You Are A Buddha To Me

You Are A Buddha To Me
You Are A Buddha To Me

Unduh Mp3 klik sini

You are a Buddha to me

Composed by: Chi Sing

You are a Buddha to me
and I am a Buddha to you
The Dharma is what we share
The Sangha is how we care

This is our Way
This is our Truth
This is our Life

You Are A Buddha To Me

Kontak Kami

Kontak Kami



Kontak kami via Surel (email)

Go back

Your message has been sent

Warning
Warning
Warning
Warning

Warning.

Di Atas Bumi Inilah Kita Menjadi Satu

Di Atas Bumi Inilah Kita Menjadi Satu
Hari Hidup Berkewawasan @Bali

Day of mindfulness (DOM) adalah program latihan hidup berkewawasan (mindfulness) sehari. Prinsip utamanya adalah hadir sepenuhnya di sini dan saat ini. Kewawasan menjadi energi dasar untuk mengenali dan memahami kondisi jiwa dan raga yang terjadi dalam diri.

Saya mengenal latihan ini sejak 2007. Saya berupaya agar latihan ini terus berlanjut kemudian menjadikannya sebagai pola hidup. Praktik ini membuat saya dekat dengan Master Zen Thich Nhat Hanh, bahkan saya bisa merasakan kehadirannya dalam setiap keheningan dan setiap napas.

Sehari Mencintai Diri

Pada hari Rabu, 3 April 2019, saya pertama kali berlatih hidup berkewawasan bersama Komunitas Swadhita Bali, lokasi latihan di Buddhayana Buddhist Centre, Denpasar, Bali.

Pada saat hari ini juga bertepatan dengan hari libur nasional yaitu memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhamad. Salah satu dari peserta ada yang meyakini hari istimewa ini dan kami memberikan ucapan selamat kepadanya. Latihan hidup berkewawasan adalah kesempatan saya mengenali tubuh dan pikiran dengan latihan dasar melalui mengamati setiap napas masuk dan keluar.

Pada awal latihan, kami mengawali dengan menghadirkan suka cita (joy) melalui nyanyian berkewawasan (mindful singing) yaitu: “breathing in, breathing out”. Terlihat perasaan suka cita dalam diri mereka dan ini adalah praktik nyata dalam menghadirkan suka cita secara wawas (mindful). 

Saya memulai latihan ini dengan memberikan orientasi tentang “apa itu praktik berkewawasan”? Tentunya dalam komunitas ini, banyak yang lebih tahu dan sering mendengar istilah “kewawasan”, karena sebagian dari komunitas ini adalah para praktisi psikolog profesi.

Ada yang berprofesi sebagai psikolog klinis dan ada juga yang berprofesi sebagai konselor untuk para remaja di Bali. Mereka tertarik dengan praktik kewawasan, karena mereka adalah seorang praktisi untuk menyembuhkan mental orang-orang yang sedang gundah.

Menjadi seorang praktisi konseling dan psikolog klinis, mereka sadar bahwa berdamai dengan diri sendiri itu penting. Agar bisa demikian, maka ia perlu mulai dengan mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. DOM adalah kesempatan untuk mengenali diri sendiri sehingga kita bisa lebih jauh mencintai diri sendiri melalui napas.

Beberapa dari peserta mengatakan praktik ini yang bisa membantu mereka mengenali diriya sendiri. Mereka bisa mengenali emosi, kemarahan dan masalah dalam pasangannya. Mereka akan menjadikan latihan ini sebagai latihan yang berkelanjutan dalam mendukung profesinya.

Penyembuhan Atas Trauma

Satu peserta berasal dari Palu. Dia adalah seorang psikolog klinis. Rasa takut dan trauma yang masih terngiang dalam dirinya dan juga duka mendalam. Kota Palu membuat dirinya mengingat peristiwa duka itu, sehingga dia tidak ingin tinggal di Palu untuk sementara ini sebelum rasa traumanya terobati.

Kota ke kota, provinsi ke provinsi yang dia tuju untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penyembuhan jiwa. Walaupun seorang psikolog tetapi “saya adalah manusia biasa juga yang bisa merasakan penderitaan batin” ini yang dikatakan oleh peserta itu sewaktu berbagi rasa kepada kelompok berlatih.

Dalam sesi berbagi dia mengatakan, “Hari ini saya merasakan suka cita dan bahagia melalui latihan wawas napas dan saya cocok dengan metode ini dalam rangka mencari penyembuhan jiwa atas trauma bencana yang menimpa keluarga saya di Palu.

Berbeda Menjadi Satu

Peserta DOM ada 18 orang. Kami berasal dari berbagai daerah, suku, agama dan etnis berbeda. Hal ini yang menjadi menarik dan membuat warna komunitas berlatih ini menjadi indah. Latihan kewawasan ini membuat kami menjadi satu rasa yaitu rasa hening dan rasa damai. Rasa damai ada dalam napas, ada dalam langkah hening dan ada dalam setiap aktivitas.

Kita menjadi berbeda karena memiliki asal usul, budaya, agama dan leluhur darah masing-masing. Di saat kita berada di dalam rahim ibu, kita hanya berada di dalam tubuh ibu selama sembilan bulan, namun di saat kita sudah lahir kita akan berada di rahim yang sesungguhnya yaitu rahim ibu pertiwi.

Kita berbeda asal usul namun kita sekarang sedang berada di dalam rahim ibu pertiwi, rahim yang sejati dan rahim yang besar. Di atas bumi inilah kita menjadi satu. Kita menjadi satu, satu keluarga tidaklah cukup namun kita butuh keluarga spiritual yang dapat menyatukan kita semua. Semua menjadi satu, satu menjadi semua.

Istirahat Total

Latihan kami tidak hanya duduk hening saja, tapi juga ada jalan hening, mendengarkan Dharma Sharing (Berbagi Dharma). Sesi setelah makan siang dengan hening yaitu sesi relaksasi total (total relaxation). Latihan yang tidak kalah penting dan saya bilang sesi ini menjadi sesi yang sangat favorit untuk peserta.

Sesi ini menjadi sangat berkesan waktu disampaikan dalam sesi berbagi. Tubuh dan pikiran istirahat secara total, tubuh dan pikiran relaks selamat 45 menit. Kami diberikan panduan untuk mengenali bagian-bagian tubuh dan organ yang selama ini tidak memiliki waktu untuk mengunjungi mereka.

Ketika tubuh terasa capek, relaksasikanlah tubuhmu. Kami berbaring dan pikiran pun diistirahatkan. Setelah sesi ini selesai, kami dapat merasakan kesegaran kembali dalam tubuh. Ternyata tubuh ini butuh istirahat toh.

