Pathway To Peace
Berita dalam bahasa Inggris: Magnolia Grove Monastery provides…
Unduh Mp3 klik sini
Been travelling a day
Been travelling a year
Been travelling a lifetime,
to find my way home
Home is where the heart is
Home is where the heart is
Home is where the heart is
My heart is with you
Home is where the heart is from the album Songs of Awakening.
Produced by Milarepa and One Sky Music, 1993.

Unduh Mp3 klik sini
Composed by: Chi Sing
You are a Buddha to me
and I am a Buddha to you
The Dharma is what we share
The Sangha is how we care
This is our Way
This is our Truth
This is our Life

Day of mindfulness (DOM) adalah program latihan hidup berkewawasan (mindfulness) sehari. Prinsip utamanya adalah hadir sepenuhnya di sini dan saat ini. Kewawasan menjadi energi dasar untuk mengenali dan memahami kondisi jiwa dan raga yang terjadi dalam diri.
Saya mengenal latihan ini sejak 2007. Saya berupaya agar latihan ini terus berlanjut kemudian menjadikannya sebagai pola hidup. Praktik ini membuat saya dekat dengan Master Zen Thich Nhat Hanh, bahkan saya bisa merasakan kehadirannya dalam setiap keheningan dan setiap napas.
Pada hari Rabu, 3 April 2019, saya pertama kali berlatih hidup berkewawasan bersama Komunitas Swadhita Bali, lokasi latihan di Buddhayana Buddhist Centre, Denpasar, Bali.
Pada saat hari ini juga bertepatan dengan hari libur nasional yaitu memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhamad. Salah satu dari peserta ada yang meyakini hari istimewa ini dan kami memberikan ucapan selamat kepadanya. Latihan hidup berkewawasan adalah kesempatan saya mengenali tubuh dan pikiran dengan latihan dasar melalui mengamati setiap napas masuk dan keluar.
Pada awal latihan, kami mengawali dengan menghadirkan suka cita (joy) melalui nyanyian berkewawasan (mindful singing) yaitu: “breathing in, breathing out”. Terlihat perasaan suka cita dalam diri mereka dan ini adalah praktik nyata dalam menghadirkan suka cita secara wawas (mindful).
Saya memulai latihan ini dengan memberikan orientasi tentang “apa itu praktik berkewawasan”? Tentunya dalam komunitas ini, banyak yang lebih tahu dan sering mendengar istilah “kewawasan”, karena sebagian dari komunitas ini adalah para praktisi psikolog profesi.
Ada yang berprofesi sebagai psikolog klinis dan ada juga yang berprofesi sebagai konselor untuk para remaja di Bali. Mereka tertarik dengan praktik kewawasan, karena mereka adalah seorang praktisi untuk menyembuhkan mental orang-orang yang sedang gundah.
Menjadi seorang praktisi konseling dan psikolog klinis, mereka sadar bahwa berdamai dengan diri sendiri itu penting. Agar bisa demikian, maka ia perlu mulai dengan mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. DOM adalah kesempatan untuk mengenali diri sendiri sehingga kita bisa lebih jauh mencintai diri sendiri melalui napas.
Beberapa dari peserta mengatakan praktik ini yang bisa membantu mereka mengenali diriya sendiri. Mereka bisa mengenali emosi, kemarahan dan masalah dalam pasangannya. Mereka akan menjadikan latihan ini sebagai latihan yang berkelanjutan dalam mendukung profesinya.
Satu peserta berasal dari Palu. Dia adalah seorang psikolog klinis. Rasa takut dan trauma yang masih terngiang dalam dirinya dan juga duka mendalam. Kota Palu membuat dirinya mengingat peristiwa duka itu, sehingga dia tidak ingin tinggal di Palu untuk sementara ini sebelum rasa traumanya terobati.
Kota ke kota, provinsi ke provinsi yang dia tuju untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penyembuhan jiwa. Walaupun seorang psikolog tetapi “saya adalah manusia biasa juga yang bisa merasakan penderitaan batin” ini yang dikatakan oleh peserta itu sewaktu berbagi rasa kepada kelompok berlatih.
