Seremoni Mengenang Satu Tahun Kepergian Master Zen Thich Nhat Hanh

Seremoni Mengenang Satu Tahun Kepergian Master Zen Thich Nhat Hanh
Seremoni peringatan mendiang Master Zen Thich Nhat Hanh

Hujan rintik-rintik menguyur kota Huế ketika kami dalam perjalanan menuju wihara Diệu Trạm. Wihara Diệu Trạm merupakan wihara para Bhiksuni dengan jumlah residen 80 biarawati yang bersebelahan dengan wihara Từ Hiếu, wihara para Bhiksu dengan jumlah residen 20 biarawan. Wihara Từ Hiếu merupakan tempat Master Zen Thich Nhat Hanh ditahbiskan, oleh karena itu kadang wihara ini disebut sebagai Wihara Akar dari tradisi Zen Plum Village.

Ketika kami tiba di wihara Diệu Trạm, beberapa biarawati menyambut dan mengantarkan kami menuju kamar. Walaupun udara dingin dan lembab sangat terasa di malam itu, hati saya merasa sangat bahagia. Ada kurang lebih 150 siswa monastik dari pusat latihan Plum Village dari berbagai negara yang datang ke wihara akar untuk berpartisipasi dalam rangkaian acara peringatan satu tahun wafatnya Maha Guru Zen, Thích Nhất Hạnh. Thầy yang artinya Guru merupakan sapaan Beliau, telah menahbiskan 1.214 siswa monastik dan puluhan ribu murid awam.

Rangkaian acara peringatan satu tahun wafatnya Thầy diawali dengan dua hari retret monastik yaitu pada tanggal 3 s.d. 4 Januari 2023. Ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi monastik karena para senior bhiksu dan bhiksuni dari tradisi Plum Village berbagi Dharma kepada generasi monastik yang lebih muda. Retret monastik ini juga menjadi ajang reuni, berkumpul dengan kakak dan adik seperguruan yang telah lama tidak bertemu.

Energi kebahagiaan dan keceriaan terpancar di segala sudut kedua wihara meskipun banyak persiapan yang harus dilakukan dalam menyambut total sekitar 250 monastik. Ada begitu banyak pekerjaan yang harus dibereskan, seperti memotong sayur, memasak, mempersiapkan aula meditasi, sistem audio dan terjemahan, mempersiapkan kamera dan siaran langsung, dan lain lain. Seluruh monastik dan awam yang hadir bersama-sama bersumbangsih dalam meditasi kerja.

Bunga seruni atau kadang disebut bunga krisan.
Bunga Seruni (sumber: wikipedia id)

Pada tanggal 5 s.d. 6 Januari, wihara Từ Hiếu yang merupakan tempat pelaksanaan seremoni peringatan wafatnya Thầy dibersihkan secara menyeluruh dan tenda-tenda dipasang. Bunga dan buah dipersembahkan ke altar Buddha dan Bodhisattwa, altar leluhur dan Thầy. Di altar Thầy selalu dihiasi bunga Seruni yang berwarna coklat kekuningan, ini adalah bunga kesukaan Thầy.

Di Plum Village Perancis, bunga Seruni mekar di bulan Oktober. Di Phương Khê, tempat tinggal Thầy di Prancis selalu dihiasi dengan bunga ini. Hingga saat ini, Phương Khê selalu dibersihkan secara berkala oleh siswa monastik, bunga-bunga dan tanaman yang ada tetap dirawat. Bahkan di Phương Khê telah dibangun aula meditasi yang baru.

Aula meditasi yang baru ini merupakan amanat dari Thầy ketika Beliau sedang sakit. Dengan menggunakan kursi roda, pendamping Thầy akan membawa Beliau ke salah satu gedung tua di Phương Khê dan Beliau memberikan petunjuk bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk pemugaran gedung tersebut. Hal ini dilakukan karena jumlah siswa monastik yang terus bertambah sehingga aula lama yang digunakan sudah tidak muat lagi. Thầy adalah arsitek dari aula meditasi yang baru itu.

Seremoni peringatan hari wafatnya salah satu leluhur Guru, Thầy Huệ Minh berdekatan dengan seremoni guru kita maka seremoni untuk Beliau juga menjadi bagian dari rangkaian acara dan diadakan pada tanggal 7 Januari. Ada banyak monastik yang merupakan siswa atau cucu siswa Beliau berdatangan ke wihara Từ Hiếu untuk mengikuti seremoni peringatan itu. Begitu pula praktisi awam hadir dari berbagai kota di Vietnam maupun dari luar negeri. Pendarasan doa-doa dilakukan secara tradisional dan menggunakan bahasa sino Vietnam yang mirip dengan bahasa Mandarin.

Day of Mindfulness (DOM) yang menjadi ikon dari Plum Village diadakan di hari Minggu, 8 Januari, begitu banyaknya siswa monastik dan praktisi awam yang berdatangan, aula meditasi wihara Diệu Trạm menjadi tidak muat tetapi tim soundsystem sudah mempersiapkan tempat di luar aula meditasi sehingga semua yang hadir dapat mengikuti DOM. Thầy Pháp Ấn membabarkan Dharma dilanjutkan dengan makan siang bersama dan sorenya ada sesi tanya jawab.

Di dalam tradisi Vietnam, tahun pertama meninggalnya seorang Guru disebut tahun Tiểu Tường, yang mana upacara peringatan ini hanya dihadiri oleh keluarga monastik dan siswa-siswa Beliau. Tahun kedua disebut tahun Đại Tường, di tahun kedua ini akan diadakan seremoni dalam skala besar, Para Maha Guru dari berbagai wihara di Vietnam akan diundang untuk menghadiri Đại Tường, ini juga seremoni memindahkan altar Thầy ke altar utama leluhur.

