, buah, teh, dan cinta kasih. Ayahanda Matahari terhormat, Ibunda Bumi terhormat, mohon percayalah kepada kami.

Sumber: New Year’s Prayer 2014

Jadikan Kekasihmu sebagai Rumah Sejati

Jadikan Kekasihmu sebagai Rumah Sejati

Kita perlu memberitahu semua anak muda bahwa mereka rupawan apa adanya; tidak perlu meniru orang lain.

Oleh: Zen Master Thich Nhat Hanh

Thay di New Hamlet

Setiap orang sedang berusaha mencari di mana rumah sejatinya. Kita tahu bahwa rumah sejati ada di dalam diri sendiri, dan dengan energi kesadaran kita dapat kembali ke rumah sejati yang ada di sini dan saat ini. Sanggha (komunitas) adalah rumah sejati kita.

Dalam bahasa Vietnam, suami memanggil istrinya dengan istilah “rumahku”. Istri memanggil suaminya dengan istilah “rumahku”. Ketika seorang lelaki ditanya “Di mana istrimu” Dia akan menjawab, ”Rumahku di kantor pos sekarang.”, Dan jika seorang tamu bertanya kepada istrinya, ”Rumahmu indah; siapa yang mendekorasinya?” Dia akan menjawab,”Rumahku yang medekorasinya”, artinya “Suamiku.” Ketika suami menyapa istirinya, dia berkata, “Nha oi,” rumahku. Dan istri menjawab, “Saya di sini.” Nha oi, Nha toi.

Ketika hubungan Anda seperti demikian, maka sang kekasih adalah rumah sejati. Anda seharusnya menjadi rumah sejati bagi dia juga. Pertama-tama Anda perlu menjadi rumah sejati bagi diri sendiri terlebih dahulu agar Anda bisa menjadi rumah sejati bagi dia dan bagi orang yang dicintai. Bagaimana? Kita membutuhkan latihan sadar penuh.

Di Plum Village, setiap kali Anda mendengar bel, Anda berhenti berpikir, Anda berhenti berbicara, Anda berhenti sejenak dari apa pun yang sedang Anda lakukan. Anda mencurahkan perhatian pada napas masuk sewaktu Anda bernapas masuk, Anda bilang “Saya dengar, saya dengar. Suara yang merdu ini membawa saya kembali ke rumah sejatiku.” Rumah sejatiku ada di dalam diriku. Rumah sejatiku ada di sini dan di saat ini. Sehingga berlatih kembali ke rumah adalah yang kita lakukan sepanjang hari, karena kita hanya akan merasa nyaman berada di dalam rumah sejati kita. Rumah sejati kita selalu tersedia, dan kita boleh pulang ke rumah setiap momen. Rumah kita seharusnya aman, rukun, dan nyaman. Kitalah yang menciptakan suasana seperti itu.

Minggu lalau saya minum teh dengan sepasang suami istri yang datang dari United Kingdom (Inggris). Mereka menginap selama 2 minggu di Plum Village, dengan para Biksu di Upper Hamlet. Wanita tersebut bilang, “Aneh. Ini pertama kali saya tinggal di tempat di mana ratusan pria dan tidak ada wanita, dan saya merasa sangat aman di Upper Hamlet. Saya tidak pernah merasa aman seperti ini.” Di Upper Hamlet dia perempuan satu-satunya, dan dia merasa sangat aman. Dan jika dia merasa aman, tempat itu adalah rumahnya, karena rumah seharusnya memberikan keamanan seperti itu. Apakah kamu bisa menjadi tempat yang aman bagi kekasihmu? Apakah kamu mempunyai stabilitas, kekuatan dan perlindungan untuk kekasihmu?

Dan sang pria itu bilang, “Dua minggu lalu tampaknya adalah hari-hari sangat berkesan dalam hidup saya.” Itulah manfaatnya membangun sanggha. Ketika kamu membangun sebuah sanggha, kamu sedang membangun rumah untuk dirimu dan di tempat inilah kamu merasa nyaman, kamu merasa santai, kamu merasa aman. Jika tidak ada rasa aman di dalam dirimu, kamu bukanlah rumah untuk dirimu sendiri, dan kamu tidak dapat mempersembahkan sebuah rumah untuk orang yang kamu cintai. Itulah alasan sangat penting untuk kembali ke dirimu sendiri dan membantu diri sendiri menjadi aman dan juga untuk orang yang kamu cintai.