Dalam sesi berbagi dia mengatakan, “Hari ini saya merasakan suka cita dan bahagia melalui latihan wawas napas dan saya cocok dengan metode ini dalam rangka mencari penyembuhan jiwa atas trauma bencana yang menimpa keluarga saya di Palu. “
Peserta DOM ada 18 orang. Kami berasal dari berbagai daerah, suku, agama dan etnis berbeda. Hal ini yang menjadi menarik dan membuat warna komunitas berlatih ini menjadi indah. Latihan kewawasan ini membuat kami menjadi satu rasa yaitu rasa hening dan rasa damai. Rasa damai ada dalam napas, ada dalam langkah hening dan ada dalam setiap aktivitas.
Kita menjadi berbeda karena memiliki asal usul, budaya, agama dan leluhur darah masing-masing. Di saat kita berada di dalam rahim ibu, kita hanya berada di dalam tubuh ibu selama sembilan bulan, namun di saat kita sudah lahir kita akan berada di rahim yang sesungguhnya yaitu rahim ibu pertiwi.
Kita berbeda asal usul namun kita sekarang sedang berada di dalam rahim ibu pertiwi, rahim yang sejati dan rahim yang besar. Di atas bumi inilah kita menjadi satu. Kita menjadi satu, satu keluarga tidaklah cukup namun kita butuh keluarga spiritual yang dapat menyatukan kita semua. Semua menjadi satu, satu menjadi semua.
Latihan kami tidak hanya duduk hening saja, tapi juga ada jalan hening, mendengarkan Dharma Sharing (Berbagi Dharma). Sesi setelah makan siang dengan hening yaitu sesi relaksasi total (total relaxation). Latihan yang tidak kalah penting dan saya bilang sesi ini menjadi sesi yang sangat favorit untuk peserta.
Sesi ini menjadi sangat berkesan waktu disampaikan dalam sesi berbagi. Tubuh dan pikiran istirahat secara total, tubuh dan pikiran relaks selamat 45 menit. Kami diberikan panduan untuk mengenali bagian-bagian tubuh dan organ yang selama ini tidak memiliki waktu untuk mengunjungi mereka.
Ketika tubuh terasa capek, relaksasikanlah tubuhmu. Kami berbaring dan pikiran pun diistirahatkan. Setelah sesi ini selesai, kami dapat merasakan kesegaran kembali dalam tubuh. Ternyata tubuh ini butuh istirahat toh.
Latihan bersama di Buddhayana Buddhis Centre telah selesai dan kami pun berpamitan untuk kembali membawa energi kebahagiaan ini kedalam kehidupan sehari-hari. Sesampai tempat istirahat, saya memberikan tubuh dan pikiran untuk istirahat juga. Setelah memberikan bimbingan dan berbagi kepada komunitas berlatih, saya juga memberikan nutrisi kepada diri saya dengan santai sejenak di tempat yang sangat hening dan sejuk.
“After charging others, we need to go to recharge ourselves too”.
WANDI BHADRAGUNA, aspiran Ordo Interbeing, dosen, praktisi hidup berkewawasan, sukarelawan retret dan DOM, aktif di kepanditaan Majelis Buddhayana Indonesia.
Sumi Loundon Kim menawarkan lima tips kewawasan (Mindfulness) bagi para orang tua yang sibuk.

Terlalu sibuk membaca seluruh artikel ini karena mengejar anak-anak? Inilah 5 langkah pintas yang bisa dilakukan untuk membawa kewawasan dalam mengasuh anak-anak Anda.
Untuk mengurangi rasa kewalahan, mulailah dengan memilih satu dari lima langkah di atas. Setelah itu integrasikan ke dalam rutinitas Anda, perlahan tapi pasti.
Punya banyak waktu lebih untuk membaca? Tentu saja Anda punya – merapikan mainan anak-anak bisa menunggu sampai besok. Ayo, minum kopi sembari saya jelaskan sedikit tentang bagaimana cara kerja praktik ini.