Latihan bersama di Buddhayana Buddhis Centre telah selesai dan kami pun berpamitan untuk kembali membawa energi kebahagiaan ini kedalam kehidupan sehari-hari. Sesampai tempat istirahat, saya memberikan tubuh dan pikiran untuk istirahat juga. Setelah memberikan bimbingan dan berbagi kepada komunitas berlatih, saya juga memberikan nutrisi kepada diri saya dengan santai sejenak di tempat yang sangat hening dan sejuk.

          “After charging others, we need to go to recharge ourselves too”.


WANDI BHADRAGUNA, aspiran Ordo Interbeing, dosen, praktisi hidup berkewawasan, sukarelawan retret dan DOM, aktif di kepanditaan Majelis Buddhayana Indonesia.

Langkah Sederhana Menerapkan Kewawasan dalam Mengasuh Anak

Langkah Sederhana Menerapkan Kewawasan dalam Mengasuh Anak

Sumi Loundon Kim menawarkan lima tips kewawasan (Mindfulness) bagi para orang tua yang sibuk.

Ibu dan Anak, foto oleh Zahed Ahmad (Lion’s Roar)

Terlalu sibuk membaca seluruh artikel ini karena mengejar anak-anak? Inilah 5 langkah pintas yang bisa dilakukan untuk membawa kewawasan dalam mengasuh anak-anak Anda.

  1. Saat anak-anak ada di sekitar Anda, singkirkan semua gawai, termasuk ponsel, smartwatch, atau laptop. Meyingkirkan semua itu secara otomatis meningkatkan kewawasan waspada Anda terhadap anak-anak Anda tanpa upaya apa pun.
  2. Bacakan buku cerita dengan tema kewawasan untuk anak-anak Anda. Buka situs web perpustakaan Anda untuk memesan beberapa buku yang dapat diambil dari list ini.
  3. Putar lagu-lagu kewawasan anak-anak, terutama saat naik mobil. Lagu-lagu tersebut dapat ditemukan di sini.
  4. Menjelang tidur, bersama-sama berlatih meditasi cinta kasih (metta) selama 3 menit. Gunakan tiga kalimat ini: Semoga ___ bahagia. Semoga ___ menjadi sehat. Semoga ___ aman dan nyaman. Ulangi baris ini, isilah bagian yang kosong dengan diri sendiri (semoga aku bahagia), seorang teman (semoga guruku bahagia), alam (semoga semua panda, beruang bahagia), dan semua makhluk (semoga semua makhluk bahagia).
  5. Jika semua anak Anda berusia tiga tahun ke atas, sempatkan diri Anda untuk berlatih meditasi selama 5-20 menit 3-5 kali seminggu. Jika Anda seorang pemula, Anda bisa menggunakan tuntunan meditasi, seperti dari Tara Brach atau dari direktur UCLA MARC’s, Diana Winston.

Untuk mengurangi rasa kewalahan, mulailah dengan memilih satu dari lima langkah di atas. Setelah itu integrasikan ke dalam rutinitas Anda, perlahan tapi pasti.

Punya banyak waktu lebih untuk membaca? Tentu saja Anda punya – merapikan mainan anak-anak bisa menunggu sampai besok. Ayo, minum kopi sembari saya jelaskan sedikit tentang bagaimana cara kerja praktik ini.


Perangkat

Dari semua hal di dunia ini yang dapat mengganggu, ada suatu hal mengenai internet – perangkat pintar yang terhubung ke internet tersebut membuat banyak orang menyebutkan sebagai perusak kewawasan. Jika ditarik ke sepuluh tahun yang lalu, kita sebagai orang tua tidak memiliki kecanduan ini, sedangkan sekarang perhatian kita tersedot ke layar yang kita genggam setiap saat.

Hal yang mengejutkan adalah anak-anak tahu bahwa ketika kita menggunakan perangkat-perangkat tersebut, kita tidak sepenuhnya berada bersama mereka. Sebuah survei dilakukan terhadap 2.000 anak usia 5 hingga 12 tahun di Kerajaan Inggris mengungkapkan bahwa lebih dari separuh anak-anak ini ingin orang tuanya mengurangi penggunaan ponsel. Jika Anda meletakkan ponsel Anda jauh-jauh, Anda akan secara otomatis menjadi lebih dekat dengan mereka, meskipun hanya untuk menghilangkan kebosanan! Saya mengenal seorang ayah yang berkewawasan, ia meletakkan ponselnya di rak tinggi di lemari dapur ketika anak-anaknya ada. Ia memiliki langganan koran karena menemukan perbedaan kualitas ketika membaca berita dari halaman kertas koran dibandingkan membaca berita di perangkatnya.

Anda juga dapat mempraktikkan “batching”: saat anak-anak tidak ada, Anda dapat mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan komputer dan mengakumulasikan tugas-tugas rumah tangga Anda menjadi sebuah batch terlebih dahulu. Ketika anak-anak di rumah, lakukan batch rumah tangga dan biarkan tugas-tugas yang berhubungan dengan komputer terakumulasi ke dalam batch lain untuk dikerjakan nanti.

Buku cerita

Jika Anda sudah rutin membacakan buku anak-anak bersama mereka, cukup mudah untuk menambahkan koleksi baru, judul baru yang membantu mengeksplorasi kemampuan dasar kewawasan anak-anak Anda melalui cerita-cerita yang menarik. Sebagai tambahan keuntungan, Anda akan mendapatkan pembelajaran sendiri mengenai latihan kewawasan ini. Buku-buku cerita dapat memberikan sudut pandang pengajaran baru yang tidak datang dari posisi Anda sebagai orang tua. Begitu banyak buku bagus di luar sana dan kita kesulitan memilihnya, namun Anda bisa memulai dengan buku-buku dibawah ini:

No Ordinary Apple oleh Sara Marlowe
No Ordinary Apple memperkenalkan kewawasan dalam menyantap makanan. Anak Anda pasti ingin mencobanya sendiri setelah membaca buku ini. Anda bisa berlatih memakan Apel dengan berkewawasan bersama anak Anda.

Moody Cow Meditates oleh Kerry Lee MacLean
Buku ini disukai oleh anak-anak karena banyak bentuk emosi Moody Cow yang mudah dikenali. Kakeknya mengajarkan cara menenangkan pikirannya dengan menggunakan kendi berisi glitter. Buku ini juga berisi instruksi untuk membuat “Calm Down Jar” sendiri di bagian akhir.