Jika kamu merasa kesepian, jika kamu merasa dikucilkan, jika kamu butuh penyembuhan, jangan berharap bisa sembuh hanya dengan melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Hubungan seksual tidak dapat menyembuhkanmu. Kamu justru akan mengakibatkan penderitaan baru bagi mereka dan dirimu sendiri. Dalam latihan sadar penuh ke-3, kita belajar bahwa nafsu seksual bukanlah cinta. Dan tanpa cinta sejati, aktivitas seksual bisa mengakibatkan penderitaan bagi dirimu sendiri dan orang lain. Kesepian tidak dapat diusir lewat aktivitas seksual, kamu tidak dapat menyembuhkan dirimu sendiri dengan melakukan hubungan seksual. Kamu harus belajar bagaimana menyembuhkan dirimu sendiri, merasakan nyaman di dalam dirimu, dan kemudian kamu mulai menghadirkan sebuah rumah. Setelah itu kamu punya sesuatu yang bisa dipersembahkan kepada orang lain. Orang lain juga membutuhkan penyembuhan, sehingga dia akan merasa ringan, dan dia dapat menjadi rumahmu. Jika tidak demikian, maka yang akan dia curahkan kepadamu adalah rasa kesepian, kepedihan, dan penderitaannya. Itu tidak dapat membantu menyembuhkanmu sama sekali.

Tiga Jenis Kedekatan
Ada tiga jenis kedekatan. Yang pertama adalah kedekatan berupa kemesraan fisik dan seksual. Yang kedua adalah kedekatan emosional. Dan yang ketiga adalah kedekatan spiritual. Kedekatan berupa kemesraan seksual tidak dapat dipisahkan dari kedekatan emosional. Kedua hal tersebut berjalan sejajar. Jika kedekatan spiritual hadir, maka kedekatan berupa kemesraan fisik dan seksual akan memiliki makna dan akan menyehatkan dan menyembuhkan. Jika tidak ada kedekatan spiritual, maka kemesraan seksual justru akan membinasakanmu.

Setiap orang mendambakan kedekatan emosional. Kita ingin memiliki komunikasi yang tulus, saling pengertian, kebersamaan. Dalam konteks latihan Buddhis, kamu wajib mendengar penderitaanmu sendiri. Ada penderitaan dalam dirimu, dan demikian juga orang lain. Jika kamu tidak mendengarkan penderitaanmu sendiri, kamu tidak akan mengerti, dan kamu tidak bisa memancarkan welas asih kepada dirimu sendiri; dan welas asih merupakan elemen yang dapat membantumu sembuh.

Hal pertama yang Buddha ajarkan adalah tentang penderitaan dalam diri. Banyak orang merasa takut. Kita tidak ingin kembali ke dalam diri sendiri, karena kita percaya akan bertemu dengan sejumlah penderitaan di dalam diri, dan kita tidak sanggup menanganinya. Karena tidak berani berhadapan langsung dengan penderitaan, maka kita mencoba untuk menutupinya dengan mengonsumsi. Kita makan, mendengar musik, dan mengonsumsi apa pun dan kita terlibat dalam hubungan seksual. Tetapi tidak ada satupun diantara itu yang bisa meringankan penderitaan kita. Itulah alasan Buddha menyarankan kita untuk memberanikan diri kembali ke rumah kita sendiri untuk mengenali dan mendengarkan dengan seksama atas penderitaan di dalam diri sendiri. Kita bisa menggunakan energi sadar penuh yang dihasilkan dari kesadaran bernapas dan berjalan, untuk memeluk penderitaan dengan lembut. “Wahai penderitaanku, aku sadar akan kehadiranmu. Aku ada di rumah. Dan aku akan menyembuhkanmu.”

Ada waktu ketika kita sedang menderita, tetapi kita tidak tahu dari mana asal-usul penderitaan itu. Leluhur maupun orang tua kita belum berhasil mentransformasikan penderitaannya, dan mereka mewariskannya kepada kita. Dan sekarang, karena kita telah bertemu dengan Buddhadharma, kita punya kesempatan untuk mengenali penderitaan itu, memeluknya dan mentransformasikannya demi diri sendiri dan leluhur juga orang tua kita. “Leluhur tercinta, ayah tercinta, ibu tercinta, saya telah menerima penderitaan ini darimu. Saya mengerti Dharma, Saya tahu latihan. Saya akan belajar untuk mengenali penderitaan yang telah diturunkan kepada saya, dan dengan kasih sayang saya akan mencoba menerima dan mentransformasikannya.” Kamu dapat melakukan itu atas dasar cinta kasih. Kamu bisa melakukannya demi orang tuamu, leluhurmu, karena sesungguhnya kita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mereka.

Berdasarkan ajaran dari 4 Kebenaran Mulia, jika kita tidak mendengar penderitaan diri sendiri, jika kita tidak melihat mendalam atas penderitaan diri sendiri, dan memeluknya dengan lembut dengan energi sadar penuh, kita tidak dapat mengerti akar dari penderitaan itu. Ketika kita mulai mengerti akar penderitaan diri sendiri, perlahan energi welas asih, pengertian akan tumbuh. Pengertian serta welas asih memilki kekuatan untuk menyembuhkan. Dengan memeluk dan mendengarkan penderitaan diri sendiri, Anda sudah menumbuhkan pengertian dan welas asih. Ketika amrita welas asih lahir dalam dirimu, penderitaanmu berkurang, kesepianmu berkurang. Kamu mulai merasakan kehangatan dalam dirimu; kamu sedang membangun sebuah rumah dalam dirimu. Buddha menyarankan kita untuk membangun rumah di dalam diri sendiri, sebuah pulau dalam diri. Mejadi sebuah pulau dalam diri sendiri. Kita akan merasa nyaman, hangat, dan kita bisa menjadi sebuah perlindungan untuk orang lain juga.

