Penghidupan Benar

Penghidupan Benar

Begawan Buddha, aku ingin menerapkan penghidupan benar. Aku bertekad tidak akan mencari nafkah dengan cara merusak welas asihku. Sebagai seorang praktisi latihan kewawasan (kesadaran penuh) pertama, aku bertekad tidak terlibat dalam profesi yang memaksaku untuk membunuh makhluk hidup, menghancurkan atau menyebabkan polusi lingkungan. Aku juga tidak akan mencari nafkah lewat eksploitasi dan menyakiti sesama manusia. Aku bertekad untuk tidak berinvestasi pada perusahaan yang hanya menguntungkan segelintir orang dengan mengorbakan kesempatan hidup masyarakat luas. Aku tidak akan berinvestasi pada perusahaan yang menyebabkan polusi lingkungan. Aku bertekad tidak mencari nafkah dengan memanfaatkan kepercayaan mistis masyarakat seperti menjual jimat dan guna-guna, membaca garis tangan, meramal keberuntungan, menjadi medium makhluk halus, atau mengusir makhluk halus.

Sebagai seorang monastik, aku tidak akan menjadikan pembacaan doa untuk pengiriman energi dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Aku tidak akan memasang harga pada pelayanan rumah duka atau seremoni bagi mereka yang telah meninggal dunia. Begawan Buddha, Aku berjanji, jika aku tidak sengaja jatuh ke dalam penghidupan keliru seperti itu atau terpaksa masuk ke dalam penghidupan keliru yang tidak bajik itu, Aku akan mencari cara untuk keluar dan melepaskan diri dari situasi dan penghidupan keliru itu, kemudian memulai profesi baru yang sesuai dengan semangat penghidupan benar. Aku sadar, seandainya karir yang aku jalani bisa menumbuhkan welas asih setiap hari dan menumbuhkan kemampuan untuk menolong pihak lain, maka apa pun profesi saya, apakah seorang guru, perawat, dokter, penggiat lingkungan, ilmuwan, pekerja sosial, psikoterapis, atau pun profesi apa saja akan membuat aku sangat bahagia.

Dengan memiliki penghidupan benar, aku akan punya kesempatan untuk menumbuhkan pengertian dan cinta kasih demi membantu pihak lain dan semua orang untuk lepas dari penderitaanya.

Begawan Buddha, Aku bertekad untuk hidup sederhana, tidak mengonsumsi berlebihan, agar aku tidak menghabiskan waktu terlalu banyak untuk mencari uang. Aku bertekad untuk memberikan waktuku bagi diri sendiri agar hidup lebih bermakna dan memiliki kebebasan saat bekerja. Aku bertekad tidak terlena dalam berbagai jenis pekerjaan, mencari kerja sampingan demi mendapatkan uang tambahan. Aku bertekad untuk tidak mencari kebahagiaan dalam kesibukan dan mengonsumsi.

Aku akan menemukan kebahagiaan melalui pengembangan kebebasan internal dan mengembangkan cinta kasih. Sebagai monastik, aku bertekad tidak akan tenggelam dalam berbagai tugas dengan mengatasnamakan Buddha, yang sebetulnya demi mendapatkan pujian, jabatan, atau keuntungan pribadi. Kadang-kadang tugas membangun wihara, memahat patung, mengelola organisasi, seremoni, dan mengadakan retret bisa menjadi aktivitas pemuasan diri belaka. Apabila aku mendapat tugas seperti itu, aku bertekad untuk menciptakan keharmonisan pandangan dan pikiran dengan anggota sanggha lainnya. Membangun dan mengelola pekerjaan organisasi merupakan kesempatan untuk bekerja sama dan berlatih melepaskan kebiasaan berpikir bahwa hanya ide aku yang paling bagus dan ide orang lain tidak bagus sama sekali.

Aku bertekad untuk mendengarkan secara mendalam atas ide dari semua anggota komunitas agar bisa menggabungkan ide-ide tersebut menjadi kebijaksaan kolektif untuk menjadi landasan keputusan bersama. Apabila aku melakukan hal demikian, aku akan bisa membangun kekeluargaan dan melepaskan kesombongan pribadi yang berpikir aku adalah diri yang terpisah. Melalui cari demikian aku bisa maju dalam jalur transformasi dan penyembuhan. Aku tahu, jika berbagai ide dan gagasan bisa diharmoniskan, maka apa pun pekerjaan yang sedang dikerjakan menjadi tugas tulus demi Buddha, Dharma, dan Sanggha. Semua pekerjaan dilakukan demi membebaskan semua mkhluk dari penderitaan dan menolong banyak orang.

Sebagai monastik, aku bertekad tidak membangun gubuk atau wihara yang terpisah dari sanggha lainnya, sebagaimana harimau meninggalkan hutan. Aku hanya akan mengemban tugas yang telah diberikan oleh sanggha dan aku bertekad untuk bekerja sama dengan semangat perdamaian dan respek kepada semua praktisi dalam empat lapisan sanggha.

Begawan Buddha, di masa lalu aku telah keliru dengan cara menenggelamkan diri dalam berbagai jenis pekerjaan. Aku bekerja demi mendapatkan pujian, kekuasaan, dan mendapatkan keuntungan dan tidak menyadarinya, bahkan percaya pekerjaan yang aku lakukan masih demi Buddha. Melalui cara menyelami ajaran Buddha aku sudah tersadarkan atas kekeliruan masa lalu dan dengan sepenuh hati menyatakan penyesalan.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran dalam kesatupaduan sempurna, Aku menyentuh bumi tiga kali dihadapanMu, Engkau pemenang dunia yang mampu menyelamatkan manusia, Engkau yang telah tercerahkan sempurna, dipuja dan dipuji oleh seluruh dunia. [Genta]

Kebahagiaan Sejati

Kebahagiaan Sejati

Begawan Buddha, Engkau dan sangghaMu adalah guru yang telah melahirkan aku ke dalam kehidupan spiritual dan terus menutrisi aku setiap hari. Aku adalah muridmu, aku adalah adikmu, aku juga adalah anakmu. Aku ingin menjadi kelanjutanmu yang layak. Engkau tidak mencari kebahagiaan dalam ketenaran, kekayaan, nafsu seksual, jabatan, makanan enak, dan kekayaan materi. KebahagiaanMu lahir dari kebebebasan, cinta kasih, dan pengertian.