Ahn’s Anger oleh Gail Silver
Diajarkan dalam tradisi Thich Nhat Hanh, tentang seorang anak yang menggunakan beberapa latihan untuk berdamai dengan monster kemarahannya. Saya tidak bisa mengatakan berapa banyak orang tua yang berpendapat bahwa buku ini cocok untuk mereka dan anak-anak mereka.

Ziji: The Puppy Who Learned to Meditate oleh Yongey Mingyur Rinpoche
Kisah tentang seorang anak laki-laki mengajarkan cara bermeditasi kepada anjingnya yang hiperaktif. Buku ini tampaknya sesuai untuk anak-anak, mungkin karena banyak anak-anak yang sudah melatih anjingnya sendiri.

Lagu

Pada umumnya orang dewasa belajar meditasi dengan cara yang lebih kognitif, mudah bagi kita sebagai orang tua melupakan pentingnya musik sebagai bahasa belajar anak-anak. Sejak anak-anak mulai suka menyanyi, kita bisa membantu mereka menginternalisasi nasihat untuk berkewawasan melalui lirik-lirik yang dilantunkan dengan melodi. Ide-ide ini masuk ke bawah kesadaran, memberikan pemahaman nilai-nilai inti yang mendalam.  Saya selalu memutar kompilasi lagu untuk anak-anak saya ketika berada di mobil, dan mereka ikut beryanyi. Bahkan saya mendengarkan mereka tetap menyenandungkan lagu-lagu tersebut ketika mereka beranjak remaja.

Berikut ini contoh beberapa yang terbaik, tersedia di YouTube. Cari tahu cara membeli dan mengunduhnya dari sini.

Ingatlah mungkin Anda tidak akan menyukai lagu-lagu ini pada awalnya. Tetapi, anak-anak Anda akan menyukainya, jadi simpan dulu pendapat Anda pada saat pertama kali memutar lagu-lagu tersebut. Pada akhirnya, lagu-lagu tersebut akan menyentuh Anda dan Anda akan ikut bernyanyi dengan senang hati.

Metta

Kebayang keluarga memiliki rutinitas sebelum tidur untuk mengantarkan anak-anak tidur, memberikan pelukan, ciuman, lalu menempatkan boneka kelinci di tempat yang pas. Meditasi Metta (cinta kasih) baik untuk dilakukan bersama di malam hari. Setelah duduk di tempat tidur, mulailah bersama-sama menarik napas panjang dan dalam. Lalu berkata:

“Biarkan tubuh kita tenang, merasakan nyamannya kasur, merasa hangat dan nyaman, melepas semua kekhawatiran, perlahan dan santai. Mari bawa kewaspadaan kita ke dalam jantung, membayangkan cahaya yang bersinar seperti sinar matahari, yang memancar dari jantung kita ke seluruh tubuh, dari atas kepala sampai ke ujung jari-jari kaki, dan seterusnya. Cahaya ini adalah motivasi dan harapan baik kita”.

Dari empat kategori, pilihlah orang lain atau sesuatu dari alam untuk kategori kedua dan ketiga. Anda atau anak Anda bisa memimpin, atau bisa juga bergantian. Berikut adalah tahapan yang dituangkan dalam panduan belajar “Sitting Together”, sebuah kurikulum yang saya tulis mengenai berlatih kewawasan dalam keluarga:

  1. Diri Sendiri: Semoga saya bahagia. Semoga saya sehat. Semoga saya aman dan nyaman.
  2. Seseorang yang Anda dan anak Anda kenal, seperti guru, teman, ataupun saudara: Semoga Ms. Wade bahagia. Semoga Ms. Wade sehat. Semoga Ms. Wade aman dan nyaman.
  3. Sesuatu dari alam, seperti–hewan, tumbuhan, atau pekarangan – dengan mengadaptasi frasa: Semoga semua hutan hujan bahagia. Semoga semua hutan hujan menjadi sehat. Semoga semua hutan hujan dihindarkan dari penebangan.
  4. Semua makhluk: Semoga semua makluk berbahagia. Semoga semua makhluk sehat. Semoga semua makhluk aman dan nyaman.

Meditasi

Jika Anda memiliki anak di bawah usia tiga tahun, Anda dapat melakukan Meditasi dengan cara yang berbeda. Anda tetap bisa mandi, tidur siang, atau berolahraga. Anda dapat melatih kewawasan dalam kehidupan rumah tangga Anda dengan memanfaatkan waktu Anda ketika mengerjakan tugas berulang, seperti melipat cucian atau berjalan menaiki tangga. Anda juga dapat memanfaatkan momen yang lebih tenang, membangkitkan kewawasan saat menyusui bayi Anda atau saat mendorong kereta bayi Anda. (selengkapnya ada di sini). Anda mungkin bisa mengambil beberapa menit untuk meditasi di tempat kerja Anda, tetapi jangan menyalahkan diri anda sendiri jika Anda tidak bisa mengaturnya.

Energi dan rutinitas berubah begitu anak-anak mulai mengikuti beberapa kegiatan atau sekolah yang menghabiskan banyak waktu mereka. Anda bisa mulai meluangkan waktu untuk duduk meditasi selama 5 menit setiap hari dan kemudian secara bertahap meningkatkan periode hingga 20 menit.

Sekarang, pertanyaannya adalah: apakah Anda benar-benar harus melakukan meditasi duduk secara formal, atau apakah Anda dapat meningkatkan kewaspadaan sembari menyelesaikan tugas Anda sehari-hari sebagai orang tua?

Dengan kehidupan berkewawasan sehari-hari, Anda bisa membawa diri Anda untuk menjadi lebih hadir sepenuhnya ketika anak Anda mengajak berbicara, atau mengingatkan Anda untuk menjajaki pikiran dan perasaan saat menghadapi masa-masa sulit dalam keluarga. Dengan melakukannya, kita banyak mendapatkan manfaat. Tetapi, kewawasan yang jenisnya seperti ini memiliki kekurangan karena biasanya kita kesulitan mengingat untuk mewawas. Kewawasan bisa membuat kita merasa wajib melakukannya, dan saat kita tidak mewawas, kita merasa gagal lalu kita menyerah begitu saja.

Praktik meditasi formal, di satu sisi untuk mengembangkan kapasitas dan kemampuan untuk berkewawasan,  namun juga untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dan makin lama akan makin kuat.

Bayangkan bagaimana anak-anak Anda belajar sepak bola, piano, atau melukis: mereka mendedikasikan waktu-waktu latihan untuk mengasah teknik tertentu dengan mengikuti instruksi dan latihan berulang.

