Jari Telunjuk Bukanlah Sang Rembulan


Di halaman rumahku yang tidak begitu luas, aku menanam sebatang pohon lemon di dalam pot. Pohon lemon itu kupandangi dan kusayangi setiap hari, kadang ranting-rantingnya yang terlalu rimbun kugunting dengan penuh perhatian, karena dikhawatirkan itulah cikal bakal bunga buah nantinya.

Namun, suatu hari ini aku pulang ke rumah setelah seharian berada di wihara, aku mendapati pohon lemonku dalam keadaan yang sangat menyedihkan, satu cabangnya yang besar telah terpotong tak beraturan, hanya tersisa satu cabang lagi yang tidak begitu besar. Hati ini terasa sakit, seperti ada yang tersayat di tubuhku.

Menenangkan Diri
Aku berusaha meredam emosi, aku pergi ke wihara dan mencoba bernapas masuk dan bernapas keluar. Namun tidak mudah untuk berkonsentrasi. Pikiran aku kembali lagi dan kembali lagi tentang si pohon lemon. Seharusnya orang yang membabat pohon lemonku bisa bertanya terlebih dahulu atau membiarkan aku saja yang memangkasnya. Seharusnya begini begitu dan berbagai pikiran yang menyayangkan kenapa peristiwa itu harus terjadi sehingga aku merasa sangat sakit. Untuk memejamkan mata berkonsentrasi saja sulit sekali, apalagi berpikir jernih, karena aku dipenuhi oleh emosi.

Setelah 10 menit berlalu, aku menyudahi meditasiku. Karena sudah menjelang waktu makan malam, khawatir dicari, aku pun pulang dengan membawa rasa sakit yang baru berkurang sedikit. Pulang ke rumah saya masih berusaha menenangkan diri untuk tidak meluapkan emosi dari rasa sakit itu.

Kemudian terpikir olehku untuk memindahkan si pohon lemon ke tempat yang bisa kutitipkan untuk dirawat. Daripada ketika aku keluar masuk rumah dan melihat si pohon lemon yang sekarat itu, maka sama saja dengan saya kembali terpanah oleh rasa sakit untuk kesekian kalinya.

Menunjuk Rembulan
Satu hal yang membuat aku tersadarkan adalah saat membaca buku Jalur Tua Awan Putih buku kedua, tentang “jari telunjuk bukanlah sang rembulan“. Bagian itu menceritakan tentang kisah seorang bapak yang sangat menyayangi anaknya yang masih kecil. Ketika si bapak sedang pergi berniaga meninggalkan anaknya seorang diri di rumah, hari itu terjadi perampokan di desa tersebut dan anak kecil itu disandera oleh bajak laut.

Ketika si bapak pulang ke rumah mendapati ada jasad anak kecil di dekat rumahnya dan meyakini bahwa jasad itu adalah anaknya, lalu diambilnya dan dikremasikannya, kemudian abunya dibawanya ke manapun dia pergi.

Suatu hari sang anak berhasil melarikan diri dari kawanan bajak laut dan kembali ke rumahnya memanggil-manggil bapaknya utk membukakannya pintu, namun si bapak meyakini bahwa anaknya sudah mati dan abu yang dipegangnya adalah abu anaknya, dia mengabaikan panggilan anaknya sehingga akhirnya mereka pun berpisah selamanya.

Waktu Terbaik
Saya mengibaratkan diri saya sebagai sang bapak dan abu anak kecil tersebut adalah pohon lemonku, ketika pohon lemon yang telah terbabat habis, lalu terus kuingat-ingat akan terus menyakiti hatiku.

Sementara keluargaku yang telah membabat pohon tersebut tanpa seizinku jika aku marah kepadanya terus menerus, bukankah aku akan seperti si bapak yang menyia-nyiakan anak kesayangannya yang telah kembali? Yang artinya mengabaikannya, marah dengannya, dan mengabaikan keberadaan keluargaku hanya demi pohon lemon yang tak mungkin bisa disambung kembali.

Dari sinilah kesadaran itu muncul, bahwa waktu bersama orang-orang terdekat sering kita sia-siakan dengan bertengkar dengannya, marah dan bahkan tidak bicara hanya karena urusan kecil yang sudah berlalu. Terlalu melekat dan meyakini apa yang kita pikir benar sebagai sebuah kebenaran hakiki.

Baiklah, saya akan mentransformasi rasa sakit itu menjadi sebuah pengertian bahwa kebersamaan dengan keluarga kita adalah waktu terbaik yang tidak perlu disia-siakan karena kemarahan atau sakit hati.

Ujian Selesai
Toh, pohon lemon pasti akan tumbuh lagi dengan baik, karena dia masih punya satu cabang yang masih hidup, dan kelak aku masih bisa menyapanya di tempat baru yang sedang aku titipkan di sana. Ok… ujian saya selesai.

Hal yang kualami ini bisa menjadi hal besar jika aku tidak berhasil mengendalikan emosi seketika, yang mungkin akibatnya akan merusak keharmonisan dalam keluarga bahkan bisa mengakibatkan keributan.

Aku sadar bahwa yang harus aku lihat adalah rembulan, bukan jari yang menunjuk ke rembulan.

Bersyukur dan berterimakasih mengenal mindfulness. “Aku perlu bersiap sedia sebelum badai tiba”

Widyamaitri praktisi mindfulness, volunteer retreat dan Day of Mindfulness, juga anggota Ordo Interbeing