Ketika kamu telah mengerti penderitaanmu dan kesepianmu sendiri, kamu merasa lebih ringan, dan kamu dapat mendengar penderitaan orang lain. Di dalam penderitaanmu mengandung penderitaan leluhurmu, dunia, dan masyarakat. Interbeing (saling berkaitan) artinya bahwa penderitaanku ada di dalam penderitaanmu, demikian pula sebaliknya. Itulah sebabnya, ketika aku telah mengerti penderitaanku, lebih mudah bagiku untuk mengerti penderitaanmu. Ketika kamu mengerti seseorang, itu adalah kado terbaik yang dapat kamu berikan kepada mereka. Orang lain merasakan untuk pertama kalinya ada orang yang bisa mengerti dirinya. Mempersembahkan pengertian artinya mempersembahkan cinta kasih. Kita tidak akan bisa mengerti orang lain tanpa mengerti diri sendiri terlebih dahulu. Pembangunan rumah mulai dari dirimu sendiri. Pasanganmu juga wajib membangun rumah di dalam dirinya sendiri, dan kamu dapat memanggilnya sebagai rumahmu, dan dia dapat memanggilmu rumahnya.

Di Upper Hamlet, kita membangun sebuah Sanggha sebagai rumah. Anda juga bisa membangun keluargamu sebagai sebuah Sanggha, karena Sanggha berarti komunitas. Tugas yang paling mulia adalah membangun sebuah Sanggha. Setelah mencapai pencerahan sempurna, hal pertama yang Buddha ajarkan kepada kita adalah mencari elemen apa saja yang bisa dijadikan bahan untuk membangun sebuah Sanggha. Sebuah Sanggha adalah sebuah perlindungan untuk diri kita dan banyak orang.

Jadi kita kembali ke diri sendiri, kita mendengarkan penderitaan dalam diri sendiri. Kita memeluk rasa sakit, duka, kesepian kita dengan energi sadar penuh. Pengertian seperti ini, pandangan mendalam ini akan membantu kita mentransformasikan penderitaan. Kita merasa lebih ringan, dan kita mulai merasakan kehangatan dan kedamaian yang berasal dari dalam. Apabila orang lain juga bergabung dengan Anda dalam pembangunan rumah, Anda punya sahabat. Anda akan menolong dia dan dia akan menolong Anda. Dan bersama-sama membangun rumah. Anda memiliki rumah dalam diri, Anda memiliki rumah dalam diri mereka juga. Jika tidak ada unsur kedekatan seperti ini, maka hubungan seksual dapat menyebabkan banyak malapetaka. Inilah sebabnya sejak awal saya berpendapat bahwa kedekatan berupa kemesraan fisik dan seksual tidak dapat dipisahkan dengan kedekatan emosional.

Ada benang merah di antara kedekatan spiritual dan emosional. Spiritual tidak hanya sebatas keyakinan atas sebuah ajaran. Latihan selalu membawa keyakinan, komunikasi, transformasi. Setiap orang memerlukan dimensi spiritual dalam kehidupan. Tanpa dimensi spiritual dalam kehidupan, kita tidak sanggup menangani kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Latihan spiritual Anda dapat menangani berbagai aspek emosional yang muncul, membantu Anda untuk mendengar, memeluk penderitaanmu sendiri, dan juga untuk mengenali dan memeluk penderitaan orang lain. Makanya dua bentuk kedekatan ini berkaitan erat. Kita tahu bagaimana menangani luapan emosi yang kuat seperti ketakutan, kemarahan, keputusasaan. Berhubungan Anda tahu bagaimana melakukannya, Anda dapat merasa lebih damai dalam dirimu sendiri. Latihan spiritual membantu Anda membangun sebuah rumah dalam dirimu sendiri, demi diri sendiri juga orang lain. Oleh karena itu kedekatan emosional tidak dapat dipisahkan dengan kedekatan spiritual. Ketiga jenis kedekatan ini saling berkaitan.

Hubungan seksual tidak dapat mengusir kesepian; kamu tidak bisa menyembuhkan dirimu lewat hubungan seksual.

Menghormati Tubuh
Hubungan seksual tanpa dilandasi oleh cinta sejati sama saja dengan hubungan seksual hampa. Hal ini lumrah dalam masyarakat kita dan seks seperti ini menyebabkan begitu banyak penderitaan bagi generasi muda. Jika kamu adalah seorang guru di sekolah, jika kamu adalah orang tua, kamu seharusnya membantu anak-anakmu dan siswamu untuk menghindari hubungan seksual hampa. Seksual hampa membawa banyak malapetaka bagi pikiran dan tubuh mereka. Malapetaka akan muncul di kemudian hari dalam bentuk depresi, gangguan mental, dan bunuh diri. Banyak anak muda tidak melihat koneksi antara hubungan seksual hampa dengan gangguan mental dan fisik dalam diri mereka sendiri.