Dari semua hal di dunia ini yang dapat mengganggu, ada suatu hal mengenai internet – perangkat pintar yang terhubung ke internet tersebut membuat banyak orang menyebutkan sebagai perusak kewawasan. Jika ditarik ke sepuluh tahun yang lalu, kita sebagai orang tua tidak memiliki kecanduan ini, sedangkan sekarang perhatian kita tersedot ke layar yang kita genggam setiap saat.
Hal yang mengejutkan adalah anak-anak tahu bahwa ketika kita menggunakan perangkat-perangkat tersebut, kita tidak sepenuhnya berada bersama mereka. Sebuah survei dilakukan terhadap 2.000 anak usia 5 hingga 12 tahun di Kerajaan Inggris mengungkapkan bahwa lebih dari separuh anak-anak ini ingin orang tuanya mengurangi penggunaan ponsel. Jika Anda meletakkan ponsel Anda jauh-jauh, Anda akan secara otomatis menjadi lebih dekat dengan mereka, meskipun hanya untuk menghilangkan kebosanan! Saya mengenal seorang ayah yang berkewawasan, ia meletakkan ponselnya di rak tinggi di lemari dapur ketika anak-anaknya ada. Ia memiliki langganan koran karena menemukan perbedaan kualitas ketika membaca berita dari halaman kertas koran dibandingkan membaca berita di perangkatnya.
Anda juga dapat mempraktikkan “batching”: saat anak-anak tidak ada, Anda dapat mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan komputer dan mengakumulasikan tugas-tugas rumah tangga Anda menjadi sebuah batch terlebih dahulu. Ketika anak-anak di rumah, lakukan batch rumah tangga dan biarkan tugas-tugas yang berhubungan dengan komputer terakumulasi ke dalam batch lain untuk dikerjakan nanti.
Jika Anda sudah rutin membacakan buku anak-anak bersama mereka, cukup mudah untuk menambahkan koleksi baru, judul baru yang membantu mengeksplorasi kemampuan dasar kewawasan anak-anak Anda melalui cerita-cerita yang menarik. Sebagai tambahan keuntungan, Anda akan mendapatkan pembelajaran sendiri mengenai latihan kewawasan ini. Buku-buku cerita dapat memberikan sudut pandang pengajaran baru yang tidak datang dari posisi Anda sebagai orang tua. Begitu banyak buku bagus di luar sana dan kita kesulitan memilihnya, namun Anda bisa memulai dengan buku-buku dibawah ini:
No Ordinary Apple oleh Sara Marlowe
No Ordinary Apple memperkenalkan kewawasan dalam menyantap makanan. Anak Anda pasti ingin mencobanya sendiri setelah membaca buku ini. Anda bisa berlatih memakan Apel dengan berkewawasan bersama anak Anda.
Moody Cow Meditates oleh Kerry Lee MacLean
Buku ini disukai oleh anak-anak karena banyak bentuk emosi Moody Cow yang mudah dikenali. Kakeknya mengajarkan cara menenangkan pikirannya dengan menggunakan kendi berisi glitter. Buku ini juga berisi instruksi untuk membuat “Calm Down Jar” sendiri di bagian akhir.
Ahn’s Anger oleh Gail Silver
Diajarkan dalam tradisi Thich Nhat Hanh, tentang seorang anak yang menggunakan beberapa latihan untuk berdamai dengan monster kemarahannya. Saya tidak bisa mengatakan berapa banyak orang tua yang berpendapat bahwa buku ini cocok untuk mereka dan anak-anak mereka.
Ziji: The Puppy Who Learned to Meditate oleh Yongey Mingyur Rinpoche
Kisah tentang seorang anak laki-laki mengajarkan cara bermeditasi kepada anjingnya yang hiperaktif. Buku ini tampaknya sesuai untuk anak-anak, mungkin karena banyak anak-anak yang sudah melatih anjingnya sendiri.