Berkat pengertian mendalam, Engkau tidak terkaburkan oleh pikiranmu dan lingkungan juga tidak terjebak dalam pikiran keliru. Engkau tidak berucap, berpikir, atau melakukan sesuatu yang akan mengakibatkan penderitaan bagi dirimu dan pihak lain. Begawan Buddha, berkat pengertian mendalam ini, Engkau memancarkan cinta kasih tanpa batas kepada semua spesies. Cinta kasih demikian begitu menyejukkan hati, membebaskan, dan membawa kedamaian dan sukacita kepada semua makhluk. Pengertian mendalam dan welas asihMu membawa kebebasan dan kebahagiaan. Tekadku terdalam adalah mengikuti jejakMu. Aku bertekad tidak akan mencari kebahagiaan lewat lima jenis kenikmatan. Kekayaan, ketenaran, nafsu seksual, kekuasaan, makanan enak dan kekayaan materi bukanlah sumber kebahagiaan sejati.

Aku tahu, jika aku terus mengejar objek kemelekatan itu, berarti aku sedang membuat diriku sengsara dan menjadi hamba objek-objek itu. Aku bertekad tidak akan mengejar jabatan, diploma, kekuasaan, kekayaan, dan seks. Aku bertekad untuk berlatih membangkitkan pengertian, cinta kasih, dan kebebasan. Inilah elemen yang menjadi sumber kebahagiaan sejati bagiku dan sanggha di masa kini dan nanti.

Menyentuh Bumi

Tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi tiga kali untuk menyelami dan mengokohkan aspirasi mendalamku ini. [Genta]

A Drop of Enlightenment in the Boundless Ocean

A Drop of Enlightenment in the Boundless Ocean
Fun With Dharma, KMVB UPH @PondokSadhanaAmitayus Cipayung

A constant feeling of consternation and curiosity combined together, a mind filled with thoughts that are unnecessary, a dormant way of thinking. That was how I felt before the five days pilgrimage began at Pondok Sadhana Amitayus, Cipayung, West Java. Well, it was not exactly a pilgrimage as I just spent the days at one place but it was definitely a journey for my soul.

KMVB UPH (Keluarga Mahasiswa Vidya Buddhis, Universitas Pelita Harapan) hosted an event called “Fun with Dharma” which basically means learning Dharma in a fun way. It was hosted in Cipayung, at a place called Pondok Sadhana Amitayus. It was led by Bhante Nyanabhadra (Br. Pháp Tử), a student of the world-renowned Zen Master, Thich Nhat Hanh. Bhante Nyanabhadra faced through many challenges in order to become one of 800 disciples of this great Zen master.

The challenges surely created many experiences for him because I can feel the knowledge emitting from his mouth every time he answered one of our stupid question. Stupid questions lead to great replies and great replies led to a great quote. “Do your best but not to be the best!” One of the spontaneous quote that he made during the Dharma Talk.

I can feel the burgeoning growth of my soul after listening talk about the principles of Buddhism. The ever-increasing Dharma knowledge about Buddhism. What is admirable about Bhante Nyanabhadra is his open-mindedness towards everyone’s perspective. Some might criticize him about how he acts but no matter what, people cannot criticize the way he pour the Dharma into us. It was poured in the most simplistic way, thus I can understand them easily.

For instance, I asked a very difficult question about finding the right partner and although, sometimes he found the questions rather complicated and unanswerable, he still provided us the best possible solution that he can think of. Not only that, the solution he provided was not biased in any way because he demonstrated his answer with perspectives not only his but also others’ perspectives. In the end of every Dharma talk session, he would say “Do not believe 100% of what I have said, always take time to digest them.” I was in awe of his modesty despite his achievements and intelligence.

It was not just Bhante Nyanabhadra that made the pilgrimage whole, but also the system. What I meant by system is how we eat, walk, taking the stairs, meditate, stopping when the clock chimes every 15 minutes and many others. Just by the way we eat, we were growing as a family of friends; because we have to wait for everyone to get their food and sit on our little circle of awkwardness. It was awkward at first, but the results were magnificent.

The solidarity, the sense of belonging, the feeling of a family; all of that dormant feelings woke up from their dreams. Furthermore, with the 15 minutes of constant chiming created a more unique sensation. Bhante Nyanabhadra instructed us to go back to our breath every time the clock chimes. Therefore, I have to stop and observe our pattern of breathing when I hear the ‘bell’ sound. It was strange at first but one of the funniest moments was probably invented there.

We consistently meditated at 5:30 am in the morning for 5 consecutive days. There was sitting meditation, walking meditation, and mindful movements. The sitting meditation lasted about 20-30 minutes in which Bhante Nyanabhadra gives simple instructions such as “Breathing in, I am aware of my in breath. Breathing out, I am aware of my out breath.” It helped us to get into the zone.

Afterwards, we did some walking meditation indoor and outdoor. In the case of outdoor, we ambled and ventured in the nature behind the house. Being in the present moment that I was, I observed how the leaves dancing when the wind blew past them; the grass gently kissing our feet; the mountains spreading across the horizon; the boundless blue sky; the tinkling sound of the bell.

All in all, the Amitayus pilgrimage experience was absolutely a good way to end our exam and start our holiday. The experiences that I obtained during this event was priceless and it was all thanks to our karma that I was able to attend “Fun With Dharma” with many other friends. I cannot say that I have completely understood Buddha’s teachings however, I for sure gained a drop of enlightenment in the boundless ocean of Buddha’s teachings.

One of the participant, student of Universitas Pelita Harapan, member of Keluarga Mahasiswa Vidya Buddhis

Retret Fransiskan di Plum Village Thailand

Retret Fransiskan di Plum Village Thailand
Romo Feri (paling kanan berdiri). Retret Fransiskan di Plum Village Thailand.