Kemudian mereka memainkannya, menampilkan sebuah karya ataupun menghasilkan sebuah karya seni. Demikian juga meditasi adalah waktu kita melatih keterampilan berkewawasan. Kemudian kita membawanya ke dalam permainan / pertunjukan / seni mengasuh anak. Jika Anda teratur bermeditasi, Anda akan lebih wawas secara alami sepanjang hari. Selain itu, sesi meditasi akan membantu Anda menjadi lebih selaras: kewawasan Anda menjadi bertahan lebih lama dan terbentuk alami.

Meditasi formal juga merupakan waktu kita melatih keterampilan yang sangat berharga untuk melihat atau mendengar pikiran dan hati kita dengan jelas. Keselarasan batin ini adalah kunci penting saat menghadapi permasalahan dalam keluarga: saat situasi tersebut berlangsung, kita sangat menyadari pikiran dan perasaan, mengarahkan apa yang kita katakan dan lakukan. Kemudian kita menyadari di titik mana kita bisa menyakiti diri sendiri maupun orang lain, dan psikologi yang mendasarinya. Wawasan yang kita dapatkan dari sini membuka pola disfungsional yang akhirnya dapat membenahi dan mengubah pola asuh kita sepenuhnya.

Terakhir, anak-anak kita meniru dan secara tidak sadar banyak mengadopsi siapa diri kita dan bagaimana kita berperilaku – mereka menjadi seperti kita. Jadi, ketika kita mewujudkan dan menghidupkan wawas waspada, kasih sayang, dan kebijaksanaan sebagai orang dewasa, secara otomatis mereka mengambil kualitas-kualitas ini juga. Dengan demikian, bermeditasi untuk diri kita sendiri menghasilkan kesepakatan 2 arah: kita menjadi lebih wawas dan anak-anak kita pun mulai hidup seperti itu juga.

Namun, jika kelima langkah ini terasa berat untuk dilakukan sekarang, ada kabar baik. Anda benar-benar hanya perlu melakukan satu hal saja untuk menjadi orang tua yang lebih berkewawasan: berlatih meditasi selama beberapa menit, atau lebih, beberapa hari dalam seminggu. Yang lainnya akan mengikuti dan mengalir begitu saja.


Alih Bahasa: Widi Budiarsi
Sumber: Mindful Parenting, Made Simple

Freedom Wherever We Go

Freedom Wherever We Go
Penahbisan novis di Upper Hamlet, Plum Village Prancis

Pratimoksha merupakan aturan dasar bagi monastik buddhis. Berlatih Pratimoksha, para monastik memurnikan kembali badan jasmani dan batinnya, membangkitkan maitri kepada semua makhluk, terus maju dalam jalur pembebasan. Prati berarti langkah demi langkah. Bisa juga diterjemahkan menjadi bergerak ke arah moksha. Moksha artinya pembebasan. Pratimoksha bisa diterjemahkan sebagai setiap Langkah membawa pembebasan. Setiap aturan membawa pembebasan bagi aspek tertentu secara khusus dalam kehidupan monastik. Jika seseorang berlatih menerapkan aturan menghindari alkohol, maka dia akan bebas, yaitu bebas dari mabuk. Jika seseorang menerapkan aturan menghindari pencurian, dia juga bebas, yaitu bebas dari penjara. Istilah Pratimoksha juga bisa diterjemahkan menjadi “di setiap tempat ada pembebasan”. Pratimoksha versi revisi diberi judul “Freedom Wherever We Go” (Pembebasan Kemanapun Kita Pergi) untuk mengingatkan para monastik bahwa mereka sedang bergerak ke arah pembebasan.

Sebagai bagian dari latihan di Plum Village, mereka yang sudah menerima penahbisan sepenuhnya (biksu/biksuni) wajib mempelajari Winaya pada 5 tahun pertamanya, Winaya merupakan literature sangat luas dan dalam, bagaimana definisi kehidupan dan cara pengelolaan kegiatan sehari-hari komunitas monastik. Pembelajaran Winaya mencakup Praktimoksha revisi dan klasik. Para monastik mempelajari Winaya bukan sebagaimana seorang profesor atau spesialis, tapi mereka mempelajari Winaya sebagai praktisi. Mereka mempelajari Winaya dengan kejernihan batin bahwa Winaya, tata karma, peraturan merupakan fondasi menunjang kelangsungan hidup Sangha. Kami berharap Pratimoksha revisi bisa menginspirasi sangha monastik zaman ini agar mereka bisa menemukan kembali integritasnya, kesederhanaan, keindahan, dan kebebasan dalam kehidupan monastik.

Pada tahun ke-5 Buddha membabarkan Dharma, Beliau bersama murid seniornya baru mulai menetapkan Pratimoksha untuk komunitasnya. Peraturan-peraturan itu ditetapkan satu per satu melalui beberapa dekade, setiap aturan selalu merespon kebutuhan dan situasi yang muncul dalam komunitas pada saat itu. Ketika Buddha hampir memasuki mahaparinirwana, Beliau berpesan kepada asistennya yaitu Bhante Ananda, peraturan minor boleh dihapus, agar Winaya tidak memberatkan, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan. Pada saat itu, Bhante Ananda tidak bertanya secara jelas bagian minor yang mana dan yang seperti apa yang dimaksud oleh Buddha. Setelah Buddha memasuki mahaparinirwana, Bhante Kassyapa sebagai senior saat itu, tidak berani menghapus satu pun dari peraturan yang ada. Sekarang, 2600 tahun telah berlalu, dan rekomendasi Buddha tidak pernah dilaksanakan oleh para cucu muridnya.

Kisah sejarah menyebutkan, 200 tahun setelah Buddha mahaparinirwana, sekte Agama Buddha sudah ada sekitar 20 aliran, setiap sekte memiliki Winaya-nya masing-masing. Semua Winaya itu selalu memiliki akarnya dalam ajaran Buddha dan praktiknya. Pratimoksha merupakan intisari dari Winaya. Naskah inilah yang dilafalkan ulang oleh para biksu dan biksuni sebulan dua kali di dalam seremoni uposatha untuk memperkuat dan mempurifikasi tekad mereka. Di Vietnam dan Tiongkok, mereka menganut Pratimoksha dari aliran Dharmagupta. Di Sri Lanka, Thailand, Myanmar, mereka menganut Pratimoksha dari aliran Tamrasatiya (Theravada). Untuk biksu, aliran Dharmagupta memiliki 250 butir peraturan, dan Pratimoksha Tamrasatiya memiliki 227 butir. Dua Pratimoksha dari aliran-aliran itu hanya memiliki beberapa perbedaan minor saja, bahkan dua Pratimoksha itu mendekati indentik.

