Hal Kecil Membuat Hati Terasa Damai

Hal Kecil Membuat Hati Terasa Damai
Retret Wake Up Nov 2022

Pengalaman pertama mengikuti Day of Mindfulness (DOM) Plum Village di Maret 2019 sangat membekas di memori saya. Saat pulang dari acara, saya merasa sangat bahagia tapi sulit menjelaskan mengapa saya merasa demikian.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya merasa bahwa kebahagiaan itu harusnya datang dari pencapaian tinggi maupun hasil yang luar biasa. Setelah pengalaman DOM yang membahagiakan tersebut, saya merasa ‘addicted’ untuk memperhatikan hal yang sedang saya kerjakan, dan saya menjadi sadar bahwa berada di momen kekinian membuat saya lebih mengapresiasi hal kecil. Anak yang biasa mukanya datar ini pun lama kelamaan jadi lebih sering tersenyum 🙂

Tiga tahun kemudian, saya bersyukur bisa mengikuti retret Wake Up, berlatih bersama dengan brother sister secara offline lagi. Perbedaan asal negara dan bahasa tidak menjadi rintangan untuk kami semua untuk menikmati kehangatan dan suasana yang sukacita.

Retret selama empat hari mengingatkan saya betapa bahagianya berada di masa kini : bernapas, makan, berjalan, bernyanyi dengan kesadaran. Sebagai orang yang menghargai efisiensi, memiliki hari yang produktif, dan terkadang terjebak dalam budaya ‘hustling’, saya diingatkan bahwa kita selalu memiliki cukup kondisi untuk berbahagia.

Saat kita bisa menikmati proses, hidup jadi lebih indah. Saat bernyanyi dan menggerakan badan secara sadar penuh, lirik lagunya terasa masuk ke dalam, menyegarkan diri. ‘Duduklah disini jika sedih.. Seruput teh ini bersama (lagu Plum Village)’. Hal kecil membuat hati terasa damai

Saya sadar tidak ada salahnya mempunyai banyak rencana untuk mengisi hari kita – namun saat kita makan kita fokus pada makanan; saat kolega kita mengutarakan ide mereka, kita memperhatikan ucapan mereka; saat orang tua kita memberikan nasihat, kita coba tidak memotong ucapan mereka dan menjawab dengan ucapan yang halus (walaupun sejujurnya masih menjadi praktik yang menantang untuk saya). Dari sudut pandang efisiensi, fokus pada pekerjaan kita membuat kita menyelesaikan segala sesuatu lebih cepat dan hasil lebih baik.

Berkat brothers sisters monastik, dan teman-teman yang mengikuti retret bersama, saya akhirnya memutuskan mengambil 5 Latihan Hidup Berkesadaran Penuh (5 Mindfulness Training atau 5MT) sebagai komitmen untuk terus berlatih gaya hidup yang berdampak baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Awalnya saya tidak terbayang mengambil 5MT karena rasanya berat – masih banyak habit energy atau tindakan saya yang belum sesuai. Namun setelah bertukar pikiran dengan keluarga Plum Village, saya menjadi yakin bahwa 5MT berguna sebagai arahan untuk praktik hidup sehari-hari, dan bukan alat untuk menghakimi diri.

Hadiah yang saya bawa pulang dari retret adalah bangun lebih pagi dan memulai hari dengan positif, semakin banyak pilihan lagu untuk dinyanyikan ke keponakan maupun bersenandung saat menunggu, dan 5MT untuk dilatih secara rutin. (Gracia Yap)

Pedoman Berbagi Dharma

Pedoman Berbagi Dharma
Berbagi Dharma

Berbagi Dharma (Dharma Sharing) merupakan pintu Dharma (Dharma Door, 法門) dari tradisi Zen Plum Village. Praktik ini dipimpin oleh seorang fasilitator, pesertanya berkisar 15-25 orang duduk melingkar, oleh karena itu juga kadang disebut Circle Sharing.

Tugas fasilitator adalah untuk membantu melancarkan jalannya kegiatan agar masing-masing orang memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman latihannya. Konten berbagi bisa berupa kebahagiaan, sukacita, bahkan kesulitan dalam latihan meditasi. Pertanyaan boleh dilemparkan oleh fasilitator untuk mencairkan suasana sepi.

Pada umumnya sebelum seseorang berbagi, maka dia beranjali (kuncup teratai), telapak kanan sebagai simbol pikiran dan telapak kiri sebagai simbol tubuh, ketika pikiran dan tubuh bersatu padu, itulah kewawasan (mindfulness). Anjali merupakan ungkapan minta izin untuk berbagi, kemudian semua anggota membalas memberi salam Anjali juga.

Anda hendaknya berbagi dari hati yang paling dalam, sebaiknya menghindari teori-teori apakah itu dari buku, artikel, atau sumber lainnya. Ketika berbagi, gunakanlah sudut pandang pertama “saya” atau “aku” untuk menghindari persepsi bahwa Anda sedang mengurui orang lain.