Apa yang terjadi dalam tubuh akan memiliki efek bagi pikiran dan demikian juga sebaliknya. Pikiran bergantung pada tubuh untuk bermanifestasi dan tubuh bergantung pada pikiran untuk hidup. Ketika kamu mencintai seseorang, kamu harus menghormati perasaan dan tubuh mereka. Kamu menghormati tubuhmu sendiri, dan kamu menghormati tubuh mereka. Cinta sejati seharusnya mengandung respek, menghargai. Dalam tradisi timur, kamu harus memperlakukan pasanganmu dengan hormat, seperti tamu, dan untuk menghormatinya, kamu harus menghormati dirimu sendiri terlebih dahulu. Penghormatan seharusnya menjadi landasan cinta.

Di kampung halaman saya, orang tua bangga memperkenalkan anaknya kepada tamu yang berkunjung ke rumah. Tamu yang berkunjung biasanya akan bertanya, “Apakah Anda menyanyangi ayah dan ibumu?” Anak akan menjawab, “Aku menyanyangi ayahku. Aku menyayangi ibuku.” Pertanyaan selanjutnya adalah: “Di manakah kamu menempatkan orang yang kamu sayangi itu?” Anak telah diajarkan untuk menjawab: “Orang yang kusayangi aku letakkan di atas kepalaku.” “Bukan di dalam hatiku”, tetapi “Di atas kepalaku.” Ketika seorang biksu mengenakan sanghatinya, jubah kuning, untuk menghadiri sebuah seremoni, dia akan membawa serta sanghatinya dengan penuh rasa hormat, sama seperti saat membawa serta sebuah kitab suci. Jika kamu mendekati biksu itu dan kamu membungkuk hormat kepadanya, dan jika dia tidak menemukan tempat yang layak untuk menaruh sanghatinya, dia akan dengan perlahan menaruh sanghatinya di atas kepala karena itulah tempat yang paling mulia; seperti altar. Itulah sebabnya tata krama yang baik di Vietnam; kamu seharusnya tidak menyentuh kepala seseorang jika kamu tidak mengenal orang itu. Kepala merupakan tempat suci dari tubuh, karena kepala adalah altar untuk memuja para leluhur dan Buddha.

Ada bagian lain dari tubuh yang juga dianggap suci yang tidak seharusnya disentuh. Seperti dalam istana raja, ada *kota Ungu1, tempat tinggal keluarga kerajaan. Dan kamu tidak boleh pergi ke area itu. Jika kamu menerobos daerah itu, maka pengawal kerajaan akan menangkap dan memenggal kepalamu. Dalam tubuh seseorang ada area terlarang yang tidak boleh disentuh. Dan jika kamu tidak menghormati area itu, jika kamu menyentuh bagian tubuh tersebut, kamu memasuki kota ungu. Pelecehan seksual terhadap seorang anak membuat dia sangat menderita, sangat merana. Seseorang telah melanggar kota ungunya dan dia tidak punya kemampuan untuk melindungin dirinya sendiri. Ada anak-anak yang telah disiksa ketika berusia delapan, sembilan, sepuluh tahun, dan mereka sangat menderita. Mereka menyalahkan orang tuanya kerena tidak melindungi mereka, dan hubungan anak dan orang tua menjadi lebih sulit. Kemudian hubungan mereka dengan teman dan kekasih mereka di masa depan juga akan menjadi sangat sulit. Luka masih ada di hatinya.

Kasus pelecehan seksual pada anak-anak sangat memilukan hati. Disebutkan bahwa di Amerika Serikat sekitar 5%-15% anak laki-laki dan sekitar 15%-35% anak perempuan menjadi korban pelecehan seksual. Sungguh banyak sekali. Bayangkan seorang anak sebagai korban pelecehan seksual, dia akan menderita sepanjang hidup, karena tubuh mereka tidak diperlakukan dengan hormat.

Di sekolah dan di dalam keluarga, kita perlu mengajari anak-anak untuk menghormati diri sendiri, menghormati tubuh mereka sendiri juga tubuh orang lain. Jika kamu adalah seorang pemimpin religius, jika kamu adalah seorang politikus, jika kamu adalah orang tua atau guru, jika kamu adalah seorang edukator, mohon renungkan hal ini. Kita boleh belajar dari ajaran Buddha tentang bagaimana menata kehidupan dalam keluarga, sekolah, masyarakat sedemikian rupa sehingga kita dapat dilindungi dan anak kita juga selalu dilindungi.

Rupawan Apa Adanya, Jadilah Dirimu Sendiri
Saya menyatakan di atas bahwa kenikmatan sensual, nafsu seksual, bukanlah cinta sejati, tetapi masyarakat kita terpola sedemikian rupa sehingga kenikmatan seksual menjadi hal yang paling penting. Untuk menjual produk, perusahaan membuat iklan yang menyirami benih keserakahan dalam dirimu. Mereka ingin kamu mengonsumsi sehingga keserakahan kamu makin besar dan makin mendambakan kenikmatan sensual. Tetapi kenikmatan sensual tersebut justru yang menghancurkanmu. Apa yang kita butuhkan adalah saling pengertian, saling mempercayai, cinta kasih, kedekatan emosional dan spiritual. Tetapi kita tidak menemukan kesempatan untuk bersentuhan dengan jenis kebutuhan mendalam seperti ini dalam diri kita.

