Doa Tahun Baru kepada Ibu Pertiwi dan Semua Guru Leluhur

Doa Tahun Baru kepada Ibu Pertiwi dan Semua Guru Leluhur

Kepada Thay yang terkasih, para leluhur yang kami muliakan, dan Ibu Pertiwi,

Kami telah hadir di sini sebagai empat lapisan komunitas pada momen penuh khidmat di tahun baru untuk mengungkapkan rasa syukur dan aspirasi mendalam kami sebagai sebuah keluarga spiritual serta untuk memulai lembaran baru.

Kami tahu bahwa para leluhur juga bersama kami pada momen ini, semua leluhur menjadi tempat kami berlindung. Ketika kami menyentuh bumi pada malam ini, kami merasa suatu hubungan yang erat dengan para leluhur, juga dengan Ibu Pertiwi: Bumi biru yang indah, bodhisattwa maha penyegaran, harum dan sejuk, baik hati dan inklusif, menerima semuanya. Ibu Pertiwi, kami semua adalah anak-anakmu, dan begitu juga kami masih memiliki kesalahan dan kekurangan, setiap kali kami pulang ke rumah, engkau selalu siap membuka dekapan untuk memeluk kami.

Thay yang kami kasihi, pada masa lalu kami telah membiarkan benih-benih kekhawatiran dan ketidakpastian tersirami berulang kali mengakibatkan begitu banyak ketakutan dalam diri kami. Kami ragu untuk berlindung pada jalan Dharma, dan bahkan kami juga meragukan keluarga spiritual ini. Kami tidak sungguh-sungguh dalam praktik. Kami telah membiarkan emosi negatif dan persepsi keliru mengambil alih diri kami, sehingga memunculkan putus asa, merasa terkucilkan, dan kesedihan.

Menyadari hal itu, kami ingin memulai lembaran baru dan mengingatkan kami akan komitmen untuk berlatih sepenuh hati, berlindung pada komunitas tercinta ini, dan menjadi kelanjutan dari Thay dan semua guru dari silsilah leluhur spiritual. Kami bertekad untuk hidup lebih mendalam dengan cara berlatih bernapas dan berjalan berkesadaran dalam kehidupan sehari-hari, karena kami tahu itulah latihan kesukaanmu. Kami juga tahu Thay senang membangun sangha, kami akan melanjutkan tugas membangun persaudaraan kakak dan adik dengan sepenuh hati, walaupun kami sering menghadapi tantangan. Kami tidak akan menyerah untuk praktik, atau meninggalkan komunitas kami, tapi beraspirasi untuk mendengar secara mendalam dan saling membantu, tidak akan meninggalkan siapa pun, walaupun dia menjadi penyebab penderitaan.

Ibu Pertiwi, sebagai keluarga dalam kemanusiaan, kami sering keliru dalam mencari kebahagiaan, kami membiarkan keserakahan dan materialisme memerintah. Kami sering mengejar status, kekuasaan, barang dan materi, kesenangan duniawi, lalai bahwa hal-hal demikian tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan kebebasan. Kami telah melukai Tanah tempat kami berpijak juga diri sendiri, kami mengeksploitasi gunung dan sungai, bertindak semena-mena terhadap hutan dan spesies lainnya, menyebabkan polusi atmosfir dan menyebabkan bumi ini kehilangan keseimbangan dan keindahannya.

Kami bertekad untuk menyederhanakan hidup kami, mengingat kami bahwa pada momen kekinian telah memiliki banyak kondisi untuk berbahagia. Kami berjanji untuk hidup lebih mendalam dan bersyukur, menyadari bahwa kehidupan itu sendiri adalah keajaiban. Pada tahun baru ini, kami bertekad untuk mengurangi konsumsi dan berupaya untuk hidup lebih bertanggung jawab dan swasembada untuk diri sendiri dan Ibu Pertiwi.

Wahai para leluhur, kami telah membiarkan rasa takut, fanatik dan intoleransi memicu perpecahan dalam keluarga. Kami telah menjadi penyebab penderita sesamanya, diskriminasi atas nama agama, etnik, dan warga negara. Kami telah menutup pintu hati dan menutupi semua perbatasan karena ketakutan dan ketidaktahuan. Kami telah menyebabkan peperangan, teror dan konflik antar sesama manusia, mengizinkan pergolakan militer menjadi makin parah dalam masyarakat. Kami telah melupakan bahwa sesungguhnya kita saling berkaitan erat, dan kebahagiaan dan penderitaan kita saling bergantungan kepada kebahagiaan dan penderitaan pihak lain.

Kami yakin bahwa kami memiliki kearifan non diskriminasi dan welas asih yang luhur, itu semua telah diwariskan oleh guru spiritual dan para leluhur, juga dari Ibu Pertiwi. Kami bertekad untuk terus berada di jalan Dharma ini, tetap membuka hati, dan meletakkan keangkuhan kami, agar pengertian dan cinta kasih bisa hadir dalam hati kami.