Tanggal 10 sampai dengan 14 Desember 2018 lalu, ada 17 saudara OFM (The Order of Friars Minor) dari beberapa negara yaitu Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, India, Myanmar, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Amerika, mengadakan retret di Pusat Latihan Plum Village di Pak Chong, Thailand. Retret ini atas inisiatif Pastor John Wong OFM dari Komisi Dialog Antar Iman Generalat OFM di Roma yang sudah lima kali ikut retret di Plum Village Thailand dan dua kali di Plum Village Prancis di dekat Bordeaux.

Tujuan retret adalah membangun dialog Katolik dengan Buddhis melalui retret bersama di Wihara Buddhis. Pada kesempatan tersebut, Biksu Goh dari Singapura menjelaskan sejarah agama Buddha. Biksu Phap Niem menjelaskan Empat Kebenaran Mulia (Four Noble Truths) dan Jalan Mulia Beruas Delapan (Eight Noble Paths) yang merupakan inti ajaran Buddha untuk mentransformasikan penderitaan.

Para OFM juga diberi kesempatan untuk berbagi tentang Santo Fransiskus Assisi dihadapan sekitar 160 monastik dan 50 peserta yang sedang retret di Plum Village Thailand. Pastor Tom Herbst OFM dari AS menyampaikan refleksi berupa dialog imajiner Santo Fransiskus Assisi dengan Buddha.

Pastor Francis Lee, OFM dari Korea Selatan menyampaikan bagaimana kesamaan nilai-nilai ajaran Buddha dengan ajaran Santo Fransiskus Assisi. Sepasang suami istri dari Jepang mengatakan sangat terpesona dan bersyukur bisa mengalami kondisi saling memahami dan kerjasama  dalam damai antara imam Katolik dan biksu Buddha.

Lima orang dari Eco Camp Bandung juga diundang untuk mengikuti retret ini. Beberapa orang dari Eco Camp sudah pernah retret di Plum Village Perancis dan menggunakan beberapa latihan sadar penuh dalam kegiatan Eco Camp. Tema retret ini adalah “Interfaith Dialogue Building Brotherhood and Sisterhood“.

Retret dimulai dengan minum teh bersama dengan refleksi bahwa di dalam secangkir teh ada benih teh, awan, dan matahari. Biksu Phap Niem menjelaskan bagaimana banyak kemiripan ajaran Yesus Kristus dengan Buddha. Ketika dua tiga orang berkumpul dalam nama Tuhan di situ Tuhan hadir. Ketika Sangha berkumpul di situ Buddha juga hadir.

Dalam retret ini peserta bangun pukul 4 pagi dan melaksanakan meditasi duduk, pendarasan, meditasi duduk, meditasi makan, berbagai praktik kewawasan (mindfulness practices), dan berbagi kebahagiaan berdialog antara dua tradisi yaitu Katolik dan Buddha untuk membangun persaudaraan sejati.

Peserta retret dari Vietnam dan dari Eco Camp pada tanggal 16 Desember 2018 masih sempat menghadiri penerimaan tujuh novis wanita dan empat novis pria yang disebut novice monk and nun ordination dengan mengucapkan sepuluh kaul (10 sila samanera dan samaneri) yang intinya adalah hidup sederhana, selibat, taat, vegetarian, menghindari kemewahan, dan setia berlatih nilai-nilai Buddhis. Mereka menerima nama baru, jubah, dan dipotong habis rambutnya disaksikan semua semua monastik dan keluarga.

Dari retret ini para Fransiskan dan peserta dari Eco Camp mengalami indahnya persaudaraan, hidup sederhana, keheningan, makan vegetarian, mengolah penderitaan, dan banyak nilai lainnya.

Tahun 2019, Pastor Michael Peruhe OFM, Provinsial OFM Indonesia, menyampaikan rencana refleksi 90 tahun OFM di Indonesia dan 800 tahun pertemuan bersejarah Santo Fransiskus Assisi dengan Sultan Malik di Mesir yang menjadi tonggak dialog antar iman yang sangat bersejarah.

Retret di Thailand bersama para monastik Plum Village dan berbagai kegiatan lain adalah upaya membangun persaudaraan sejati dan nilai-nilai kesederhanaan dari berbagai tradisi agama dan iman.

Wihara Plum Village di Perancis, Thailand, AS, Jerman, dan Hongkong didirikan oleh Master Zen, Thich Nhat Hanh yang akrab di sapa Thay, yang sekarang berusia 92 tahun dan karena sakit sudah kembali ke Vietnam. Thay menulis ratusan buku yang luar biasa, antara lain “Going Home : Jesus and Buddha as Brothers“, “Living Buddha Living Christ“, “How to Love”, “Peace”, “The Miracle of Mindfulness“, “No Mud No Lotus”, dan lain-lain yang sebagian besar sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ada 14 mindfulness training. Saya sangat terpesona dengan tiga yang pertama yaitu Keterbukaan (openness), Tidak Melekat Pada Pandangan (non attachment to views), dan Kebebasan Berpikir (freedom of thought). Kalau kita mau melatih tiga prinsip ini maka kita akan menjadi orang yang terbuka, tidak berpikiran sempit, tidak akan memaksakan pikiran kita, dan selalu mau belajar hal baru dan menghormati perbedaan pendapat.

Prinsip ini dari agama Buddha tapi bahkan ditulis jangan fanatik bahkan dengan ajaran Buddha itu sendiri.

Ayo kita bangun dunia baru tempat kita belajar terbuka karena kita menghargai bahwa kebenaran bisa tumbuh di mana-mana dan tidak seorang pun atau suatu kelompok menguasai kebenaran. Justru perbedaan akan memperkaya dan memperindah kehidupan bersama. 

Stanislaus Ferry Sutrisna Wijaya, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, Pendiri dan pembina Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang mengelola Eco Camp

Berhenti dan Relaks

Berhenti dan Relaks

“Mindfulness helps you go home to the present. And every time you go there and recognize a condition of happiness that you have, happiness comes.”