Agama Buddha perlu menjadi tradisi yang hidup. Sebagai pohon, ada cabang-cabang yang sudah mati perlu dipotong agar tunas baru punya kesempatan untuk tumbuh. Tunas baru itu adalah ajaran dan praktik yang mampu merespon kebutuhan kultur dan zaman sekarang. Perkembangan teknologi, media, dan kehidupan yang demikian cepat telah mempengaruhi gaya hidup para monastik. Degradasi gaya kehidupan monastik sangat nyata terjadi di berbagai tempat di dunia ini, bahkan komunitas buddhis dan non buddhis juga mengalami hal serupa. Demi merespon situasi saat ini, Pratimoksha revisi sangat dibutuhkan.

Upaya Plum Village merevisi Pratimoksha selalu tertuju pada relevansi dan responsif, Konsili Dharma Acharya Plum Village telah berkonsultasi dengan master Winaya, biksu, dan biksuni di Vietnam dan berbagai tradisi selama 5 tahun lebih. Sebagai tambahan, kami juga memiliki pengalaman kehidupan monastik di dunia barat dalam dua dekade belakangan ini. Oleh Karena itu, Pratimoksha revisi bertujuan untuk memberikan panduan dan dukungan bagi monastik buddhis kontemporer yang tinggal di Asia maupun Barat.

Praktimoksha revisi pertama kali diluncurkan pada tanggal 31 Maret 2003 di Choong Ang Shangha University di Seoul, Korea, yang merupakan salah satu Universitas Buddhis Mahayana di Asia. Dalam Pratimoksha revisi ini, kami telah mengganti peraturan yang sudah tidak sesuai lagi pada zaman sekarang dengan peraturan baru esensial yang bisa melindungi integritas dan praktik para monastik. Sebagai contoh, dalam Pratimoksha klasik menyebutkan para monastik hanya boleh berpergian dengan jalan kaki. Peraturan itu berbunyi demikian, “Jika seorang biksuni yang tidak sedang sakit, lalu ia menaiki kereta, maka dia telah melanggar peraturan Payantika.” Peraturan ini relevan dengan tempat dan zaman Buddha, karena berpergian dengan menggunakan kereta tidak lumrah bagi para petapa dan kereta itu simbol dari status tinggi dan orang kaya. Namun pada abad 21 ini, bepergian ke Amerika, jika Buddha harus berjalan kaki di jalan tol dan menolak untuk menaiki kendaraan, bisa jadi Buddha akan mengalami kecelakaan atau bahkan ditangkap oleh polantas. Untuk merespon kebutuhan zaman modern monastik, Pratimoksha revisi menyebutkan tentang penggunaan kendaraan (mobil), komputer, televisi, telepon genggam, games elektronik, surel (e-mail), dan internet.

Ada orang yang bertanya, “Siapakah Anda, beraninya mengubah peraturan yang telah ditetapkan oleh Buddha?” Kami hanya menjawab, “Kami adalah anak-anak dari Buddha. Kami adalah kelanjutan dari Buddha, kami berlatih untuk mewujudkan keinginan Beliau.” Buddha menginvestasikan banyak waktu dan energi untuk mengajar dan melatih para monastik. Agama Buddha bisa bertahan hidup hingga hari ini karena Sangha monastik terus dijaga kelanjutannya. Tujuan dari Pratimoksha revisi adalah untuk melindungi kebebasan dan integritas praktik dari monastik, agar jalur menuju pembebasan otentik bisa terus berlangsung.

Agama Buddha akan tetap menjadi tradisi yang hidup, maka ajaran dan praktik perlu selalu relevan. Pratimoksha hendaknya jangan hanya menjadi objek akademik dan studi intelektual saja. Ada begitu banyak master Winaya dan mengerti dan menghafal literaturnya, mampu mengajar dan menjelaskannya dengan elegan. Tujuan utama Pratimoksha adalah memberikan panduan kepada biksu dan biksuni. Kami yakin bahwa Buddha mempercayakan pengertian, kepintaran, dan keberanian para keturunannya agar jalur pembebasan bisa terus berlanjut, mudah diakses dan terbuka untuk generai saat ini. Oleh karena itu, merevisi ajaran dan praktik yang ada perlu dilakukan.

Ini merupakan kali pertama, tradisi Plum Village telah menyediakan naskah Pratimoksha revisi kepada semua orang, termasuk praktisi awam. Kami yakin naskah ini bisa membantu memperkuat latihan dari empat lapisan Sangha yaitu biksu, biksuni, upasaka, dan upasika. Membaca Pratimoksha mengizinkan praktisi awam mengerti peraturan para monastik dan bagaimana gaya kehidupan monastik. Membaca Pratimoksha juga menginspirasi kehidupan yang lebih berkaruna, bermetta, dan berpanya agar kita bisa saling melindungi, mereka yang kita kasihi, lingkungan, dan semua makhluk.

Kami merevisi Pratimoksha demi menghormati guru akar kami yaitu Buddha Sakyamuni, beserta semua guru-guru silsilah spiritual, mereka telah mentransmisikan Dharma mulia dari generasi ke generasi. Kami yakin dengan menjadikan Agama Buddha sebuah tradisi yang hidup dan bebas dari degradasi dan korupsi, demikianlah untuk menjadi keturuan otentik dari Buddha. (Thich Nhat Hanh)

Alih bahasa: Nyanabhadra.
Sumber: Freedom Wherever We Go: A Buddhist Monastic Code For the 21st Century, Parallax Press.

Buddha Wanita: Sebuah Revolusi untuk Biksuni Tradisi Plum Village

Buddha Wanita: Sebuah Revolusi untuk Biksuni Tradisi Plum Village
Biksuni tradisi Plum Village

Pada tahun 2005, Thich Nhat Hanh, Sister Chan Kong, dan delegasi monastik serta perumahtangga pergi ke Vietnam untuk pertama kalinya sejak Thay diasingkan 39 tahun yang lalu.

Ketika perayaan tahun baru lunar, Thay berdiri paling depan di barisan para biksu tetua, sementara para biksuni duduk dengan tangan beranjali. Seorang biksu membacakan teks yang mengagungkan kehadiran Awalokiteshwara – bodhisatwa penuh welah asih – di dalam setiap biksuni, dan mendeklarasikan tekad berlatih winayanya dengan sungguh-sungguh demi melindungi dirinya sendiri juga biksuni lain.

Thay kemudian bernamaskara tiga kali di hadapan para biksuni – hal ini membuat biksu-biksu tetua yang berdiri di samping Thay terkejut. Para biksu tidak pernah terpikir untuk menunjukkan rasa hormat kepada biksuni, namun mereka mengikuti teladan Thay. Walaupun ini merupakan latihan standar di wihara-wihara Plum Village, bernamaskara kepada biksuni merupakan momen yang hebat, merendahkan hati, momen transformasional bagi tradisi monastik di Vietnam.