Meditasi kerja pun dilanjutkan di hari senin, 9 Januari di pagi dan siang hari. Lalu di malam hari di aula meditasi Bulan Purnama, wihara Từ Hiếu diadakan acara mengenang Thầy, ada begitu banyak kenangan indah yang dibagikan, transformasi dan penyembuhan, kebahagiaan dan kegembiraan serta nyanyian-nyanyian, dan semua ini dipersembahkan kepada Thầy.

Kota Huế diguyur hujan sejak saya tiba tanggal 2 Januari, jikalaupun hujan berhenti paling lama 30 menit atau satu jam saja lalu hujan akan turun lagi. Tetapi di hari seremoni peringatan wafatnya Thầy di tanggal 10 Januari, sejak pagi hujan tidak turun setetes pun sampai kami selesai makan siang.

Lebih dari 2.500 orang memadati wihara Từ Hiếu, siswa monastik, anggota ordo Interbeing, praktisi awam, anak remaja dan anak-anak. Seremoni dimulai pukul 09:00 di aula Buddha, wihara Từ Hiếu dengan mendaraskan sutra dan mantra secara tradisional dalam bahasa Sino Vietnam. Guru-guru besar memimpin pendarasan dan siswa monastik Thầy berlutut di hadapan altar Buddha serta melakukan namaskara berulang kali kepada Buddha dan Bodhisattwa.

Meditasi makan bersama

Satu jam kemudian, para monastik melakukan prosesi dari aula Buddha ke aula meditasi Bulan Purnama untuk melanjutkan pendarasan sutra dengan menggunakan Bahasa Vietnam. Bukan hanya siswa-siswa monastik Thầy yang bernamaskara pada saat pendarasan, guru-guru besar yang memimpin seremoni ini pun ikut bernamaskara di depan altar Thầy. Pendarasan sutra-sutra dilakukan dengan melodi khas dari kota Huế, sangat indah, unik dan penuh dengan kekuatan.

Di sore harinya, kami mengunjungi taman kenangan tempat Thầy dikremasikan yang berjarak 45 Km dari wihara. Saat itu hujan rintik-rintik, kami melakukan penghormatan kepada Thầy dengan mempersembahkan dupa, bunga dan buah lalu kami mendaraskan Namo Avalokitesvaraya dilanjutkan dengan meditasi jalan di sekitar taman. Setelah selesai, Thầy Pháp Ấn mengatakan bahwa Thầy sangat suka melakukan meditasi jalan ketika hujan rintik-rintik. Kami semua sangat merasakan kehadiran Thầy.

Kota Huế merupakan kota tua dan umat Buddha di sini masih sangat tradisional, monastik yang telah meninggal dikuburkan dan didirikan stupa di atasnya. Ada begitu banyak stupa dan pemakaman umum di kota ini. Ketika pemerintah kota Huế mendapat info bahwa Thầy menginginkan upacara yang sederhana dan dikremasikan, mereka membangun krematorium dari batu bata dan proses kremasi menggunakan kayu.

Stupa piramida kecil di taman kenangan

Setelah krematorium ini selesai dibangun, seorang Maha Guru yang juga sangat dihormati di kota Huế, menginginkan upacara yang sederhana dan dikremasikan, Beliau adalah yang pertama menggunakan krematorium ini. Lalu satu tahun kemudian, Thầy menggunakan krematorium tersebut. Setelah itu, krematorium ini ditutup. Di taman ini didirikan dua monumen untuk mengenang dua Guru besar dan batu bata yang digunakan disusun menjadi bentuk piramida, menjadi saksi telah dikremasikannya dua Guru besar di taman tersebut.

Saya merasa sangat terharu dapat mengikuti rangkaian acara peringatan satu tahun wafatnya Thầy, keberadaan saya di Vietnam membuat saya merasa sangat terhubungkan dengan lebih mendalam kepada wihara akar, para leluhur, Thầy dan kebudayaan serta kehidupan orang Vietnam. (Sr. Trăng Mới Lên; monastik yang berasal dari Indonesia, saat ini tinggal di Lower Hamlet, Plum Village Prancis)

Hati Damai, Dunia Damai

Hati Damai, Dunia Damai


Tâm bình, thế giới bình

(Hati Damai, Dunia Damai)

Ini adalah kutipan dari Master Zen Thích Nhất Hạnh tentang latihan kesadaran penuh (mindfulness), “Kebahagiaan bukan sesuatu yang sangat jauh, kebahagiaan ada di saat ini.”

Sister Trăng Thông Chiếu dan Sister Trăng Phú Xuân dari Plum Village berbagi kepada BBC tentang latihan kesadaran penuh dan bagaimana berlatih dalam “kejernihan 24 jam”.

Wawancara dilakukan oleh BBC News Vietnam di Plum Village International Center, Distrik Pak Chong, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand pada Juli 2022.

Wawancara ini merupakan bagian dari serangkaian video tentang meditasi kesadaran penuh dan warisan Master Zen Thích Nhất Hạnh, yang dilakukan oleh BBC News Vietnam. Kami mengundang Anda untuk menonton video kami berikutnya.