Thich Nhat Hanh

Seberapa sering kita melalui hari, bulan, dan tahun dengan benar-benar menyadarinya? Atau lebih sering menyadari ‘tahu-tahu’? “Tahu-tahu sudah mau akhir tahun. Tahu-tahu sudah mau 2019. Tahu-tahu sudah tua.”

Menyadari begitu cepatnya waktu berlalu tanpa kita benar-benar sadar melewatinya dapat menimbulkan penyesalan. Menyesal tidak menikmati momen, entah momen perkembangan sang buah hati, momen kebersamaan dengan orang tua atau orang yang kita kasihi, momen perayaan, dan banyak momen-momen berharga lainnya.

Untuk itu, diperlukan latihan dan keterampilan agar hidup kita makin berkualitas dan dapat menikmati setiap momennya. Itulah alasan tema yang diambil pada DOM guru dan staf sekolah bulan November ini adalah Stop and Relax. Bersyukur pada kesempatan ini Bhante Nyanabhadra bersedia membimbing kami melalui live streaming.

DO ONE THING AT A TIME

Dalam sesi dhamma talk, bhante mengingatkan kembali pentingnya beberapa meditasi terapan, seperti meditasi duduk, meditasi jalan, relaksasi badan, makan dengan hening, mendengar genta, berhenti, bernapas, relaks dan senyum. Melakukan satu hal pada satu waktu membantu kita untuk lebih menyadari setiap waktu yang dilalui. Menyatukan tubuh dan pikiran membuat kita benar-benar hadir di saat ini. Dengan makin sering kita berlatih mindfulness, akan menumbuhkan rasa bersyukur pada banyak hal dalam hidup kita. Seiring hal itu, benih welas asih dan kebahagiaan juga akan makin berkembang.

Pada sesi tanya jawab, para guru juga antusias untuk bertanya kepada bhante. Ada pertanyaan mengenai manfaat meditasi jalan, pola makan dan makan berkesadaran, pengalaman ketika relaksasi badan dan meditasi duduk, bagaimana kewawasan (mindfulness) dapat selaras diterapkan kepada murid sekolah, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Penjelasan jawaban dari bhante sangat gamblang sehingga mudah dimengerti dan diterima para guru yang kebanyakan adalah non-buddhis.

BEGINNING ANEW

Banyak orang memiliki hubungan yang menyakitkan dan terluka ketika masa kecil, masa remaja ataupun saat dewasa. Banyak orang yang tidak tumbuh dalam lingkungan yang menutrisi cara berkomunikasi dan berinteraksi yang positif, baik di dalam keluarga maupun lingkungan pertemanan. Hal ini menyebabkan banyak orang sulit berkomunikasi dengan orang lain karena mereka hanya fokus pada kualitas negatif diri mereka dan kualitas negatif orang lain, lebih cenderung menciptakan jarak daripada menjalin hubungan dengan sekitarnya.

‘Beginning Anew’ atau membuka lembaran baru menjadi tema dalam sesi sharing DOM (Day of Mindfulness) atau Hari Berkewawasan kali ini. Pada awal sesi, para peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk bercerita singkat mengenai diri mereka masing-masing. Setelah itu, mereka diminta untuk ‘menyiram bunga’ sesama anggota kelompoknya dengan menuliskan hal-hal baik dan positif orang-orang tersebut.

Menyiram bunga (flower watering) adalah salah satu hal terpenting dalam sesi membuka lembaran baru. Ketika masing-masing membaca hal-hal positif dari sudut pandang rekan-rekannya, akan menumbuhkan benih positif dan rasa percaya diri pada masing-masing pribadi. Bahkan mungkin ada yang baru menyadarinya setelah diberitahu di sesi ini. Terkadang butuh sudut pandang orang lain untuk mengenali diri sendiri.

Napas masuk, saya tahu saya sedang bernapas masuk.
Napas keluar, saya tahu saya sedang bernapas keluar.
Napas masuk, saya melihat semua kualitas positif diri saya.
Napas keluar, saya ingin mengenali kualitas positif di diri teman, rekan atau anggota keluarga saya.
Napas masuk, saya ingin mengetahui berbagai kualitas positif di diri teman, rekan atau anggota keluarga saya dan memberikan penghargaan saya pada mereka.
Napas keluar, saya bahagia kata-kata saya dapat menunjukkan apresiasi saya pada mereka.

Setelah flower watering, masuk ke tahap yang lebih dalam, yaitu mengakui kesalahan dan penyesalan kita. Butuh keberanian dalam menaklukan ego diri dan hati yang besar untuk mengakui kesalahan kita. Menyadari kesalahan tidak begitu sulit, tapi untuk berani mengakuinya serta meminta maaf adalah satu sikap yang luar biasa. Terlebih lagi di dalam suatu forum. Salah seorang guru tidak disangka langsung mempraktikkan hal ini. Suatu kesalahpahaman yang telah berlangsung selama dua tahun akhirnya diungkapkan pada sesi ini.

Napas masuk, saya ingin mengenali bagaimana kata-kata dan perbuatan saya dapat menyakiti orang lain.
Napas keluar, saya ingin meminta maaf pada mereka.
Napas masuk, saya ingin berbagi kesulitan yang sedang saya hadapi.
Napas keluar, saya meyakinkan orang lain bahwa sikap tidak biasa saya tidak terkait dengan apapun yang telah dia lakukan.

Tahap terakhir adalah mengekspresikan kesulitan, luka batin maupun sakit hati kita. Biasanya tahap ini lebih mudah dibanding tahap sebelumnya. Ketika mendapat kesempatan mengungkapkan rasa kecewa, kesedihan, kemarahan ataupun sakit hati yang membebani selama ini akan sangat melegakan hati .

Napas masuk, saya sadar bahwa saya merasa disakiti seseorang melalui kata-kata atau perbuatannya.
Napas keluar, saya akan melakukan meditasi duduk atau meditasi jalan untuk menenangkan pikiranku.
Napas masuk saya mengajak teman, rekan atau keluarga saya untuk membicarakan perasaan tidak nyaman ini.
Napas keluar, saya akan berbagi perasaan ini dengan cara yang tenang, saya tidak akan menyalahkan orang lain.
Napas masuk, saya merasa bahagia dapat mengkomunikasikan hal ini dengan niat baik dan menghargai orang lain.
Napas keluar, saya tersenyum.