Thay, Sister Chan Khong dan monastik-monastik Plum Village lainnya sudah membuat perubahan-perubahan revolusioner untuk biksuni di Plum Village, antara lain menyetarakan status, suara dan pengaruh sehingga sama dengan para biksu. Berikut beberapa perubahan utama untuk biksuni di komunitas Plum Village:

  • Sementara banyak biksuni di komunitas-komunitas Buddhis lain tidak bisa menerima penahbisan penuh, biksuni-biksuni di Plum Village ditahbiskan sampai ke level yang sama dengan saudara-saudara monastik lainnya.
  • Semua monastik saling berbagi tugas, di dalam maupun di luar wihara. Biksu dan biksuni bertanggungjawab untuk mengajar, menyusun perencanaan, memasak, membersihkan wihara, mengurus keuangan, dan lain sebagainya. Dalam pengambilan keputusan di wihara, pendapat biksu dan biksuni sama-sama dihargai secara setara melalui prosedur demokrasi Sanghakarman.
  • Secara tradisional, biksuni yang paling senior akan ditempatkan di belakang biksu yang paling muda saat meditasi duduk dan jalan, serta dalam upacara dan prosesi. Di wihara-wihara Plum Village, biksu dan biksuni duduk, berjalan dan melakukan namaskara secara berdampingan.
  • Secara tradisonal, hanya biksu yang memberikan wejangan Dharma, mereka juga jarang melibatkan biksuni dan wanita. Di wihara-wihara Plum Village, biksu dan biksuni secara begantian memberikan wejangan Dharma, dan wejangan ini ditujukan untuk seluruh komunitas. Ketika para monastik belum memiliki pengalaman untuk memberikan wejangan sendirian, maka mereka mengajar dalam kelompok dengan jumlah biksu dan biksuni yang seimbang.
  • Tiga murid utama yang ditahbiskan oleh Thay adalah biksuni: Sister Chan Kong, Sister Chan Duc dan Sister Chan Vi. Sekarang, lebih dari separuh praktisi monastik Plum Village adalah wanita.
  • Ajaran-ajaran Thich Nhat Hanh itu inklusif. Ajaran dan latihan-latihan untuk monastik ditujukan untuk biksu dan biksuni secara setara, demikian juga ceramah, buku dan latihan yang diberikan kepada perumahtangga juga untuk semua orang. Thay selalu cermat dalam frekuensi pengunaan kata ganti orang ketiga wanita (she), kata ganti orang ketiga pria (he) dan ‘seseorang’ yang netral, serta ‘mereka’ dalam buku maupun ceramah Dharmanya.
  • Kebanyakan wihara tidak memiliki kondisi biksu dan biksuni berlatih berdampingan. Namun, Thay mengatur wihara Plum Village supaya para biksu dan biksuni berlatih, belajar, bekerja dan bermain bersama. Pengaturan ini mendorong para monastik untuk melihat satu sama lain sebagai saudara dan saudari dari keluarga yang sama, mengurangi fantasi dan persepsi salah yang dapat menciptakan jarak, serta membantu para monastik menghadapi energi seksual secara langsung alih-alih menghindari atau menahannya.
  • Dalam latihan Touching the Earth (Menyentuh Bumi), yaitu latihan menghormati para leluhur dan senior, Thay menambahkan beberapa figur wanita kehormatan lainnya: Mahagotami, biksuni yang ditahbiskan pertama kali; Awalokiteshwara, bodhisatwa penuh welas asih; serta Ibu Pertiwi.
  • Ajaran-ajaran, seremoni dan kaligrafi Thay berpusat pada Ibu Pertiwi, mengakui beliau sebagai seorang bodhisatwa. Penekanan Thay mengacu pada ajaran mengenai Hakikat Kebuddhaan dan guru terkandung dalam femininitas.
  • Thay menciptakan delapan “Guru Dharma” untuk biksu, serupa dengan sekumpulan tata acara yang diciptakan oleh Buddha mengenai bagaimana biksuni berinteraksi dengan biksu. Delapan Gurudharmas untuk biksu bisa diakses melalui Mindfulness Bell di sini (halaman 19).
  • Untuk pertama kalinya sejak masa Buddha, Thay membantu merevisi Pratimoksha, kode etik monastik untuk biksu dan biksuni yang sudah menerima penahbisan penuh.
  • Secara tradisional, biksuni dan teman perumahtangga tidak diizinkan membaca vinaya biksu. Di wihara Plum Village, Thay membuat vinaya biksu dan biksuni tersedia untuk kalangan umum.
  • Menurut Pratimoksha (sila monastik), seorang biksu boleh lepas jubah sampai tujuh kali. Namun jika seorang biksuni yang sudah ditahbiskan penuh lepas jubah, ia hanya bisa kembali sebagai samaneri dan tidak bisa menerima penahbisan penuh kembali. Dalam tradisi Plum Village, Thay mengizinkan biksuni untuk menerima penahbisan ulang penuh.

Secara keseluruhan, Thay menekankan bahwa anggota sanggha berlapis empat harus dihargai dan dihormati karena latihan dan kapasitas mereka untuk hidup dalam harmoni, bukan karena gender mereka. Posisi revolusioner biksuni-biksuni di Plum Village menarik banyak wanita untuk ditahbiskan di komunitas tersebut, baik perumahtangga wanita maupun samaneri yang telah berlatih di tradisi-tradisi lain.

Latihan dan cara hidup di Plum Village telah mendorong pemberdayaan biksuni muda dalam latihan mereka, serta mengubah cara mereka memandang diri sendiri. Latihan-latihan ini akan mempengaruhi cara pelatihan murid-murid di masa yang akan datang, sehingga menyediakan banyak ruang gerak, kepercayaan dan suara bagi wanita.

Terima kasih, Thay dan komunitas terkasih, atas daya upaya yang berkelanjutan untuk mendukung saudari-saudari monastik kita. Kami merunduk penuh rasa syukur kepada Sister Dang Nghiem dan Sister Hien Nghiem atas kontribusinya untuk daftar ini. (Alih bahasa: Aya Muhartono)

Sumber: Female Buddhas: A Revolution for Nuns in the Plum Village Tradition

Jarak Pandang Pengadilan Pikiran

Jarak Pandang Pengadilan Pikiran
Panorama Farm @PakChong Thailand

Beberapa minggu yang lalu adalah hari-hari menjelang tahun baru Imlek atau dikenal juga sebagai hari raya awal musim semi, saya yang terlahir sebagai etnis Tionghoa dan dibesarkan dalam tradisi Tionghoa, tentu saja menyambutnya dengan suka-cita.