Malam Suci Waisak

Malam Suci Waisak
Malam Suci Waisak, Cipt. B. Girirakkhito

Oleh: B. Girirakkhito
Dilantunkan oleh: Monastik Plum Village Prancis

Malam suci sunyi bulan purnama siddhi
Pada satu hari waktu bulan Waisak Purnama
Sang Gotama Muni di bawah pohon Bodhi
Duduk bersamadhi melaksanakan mewawas diri

Tercapailah Samyak Nyata pengetahuan sempurna
Parinibbana buahnya leburlah Awidya
DiketemukanNya Arya Thangika Magga
Jalan Tengah Kramat tuk mencapai Dukka Nirodha


Malam Purna Chandra dalam bulan Waisaka
Samana Gotama duduki di bawah pohon Bodhi
Sedang mewawas diri sampai Samma Samadhi
Lahir batin menjadilah tenang tak tergoncangkan

Nampak pada Sang Samana Magga untuk mengakhiri
Dukka derita Samsara Arya Tangika Magga
Berkah nan termulia Waisaka Purna Chandra
Gautama Sang Buddha lahir Tribuana berbahagia

[Foto lawas] Thich Nhat Hanh di Upper Hamlet

Ucapan Terima Kasih

Ucapan Terima Kasih


Kami dari Sanggha monastik, biksu dan biksuni dari Tradisi Zen Plum Village yang berada di Thailand, mengucapkan terima kasih dengan sepenuh hati kepada semua kebaikan para donatur yang telah berbaik hati membantu kelangsungan monastik selama tahun 2020 ini. Semoga Anda semua sehat, semoga semua makhluk berbagai, dunia aman dan damai.

Buddha Wanita: Sebuah Revolusi untuk Biksuni Tradisi Plum Village

Buddha Wanita: Sebuah Revolusi untuk Biksuni Tradisi Plum Village
Biksuni tradisi Plum Village

Pada tahun 2005, Thich Nhat Hanh, Sister Chan Kong, dan delegasi monastik serta perumahtangga pergi ke Vietnam untuk pertama kalinya sejak Thay diasingkan 39 tahun yang lalu.

Ketika perayaan tahun baru lunar, Thay berdiri paling depan di barisan para biksu tetua, sementara para biksuni duduk dengan tangan beranjali. Seorang biksu membacakan teks yang mengagungkan kehadiran Awalokiteshwara – bodhisatwa penuh welah asih – di dalam setiap biksuni, dan mendeklarasikan tekad berlatih winayanya dengan sungguh-sungguh demi melindungi dirinya sendiri juga biksuni lain.

Thay kemudian bernamaskara tiga kali di hadapan para biksuni – hal ini membuat biksu-biksu tetua yang berdiri di samping Thay terkejut. Para biksu tidak pernah terpikir untuk menunjukkan rasa hormat kepada biksuni, namun mereka mengikuti teladan Thay. Walaupun ini merupakan latihan standar di wihara-wihara Plum Village, bernamaskara kepada biksuni merupakan momen yang hebat, merendahkan hati, momen transformasional bagi tradisi monastik di Vietnam.

Thay, Sister Chan Khong dan monastik-monastik Plum Village lainnya sudah membuat perubahan-perubahan revolusioner untuk biksuni di Plum Village, antara lain menyetarakan status, suara dan pengaruh sehingga sama dengan para biksu. Berikut beberapa perubahan utama untuk biksuni di komunitas Plum Village:

  • Sementara banyak biksuni di komunitas-komunitas Buddhis lain tidak bisa menerima penahbisan penuh, biksuni-biksuni di Plum Village ditahbiskan sampai ke level yang sama dengan saudara-saudara monastik lainnya.
  • Semua monastik saling berbagi tugas, di dalam maupun di luar wihara. Biksu dan biksuni bertanggungjawab untuk mengajar, menyusun perencanaan, memasak, membersihkan wihara, mengurus keuangan, dan lain sebagainya. Dalam pengambilan keputusan di wihara, pendapat biksu dan biksuni sama-sama dihargai secara setara melalui prosedur demokrasi Sanghakarman.
  • Secara tradisional, biksuni yang paling senior akan ditempatkan di belakang biksu yang paling muda saat meditasi duduk dan jalan, serta dalam upacara dan prosesi. Di wihara-wihara Plum Village, biksu dan biksuni duduk, berjalan dan melakukan namaskara secara berdampingan.
  • Secara tradisonal, hanya biksu yang memberikan wejangan Dharma, mereka juga jarang melibatkan biksuni dan wanita. Di wihara-wihara Plum Village, biksu dan biksuni secara begantian memberikan wejangan Dharma, dan wejangan ini ditujukan untuk seluruh komunitas. Ketika para monastik belum memiliki pengalaman untuk memberikan wejangan sendirian, maka mereka mengajar dalam kelompok dengan jumlah biksu dan biksuni yang seimbang.
  • Tiga murid utama yang ditahbiskan oleh Thay adalah biksuni: Sister Chan Kong, Sister Chan Duc dan Sister Chan Vi. Sekarang, lebih dari separuh praktisi monastik Plum Village adalah wanita.
  • Ajaran-ajaran Thich Nhat Hanh itu inklusif. Ajaran dan latihan-latihan untuk monastik ditujukan untuk biksu dan biksuni secara setara, demikian juga ceramah, buku dan latihan yang diberikan kepada perumahtangga juga untuk semua orang. Thay selalu cermat dalam frekuensi pengunaan kata ganti orang ketiga wanita (she), kata ganti orang ketiga pria (he) dan ‘seseorang’ yang netral, serta ‘mereka’ dalam buku maupun ceramah Dharmanya.
  • Kebanyakan wihara tidak memiliki kondisi biksu dan biksuni berlatih berdampingan. Namun, Thay mengatur wihara Plum Village supaya para biksu dan biksuni berlatih, belajar, bekerja dan bermain bersama. Pengaturan ini mendorong para monastik untuk melihat satu sama lain sebagai saudara dan saudari dari keluarga yang sama, mengurangi fantasi dan persepsi salah yang dapat menciptakan jarak, serta membantu para monastik menghadapi energi seksual secara langsung alih-alih menghindari atau menahannya.
  • Dalam latihan Touching the Earth (Menyentuh Bumi), yaitu latihan menghormati para leluhur dan senior, Thay menambahkan beberapa figur wanita kehormatan lainnya: Mahagotami, biksuni yang ditahbiskan pertama kali; Awalokiteshwara, bodhisatwa penuh welas asih; serta Ibu Pertiwi.
  • Ajaran-ajaran, seremoni dan kaligrafi Thay berpusat pada Ibu Pertiwi, mengakui beliau sebagai seorang bodhisatwa. Penekanan Thay mengacu pada ajaran mengenai Hakikat Kebuddhaan dan guru terkandung dalam femininitas.
  • Thay menciptakan delapan “Guru Dharma” untuk biksu, serupa dengan sekumpulan tata acara yang diciptakan oleh Buddha mengenai bagaimana biksuni berinteraksi dengan biksu. Delapan Gurudharmas untuk biksu bisa diakses melalui Mindfulness Bell di sini (halaman 19).
  • Untuk pertama kalinya sejak masa Buddha, Thay membantu merevisi Pratimoksha, kode etik monastik untuk biksu dan biksuni yang sudah menerima penahbisan penuh.
  • Secara tradisional, biksuni dan teman perumahtangga tidak diizinkan membaca vinaya biksu. Di wihara Plum Village, Thay membuat vinaya biksu dan biksuni tersedia untuk kalangan umum.
  • Menurut Pratimoksha (sila monastik), seorang biksu boleh lepas jubah sampai tujuh kali. Namun jika seorang biksuni yang sudah ditahbiskan penuh lepas jubah, ia hanya bisa kembali sebagai samaneri dan tidak bisa menerima penahbisan penuh kembali. Dalam tradisi Plum Village, Thay mengizinkan biksuni untuk menerima penahbisan ulang penuh.

Secara keseluruhan, Thay menekankan bahwa anggota sanggha berlapis empat harus dihargai dan dihormati karena latihan dan kapasitas mereka untuk hidup dalam harmoni, bukan karena gender mereka. Posisi revolusioner biksuni-biksuni di Plum Village menarik banyak wanita untuk ditahbiskan di komunitas tersebut, baik perumahtangga wanita maupun samaneri yang telah berlatih di tradisi-tradisi lain.

Latihan dan cara hidup di Plum Village telah mendorong pemberdayaan biksuni muda dalam latihan mereka, serta mengubah cara mereka memandang diri sendiri. Latihan-latihan ini akan mempengaruhi cara pelatihan murid-murid di masa yang akan datang, sehingga menyediakan banyak ruang gerak, kepercayaan dan suara bagi wanita.

Terima kasih, Thay dan komunitas terkasih, atas daya upaya yang berkelanjutan untuk mendukung saudari-saudari monastik kita. Kami merunduk penuh rasa syukur kepada Sister Dang Nghiem dan Sister Hien Nghiem atas kontribusinya untuk daftar ini. (Alih bahasa: Aya Muhartono)

Sumber: Female Buddhas: A Revolution for Nuns in the Plum Village Tradition

Penahbisan Peserta Pabajja di Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Penahbisan Peserta Pabajja di Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Altar Buddha @PlumVillageThailand

Sejak beberapa tahun belakangan ini, Plum Village Thailand mengadakan pabajja (samanera dan samaneri) selama tiga bulan. Program ini khusus untuk peserta dari Asia Pasifik saja. Program ini mulai sejak tahun 2015. Pada tahun pertama hanya untuk peserta dari Thailand saja. Tahun berikutnya beberapa perwakilan komunitas praktik dari Asia juga memohon agar program ini juga bisa diikuti oleh peserta dari negara lain.

Pada tahun ini (2018), peserta berjumlah 17 orang. Jumlah terbanyak jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Para peserta dari berbagai negara yaitu: Thailand, Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan, Indonesia, Singapura, dan Hong Kong.

Dari Indonesia ada 2 orang wanita yang ikut. Hestia dan Natalya. Setelah ditahbiskan mereka mendapat nama Samaneri Suối Hòa Nhã, dan Samaneri Suối Hòa Tấu.

Berikut ini adalah foto Penahbisannya pada 17 Agustus 2018, saat Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke-73.

Selamat Datang Sister Trang Giac Minh

Selamat Datang Sister Trang Giac Minh

Monastik Indonesia; Sister Trang Giach Minh (dari kiri ke-4)

Plum Village Perancis menyambut kedatangan monastik baru pada tanggal 14 Desember 2017. Mereka terdiri dari aspiran pria yaitu: Rupert dari Austria, Gabriele dari Italia, Khoa dari Vietnam-Australia, Marvin dari Jerman-Suriname, and Hernando who is Colombia-Perancis. Aspirant wanita ada Marie dari Perancis, Suriyana dari Indonesia, Linh dari Singapura, dan Thuy dari Vietname-Australia. Mereka ditahbiskan dalam keluarga penahbisan “Poplar Tree“.