Beginning anew bukan meminta untuk dimaafkan. Mendapat kesempatan untuk membuka lembaran baru sangat membantu seseorang untuk mengungkapkan kesalahpahaman dan penderitaannya. Beginning anew mengubah pikiran dan hati kita untuk bertransformasi dari kesalahpahaman atau ketidaktahuan yang menyebabkan tindakan salah dari tubuh, hati, dan pikiran kita. Beginning anew juga menumbuhkan benih-benih welas asih dalam diri kita.

Praktik ini sungguh bermanfaat untuk memperbaiki hubungan yang bermasalah. Mendengar secara mendalam dan membuka pintu hati juga diperlukan agar latihan ini dapat membuahkan hasil yang baik. Semua kesalahpahaman muncul dari pikiran. Melalui pikiran juga, kesalahpahaman akan hilang.

“When another person makes you suffer, it is because he suffers deeply within himself, and his suffering is spilling over. He does not need punishment; he needs help.”

Thich Nhat Hanh

RUMINI LIM, guru sekolah Ananda Bagan Batu, pengajar mindfulness class dan volunteer retret mindfulness

Kumpulan Cerita yang Tidak Pernah Selesai

Kumpulan Cerita yang Tidak Pernah Selesai
Chanting Namo Avalokitesvaraya @Lower Hamlet, Plum Village France

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Kalimat ini tentu sudah sering terdengar, terlepas dari apa agama apa pun. Tentu saja ini benar. Contohnya saya berencana memotong rambut agar rambut saya tidak mekar seperti singa jantan, kenyataannya malah seperti orang baru bangun tidur. Contoh lain saya berencana membuat pudding cantik dengan bunga asli, kenyataannya warna kuning sang bunga krisan kalah genjreng dengan warna kuning buah mangga yang sedang musim, alih-alih terlihat bunganya, semua lapisan hanya terlihat kuning.

Di waktu lain, saya berencana menjadi penulis artikel pendek yang produktif, kenyataannya semua artikel saya setengah jalan, tidak ada yang selesai dan tidak ada yang dikirimkan ke media mana pun. Hal di atas hanya cerita dari sisi manusia biasa, bagaimana cerita manusia adidaya seperti Buddha Gautama?

Konon tertulis bahwa Buddha sewaktu bangkit dari pencerahannya, Beliau lama terdiam, merenung dan memikirkan apakah Beliau mangkat saja atau tetap tinggal di Bumi, mengajarkan Dharma dengan susah payah, jungkir balik dan mungkin dibenci banyak orang. Singkat cerita, Buddha tinggal dan mengajarkan Dharma hingga jejaknya masih ada saat ini, apakah Buddha berencana?

Pertanyaan di atas tentu saja bukan pertanyaan yang mudah dijawab, apalagi bagi kita yang belum mengembangkan jalan hidup spiritual dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang duniawi. Seseorang mungkin menjawab, Buddha pasti membuat rencana buktinya Beliau mengunjungi kelima sahabatnya berlatih dan membabarkan Dharma sehingga kelimanya menjadi murid-Nya. Orang lain mungkin berkata Buddha tidak berencana mengajarkan Dharma dan membiarkan ajaran Buddha menjadi banyak aliran.

Terlepas dari perencanaan, dunia sendiri berubah dan makin cepat dengan berkembangnya information and technology, baru-baru ini saya membaca beberapa berita kasus bunuh diri karena kehidupan nyata dan imajinasi yang dibuat oleh games online sudah tidak bisa dibedakan lagi, dan yang mengejutkan lagi hal ini tidak mengenal umur, gender, pendidikan ataupun kemajuan pendidikan suatu negara. Ada anak remaja yang menjatuhkan diri dari tingginya apartemen karena dalam games yang dimainkan dikisahkan dia akan begitu saja hidup kembali.

Lalu apa sumbangsih kita selaku manusia yang masih waras?  Apakah kita biarkan saja dunia berputar apa adanya, toh Buddha pernah menyatakan, “Apakah Buddha muncul atau tidak, Dhamma tetap ada selamanya di dunia ini.”  Siapa berjodoh, dia akan bertemu dan mendengar ajaran ini, siapa belum berjodoh mungkin dikelahiran nanti akan berjodoh, bertemu dan mendengar ajaran ini. Tentu saja, ini pemikiran keliru, perlu ada upaya agar ajaran ini bisa menyentuh dan diberikan kepada orang lain yang belum mengenalnya. Pertanyaan selanjutnya “Bagaimana caranya?”.

Thay, panggilan akrab untuk Master Zen Thich Nhat Hanh seorang pemimpin spiritual pernah berkata transform yourself. Bertransformasi bukan perkara mudah. Saya pikir saya telah banyak berubah, namun disela-sela latihan saya tahu, egoisme saya masih dekat dengan awan, tindak-laku saya masih memikirkan apa keuntungan yang saya dapat jika saya melakukannya, saya masih memihak seseorang atau lembaga yang saya sukai.

Pernahkan kita membayangkan mengusap ingus dari anak jalanan yang sedang sakit tanpa rasa jijik sedikit pun? Atau secara spontanitas memberikan sebagian besar simpanan kita untuk masyarakat papa yang membutuhkan biaya pengobatan dan kemudian berhari-hari kemudian puasa makan sampai gajian tiba dan mendapat julukan orang bodoh dari teman-teman kita?

Tentu saja ada kabar baiknya, Buddha selalu menyarankan kita bertindak bijaksana, pedomannya pun sudah diberikan kepada para perumah-tangga, Sigalovada Sutta adalah contohnya.  

Kembali ke pertanyaan “Bagaimana caranya?” Dari pengalaman saya, jawabannya hanya satu, berlatihlah. Luangkan waktu setiap hari menyadari napas berhembus mengempiskan perut, menyadari napas masuk membuat perut membulat, menyadari napas hangat keluar di ujung hidung, menyadari udara segar memasuki tubuh melalui hidung.