Gunakan waktu secukupnya untuk berbagi, namun juga jangan terlalu lama, ini demi memberi kesempatan kepada anggota lain untuk berbagi juga. Ketika Anda selesai berbagi maka tutup dengan Anjali lagi. Anggota lain yang ingin berbagi pada kesempatan berikutnya, disarankan untuk bernapas 3x terlebih dahulu sebelum beranjali untuk berbagi. Jika Anda sudah berbagi 1x maka izinkanlah sahabat lain berbagi sebelum Anda berbagi lagi.

Sesi praktik Berbagi Dharma juga merupakan kesempatan untuk berlatih berbicara penuh kasih dan mendengar secara mendalam. Ketika berlatih mendengar mendalam, maka usahakan mendengar untuk mengerti, usahakan untuk menghentikan percakapan di dalam pikiran agar kualitas mendengar bisa lebih bagus.

Cara berkomunikasi adalah kepada seluruh anggota kelompok, bukanlah berdialog dengan satu atau dua orang saja. Jika seseorang berbicara terlalu lama atau dianggap keluar dari topik, maka fasilitator boleh membunyikan setengah genta untuk meminta yang bersangkutan untuk lebih spesifik atau bahkan mengakhiri berbaginya.

Kita semua perlu menjaga kerahasiaan apa pun yang telah disampaikan dalam lingkaran berbagi Dharma. Jika dalam kurun sekian waktu, belum juga ada yang berbagi, maka fasilitator boleh berbagi atau mengundang salah satu peserta grup. Seorang fasilitator hendaknya terampil dalam memimpin sesi berbagi Dharma, jangan memaksa anggota yang tidak ingin berbagi.

Sesi Berbagi Dharma pertama biasanya dimulai dengan pengantar singkat tentang apa itu Berbagi Dharma, kemudian perkenalan singkat dari masing-masing peserta. Dari waktu ke waktu, fasilitator boleh mengundang genta sesuai dengan kebutuhan, agar semua anggota bisa mengembalikan perhatian kepada napasnya.

Sesi Berbagi Dharma boleh ditutup dengan menyanyikan lagu, kemudian diakhiri dengan suara genta 3x, kemudian suara genta berikutnya memberi hormat kepada sesama anggota dan jika ada Altar atau objek lainnya, maka boleh memberi bungkuk hormat kepada objek tersebut. (Br. Pháp Tử [法子])

Workshop Dharma Sharing (Lokakarya Berbagi Dharma) oleh
AstridTrue Peaceful Diligence (Chân An Tấn, 真安進)

Pertemuan Ordo Interbeing dan Relawan

Pertemuan Ordo Interbeing dan Relawan

Foto Bersama Ordo Interbeing dan Relawan

Ini adalah pertemuan Ordo Interbeing dan Volunteers yang selalu membantu dalam kegiatan Day of Mindfulness (DOM) dan Retret. Ada juga teman-teman dari SIDDHI Medan yang turut serta. Lokasi pertemuan bertempat di cetiya kecil dari Sis Wen Juan (nomor enam dari kanan).

Kegiatan ini mencakup makan dengan hening, meditasi duduk, menikmati teh bersama, dan berbagi Dharma. Pada hari kedua ada workshop bagaimana mengundang genta beserta hal-hal penting yang perlu diperhatikan sebagai fasilitator berbagi Dharma.

Minum teh dengan hening bersama

Bagaimana mengundang genta

Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Selama bertahun-tahun mengikuti retret, timbul pertanyaan dalam diri saya: “Mengapa kebanyakan yg mengikuti retret itu orang yang berusia lanjut? Lantas kemanakah anak mudanya?

Walau ada pertanyaan yg mengganjal, tapi saya tidak bertanya langsung kepada orang lain, namun saya ingin mencari tahu jawabannya sendiri, barangkali melalui retret yang saya jalani, walau harus menghabiskan waktu bertahun-tahun, saya tetap ingin menemukan jawabannya sendiri, tampaknya ini lebih seru, dan demikianlah karakter saya.

Saya Mendapatkan jawaban ini dari membaca komik yang berjudul “Babi yang Berpikir terlalu Banyak“, dan juga berkaitan dengan pengalaman saya selama bertahun-tahun makan permen jelly kesukaan saya “Yuppi”.

Kita tahu akibat makan permen jelly terlalu banyak setiap hari maka, gigi akan rusak dan sakit, kalau sudah demikian yah terpaksa harus ke dokter gigi. Saya sejak kecil suka sekali makan Yuppi, mungkin sehari bisa sebungkus, sebetulnya dari kecil sudah diberitahu orang tua jangan sering makan manisan terlalu banyak karena akan sakit gigi, tetapi waktu itu setelah makan permen Yuppi berapa bulan, tampaknya gigi saya tidak sakit, jadi saya terus mengonsumsi permen itu sampai beberapa tahun.