Majalah mode wanita menyatakan bahwa untuk menjadi sukses, Anda harus mencari cara tertentu, dan menggunakan produk tertentu. Banyak anak muda dalam masyarakat ingin melakukan operasi plastik untuk memenuhi standar kecantikan. Mereka sangat menderita karena mereka tidak dapat menerima tubuh mereka apa adanya. Ketika kamu tidak dapat menerima tubuhmu apa adanya, kamu bukan rumah sejati untuk dirimu. Setiap anak yang lahir di taman kemanusiaan sebagai setangkai bunga. Tubuhmu adalah sejenis bunga, dan bunga-bunga berbeda satu dengan yang lainnya. Napas masuk, saya melihat diriku sebagai bunga. Napas keluar, saya merasa segar. Jika kamu bisa menerima tubuhmu apa adanya, dengan demikian kamu mempunyai kesempatan untuk melihat tubuhmu sebagai rumah. Jika kamu tidak dapat menerima tubuhmu apa adanya, kamu tidak dapat menjadi rumah bagi dirimu sendiri. Banyak anak muda yang tidak bisa menerima tubuh mereka apa adanya, mereka yang tidak bisa menerima dirinya, mereka ingin menjadi orang lain. Kita harus memberitahu anak muda bahwa mereka sudah rupawan apa adanya; tidak perlu menjadi orang lain.

Thay menulis sebuah kaligrafi; “Rupawan apa adanya, jadilah dirimu sendiri.” Ini latihan yang sangat penting. Kamu harus menerima dirimu sebagaimana adanya. Ketika kamu berlatih membangun sebuah rumah dalam dirimu, kamu akan makin rupawan. Hatimu damai, hangat dan penuh suka cita. Hati terasa lapang. Orang lain bisa merasakan keindahan dari bungamu.

Sadar penuh merupakan energi yang dapat membantu Anda untuk pulang ke rumah dalam dirimu sendiri, hadir di sini dan di saat ini, sehingga kamu tahu apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, untuk menjaga dirimu sendiri, untuk membangun rumah sejatimu, untuk mentransformasikan semua sumber penderitaanmu, dan menjadi sebuah rumah bagi orang lain. Lima Latihan Sadar Penuh adalah cara nyata. Dalam tradisi Buddhis, kesucian terbentuk dari sadar penuh. Sadar penuh mengandung energi konsentrasi dan pengertian mendalam. Sadar penuh, konsentrasi dan pengertian mendalam membuat kamu suci.

Kesucian bukan hanya diperoleh lewat hidup selibat. Ada orang yang hidup selibat tetapi tidak suci, karena mereka tidak memiliki sadar penuh, konsentrasi dan pengertian mendalam secukupnya. Ada yang hidup sebagai perumah tangga, tetapi mereka memiliki sadar penuh, konsentrasi, dan pengertian mendalam, mereka memiliki elemen kesucian dalam dirinya. Kedekatan berupa kemesraan seksual bisa menjadi aktivitas yang indah jika kita menghadirkan sadar penuh, konsentrasi, pengertian mendalam, saling pengertian dan cinta kasih. Jika sebaliknya, itu akan menjadi sangat membahayakan. Sebuah sutra mengisahkan sesaat sebelum Ratu Mahamaya hamil. Dalam mimpi ratu melihat seekor gajah putih yang belalainya menggenggam setangkai teratai putih. Gajah putih tersebut menyentuhnya dengan teratai putih dan kemudian gajah itupun masuk ke dalam tubuhnya, sangat lembut dan setelah itu ratu hamil. Itulah cara orang zaman dahulu menjelaskan sebuah hubungan kemesraan seksual, demikianlah cara orang istana menyampaikan sesuatu sebelum Siddhartha dikandung; cara penjelasan yang penuh dengan kelembutan dan keindahan. Kemesraan seksual seharusnya tidak terjadi sebelum ada pemberkahan, pengertian, saling mendekat lewat tataran spiritual dan emosional. Dan kemudian kemesraan fisik, hubungan seksual juga bisa menjadi suci.

Mempraktikkan ajaran Buddha sebagai seorang biksu selalu lebih mudah dibandingkan dengan umat awam. Ada sebuah nasihat kuno Vietnam berkata; berlatih sebagai seorang biksu adalah lebih mudah; berlatih sebagai umat awam lebih sulit. Sehingga untuk menahan diri dari segala aktivitas seksual jauh lebih mudah dibandingkan dengan menahan aktivitas seksual ketika memiliki pasangan. Hubungan seksual dalam konteks saling pengertian dan cinta, maka kamu butuh banyak latihan. Atau sebaliknya kamu akan menyebabkan banyak penderitaan bagi pasanganmu juga dirimu sendiri.