Penahbisan samanera-samaneri kali ini mengikutsertakan seorang aspiran dari Indonesia. Ia bernama Suriyana, sekarang bernama Sister Trang Giac Minh (The Moon of Awakened Brightness). Sister Giac Minh telah menjadi aspiran sekitar setahun, kakak kandungnya (Suryani) juga telah ditahbiskan sebagai samaneri tahun 2016 dengan nama Sister Trang Tinh Mac.

Di Plum Village Thailand juga pada saat bersamaan melakukan penahbisan total sebanyak 13 samanera dan samaneri.

Lebih banyak foto bisa dilihat di sini dan sini juga di sini

Lima Tahun Pelatihan Monastik

Lima Tahun Pelatihan Monastik

Ketika kita berlatih sebagai monastik, kita memiliki kesempatan untuk menemukan akar dari kebebasan, soliditas, kegembiraan, dan kebahagiaan diri sendiri, dan kita dapat membantu komunitas. Ketika kita ditahbiskan dan selanjutnya mengenakan jubah cokelat, kita belajar untuk memotong ilusi dan penderitaan. Kita belajar untuk mentransformasikan penderitaan kita yang terdalam menjadi masa depan yang cerah dan masa kini yang lebih cerah lagi. Hal ini merupakan sebuah proses yang alami, karena saat kita menemukan akar kebajikan dalam hidup, kita juga akan mampu membantu orang lain untuk berhenti menciptakan penderitaan bagi dirinya sendiri dan dunia.

Pelatihan monastik selama lima tahun ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi Anda untuk belajar bagaimana menjalani hidup Anda dengan penuh makna, menemukan tali persaudaraan, dan membuat perubahan sosial yang selama ini selalu kita impikan menjadi mungkin untuk diwujudkan di sini dan sekarang. Dengan merasakan kehidupan sederhana yang dijalani oleh biksu dan biksuni serta mengembangkan kehidupan spiritual, Anda akan mampu membantu biksu dan biksuni senior Anda dalam menyelenggarakan retret dan kegiatan di seluruh dunia.

Anda akan mampu untuk berbagi tentang praktik dan transformasi diri, serta menolong banyak orang, termasuk anak-anak, pasangan, dan keluarga. Ketika kita melepaskan pencarian kita akan kekayaan, kekuasaan, kenikmatan sensual, dan mengenakan jubah cokelat milik monastik, kita tidak perlu menunggu hingga lima tahun untuk dapat membantu orang lain. Sejak hari pertama, kita dapat menginspirasi orang-orang di sekitar hanya dengan berjalan dengan penuh kesadaran, soliditas, dan kebebasan.

Silakan kunjungi salah satu pusat latihan kami di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, dan Thailand untuk menanyakan tentang program ini dan mempelajari lebih lanjut mengenai proses pendaftarannya.

Persyaratan Umum:
Usia 17 – 32 tahun. Jika Anda berusia di bawah 18 tahun Anda harus mendapatkan persetujuan dari orang tua Anda.
Single atau telah bercerai. Hubungan Anda dengan orang-orang yang dekat dengan Anda telah selesai, dan keputusan Anda selaras dengan mereka, sehingga mereka tidak akan menjadi hambatan bagi latihan Anda sebagai monastik.

Tidak menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau kondisi medis yang serius. Kestabilan mental dan kesehatan fisik Anda harus dalam kondisi yang sewajarnya sehingga tidak menjadi hambatan atau tantangan bagi latihan Anda dan juga bagi komunitas. Akan dilakukan pemeriksaan darah dan kesehatan sebelum Anda mengikuti program ini.

Tidak memiliki hutang atau beban finansial. Sebagai monastik, kita berlindung kepada Sangha, dan tidak memiliki hutang, atau memiliki rekening bank dan atau kartu kredit. Jika diperlukan, Anda dapat menutup rekening bank dan kartu kredit yang Anda miliki, sehingga Anda dapat berlindung pada Sangha sepenuhnya untuk seluruh kebutuhan Anda, termasuk makanan, pakaian, obat-obatan, dan tempat tinggal.

Komitmen untuk belajar, berlatih, dan melayani. Latihan kami mengajak Anda untuk mengalir menjadi satu kesatuan sebagai Sangha. Anda berkomitmen untuk belajar bagaimana berlatih sebagai sebuah komunitas dan mengikuti bimbingan Sangha, termasuk menghadiri seluruh kegiatan. Monastik yang tidak dapat berkomitmen untuk mengikuti jadwal dan latihan Sangha dipersilakan untuk meninggalkan komunitas.

Melepaskan barang-barang milik pribadi. Sebagai bagian dari latihan, Anda akan diminta untuk melepaskan barang-barang tertentu seperti laptop, ponsel, dan lain-lain, dan diminta masuk ke dalam komunitas dengan tangan kosong.
Kunjungan keluarga. Anda dapat mengunjungi anggota keluarga Anda selama 14 hari setelah berlatih selama 2 tahun sebagai novis (samanera atau samaneri). Anda tetap dapat menghubungi mereka, memperhatikan mereka, dan berbagi kebahagiaan dengan mereka dengan menulis surat/email untuk mereka atau menelpon mereka dari waktu ke waktu.

Periode pengajuan mengikuti program pelatihan: Datanglah ke salah satu dari pusat latihan kami untuk mengikuti retret selama dua minggu sebelum Anda mengajukan diri untuk mengikuti program pelatihan. Anda dapat berkonsultasi dengan biksu atau biksuni tentang kehidupan mereka untuk mempelajari lebih banyak tentang kehidupan monastik dan hidup berkomunitas.