Pada umumnya orang dewasa belajar meditasi dengan cara yang lebih kognitif, mudah bagi kita sebagai orang tua melupakan pentingnya musik sebagai bahasa belajar anak-anak. Sejak anak-anak mulai suka menyanyi, kita bisa membantu mereka menginternalisasi nasihat untuk berkewawasan melalui lirik-lirik yang dilantunkan dengan melodi. Ide-ide ini masuk ke bawah kesadaran, memberikan pemahaman nilai-nilai inti yang mendalam. Saya selalu memutar kompilasi lagu untuk anak-anak saya ketika berada di mobil, dan mereka ikut beryanyi. Bahkan saya mendengarkan mereka tetap menyenandungkan lagu-lagu tersebut ketika mereka beranjak remaja.
Berikut ini contoh beberapa yang terbaik, tersedia di YouTube. Cari tahu cara membeli dan mengunduhnya dari sini.
Ingatlah mungkin Anda tidak akan menyukai lagu-lagu ini pada awalnya. Tetapi, anak-anak Anda akan menyukainya, jadi simpan dulu pendapat Anda pada saat pertama kali memutar lagu-lagu tersebut. Pada akhirnya, lagu-lagu tersebut akan menyentuh Anda dan Anda akan ikut bernyanyi dengan senang hati.
Kebayang keluarga memiliki rutinitas sebelum tidur untuk mengantarkan anak-anak tidur, memberikan pelukan, ciuman, lalu menempatkan boneka kelinci di tempat yang pas. Meditasi Metta (cinta kasih) baik untuk dilakukan bersama di malam hari. Setelah duduk di tempat tidur, mulailah bersama-sama menarik napas panjang dan dalam. Lalu berkata:
“Biarkan tubuh kita tenang, merasakan nyamannya kasur, merasa hangat dan nyaman, melepas semua kekhawatiran, perlahan dan santai. Mari bawa kewaspadaan kita ke dalam jantung, membayangkan cahaya yang bersinar seperti sinar matahari, yang memancar dari jantung kita ke seluruh tubuh, dari atas kepala sampai ke ujung jari-jari kaki, dan seterusnya. Cahaya ini adalah motivasi dan harapan baik kita”.
Dari empat kategori, pilihlah orang lain atau sesuatu dari alam untuk kategori kedua dan ketiga. Anda atau anak Anda bisa memimpin, atau bisa juga bergantian. Berikut adalah tahapan yang dituangkan dalam panduan belajar “Sitting Together”, sebuah kurikulum yang saya tulis mengenai berlatih kewawasan dalam keluarga:
Jika Anda memiliki anak di bawah usia tiga tahun, Anda dapat melakukan Meditasi dengan cara yang berbeda. Anda tetap bisa mandi, tidur siang, atau berolahraga. Anda dapat melatih kewawasan dalam kehidupan rumah tangga Anda dengan memanfaatkan waktu Anda ketika mengerjakan tugas berulang, seperti melipat cucian atau berjalan menaiki tangga. Anda juga dapat memanfaatkan momen yang lebih tenang, membangkitkan kewawasan saat menyusui bayi Anda atau saat mendorong kereta bayi Anda. (selengkapnya ada di sini). Anda mungkin bisa mengambil beberapa menit untuk meditasi di tempat kerja Anda, tetapi jangan menyalahkan diri anda sendiri jika Anda tidak bisa mengaturnya.
Energi dan rutinitas berubah begitu anak-anak mulai mengikuti beberapa kegiatan atau sekolah yang menghabiskan banyak waktu mereka. Anda bisa mulai meluangkan waktu untuk duduk meditasi selama 5 menit setiap hari dan kemudian secara bertahap meningkatkan periode hingga 20 menit.
Sekarang, pertanyaannya adalah: apakah Anda benar-benar harus melakukan meditasi duduk secara formal, atau apakah Anda dapat meningkatkan kewaspadaan sembari menyelesaikan tugas Anda sehari-hari sebagai orang tua?