Ada seorang doktor wanita dari Switzerland yang datang berlatih di Plum Village. Dia mengalami pengalaman pahit dalam hubungan kasihnya. Sejak usia muda, setiap kali kekasihnya meminta dia untuk berhubungan seksual, dia merasa harus menjawab “iya” walaupun dia merasa tidak siap, karena dia takut maka dia terpaksa menjawab “iya“. Beberapa remaja di zaman sekarang ini juga merasa seperti itu. Mereka tidak menyukainya, tidak menginginkannya, tidak siap untuk berhubungan seksual, namun mereka tidak berani menjawab “tidak”, karena mereka takut dipandang sebagai orang aneh atau tidak normal. Mereka tidak ingin ditolak; mereka ingin diterima. Itu adalah kenyataan psikologis yang perlu disadari oleh orang tua dan guru. Kita harus bilang kepada generasi muda bahwa mereka dapat belajar menjawab “tidak” ketika mereka tidak siap, ketika mereka merasa takut. Atau sebaliknya mereka akan menghancurkan tubuh dan pikirannya sendiri. Mohon dengarkan dan pancarkan welas asih kepada generasi muda agar kita bisa menolong mereka. Kita harus membantu mereka menemukan cara yang terampil untuk menjawab “tidak”.

Ketika dia datang ke Plum Village, wanita dari Switzerland itu belajar cara yang terampil untuk menjawab “tidak”. Dalam hubungan pacaran terakhirnya, dia sanggup menjawab “tidak”. Dia bilang, “Aku membutuhkanmu, sayangku. Kita perlu saling mengerti. Aku perlu kehadiranmu. Aku butuh seseorang yang dapat membantuku ketika aku berada dalam kesulitan, dan seseorang untuk mengerti diriku.” Mereka bersama-sama 1,5 tahun tanpa hubungan seksual. Ketika kami berkunjung ke Switzerland untuk ceramah dharma, dia dengan bangga memperkenalkan suaminya kepada kami. Hubungan mereka mulus, sukses, karena dia dapat menjawab “tidak” hingga dia siap, dan mereka bersama-sama dapat membangun sebuah hubungan jangka panjang. (Penerjemah Liana)

Di Cina dan Vietnam, Imperial City merupakan tempat tertutup yang disebut kota ungu terlarang

Naskah bahasa Inggris “Make a True Home of Your Love – Thich Nhat Hanh

Air Lebih Jernih, Rumput Lebih Hijau

Air Lebih Jernih, Rumput Lebih Hijau

Suatu ketika Buddha menjelaskan bahwa kehidupan dan kematian dipisahkan oleh garis pembatas tipis yakni kesadaran. Seseorang hidup atau tidak, ini tergantung pada apakah ia sadar atau tidak. Dalam Samyutta Nikaya, Buddha menceritakan sebuah kisah yang terjadi di sebuah desa kecil.

Seorang penari terkenal baru saja datang mengunjungi sebuah desa dan banyak orang berhamburan ke jalanan untuk meliriknya sebentar. Pada saat bersamaan, ada seorang kriminal yang dihukum untuk berjalan mengelilingi desa dengan membawa semangkuk penuh minyak. Ia harus berkonsentrasi sebaik-baiknya agar mangkuk tersebut tetap stabil, apabila setetes saja minyak tertumpah, prajurit yang berjalan tepat di belakangnya akan memenggal lehernya. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha bertanya, “Sekarang, menurut Anda apakah kriminal tersebut sanggup menjaga perhatiannya dan fokus di mangkuk minyak tersebut sehingga pikirannya tidak tersedot untuk memandang si penari terkenal itu atau tidak melirik ke kerumunan penduduk desa yang sedang berkumpul di jalanan. Kita tahu tempat keramaian ada saja orang yang mungkin menabraknya?”

Di lain kesempatan Buddha menyampaikan kisah yang membuat saya langsung melihat betapa pentingnya berlatih kesadaran atas diri sendiri untuk melindungi dan merawat diri sendiri, bukan sebaliknya yakni terjebak pada persepsi bagaimana orang lain memandang diri kita, kebiasaan pikiran yang mengakibatkan ketidakpuasan dan kecemasan. Buddha mengatakan, “Suatu ketika ada sepasang pemain akrobat. Gurunya adalah seorang duda miskin dan muridnya adalah seorang gadis kecil bernama Meda. Mereka berdua mengadakan pertunjukan di jalanan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk bisa menopang kehidupan. Mereka menggunakan bambu panjang yang akan diseimbangkan oleh si guru di atas kepalanya sedangkan si gadis akan perlahan-lahan memanjat bambu tersebut hingga ke puncak. Ia akan berdiam di sana sedangkan si guru akan terus berjalan.