Jika Anda menemukan bahwa cara hidup ini selaras dengan aspirasimu dan Anda dapat menemukan kebahagiaan dalam latihan sehari-hari, Anda dapat menulis surat untuk menceritakan tentang keinginan Anda untuk mengikuti program pelatihan lima tahun ini. Komunitas akan bertemu untuk mendiskusikan permintaan Anda dan mengundang Anda untuk mengikuti program aspiran ketika terdapat dukungan yang selaras dengan permintaan Anda dan ketika kondisi yang menunjang Anda untuk mengikuti program pelatihan ini telah tercukupi.

Periode pelatihan sebagai Aspiran (3 bulan hingga 1 tahun): Setelah permintaan Anda untuk mengikuti program pelatihan telah disetujui, Anda akan diberikan jubah berwarna abu-abu untuk Anda gunakan selama masa pelatihan sebagai aspiran. Anda akan diajak untuk berpindah ke tempat tinggal aspiran bersama dengan aspiran lainnya. Seorang mentor yang telah ditugaskan akan membimbing Anda dalam masa awal latihan dan masa transisi ke dalam kehidupan monastik.

Latihan Anda bukan hanya tentang belajar pengetahuan dan gagasan-gagasan semata. Ini merupakan praktik yang Anda pelajari untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Anda mampu mentransformasikan penderitaan Anda, serta mengembangkan pengertian dan cinta kasih. Dalam periode ini, Anda akan diminta untuk melepaskan harta benda dan komitmen duniawi Anda sehingga Anda cukup bebas untuk memulai kehidupan Anda sebagai seorang monastik.

Setelah menjalani masa latihan sampai dengan satu tahun, komunitas monastik akan bertemu untuk melihat secara mendalam latihan dan aspirasi Anda. Atas dasar tersebut, komunitas akan memutuskan apakah Anda sudah siap untuk ditahbiskan sebagai novis (samanera/samaneri) atau apakah Anda lebih cocok untuk melanjutkan latihan Anda sebagai umat awam di dalam komunitas.

Periode pelatihan sebagai Novis (3 tahun): Ketika Anda sudah ditahbiskan sebagai novis (samanera/samaneri), Anda akan diajak pindah ke kediaman monastik, untuk tinggal bersama dengan biksu dan biksuni lainnya.

Latihan Anda akan lebih berfokus pada kehidupan monastik, berdasarkan buku latihan untuk pemula, Stepping Into Freedom, dan buku panduan untuk hidup berkomunitas, Joyfully Together. Penting untuk selalu diingat bahwa pelatihan monastik pada dasarnya berbeda dengan pencarian akademis di universitas. Alih-alih sekedar memperoleh pengetahuan dan mengembangkan keahlian semata, sebagai monastik kita diingatkan untuk selalu kembali ke latihan dasar yaitu bernapas, berjalan, dan makan dengan sadar penuh, serta mendengarkan genta, meskipun kita telah berlatih selama lima, sepuluh, atau tiga puluh tahun.

Anda akan melatih dan mengembangkan perhatian penuh, konsentrasi, dan pengertian berdasarkan pada tata krama dan sila yang menjadi pedoman perilaku bagi samanera dan samaneri, yang diwujudkan secara konkret melalui perbuatan, ucapan, dan pikiran Anda dalam kehidupan sehari-hari.

Anda akan berbagi kamar dengan dua, tiga, atau empat biksu dan biksuni lainnya dan akan diberikan seorang mentor untuk membimbing latihan Anda. Setelah tiga tahun, Anda dapat memenuhi syarat untuk ditahbiskan secara penuh menjadi komunitas biksu dan biksuni, dengan persetujuan Thay dan seluruh komunitas.

Penahbisan penuh (1 tahun): Pada periode ini, Anda akan memasuki Sangha Biksu, dan berlatih sebagai anggota seutuhnya dari komunitas monastik, menjalankan sila-sila yang lebih tinggi yang dilaksanakan oleh Biksu dan Biksuni.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kehidupan biksu dan biksuni di komunitas kami, Anda dapat membaca penjelasan kami tentang bagaimana kami hidup dan berlatih sebagai seorang monastik dengan komitmen seumur hidup.

[Link untuk penjelasan latihan sebagai monastik seumur hidup]

Silakan kunjungi website kami untuk penjelasan lebih lengkap mengenai program ini.

Rekomendasi buku untuk dibaca: Old Path White Clouds, Happiness, Stepping Into Freedom, Joyfully Together (tersedia di Parallax Press).

Menjadi Monastik

Menjadi Monastik

Monastik merupakan istilah umum untuk biksu, biksuni, samanera, dan samaneri. Anda memiliki kesempatan untuk bergabung dengan komunitas monastik Plum Village (PV). Anda dapat belajar dan berlatih di salah satu pusat latihan PV di Eropa, Amerika, atau Asia. Komunitas atau sangha monastik PV terus berkembang, saat ini berjumlah sekitar 700an orang yang tersebar dari tiga benua itu.

Komunitas Monastik PV
Komunitas monastik PV saat ini terdiri dari berbagai negara meliputi Perancis, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Spanyol, Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, Indonesia, India, Kanada, Swedia, Portugal, Amerika Serika, dan Australia. Usia mereka juga berkisar 15 sampai dengan 79 tahun, meskipun rata-rata berumur dari 20 hingga 30 tahun. Walaupun komunitas monastik PV terdiri dari berbagai negara, namun saat ini yang paling banyak adalah dari Vietnam, jadi hidup dalam komunitas yang beraneka ragam diperlukan kemampuan untuk merangkul budaya yang berbeda-beda. Bahasa yang dipergunakan secara umum adalah Vietnam, Inggris, dan Perancis, jadi seseorang minimal perlu menguasai salah satu Bahasa itu.