Dengan kehidupan berkewawasan sehari-hari, Anda bisa membawa diri Anda untuk menjadi lebih hadir sepenuhnya ketika anak Anda mengajak berbicara, atau mengingatkan Anda untuk menjajaki pikiran dan perasaan saat menghadapi masa-masa sulit dalam keluarga. Dengan melakukannya, kita banyak mendapatkan manfaat. Tetapi, kewawasan yang jenisnya seperti ini memiliki kekurangan karena biasanya kita kesulitan mengingat untuk mewawas. Kewawasan bisa membuat kita merasa wajib melakukannya, dan saat kita tidak mewawas, kita merasa gagal lalu kita menyerah begitu saja.
Praktik meditasi formal, di satu sisi untuk mengembangkan kapasitas dan kemampuan untuk berkewawasan, namun juga untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dan makin lama akan makin kuat.
Bayangkan bagaimana anak-anak Anda belajar sepak bola, piano, atau melukis: mereka mendedikasikan waktu-waktu latihan untuk mengasah teknik tertentu dengan mengikuti instruksi dan latihan berulang.
Kemudian mereka memainkannya, menampilkan sebuah karya ataupun menghasilkan sebuah karya seni. Demikian juga meditasi adalah waktu kita melatih keterampilan berkewawasan. Kemudian kita membawanya ke dalam permainan / pertunjukan / seni mengasuh anak. Jika Anda teratur bermeditasi, Anda akan lebih wawas secara alami sepanjang hari. Selain itu, sesi meditasi akan membantu Anda menjadi lebih selaras: kewawasan Anda menjadi bertahan lebih lama dan terbentuk alami.
Meditasi formal juga merupakan waktu kita melatih keterampilan yang sangat berharga untuk melihat atau mendengar pikiran dan hati kita dengan jelas. Keselarasan batin ini adalah kunci penting saat menghadapi permasalahan dalam keluarga: saat situasi tersebut berlangsung, kita sangat menyadari pikiran dan perasaan, mengarahkan apa yang kita katakan dan lakukan. Kemudian kita menyadari di titik mana kita bisa menyakiti diri sendiri maupun orang lain, dan psikologi yang mendasarinya. Wawasan yang kita dapatkan dari sini membuka pola disfungsional yang akhirnya dapat membenahi dan mengubah pola asuh kita sepenuhnya.
Terakhir, anak-anak kita meniru dan secara tidak sadar banyak mengadopsi siapa diri kita dan bagaimana kita berperilaku – mereka menjadi seperti kita. Jadi, ketika kita mewujudkan dan menghidupkan wawas waspada, kasih sayang, dan kebijaksanaan sebagai orang dewasa, secara otomatis mereka mengambil kualitas-kualitas ini juga. Dengan demikian, bermeditasi untuk diri kita sendiri menghasilkan kesepakatan 2 arah: kita menjadi lebih wawas dan anak-anak kita pun mulai hidup seperti itu juga.
Namun, jika kelima langkah ini terasa berat untuk dilakukan sekarang, ada kabar baik. Anda benar-benar hanya perlu melakukan satu hal saja untuk menjadi orang tua yang lebih berkewawasan: berlatih meditasi selama beberapa menit, atau lebih, beberapa hari dalam seminggu. Yang lainnya akan mengikuti dan mengalir begitu saja.
Alih Bahasa: Widi Budiarsi
Sumber: Mindful Parenting, Made Simple

Pratimoksha merupakan aturan dasar bagi monastik buddhis. Berlatih Pratimoksha, para monastik memurnikan kembali badan jasmani dan batinnya, membangkitkan maitri kepada semua makhluk, terus maju dalam jalur pembebasan. Prati berarti langkah demi langkah. Bisa juga diterjemahkan menjadi bergerak ke arah moksha. Moksha artinya pembebasan. Pratimoksha bisa diterjemahkan sebagai setiap Langkah membawa pembebasan. Setiap aturan membawa pembebasan bagi aspek tertentu secara khusus dalam kehidupan monastik. Jika seseorang berlatih menerapkan aturan menghindari alkohol, maka dia akan bebas, yaitu bebas dari mabuk. Jika seseorang menerapkan aturan menghindari pencurian, dia juga bebas, yaitu bebas dari penjara. Istilah Pratimoksha juga bisa diterjemahkan menjadi “di setiap tempat ada pembebasan”. Pratimoksha versi revisi diberi judul “Freedom Wherever We Go” (Pembebasan Kemanapun Kita Pergi) untuk mengingatkan para monastik bahwa mereka sedang bergerak ke arah pembebasan.