“Mereka berdua harus mencurahkan semua konsentrasi untuk mempertahankan kesimbangan sempurna dan mencegah agar tidak terjadi kecelakaan. Suatu hari guru itu memberikan instruksi kepada muridnya: ‘Meda, dengarkanlah, saya akan menjaga kamu dan kamu menjaga saya, sehingga kita bisa saling membantu untuk tetap menjaga konsentrasi dan keseimbangan demi menghindari kecelakaan. Dengan demikian kita akan punya cukup uang untuk makan.’ Tetapi gadis kecil itu bersikap bijak, dan ia pun menjawab, ‘Guruku, saya pikir akan lebih baik jika kita menjaga diri kita masing-masing. Menjaga diri sendiri berarti juga menjaga kita berdua.’” Buddha mengatakan bahwa gadis kecil itu benar.

Dalam sebuah keluarga, jika ada satu orang anggota keluarga yang berlatih kesadaran, seluruh keluarga akan menjadi lebih sadar. Karena kehadiran satu anggota keluarga yang berlatih kesadaran, seluruh keluarga selalu diingatkan untuk hidup dengan penuh kesadaran. Jika dalam satu kelas, ada satu orang siswa yang selalu hidup dalam kesadaran, seluruh kelas akan ikut terpengaruh.

Di komunitas pelayan perdamaian, kita harus menjalankan prinsip yang sama. Jangan cemas jika ada orang di sekitar kita yang tidak berupaya maksimal. Pikirkan cara bagaimana membuat diri sendiri agar bisa memberikan kontribusi dalam suasana itu. Melakukan yang terbaik yang Anda bisa lakukan adalah cara terbaik untuk mengingatkan siapa saja di sekitar untuk ikut melakukan yang terbaik. Tetapi, ini membutuhkan latihan hidup berkesadaran yang dilakukan secara berkesinambungan. Ini adalah sebuah keharusan. Hanya dengan berlatih kesadaran, kita tidak menderita tetapi merasakan kebahagiaan dan kedamaian sejati. Hanya dengan berlatih kesadaran, kita bisa membuka pikiran dan mata cinta kasih.

Saya diundang untuk menikmati secangkir teh di sebuah apartemen tempat tinggal seorang teman yang membantu kami. Ia punya sebuah piano yang sering ia mainkan. Ketika Kirsten—yang berasal dari Belanda—menuangkan teh, saya melihat setumpuk kertas kerjanya dan berkata, “Mengapa Anda tidak berhenti menerjemahkan surat permohonan anak asuh tersebut sejenak dan memainkan piano untuk saya?” Kirsten dengan senang hati menghentikan pekerjaannya dan duduk di depan piano untuk memainkan sebuah karya Chopin yang sudah ia hafal sejak kecil. Sebuah karya musik yang lembut dan melodis tetapi juga kencang dan cepat. Anjingnya, yang sedang berbaring di bawah meja teh, mulai menyalak dan mendengking ketika alunan piano berubah menjadi enerjik. Saya tahu ia merasa tidak nyaman dan ingin musik itu berhenti. Anjing Kirsten dirawat dengan penuh kebaikan dan kelembutan layaknya merawat seorang anak kecil. Ia mungkin lebih sensitif terhadap musik dibandingkan anak-anak pada umumnya. Atau, anjing itu mungkin merespon seperti itu karena telinganya menangkap sejenis getaran yang tidak tertanggap oleh telinga manusia. Kirsten terus bermain piano sambil berusaha menenangkan anjingnya, tetapi sia-sia. Kirsten akhirnya menyelesaikan lagu tersebut dan mulai memainkan Mozart yang ringan dan harmonis. Sekarang, anjing tersebut duduk dengan tenang dan kelihatannya damai. Setelah selesai, ia datang menghampiri kemudian duduk di samping saya dan berkata, “Sering kali ketika saya memainkan musik Chopin yang sedikit keras, anjing saya akan datang mendekat dan menarik celana saya, tampaknya dia mencoba untuk mengusir saya dari piano. Terkadang saya harus menyeretnya keluar sebelum saya bisa melanjutkan. Tetapi ketika saya memainkan Bach atau Mozart, ia menjadi damai.”

Kirsten menyampaikan sebuah laporan tentang orang Kanada yang menyetel musik Mozart untuk tanamannya di malam hari. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh dengan lebih cepat dan bunga-bunga condong tumbuh menghadap sumber musik tersebut. Yang lain memainkan musik Mozart setiap hari di ladang gandum dan bisa mengukur bahwa gandum tersebut tumbuh lebih cepat dibandingkan di tempat lain.

Ketika Kirsten mengangkat bicara, saya langsung terbayang tentang ruang konferensi yang mana banyak orang berargumen dan berdebat, kata-kata penuh kemarahan dan kebencian silih berganti. Jika ada satu orang yang menaruh setangkai bunga dan satu pot tanaman di ruangan seperti itu, kemungkinan besar keduanya tidak akan tumbuh.

Saya memikirkan tentang taman yang dirawat oleh seorang biksu yang hidup dengan penuh kesadaran. Bunga-bunganya selalu hijau dan segar, dirawat dengan kedamaian dan kebahagiaan yang mengalir dari perhatian kesadarannya. Salah satu teks kuno mengatakan,

Ketika seorang Guru Agung dilahirkan, air sungai menjadi lebih jernih, rumput menjadi lebih hijau.