Persyaratan
Anda yang ingin bergabung dengan komunitas monastik PV harus berusia di bawah 50 tahun. Tidak ada prasyarat gelar akademik. Mereka yang berusia di bawah 18 tahun perlu mendapat persetujuan dari orang tua. Tidak mengidap penyakit yang serius dan fatal atau cacat berat. Komunitas monastik PV hidup selibat dan komitmen seumur hidup. Kehidupan komunitas menjadi elemen penting, bukan bersifat individualis. Seorang samanera atau samaneri wajib melewati program pelatihan selama 3 tahun sebelum menerima penahbisan penuh sebagai biksu atau biskusni.

Permohonan Penahbisan
Langkah pertama adalah Anda perlu tinggal di Plum Village minimal 3 bulan sebagai praktisi umat biasa. Anda bisa mendapatkan pengalaman langsung tentang kehidupan komunitas, kemudian para monastik juga punya kesempatan untuk mengamati Anda juga. Masa tinggal di pusat latihan PV adalah 2 minggu, setelah itu Anda boleh menulis surat permohonan untuk memperpanjang masa tinggal sekaligus mengungkapkan keinginan untuk bergabung dalam komunitas monastik. Komunitas monastik akan mempertimbangkan permohonan Anda.

Surat yang Anda tulis perlu mencantumkan latar belakang, pengalaman latihan, lalu aspirasi apa yang mendorong Anda sehingga ingin bergabung ke dalam komunitas monastik. Apabila komunitas monastik menyetujui permintaan Anda, maka Anda resmi menjadi aspiran (calon samanera atau samaneri).

Sebagai aspiran, Anda akan diberikan pelatihan bagaimana cara meningkatkan kualitas-kualitas positif, lalu bagaimana mengubah hal-hal negatif dalam dirimu. Anda juga dibebaskan dari biaya kontribusi akomodasi. Anda akan mendapat seorang mentor yang akan membantu Anda dalam pelatihan selanjutnya. Setelah melalui berbagai pelatihan dan dianggap siap, maka Anda bisa diajukan untuk menerima penahbisan menjadi samanera atau sameneri.

Sebagai Aspiran, Anda diwajibkan mengikuti semua aktivitas, kecuali ada aktivitas yang hanya untuk komunitas monastik saja.

Hidup sebagai samanera-samaneri
Anda sudah bisa sedikit membantu orang lain walaupun masih dalam status samenera-samaneri, tidak perlu menunggu menjadi Dharmacharya atau biksu/biksuni. Dalam beberapa bulan berlatih dengan tekun, praktik berjalan, bernapas, serta membangkitkan kedamaian dan kebahagiaan, itu saja sudah bisa banyak membantu orang lain. Sebagai praktisi muda Anda bisa mendukung komunitas dan membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

Setelah melewati masa latihan samanera-samaneri selama 3 tahun, Anda akan dipertimbangkan untuk ditahbiskan menjadi biksu atau biksuni. Pusat latihan PV adalah rumahmu. Walaupun Anda menghadapi berbagai kesulitan, kita tetap bertekad untuk mencari jalan keluar dan berusaha hidup harmonis dengan kakak dan adik dalam Dharma.

Keluarga Anda diperbolehkan mengunjungi Anda, dan setiap 2 tahun sekali Anda diperbolehkan mengunjungi keluarga, atau sesegera mungkin jika ada kondisi darurat.

Semoga Anda dapat memenuhi cita-cita mulia demi kepentingan semua makhluk.

Sutra Usia Muda dan Kebahagiaan

Sutra Usia Muda dan Kebahagiaan

Demikianlah yang telah saya dengar, suatu Buddha sedang menetap di Wihara Hutan Bambu di kota Rajagriha. Pada waktu itu tersebutlah seorang biksu, pada suatu subuh, ia pergi ke pinggir sungai, melepaskan jubah bagian atas dan meletakannya di pinggir sungai, lalu ia turun ke sungai untuk mandi. Setelah selesai mandi, ia keluar dari sungai, menunggu sebentar agar badannya kering, lalu mengenakan kembali jubah bagian atasnya. Tiba-tiba seorang dewi muncul, tubuhnya bersinar terang menerangi seluruh pinggiran sungai itu. Sang Dewi bertanya kepada biksu itu, “Bhante, Anda barusan ditahbiskan menjadi biksu. Rambut Anda masih hitam, Anda masih begitu muda. Dalam usia muda begini, bukankah seharusnya Anda mendandani diri dengan minyak wangi, batu permata, untaian bunga indah, menikmati 5 jenis kenikmatan sensual? Mengapa Anda meninggalkan sang kekasih tercinta dan memilih hidup berlawan dengan arus duniawi serta hidup sendirian? Anda mencukur habis rambut dan jenggotmu, mengenakan jubah petapa, menaruh keyakinan penuh pada praktik monastik. Mengapa Anda meninggalkan momen kekinian demi mencari kenikmatan masa depan?”

Biksu itu menjawab, “Saya tidak meninggalkan momen kekinian demi mencari kenikmatan masa depan. Saya telah melepaskan kenikmatan agar bisa menghadirkan kebahagiaan pada momen ini.”

Sang dewi bertanya, “Apa maksud Bhante?”