Sebagai bagian dari latihan di Plum Village, mereka yang sudah menerima penahbisan sepenuhnya (biksu/biksuni) wajib mempelajari Winaya pada 5 tahun pertamanya, Winaya merupakan literature sangat luas dan dalam, bagaimana definisi kehidupan dan cara pengelolaan kegiatan sehari-hari komunitas monastik. Pembelajaran Winaya mencakup Praktimoksha revisi dan klasik. Para monastik mempelajari Winaya bukan sebagaimana seorang profesor atau spesialis, tapi mereka mempelajari Winaya sebagai praktisi. Mereka mempelajari Winaya dengan kejernihan batin bahwa Winaya, tata karma, peraturan merupakan fondasi menunjang kelangsungan hidup Sangha. Kami berharap Pratimoksha revisi bisa menginspirasi sangha monastik zaman ini agar mereka bisa menemukan kembali integritasnya, kesederhanaan, keindahan, dan kebebasan dalam kehidupan monastik.
Pada tahun ke-5 Buddha membabarkan Dharma, Beliau bersama murid seniornya baru mulai menetapkan Pratimoksha untuk komunitasnya. Peraturan-peraturan itu ditetapkan satu per satu melalui beberapa dekade, setiap aturan selalu merespon kebutuhan dan situasi yang muncul dalam komunitas pada saat itu. Ketika Buddha hampir memasuki mahaparinirwana, Beliau berpesan kepada asistennya yaitu Bhante Ananda, peraturan minor boleh dihapus, agar Winaya tidak memberatkan, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan. Pada saat itu, Bhante Ananda tidak bertanya secara jelas bagian minor yang mana dan yang seperti apa yang dimaksud oleh Buddha. Setelah Buddha memasuki mahaparinirwana, Bhante Kassyapa sebagai senior saat itu, tidak berani menghapus satu pun dari peraturan yang ada. Sekarang, 2600 tahun telah berlalu, dan rekomendasi Buddha tidak pernah dilaksanakan oleh para cucu muridnya.
Kisah sejarah menyebutkan, 200 tahun setelah Buddha mahaparinirwana, sekte Agama Buddha sudah ada sekitar 20 aliran, setiap sekte memiliki Winaya-nya masing-masing. Semua Winaya itu selalu memiliki akarnya dalam ajaran Buddha dan praktiknya. Pratimoksha merupakan intisari dari Winaya. Naskah inilah yang dilafalkan ulang oleh para biksu dan biksuni sebulan dua kali di dalam seremoni uposatha untuk memperkuat dan mempurifikasi tekad mereka. Di Vietnam dan Tiongkok, mereka menganut Pratimoksha dari aliran Dharmagupta. Di Sri Lanka, Thailand, Myanmar, mereka menganut Pratimoksha dari aliran Tamrasatiya (Theravada). Untuk biksu, aliran Dharmagupta memiliki 250 butir peraturan, dan Pratimoksha Tamrasatiya memiliki 227 butir. Dua Pratimoksha dari aliran-aliran itu hanya memiliki beberapa perbedaan minor saja, bahkan dua Pratimoksha itu mendekati indentik.
Agama Buddha perlu menjadi tradisi yang hidup. Sebagai pohon, ada cabang-cabang yang sudah mati perlu dipotong agar tunas baru punya kesempatan untuk tumbuh. Tunas baru itu adalah ajaran dan praktik yang mampu merespon kebutuhan kultur dan zaman sekarang. Perkembangan teknologi, media, dan kehidupan yang demikian cepat telah mempengaruhi gaya hidup para monastik. Degradasi gaya kehidupan monastik sangat nyata terjadi di berbagai tempat di dunia ini, bahkan komunitas buddhis dan non buddhis juga mengalami hal serupa. Demi merespon situasi saat ini, Pratimoksha revisi sangat dibutuhkan.