Semua guru akan melatih hal yang sama, bernapaslah, mengembara kemana pun mereka akan berkata, bernapaslah dengan sadar dan sabar. Makin menyadari napas, saya makin tahu pikiran saya sering lari ke seribu arah, dia sibuk seperti radio yang berbunyi selama dua puluh empat jam, tujuh hari dalam seminggu dan tanpa pernah rusak.  Makin mengerti maka saya tahu tahu ego saya masih tinggi, makin tinggi maka guru pun tidak akan mendekat.

*CHÂN MINH TUYỀN (真明泉) anggota Ordo Interbeing Indonesia, volunteer retret mindfulness, wanita karir, sekaligus adalah apoteker yang juga meraih gelar master di bidang manajemen pendidikan

Apakah Saya Paling Benar?

Apakah Saya Paling Benar?
Jalan setapak di Lower Hamlet, Plum Village Prancis.

Setiap bangun pagi, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka ponsel, membaca status/berita di Media Sosial (Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp dan lainnya), saya akan menghabiskan waktu beberapa menit bahkan lebih.

Media sosial adalah media online, tempat para penggunanya bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi, sarana pergaulan sosial yang dilakukan secara online melalui jaringan internet. Para pengguna media sosial atau bisa juga disebut dengan user ini bisa melakukan komunikasi atau interaksi, berkirim pesan, baik pesan teks, gambar, audio hingga video, saling berbagi (sharing) dan juga membangun jaringan atau networking.

Banyak di antara teman saya, memposting status yang tanpa sengaja melukai perasaan orang lain. Banyak juga di antara mereka yang selalu terbawa perasaan (baper)  bahwa status yang diposting, sengaja dibuat untuk orang tertentu, akan tetapi belum tentu kata-kata tersebut ditujukan kepada satu orang tertentu.

Saat membaca sebait kalimat, saya merasa bagus, memberikan inspirasi, memotivasi semangat dan meningkatkan keyakinan, biasanya saya membagikan atau mengopi kata-kata motivasi tersebut. Akan tetapi saat orang lain membaca posting tersebut, bisa saja merasa sindiran dan tanpa disadari ia merasa kesal.

Saat saya kesal dan benci kepada seseorang, saya dengan sengaja membuat sindiran ataupun kata kata kebencian untuk melampiaskan kekesalan, supaya seluruh dunia tahu siapa dia. Secara tidak sadar saya telah menuduh mereka salah ……..  Yakin mereka salah ? Apakah saya paling benar?

Sahabat, teman di media sosial kebanyakan tidak saling mengenal, tapi mereka menilai seseorang dari status, bahasa, video, dan foto. Apa yang seseorang post di media sosial, menunjukan Kualitas, Karakter dan Watak orang tersebut.

Postingan yang dipost, saat orang lain membaca dan melihat, apakah setiap orang mempunyai pemikiran yang sama satu sama lainnya ? TIDAK

Semua orang punya pendapat dan pemikiran yang berbeda, walaupun Status (bahasa) yang ditulis sama. Ada yang membenarkan pendapat tersebut, ada juga yang tidak.

Bagaimana perasaan orang lain, saat membaca status yang dengan sengaja dibuat untuk dia?

Terluka, sedih dan kecewa ………    setelah itu bahagia?

Seberapa lama kebahagian itu bisa dirasakan ?

Keuntungan apa yang didapatkan ?

Saat saya terluka oleh sebuah pukulan atau goresan, begitu luka itu sembuh, saya dengan cepat melupakannya. Tapi jika kata-kata yang melukai hati, bisa membentuk dendam yang dibawa sampai akhir hidup.

Mari renungkan, apa yang saya berikan? Seberapa besar perhatian, bantuan yang seseorang berikan kepada orang lain? Sehingga dengan mudah dia merusak reputasi seseorang menggunakan bahasa emosi dan tuduhan, jika tidak ada, apa hak seseorang untuk menciptakan bahasa kebencian kepada orang lain.

Ada yang terlihat sedang menutupi kekurangan dirinya dengan terus mengungkit kelemahan orang lain ke permukaan untuk dilihat banyak orang. Tujuannya untuk menutupi kekurangan dirinya, agar pihak lain tidak melihat kekurangannya, tapi tanpa disadari, hal itu melukai dirinya sendiri.

Bagaimana perasaan saya jika bahasa kebencian saya tidak ditanggapi ?

Orang itu tidak membaca status saya atau mungkin sudah membaca tapi tidak menanggapinya sama sekali ? Bagaimana jika bahasa kebencianmu hanya dianggap sampah?  Marah……. Kecewa ……. Gelisah ……

Memilih diam saat kondisi tidak nyaman, bukan berarti takut. Banyak orang memilih diam karena mereka tidak mau mengambil sampah orang lain.

Surga ….. Neraka ….. begitu dekat, saat saya mengambil sampah yang dibuang oleh orang lain, masuk kedalam pikiran dan perasaan, maka saya sudah memilih neraka untuk diri sendiri. Jika saya hanya melihat, mengamati dan melepaskan sampah itu, maka saya memilih surga, bahagia tanpa merasakan kesedihan, kekecewaan dan penyesalan.

Mencari cari kesalahan orang lain itu membuang waktu, karena seberapa banyak kesalahan yang diperbuat orang lain, tidak akan mengubah apa pun pada diri saya.

Jangan hidup dalam kemarahan dan kebencian di hatimu. Anda hanya menyakiti dirimu sendiri lebih dari orang yang Anda benci (Dalai Lama XIV)

SVD

Mencuci Piring

Mencuci Piring

The clouds in this cup of tea

Oleh Thich Nhat Hanh
Dikutip dari “At Home in the World: Stories and essential teachings from a monk’s life

Ketika saya masih Samanera di Pagoda Tu Hieu, mencuci piring adalah tugas yang sangat tidak menyenangkan. Setiap tahun ketika Retret musim hujan, semua biksu akan datang kembali ke wihara untuk berlatih bersama selama tiga bulan, dan terkadang hanya kita (dua Samanera) yang bertugas memasak dan mencuci semua peralatan untuk lebih dari seratus biksu.