Biksu itu menjawab, “Buddha telah mengajarkan: kesenangan yang berasal dari kenikmatan sensual mengandung sedikit rasa manis dan banyak rasa pahit, dan memiliki potensi besar mengakibatkan bencana. Sekarang, saya bersemayam dalam Dharma yang sudah tersedia di sini dan saat ini, saya telah meletakkan kekotoran batin yang bagaikan api membara. Dharma telah tersedia di sini dan saat ini. Tidak lekang oleh waktu, selalu mengundang kita untuk datang dan melihatnya langsung. Dharma perlu direalisasikan dan dialami oleh setiap orang untuk dirinya sendiri. Inilah yang disebut sebagai melepaskan kenikmatan agar bisa menghadirkan kebagiaan pada momen ini.”

Sang Dewi lanjut bertanya kepada biksu itu, “Mengapa Buddha mengatakan kesenangan yang berasal dari kenikmatan sensual mengandung sedikit rasa manis dan lebih banyak rasa pahit, manfaatnya kecil tapi memiliki potensi besar mengakibatkan bencana? Mengapa Buddha mengatakan bahwa bersemayam dalam Dharma yang sudah tersedia pada saat ini dan di sini sehingga kita bisa melepaskan kekotoran batin yang bagaikan api membara? Mengapa Buddha mengatakan bahwa Dharma demikian berada di momen kekinian, tidak lekang oleh waktu, kita selalu diundang untuk datang dan melihatnya sendiri, selalu tersedia di saat ini dan di sini, kemudian direalisasikan dan dialami oleh setiap orang untuk dirinya sendiri?”

Biksu itu menjawab, “Saya baru 2 tahun menerima penahbisan. Saya belum punya keterampilan cukup untuk menjelaskan ajaran sejati dan sila yang telah dibabarkan oleh Buddha. Yang Mulia Buddha berada tidak terlalu jauh dari sini, di Hutan Bambu. Barangkali Anda bisa pergi dan bertanya kepada beliau secara langsung. Tathagata akan membabarkan Dharma sejati, dan Anda berkesempatan menerima dan mempraktikkan nasihat beliau sebagaimana sesuai dengan diri Anda.”

Sang Dewi itu membalas, “Bhante, pada saat ini Tathagata sedang dikelilingi oleh dewa-dewi yang sangat kuat dan berpengaruh. Sungguh sulit bagi saya untuk bisa mendekati beliau dan bertanya langsung tentang Dharma. Apakah Bhante berkenan membantu saya menanyakan pertanyaan itu kepada Beliau langsung? Saya akan menemanimu.”

Biksu itu menjawab, “Iya, saya akan membantumu.”

Sang Dewi membalas, “Bhante, saya akan menemanimu.”

Biksu itu tiba di hadapan Buddha, bersujud dan menghormat, setelah itu mundur sedikit dan duduk di pinggir. Biksu itu mengulang semua percakapannya dengan sang dewi, lalu berujar, “Buddha Yang Mulia, Sang Dewi ini bertanya dengan sepenuh hati, oleh karena itulah dia mengikuti saya ke sini.” Tiba-tiba ada suara dari kejauhan, “Bhante, saya di sini, saya di sini.”

Buddha segera mempersembahkan gatha ini:
“Makhluk menghasilkan pikiran keliru
berkenaan dengan objek-objek nafsu keinginan.
Oleh karena itulah mereka terjebak dalam nafsu keinginan.
Karena mereka tidak tahu apa itu sesungguhnya nafsu keinginan,
mereka terdorong ke jalan menuju kematian.”

Lalu Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang Dewi itu menjawab, “Saya belum mengerti, Yang Mulia. Saya masih belum mengerti.”

Buddha kemudian melantunkan satu gatha lagi untuk dewi itu:
“Ketika engkau mengetahui hakikat nafsu keinginan,
maka nafsu pikiran tidak akan muncul.
Ketika tiada lagi nafsu keinginan, maka tiada persepsi bisa menjadi landasannya,
Pada saat itu, tiada orang yang bisa menggodamu.”

Kemudian Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang dewi itu menjawab, “Saya belum mengerti, Yang Mulia. Saya masih belum mengerti.”

Buddha kemudian melantunkan gatha lagi untuk dewi itu:
“Jika Anda merasa lebih besar, kecil, atau setara,
Anda telah menyebabkan perselisihan.
Ketika tiga kompleks itu telah berakhir,
Tiada lagi yang bisa menggoncang pikiranmu.”

Kemudian Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang dewi itu menjawab, “Saya belum mengerti, Yang Mulia. Saya masih belum mengerti.”

Lalu Buddha melantunkan gatha lagi untuk dewi itu:
“Mengakhiri nafsu keinginan, mengatasi tiga kompleks,
pikiran menjadi hening, tiada yang perlu didambakan lagi.
Kita meletakkan semua gangguan batin dan kesedihan,
Dalam kehidupan ini maupun akan datang.”

Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang Dewi itu menjawab, “Saya sudah mengerti, Yang Mulia. Saya sudah mengerti sepenuhnya.”

Demikianlah Buddha telah selesai membabarkan ajaran ini. Sang dewi sangat berbahagia telah mendengar pembabaran itu. Ia bertekad untuk mempraktikkan ajaran itu, lalu ia menghilang. Jejaknya tidak ditemukan lagi di setiap sudut.

Samiddhi Sutta, Samyukta Agama 1078
(berkorespondensi dengan Samyutta Nikaya 1.20, juga Taisho 99)