Upaya Plum Village merevisi Pratimoksha selalu tertuju pada relevansi dan responsif, Konsili Dharma Acharya Plum Village telah berkonsultasi dengan master Winaya, biksu, dan biksuni di Vietnam dan berbagai tradisi selama 5 tahun lebih. Sebagai tambahan, kami juga memiliki pengalaman kehidupan monastik di dunia barat dalam dua dekade belakangan ini. Oleh Karena itu, Pratimoksha revisi bertujuan untuk memberikan panduan dan dukungan bagi monastik buddhis kontemporer yang tinggal di Asia maupun Barat.
Praktimoksha revisi pertama kali diluncurkan pada tanggal 31 Maret 2003 di Choong Ang Shangha University di Seoul, Korea, yang merupakan salah satu Universitas Buddhis Mahayana di Asia. Dalam Pratimoksha revisi ini, kami telah mengganti peraturan yang sudah tidak sesuai lagi pada zaman sekarang dengan peraturan baru esensial yang bisa melindungi integritas dan praktik para monastik. Sebagai contoh, dalam Pratimoksha klasik menyebutkan para monastik hanya boleh berpergian dengan jalan kaki. Peraturan itu berbunyi demikian, “Jika seorang biksuni yang tidak sedang sakit, lalu ia menaiki kereta, maka dia telah melanggar peraturan Payantika.” Peraturan ini relevan dengan tempat dan zaman Buddha, karena berpergian dengan menggunakan kereta tidak lumrah bagi para petapa dan kereta itu simbol dari status tinggi dan orang kaya. Namun pada abad 21 ini, bepergian ke Amerika, jika Buddha harus berjalan kaki di jalan tol dan menolak untuk menaiki kendaraan, bisa jadi Buddha akan mengalami kecelakaan atau bahkan ditangkap oleh polantas. Untuk merespon kebutuhan zaman modern monastik, Pratimoksha revisi menyebutkan tentang penggunaan kendaraan (mobil), komputer, televisi, telepon genggam, games elektronik, surel (e-mail), dan internet.
Ada orang yang bertanya, “Siapakah Anda, beraninya mengubah peraturan yang telah ditetapkan oleh Buddha?” Kami hanya menjawab, “Kami adalah anak-anak dari Buddha. Kami adalah kelanjutan dari Buddha, kami berlatih untuk mewujudkan keinginan Beliau.” Buddha menginvestasikan banyak waktu dan energi untuk mengajar dan melatih para monastik. Agama Buddha bisa bertahan hidup hingga hari ini karena Sangha monastik terus dijaga kelanjutannya. Tujuan dari Pratimoksha revisi adalah untuk melindungi kebebasan dan integritas praktik dari monastik, agar jalur menuju pembebasan otentik bisa terus berlangsung.
Agama Buddha akan tetap menjadi tradisi yang hidup, maka ajaran dan praktik perlu selalu relevan. Pratimoksha hendaknya jangan hanya menjadi objek akademik dan studi intelektual saja. Ada begitu banyak master Winaya dan mengerti dan menghafal literaturnya, mampu mengajar dan menjelaskannya dengan elegan. Tujuan utama Pratimoksha adalah memberikan panduan kepada biksu dan biksuni. Kami yakin bahwa Buddha mempercayakan pengertian, kepintaran, dan keberanian para keturunannya agar jalur pembebasan bisa terus berlanjut, mudah diakses dan terbuka untuk generai saat ini. Oleh karena itu, merevisi ajaran dan praktik yang ada perlu dilakukan.