Pada waktu itu tidak ada sabun. Kita hanya punya abu, sekam nasi, dan sekam kelapa, hanya itu saja. Mencuci tumpukan mangkok yang sangat tinggi merupakan tugas yang sulit, terutama saat musim dingin di mana air sangat dingin membeku.

Jadi kami harus memanaskan air di teko besar sebelum bisa mulai mencuci. Jaman sekarang, dengan adanya sabun cair, sabut penggosok khusus, dan bahkan air hangat, sangat mudah untuk menikmati mencuci piring.

Bagi saya, ide bahwa mencuci piring itu tidak menyenangkan dapat muncul hanya jika Anda tidak melakukannya. Sewaktu anda berdiri di depan wastafel dengan lengan baju digulung dan tangan di dalam air hangat, itu sangat cukup menyenangkan.

Saya menikmati waktu saya dengan setiap piring, menjadi sadar sepenuhnya terhadap piring tersebut, air, dan setiap gerakan tangan saya. Saya tahu jika saya buru-buru untuk menyelesaikannya agar bisa segera duduk dan makan hidangan penutup atau menikmati secangkir teh, waktu mencuci piring akan jadi tidak menyenangkan dan tidak patut dilakukan. Adalah sangat disayangkan, karena setiap menit, setiap detik kehidupan adalah keajaiban. Piring-piring itu sendiri dan fakta bahwa saya ada di sana mencuci adalah keajaiban!

Jika saya tidak mampu mencuci piring dengan gembira, jika saya mau menyelesaikannya cepat-cepat supaya bisa pergi dan menikmati hidangan penutup atau secangkir teh, saya akan sama tidak mampunya untuk menikmati hidangan penutup atau teh ketika saya akhirnya mendapatkannya.

Dengan garpu di tangan saya, saya akan memikirkan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, sehingga tekstur dan rasa hidangan penutup, serta kenikmatan memakannya, semuanya akan hilang.

Saya akan selalu diseret ke masa depan, kehilangan kehidupan seluruhnya, dan tidak akan pernah bisa hidup di masa kini.

Setiap pemikiran, setiap aksi dalam cahaya mentari kesadaran akan menjadi suci. Dalam cahaya ini, tidak ada batasan antara yang suci dan tidak.

Saya harus mengakui bahwa perlu lebih banyak waktu bagi saya sampai selesai mencuci piring, namun saya hidup sepenuhnya di setiap momen, dan saya bahagia.

Mencuci piring adalah sebuah cara dan sekaligus sebuah tujuan. Kita mencuci piring tidak hanya agar piring bersih, kita juga mencuci piring hanya untuk mencuci piring, untuk hidup sepenuhnya dalam setiap momen ketika mencucinya, dan untuk benar-benar bersentuhan dengan kehidupan.

Penerjemah: Hestia

Walking Meditation

Walking Meditation

Music by Leong Wan Yee
Vocal: Bodhicitta Wendy Tiow, Leong Wan Yee, Sean Liew (Bear), Karamen Chia
A Bodhicitta Production with the blessing of Plum Village www.bodhicittaproductions.com
Illustrations by Yên
Cartoon Sunrise Sunshine Timelapse: https://www.youtube.com/watch?v=B_G5y…
Walking Meditation- poem by Thich Nhat Hanh

Audio Mp3

Unduh Mp3 klik sini

Walking Meditation

Take my hand.
We will walk.
We will only walk.
We will enjoy our walk
without thinking of arriving anywhere.
Walk peacefully.
Walk happily.
Our walk is a peace walk.
Our walk is a happiness walk.
Then we learn
that there is no peace walk;
that peace is the walk;
that there is no happiness walk;
that happiness is the walk.
We walk for ourselves.
We walk for everyone
always hand in hand.
Walk and touch peace every moment.
Walk and touch happiness every moment.
Each step brings a fresh breeze.
Each step makes a flower bloom under our feet.
Kiss the Earth with your feet.
Print on Earth your love and happiness.
Earth will be safe
when we feel in us enough safety.

– Thich Nhat Hanh

The Insight That Brings Us To The Other Shore Mp3

The Insight That Brings Us To The Other Shore Mp3

Recorded by ex-Plum Village Brother Michael. This is Thich Nhat Hanh’s revised Heart Sutra, which he completed just before becoming ill in September 2014. The Music is composed by Br. Phap Linh, an English monk based at Plum Village. Thich Nhat Hanh approved the music before suffering a stroke in November 2014, from which he is still recovering.

Unduh Mp3 silakan klik The Insight That Brings Us To The Other Shore.Mp3

Avalokiteshvara
while practicing deeply with
the Insight that Brings Us to the Other Shore,
suddenly discovered that
all of the five Skandhas are equally empty,
and with this realisation
he overcame all Ill-being.

“Listen Sariputra,
this Body itself is Emptiness
and Emptiness itself is this Body.
This Body is not other than Emptiness
and Emptiness is not other than this Body.
The same is true of Feelings,
Perceptions, Mental Formations,
and Consciousness.

“Listen Sariputra,
all phenomena bear the mark of Emptiness;
their true nature is the nature of
no Birth no Death,
no Being no Non-being,
no Defilement no Purity,
no Increasing no Decreasing.

“That is why in Emptiness,
Body, Feelings, Perceptions,
Mental Formations and Consciousness
are not separate self entities.

The Eighteen Realms of Phenomena
which are the six Sense Organs,
the six Sense Objects,
and the six Consciousnesses
are also not separate self entities.

The Twelve Links of Interdependent Arising
and their Extinction
are also not separate self entities.
Ill-being, the Causes of Ill-being,
the End of Ill-being, the Path,
insight and attainment,
are also not separate self entities.

Whoever can see this
no longer needs anything to attain.

Bodhisattvas who practice
the Insight that Brings Us to the Other Shore
see no more obstacles in their mind,
and because there
are no more obstacles in their mind,
they can overcome all fear,
destroy all wrong perceptions
and realize Perfect Nirvana.

“All Buddhas in the past, present and future
by practicing
the Insight that Brings Us to the Other Shore
are all capable of attaining
Authentic and Perfect Enlightenment.