Kita perlu mendengarkan musik atau duduk dan berlatih bernapas di setiap awal pertemuan atau diskusi.

Dikutip dari Keajaiban Hidup Sadar

Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Selama bertahun-tahun mengikuti retret, timbul pertanyaan dalam diri saya: “Mengapa kebanyakan yg mengikuti retret itu orang yang berusia lanjut? Lantas kemanakah anak mudanya?

Walau ada pertanyaan yg mengganjal, tapi saya tidak bertanya langsung kepada orang lain, namun saya ingin mencari tahu jawabannya sendiri, barangkali melalui retret yang saya jalani, walau harus menghabiskan waktu bertahun-tahun, saya tetap ingin menemukan jawabannya sendiri, tampaknya ini lebih seru, dan demikianlah karakter saya.

Saya Mendapatkan jawaban ini dari membaca komik yang berjudul “Babi yang Berpikir terlalu Banyak“, dan juga berkaitan dengan pengalaman saya selama bertahun-tahun makan permen jelly kesukaan saya “Yuppi”.

Kita tahu akibat makan permen jelly terlalu banyak setiap hari maka, gigi akan rusak dan sakit, kalau sudah demikian yah terpaksa harus ke dokter gigi. Saya sejak kecil suka sekali makan Yuppi, mungkin sehari bisa sebungkus, sebetulnya dari kecil sudah diberitahu orang tua jangan sering makan manisan terlalu banyak karena akan sakit gigi, tetapi waktu itu setelah makan permen Yuppi berapa bulan, tampaknya gigi saya tidak sakit, jadi saya terus mengonsumsi permen itu sampai beberapa tahun.

Sekarang sudah dewasa saya merasakan akibatnya, gigi saya jadi rusak dan kadang sakitnya membuat rasa tidak nyaman. Akhirnya saya ke dokter gigi untuk periksa gigi, ternyata kebanyakan gigi saya sudah banyak bintik-bintik hitam dan menurut dokter harus segera ditambal, kalau tidak maka bintik-bintik itu akan merambat ke gigi yang lain. Tampaknya tidak ada pilihan lain, akhirnya saya setuju untuk segera ditambal walaupun prosesnya sangat menyakitkan sekali, ketika dokter menambal gigi saya, rasanya seperti di neraka benaran, bayangkan saja seperti tanah yang dibor.

Saya bilang ke dokter: “Pak dokter, ini sangat menyakitkan sekali rasanya.
Dokternya membalas: “Kalau tidak bersentuhan langsung dengan bagian yang sakit bagaimana kamu bisa sembuh?

Saya pikir masuk akal juga, lantas saya kembali disiksa oleh dokternya (bercanda, ha ha ha ha…)

Setelah melewati proses yang menyakitkan akhirnya saya mendapatkan penyembuhan.

Dalam keseharian kita juga seperti demikian, kita suka mencari hiburan, merokok, berhura-hura, clubbing, shopping, dll. Kita sebenarnya juga tahu hal yang demikian sangat nikmat sekali, tetapi tidak memberikan manfaat malah menambah penderitaan batin lebih dalam lagi bagi diri sendiri, ibarat permen Yuppi yang saya makan, rasanya sangat nikmat, tetapi tidak memberikan manfaat malah menambah derita bagi gigi saya.

Retret ibarat ke dokter gigi, ketika kita sakit gigi maka, kita ke dokter gigi, kita derita batin maka, kita pergi retret, tetapi seberapa banyak mereka yang berani pergi ke dokter gigi untuk disembuhkan?

Jawabannya tidak banyak, walaupun mereka tahu bisa sembuh dengan bantuan dokter gigi namun mereka tidak berani melewati proses yang menyakitkan itu, mereka sengaja menunggu sampai waktu yang lama sekali untuk disembuhkan, kadang menunggu terlalu lama sehingga penyakitnya sudah akut dan sulit sekali disembuhkan.

Hanya berkunjung ke dokter tentu saja bisa membantu penyembuhan, mendengar dan mengikuti petunjuk dokter, kemudian yang penting juga jangan makan permen Yuppi lagi.

Sama halnya Dengan derita batin, seberapa banyak diantara mereka yang berani pergi ke retret untuk disembuhkan? Jawabannya juga tidak banyak, karena mereka akan melewati proses yang membosankan sebelum disembuhkan, mereka menunggu sampai stressnya sudah menumpuk seperti gunung baru ikut retret, dan mereka berharap sekali ikut retret saja sudah bisa disembuhkan. Apakah mungkin?

Hanya ikut retret sekali saja tentu saja sangat bermanfaat, namun kita perlu melanjutkan apa yang kita latih, cari teman-teman untuk berlatih bersama-sama secara rutin, kemudian jangan merokok, hura-hura, clubbing atau shopping lagi, shopping tentu saja boleh tapi shopping barang yang dibutuhkan saja, atau shopping dengan penuh kesadaran.

Sekian sharing dari Saya..


Yu Yong (25 tahun)