Ini merupakan kali pertama, tradisi Plum Village telah menyediakan naskah Pratimoksha revisi kepada semua orang, termasuk praktisi awam. Kami yakin naskah ini bisa membantu memperkuat latihan dari empat lapisan Sangha yaitu biksu, biksuni, upasaka, dan upasika. Membaca Pratimoksha mengizinkan praktisi awam mengerti peraturan para monastik dan bagaimana gaya kehidupan monastik. Membaca Pratimoksha juga menginspirasi kehidupan yang lebih berkaruna, bermetta, dan berpanya agar kita bisa saling melindungi, mereka yang kita kasihi, lingkungan, dan semua makhluk.
Kami merevisi Pratimoksha demi menghormati guru akar kami yaitu Buddha Sakyamuni, beserta semua guru-guru silsilah spiritual, mereka telah mentransmisikan Dharma mulia dari generasi ke generasi. Kami yakin dengan menjadikan Agama Buddha sebuah tradisi yang hidup dan bebas dari degradasi dan korupsi, demikianlah untuk menjadi keturuan otentik dari Buddha. (Thich Nhat Hanh)
Alih bahasa: Nyanabhadra.
Sumber: Freedom Wherever We Go: A Buddhist Monastic Code For the 21st Century, Parallax Press.

Pada tahun 2005, Thich Nhat Hanh, Sister Chan Kong, dan delegasi monastik serta perumahtangga pergi ke Vietnam untuk pertama kalinya sejak Thay diasingkan 39 tahun yang lalu.
Ketika perayaan tahun baru lunar, Thay berdiri paling depan di barisan para biksu tetua, sementara para biksuni duduk dengan tangan beranjali. Seorang biksu membacakan teks yang mengagungkan kehadiran Awalokiteshwara – bodhisatwa penuh welah asih – di dalam setiap biksuni, dan mendeklarasikan tekad berlatih winayanya dengan sungguh-sungguh demi melindungi dirinya sendiri juga biksuni lain.
Thay kemudian bernamaskara tiga kali di hadapan para biksuni – hal ini membuat biksu-biksu tetua yang berdiri di samping Thay terkejut. Para biksu tidak pernah terpikir untuk menunjukkan rasa hormat kepada biksuni, namun mereka mengikuti teladan Thay. Walaupun ini merupakan latihan standar di wihara-wihara Plum Village, bernamaskara kepada biksuni merupakan momen yang hebat, merendahkan hati, momen transformasional bagi tradisi monastik di Vietnam.
Thay, Sister Chan Khong dan monastik-monastik Plum Village lainnya sudah membuat perubahan-perubahan revolusioner untuk biksuni di Plum Village, antara lain menyetarakan status, suara dan pengaruh sehingga sama dengan para biksu. Berikut beberapa perubahan utama untuk biksuni di komunitas Plum Village:
Secara keseluruhan, Thay menekankan bahwa anggota sanggha berlapis empat harus dihargai dan dihormati karena latihan dan kapasitas mereka untuk hidup dalam harmoni, bukan karena gender mereka. Posisi revolusioner biksuni-biksuni di Plum Village menarik banyak wanita untuk ditahbiskan di komunitas tersebut, baik perumahtangga wanita maupun samaneri yang telah berlatih di tradisi-tradisi lain.
Latihan dan cara hidup di Plum Village telah mendorong pemberdayaan biksuni muda dalam latihan mereka, serta mengubah cara mereka memandang diri sendiri. Latihan-latihan ini akan mempengaruhi cara pelatihan murid-murid di masa yang akan datang, sehingga menyediakan banyak ruang gerak, kepercayaan dan suara bagi wanita.
Terima kasih, Thay dan komunitas terkasih, atas daya upaya yang berkelanjutan untuk mendukung saudari-saudari monastik kita. Kami merunduk penuh rasa syukur kepada Sister Dang Nghiem dan Sister Hien Nghiem atas kontribusinya untuk daftar ini. (Alih bahasa: Aya Muhartono)
Sumber: Female Buddhas: A Revolution for Nuns in the Plum Village Tradition
Retret Palestina dan Israel : Love Letter
Unduh subtitle bahasa Indonesia: Retret Palestina dan Israel Day 3 Love Letter.id