Salah satu tradisi yang masih dipegang teguh adalah membersihkan seluruh rumah, termasuk menggosok kaca jendela agar mengkilat, membersihkan daun pintu, mencuci tirai, dan mengecat dinding rumah.

Selain kesibukan tradisi tersebut, rasanya awal musim semi memang selayaknya disambut gembira oleh seluruh manusia yang terlahir di negara empat musim.

Artinya, musim dingin yang menggigit dan menyusahkan bahkan untuk berjalan saja harus seperti penguin atau tangan/kaki patah akibat jatuh tergelincir telah berlalu digantikan dengan musim semi yang ceria.

Renovasi Rumah

Pada tahun ini, selain membersihkan rumah keluarga kami juga berencana merevonasi bagian rumah yang sudah melapuk. Di tengah pekerjaan renovasi, karena satu dan lain hal tukang bangunan absen seminggu. Akibatnya jadwal selesai pun mulur dan seluruh rumah berantakan, kotor, berdebu lebih lama dari perkiraan, padahal hari raya sudah sangat dekat.

Karena cemas dan gregetan, dalam hati saya membatin, ini si Bapak lama banget kerjanya, masa mengecat dua teralis jendela saja setengah hari tidak selesai-selesai. Saat si Tukang istirahat makan siang, saya ambil kuas dan cat besi, mulai mengecat.

Polesan pertama…. Ugh emulsi catnya memisah, cat dan teralis tidak mau saling menempel. Cat menetes semena-mena ke lantai, menambah kekotoran. Tidak kehilangan akal, saya berhenti mengecat dan mengalasi seluruh lantai dengan koran bekas, kemudian mulai mengecat lagi.

Masalah baru timbul, posisi teralis yang menghadap ke halaman membuat mata menentang cahaya, silau sekali, sukar sekali melihat mana yang belum terkena cat dan mana yang sudah. Makin dicat, makin belepotan, benar-benar tidak beres.

Dengan berteriak saya bertanya, “ini harus dicat dua kalikah?” Si Tukang menjawab, “benar”. Ok, berarti cat pertama belepotan tidak apa, nanti diperhalus dicat kedua. Seluruh teralis jendela akhirnya selesai dan hasilnya bisa ditebak tidak rapi sama sekali. Cat kedua akhirnya diteruskan oleh Tukang yang sudah selesai makan siang.

Jarak Pandang

Kemudian saya beralih membersihkan lantai dan dinding yang terkena percikan cat dan semen. Pada jarak pandang mata dengan objek sekitar 45-50 cm, terlihat jelas hampir seluruh lantai dan dinding dikotori percikan cat dan sisa-sisa semen, ada yang sebesar kancing baju ada pula yang setitik jarum, semua tidak luput dari pandangan saya.

Nih, Tukang jorok sekali kerjanya, kenapa tidak hati-hati saat bekerja, omel saya dalam hati. Keringat yang menetes di dahi dan punggung tak saya hiraukan, sampai berjam-jam kemudian saya menyerah karena pinggang mulai berontak.

Pandangan mata akhirnya lepas dari obyek lantai dan dinding, menjauh, melebar dan makin lebar……tiba-tiba semua terlihat bersih. Haiiiiii…… ke mana hilangnya si titik cat, ke mana hilangnya tetesan semen? Indahnya rumah saya, tidak ada tanda goresan kuas di teralis, tiada debu di sela-sela lantai, tiada percikan cat sedikit pun. Ajaib sekali rasanya tiba-tiba semua telah bersih. Apa benar sudah bersih? penasaran saya memperpendek jarak pandang, dan segala kotoran muncul kembali, mengganggu kembali.

Pengadilan Pikiran

Label “bersih” dan “kotor” sedetik demi sedetik berubah-ubah sedemikian cepat. Saya terhenti mengosok lantai dan merenung, kotor dan bersih adalah persepsi yang dibentuk oleh pengadilan (judgement) pikiran dan pengetahuan bawah sadar bahwa bersih adalah seharusnya begini-begini dan begini dan jika tidak memenuhi kriteria tersebut artinya kotor.

Persepsi makin parah ditambah dengan tudingan bahwa si Tukang bekerja serampangan. Kenyataannya benda-benda itu masih seperti itu adanya. Entah kita labeli dengan istilah bersih atau kotor, benda itu tetap ada di situ, sesuai karakternya.

Bagaimana dengan perasaan hati? Berkaca dari pengalaman bersih dan kotor di atas, jika perasaan hati dibiarkan larut dan intens hanya merasakan sisi kotor saja, maka kita pun akan terus menerus memperkuat kebiasaan untuk menilai segala sesuatu dari sisi buram, sisi kotor… kotor…kotor…kotor. Padahal ada sisi lain, bersih, yang cukup sering kita abaikan.

Alangkah melelahkannya hidup jika berfokus pada sisi buram terus-menerus, lepaskan pandangan dan kita akan melihat matahari masih ada di luar memberikan cahaya dan kehangatan kepada kita, keluarlah dan sentuhlah dunia dengan jiwa lapang, maka hidup pun berseri.

KSHANTICA anggota Ordo Interbeing Indonesia, volunteer retret mindfulness, dan aktif di MBI DKI Jakarta

To Live Happily in the Here and Now

To Live Happily in the Here and Now
Dharma Sharing bersama anak sekolah

Siswa SMP Sekolah Ananda pertama kali mengadakan Day of Mindfulness (DoM). Anak-anak sudah pernah mempraktikkan hidup berkewawasan (mindfulness) ketika makan, duduk, relaksasi total. Praktik ini sudah dilakukan secara rutin oleh para guru, sekarang saatnya untuk mengajak anak-anak untuk ikut latihan juga.

Tema DoM perdana ini adalah Happiness is here and now. Anak remaja banyak terbebani oleh tugas sekolah, maka dari itu penting mengajarkan mereka cara untuk berbahagia melalui meditasi. Kami ingin anak-anak berbahagia di sekolah juga di rumah, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berkewawasan.

Menyentuh Momen Saat Ini

“The present moment is filled with joy and happiness. If you are attentive, you will see it.”

Thich Nhat Hanh

Sesi berbagi Dharma (Dharma Sharing), anak-anak diminta untuk menyebutkan hal apa yang membuat mereka bahagia maupun tidak bahagia. Mereka berbahagia ketika dapat berkumpul dengan orang tua dan keluarga. Mereka tidak berbahagia ketika orang tua bertengkar, kurang diperhatikan, berselisih paham dengan teman, tidak dibelikan barang yang diinginkan, nilai rapor rendah, ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal dunia. Jawaban ini lebih bervariasi.