Sekarang sudah dewasa saya merasakan akibatnya, gigi saya jadi rusak dan kadang sakitnya membuat rasa tidak nyaman. Akhirnya saya ke dokter gigi untuk periksa gigi, ternyata kebanyakan gigi saya sudah banyak bintik-bintik hitam dan menurut dokter harus segera ditambal, kalau tidak maka bintik-bintik itu akan merambat ke gigi yang lain. Tampaknya tidak ada pilihan lain, akhirnya saya setuju untuk segera ditambal walaupun prosesnya sangat menyakitkan sekali, ketika dokter menambal gigi saya, rasanya seperti di neraka benaran, bayangkan saja seperti tanah yang dibor.

Saya bilang ke dokter: “Pak dokter, ini sangat menyakitkan sekali rasanya.
Dokternya membalas: “Kalau tidak bersentuhan langsung dengan bagian yang sakit bagaimana kamu bisa sembuh?

Saya pikir masuk akal juga, lantas saya kembali disiksa oleh dokternya (bercanda, ha ha ha ha…)

Setelah melewati proses yang menyakitkan akhirnya saya mendapatkan penyembuhan.

Dalam keseharian kita juga seperti demikian, kita suka mencari hiburan, merokok, berhura-hura, clubbing, shopping, dll. Kita sebenarnya juga tahu hal yang demikian sangat nikmat sekali, tetapi tidak memberikan manfaat malah menambah penderitaan batin lebih dalam lagi bagi diri sendiri, ibarat permen Yuppi yang saya makan, rasanya sangat nikmat, tetapi tidak memberikan manfaat malah menambah derita bagi gigi saya.

Retret ibarat ke dokter gigi, ketika kita sakit gigi maka, kita ke dokter gigi, kita derita batin maka, kita pergi retret, tetapi seberapa banyak mereka yang berani pergi ke dokter gigi untuk disembuhkan?

Jawabannya tidak banyak, walaupun mereka tahu bisa sembuh dengan bantuan dokter gigi namun mereka tidak berani melewati proses yang menyakitkan itu, mereka sengaja menunggu sampai waktu yang lama sekali untuk disembuhkan, kadang menunggu terlalu lama sehingga penyakitnya sudah akut dan sulit sekali disembuhkan.

Hanya berkunjung ke dokter tentu saja bisa membantu penyembuhan, mendengar dan mengikuti petunjuk dokter, kemudian yang penting juga jangan makan permen Yuppi lagi.

Sama halnya Dengan derita batin, seberapa banyak diantara mereka yang berani pergi ke retret untuk disembuhkan? Jawabannya juga tidak banyak, karena mereka akan melewati proses yang membosankan sebelum disembuhkan, mereka menunggu sampai stressnya sudah menumpuk seperti gunung baru ikut retret, dan mereka berharap sekali ikut retret saja sudah bisa disembuhkan. Apakah mungkin?

Hanya ikut retret sekali saja tentu saja sangat bermanfaat, namun kita perlu melanjutkan apa yang kita latih, cari teman-teman untuk berlatih bersama-sama secara rutin, kemudian jangan merokok, hura-hura, clubbing atau shopping lagi, shopping tentu saja boleh tapi shopping barang yang dibutuhkan saja, atau shopping dengan penuh kesadaran.

Sekian sharing dari Saya..


Yu Yong (25 tahun)

Berbagi Dharma

Berbagi Dharma

Berbagi Dharma (Dharma Sharing) merupakan kesempatan untuk saling mendapatkan wawasan dan pengalaman tentang latihan. Ini adalah waktu yang istimewa bagi kita untuk berbagi pengalaman, sukacita, kesulitan atau kendala dan pertanyaan-pertanyaan kita yang berkaitan langsung dengan latihan hidup sadar.

Dengan mempraktikkan mendengarkan sungguh-sungguh sementara orang lain sedang berbicara, kita membantu menciptakan suasana tenang dan penerimaan. Dengan belajar berbicara secara leluasa tentang kebahagiaan dan kesulitan maupun kendala dalam latihan, kita memberi sumbangsih aspek-aspek lain dari pandangan dan pengertian tentang latihan.

Mohon acara berbagi ini didasarkan pada pengalaman kita sendiri tentang latihan, kita menghindari gagasan-gagasan abstrak dan topik-topik teoretis. Dengan demikian kita bisa menyadari bahwa banyak di antara kita yang punya kesulitan yang cukup mirip kemudian ada juga aspirasi yang serupa. Duduk, mendengarkan dan berbagi bersama-sama, kita mempererat hubungan tali persaudaraan kita antara satu dengan yang lain.

Mohon ingat bahwa apa pun yang sampaikan dalam sesi ini adalah rahasia. Jika seorang teman berbagi tentang kesulitan pribadi yang tengah dia hadapi, hormatilah bahwa mungkin dia tidak ingin membicarakannya lagi di luar sesi berbagi pengalaman latihan.