“Therefore Sariputra,
it should be known that
the Insight that Brings Us to the Other Shore
is a Great Mantra,
the most illuminating mantra,
the highest mantra,
a mantra beyond compare,
the True Wisdom that has the power
to put an end to all kinds of suffering.
Therefore let us proclaim
a mantra to praise
the Insight that Brings Us to the Other Shore.

Gate, Gate, Paragate, Parasamgate, Bodhi Svaha!
Gate, Gate, Paragate, Parasamgate, Bodhi Svaha!
Gate, Gate, Paragate, Parasamgate, Bodhi Svaha!”

Thich Nhat Hanh Pulang ke Rumah

Thich Nhat Hanh Pulang ke Rumah

Jumat, 2 November 2018

Pusat Latihan Internasional Plum Village
Le Pey, Thénac 24240, Perancis

Para biksu dan biskuni dari Pusat Latihan Internasional Plum Village dari Engaged Buddhism menemani guru terkasih, Master Zen, pemimpin siritual global, aktivis perdamaian dan penyair, Thich Nhat Hanh, saat ia kembali lagi ke tanah kelahirannya. Sejak merayakan hari kelanjutannya yang ke-92 bulan lalu, beliau telah mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke wihara akar, Wihara Tu Hieu di Hue, Vietnam untuk menetap di sana hingga akhir hayatnya. Thich Nhat Hanh telah mengubah tantangan fisik sangat berat yang muncul sejak stroke yang dideritanya sekitar 4 tahun lalu menjadi pelajaran luar biasa. Walaupun menghadapi kesulitan ini, beliau justru memberikan pelajaran yang luar biasa melalui tetap hidup dalam setiap momen dengan penuh kedamaian dan ketenangan, kehadiran sepenuhnya dan kehidupan bermakna.

Wihara Tu Hieu merupakan tempat Thich Nhat Hanh pertama kali di ditahbiskan pada tahun 1942, waktu itu beliau berusia 16 tahun. Setelah menghabiskan hampir 60 tahun mengajar di luar negeri, kepulangan terakhir Thich Nhat Hanh ke tanah kelahirannya merupakan sumber kedamaian dan kebahagiaan bagi murid-muridnya di Wihara Tu Hieu beserta silsilahnya.

Sungguh penting bagi semua pengikut internasional dari Thich Nhat Hanh untuk tetap menjalin koneksi dengan akar spiritual di Vietnam. Thich Nhat Hanh, yang telah melahirkan istilah Engaged Buddhism (Agama Buddha terjun aktif) dan mendedikasikan dirinya untuk memperbarui Agama Buddha sehingga bisa membantu individu juga masyarakat agar bisa menghadapi tantangan masa kini, selalu melihat akar pengajarannya tentang kehidupan spiritual yang terjun aktif dari patriak buddhis Vietnam yaitu Dinasti Ly dan Tran.

Walaupun sejak stroke Thich Nhat Hanh sudah tidak bisa berkomunikasi secara lisan lagi, namun ia tetap memancarkan kekuatan kewaspadaan dan kehadirannya. Setelah memanggil semua murid seniornya pada pertemuan tanggal 24 Oktober 2018 di Plum Village Thailand, tempat ia berdiam sejak Desember 2016, Thich Nhat Hanh mengomunikasikan keinginannya untuk kembali ke Vietnam melalui bahasa tubuh, menganggukkan dan menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan.

Persiapan kepulangannya ke Vietnam telah dipersiapkan dan Beliau mendarat di Bandara Da Nang, Vietnam pada tanggal 26 Oktober. Kedatangannya disambut secara meriah oleh para biksu sesepuh, beserta biksu, biksuni, dan praktisi awam.

Setelah beristirahat di penginapan dekat pantai selama dua hari, Thich Nhat Hanh tiba di Wihara Tu Hieu pada sore hari tanggal 28 Oktober 2018, dimana ia disambut dengan prosesi formal tradisional yang diiringi genta dan tambur. Ketika beliau memasuki kompleks wihara, ia menyempatkan diri untuk menyentuh gerbang kuno dingin yang terbuat dari bebatuan: lambang kedatangan dan kepulangan. Semua orang yang hadir di sana dalam suasana hening ketika ia mengontemplasikan danau bulan sabit, tempat ia menggoreskan banyak kenangan pada masa monastik muda, dan kemudian berlanjut ke Aula Buddha (Buddhasala) untuk memberi hormat dan mempersembahkan dupa kepada altar leluhur.

Sejak ketibaannya, kesehatan Thich Nhat Hanh masih rentan namun stabil. Ia telah bergabung dalam meditasi jalan bersama komunitasnya pada waktu subuh, mengunjungi setiap sudut wihara yang merupakan rumahnya dan tempat ia tumbuh saat memulai perjalanan spiritualnya. Sore hari pada tanggal 26 Oktober 2018 di Da Nang, sebagai kepala wihara dan kepala silsilah Tu Hieu, Thich Nhat Hanh mengarahkan muridnya untuk mempersipkan draf surat undangan kepada semua biksu dan biksuni dari silsilah Tu Hieu (murid dan keturunan dari Master Zen Thanh Quy, guru dari Thich Nhat Hanh), untuk menghadiri pertemuan keluarga dan merayakan kepulangannya di Wihara Tu Hieu tanggal 3 November 2018. Seperti yang dikatakan Thich Nhat Hanh ketika beliau pertama kali pulang ke Vietnam tahun 2015, setelah empat dekade dalam pengasingan, “Tiada agama, tiada doktrin yang lebih tinggi daripada persaudaraan kakak dan adik”.

Bahkan pada momen saat ini, Thich Nhat Hanh masih semangat dan enerjik dalam menggunakan setiap napas dan aksinya untuk membangun serta memperkuat “beloved community of compassion” (komunitas welas asih yang terkasih), dan untuk mengembangkan penyembuhan, rekonsiliasi dan transformasi dalam komunitasnya, masyarakat dan di dunia ini.

Thich Nhat Hanh Pulang ke Vietnam pada November 2018