Siswa mulai mengerti bahwa kondisi untuk berbahagia sebenarnya sudah ada, mereka sering melupakannya. Contoh, matahari di langit. Luangkan waktu sejenak untuk merasakan hangatnya matahari, semua kehidupan bisa berlangsung dikarenakan sinar matahari.

Banyak makanan bergantung pada sinar matahari, matahari seperti seorang ayah dan ibu merawat kita, selalu hadir setiap hari. Jika seseorang merasa tidak diperhatikan, tidak ada yang menyayangi, ingatlah matahari selalu merawat semuanya, setiap detik dan menit, bahkan setiap hari. Bumi, pohon, air, udara, burung, serangga, mereka selalu hadir untuk kita. Itu adalah suatu kebahagiaan.

Jangan menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain atau materi. Jangan berpikir, “Saya akan bahagia jika saya menjadi juara kelas, atau ketika saya dibelikan handphone terbaru, atau ketika mama bahagia, maka saya akan bahagia.” Kita bisa memunculkan rasa bahagia dalam diri kita terlebih dahulu.

Jika seseorang berhentik sejenak untuk menyentuh momen kekinian, maka banyak kondisi kebahagiaan yang terlihat jelas. Kita tidak perlu mencari kondisi-kondisi kebahagiaan di luar sana, justru saat ini kita sudah memiliki banyak kondisi kebahagiaan.

Berhenti dan menyentuh momen kekinian, maka tubuh dan pikiran bisa beristirahat. Berhenti untuk memberi kesempatan bagi kita untuk mengenali kondisi-kondisi bagi kebahagiaan sesungguhnya sudah hadir dan ada di depan kita. Jika kita bahagia, maka kita dapat menjadi sumber kebahagiaan juga bagi orang lain.

Mengenali Benih Positif dan Benih Negatif di Dalam Diri

“The seed of suffering in you may be strong, but don’t wait until you have no more suffering before allowing yourself to be happy.”

Thich Nhat Hanh

Anak-anak diberi kesempatan untuk mengenal benih positif dan negatif yang dominan dalam dirinya. Mereka sudah mampu mengenali benih-benih itu. Mereka menuliskan cara-cara menyirami benih positif, dan menghindari menyirami benih negatif.

Benih-benih positif yang ada dalam diri para siswa antara lain suka memberi, rendah hati, suka tersenyum, ramah, ceria, perhatian, easy going, bersyukur, humoris, percaya diri, tenang, jujur, penyayang, bersemangat, mudah memaafkan, pantang menyerah, tidak suka cakap kotor, dan lain-lain.

Benih-benih negatif yang dalam diri para siswa antara lain pemarah, egois, serakah, tidak percaya diri, malas, iri hati, suka melawan, suka menunda, berbohong, rendah diri, keras kepala, sombong, boros, kasar, dan lain-lain.

Cara menyiram atau tidak meyiram benih agar bertumbuh antara lain:

  • Selalu bersyukur
  • Sabar dan selalu tersenyum
  • Tidak membandingkan diri dengan orang lain
  • Mencari dan berkumpul dengan orang-orang dan lingkungan yang baik
  • Berpikir positif
  • Mengingat hal-hal yang diajarkan orang tua
  • Lebih dekat dengan Tuhan, rajin ibadah dan berdoa
  • Banyak membaca quote-quote motivasi
  • Mengendalikan emosi
  • Memahami sifat dan karakter orang lain
  • Menjadikan hal-hal baik sebagai kebiasaan
  • Memikirkan orang lain dan menempatkan diri di posisi orang lain untuk dapat memahami bagaimana keadaannya jika kita berlaku tidak mengenakkan pada mereka
  • Menenangkan diri

Bagi anak seusia 12 – 15 tahun, pemikiran-pemikiran seperti ini cukup bagus, walaupun masih ada sebagian siswa yang menjawab masih tidak tahu bagaimana cara menyiram atau tidak menyiram benih-benih tersebut. Hal ini memberikan saya ide baru untuk membahas topik ini lebih mendalam pada DoM bulan berikutnya dengan cara lebih seru.

Sharing Bersama Fasilitator

“I am determined to practice deep listening. I am determined to practice loving speech.”

Thich Nhat Hanh

Setelah relaksasi total, para siswa berpencar sesuai kelompoknya untuk bermain games dan berbagi cerita bersama masing-masing fasilitator. Dalam kelompok kecil, para fasilitator menjelaskan terlebih dahulu tata cara dalam sharing. Diawali dengan memberi bow (hormat) sebelum dan setelah bercerita, tidak memotong pembicaraan teman, tidak mengejek apabila teman salah bicara, belajar mendengarkan teman tanpa menghakimi, dan berbicara dengan bahasa yang sopan dan tidak menyakiti teman. Mereka juga belajar mengundang lonceng secara bergiliran setiap kali seorang temannya selesai berbagi cerita.

Dalam kesempatan ini bukan hanya sesama siswa berbagi cerita, tapi juga para fasilitator (yang juga adalah guru). Di sekolah mungkin tidak banyak hal yang mereka ketahui tentang guru-guru mereka, tapi pada kesempatan ini para guru tidak segan berbagi cerita. Berbagi tentang keluarga, keseharian mereka, tentang cita-cita, apa yang membuat mereka bahagia pada hari itu, apa yang mereka sukai dan tidak sukai, dan lain-lain.

Latihan berkewawasan selesai pada sore hari. Ada beberapa anak yang jujur mengatakan bahwa hal yang membuat ia bahagia pada hari itu adalah ia dapat bangun lebih telat dari biasanya (karena DoM dimulai pukul 8.30 pagi), tidak perlu belajar pada Sabtu ini, dapat bermain game dengan teman-teman dan  menikmati relaksasi total, serta tidak perlu memikirkan pelajaran sekolah ataupun pekerjaan rumah.

Latihan DoM ini adalah pengalaman pertama bagi para siswa. Semoga latihan hari ini memberi rasa relaks dan semoga mereka dapat mengingat bahwa untuk menumbuhkan rasa bahagia dalam diri adalah tidak sulit, cukup menyadari saat ini, menyentuh momen saat ini, maka kita akan menyadari bahwa kondisi-kondisi untuk berbahagia sebenarnya telah ada di hadapan kita.

“It is possible to live happily in the here and now. So many conditions of happiness are available—more than enough for you to be happy right now. You don’t have to run into the future in order to get more.”

Thich Nhat Hanh

RUMINI LIM, guru sekolah Ananda Bagan Batu, pengajar mindfulness class dan volunteer retret mindfulness