Ketika kami menyentuh bumi, kami menyampaikan rasa syukur kepada guru terkasih kami, Thay, para leluhur kandung dan spiritual, dan Ibu Pertiwi. Kami telah menemukan jalan Dharma dan praktik dalam keluarga spiritual yang menjadi tempat kami berlindung. Kami telah memperoleh sukacita, kedamaian, dan transformasi. Kami telah mencicipi kebebasan dari melepaskan gagasan-gagasan. Kami bisa merasakan kehangatan dan kekuatan dalam persaudaraan kakak dan adik, kami tahu dengan berkumpul bersama, kami bisa menghadapi berbagai tantangan dan merealisasi aspirasi kami, Kami berjanji, pada momen khidmat ini, kami ingin terus membangun keluarga, membangun komunitas dan membuka lebar jalan Dharma ini untuk diri sendiri dan generasi berikutnya.

Thay yang kami muliakan, Ibu Pertiwi, mohon terimalah permohonan yang kami haturkan, dupa, bunga, buah, teh yang semua ini menjadi sebuah bentuk kesungguhan hati, aspirasi, penghormatan, rasa syukur, dan cinta kasih kami. (Alih bahasa: Br. Phap Tu*, Penyunting: Rahka**)

*Dharmacharya dari Indonesia
**Anggota dari Ordo Interbeing Indonesia

Retret GABI: Bring Each Smile To Breath

Retret GABI: Bring Each Smile To Breath
Retret GABI SumSel @Lubuklinggau

GABI (Gelanggang anak buddhis indonesia) Sumatera Selatan memilih menghabiskan libur natal mereka untuk berlatih bersama di Wihara Buddha Indonesia Lubuklinggau dari 22 s.d. 25 Desember 2017.

Pada acara ini anak-anak diajarkan untuk selalu menyadari napas masuk, napas keluar sesuai dengan tema acara ini bring smile into each breath, anak-anak dibimbing untuk mencintai setiap napasnya mulai dari hanya mendengarkan dentang jam dinding setiap jam, mendengarkan bunyi lonceng pergantian acara, serta meditasi duduk dan jalan setiap pagi. Hal tersebut guna untuk merelaksasikan pikiran dan hati mereka yang selama ini sudah terbebani.

Kegiatan menarik lainnya yaitu bertepatan dengan hari ibu 22 desember 2017, meski banyak anak jauh dari ibu mereka, namun anak-anak tetap merayakan hari ibu dengan memberikan kejutan kue dan tiup lilin kecil pada ibu-ibu yang telah memasak dan menyediakan makanan untuk mereka. Beberapa dari mereka menjadi perwakilan menyuapi ibu-ibu tersebut dan semuanya bernyanyi kasih ibu di perayaan yang sederhana dan penuh makna.

Anak-anak juga membiasakan diri untuk meditasi makan, relaksasi total setiap siang hari, stick exercise, mendengarkan Dharma dengan tema berbakti pada orang tua dan kalyannamitta (sahabat yang sesungguhnya), belajar bernyanyi lagu Buddhis, workshop mewarnai zen tangle dan mind map dengan tema berbakti kepada orang tua, serta berbagai games yang mengarah pada kesadaran, kejujuran, serta solidaritas bersama.

Anak-anak terlihat sangat bahagia pada acara retreat ini walaupun gadget dan snack pribadi harus disita. Mereka seakan lupa akan hal itu terbukti pada saat sesi Dharma sharing banyak dari mereka yang aktif menyampaikan kesannya mengikuti retreat ini bisa mendapatkan banyak teman baru, belajar mandiri tidak merepotkan mama dan papa di rumah dan belajar tidak berisik. Mereka juga ingin mempraktikkan apa yang telah dipelajari selama retreat dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Kami sebagai pendidik dan kakak-kakak dari GABI sangat bahagia bisa melihat anak-anak yang biasanya terlalu ribut dan tidak tenang bisa menjadi anak yang lebih baik selama 4 hari latihan. Kami harap anak-anak bisa mempraktikkan meditasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kami juga berharap agar acara retreat untuk anak-anak ini akan menjadi agenda rutin tahunan (sudah direkues orang tua).

Kami mengucapkan terima kasih kepada fasilitator luar biasa Bhante Nyanabhadra, Bhante Bhadraputra dan Bhante Bhadramurti yang sudah meluangkan waktu dan tenaganya untuk membimbing anak-anak. Kakak-kakak GABI, dan panitia dengan sangat baik dan penuh perhatian, terima kasih untuk briefing setiap malamnya yang menjadi kunci kesuksesan acara ini.

Semoga latihan seperti ini dapat tetap kita lanjutkan di kesempatan berikutnya. We’ve already brought those smiles into each breath, thank you bhante. (Siska)*

*DPD IPGABI Sumatra Selatan

Mindfulness Class: Meditasi Biskuit dan Teh

Mindfulness Class: Meditasi Biskuit dan Teh
Meditasi Biskuit dan Teh

“Drink your tea slowly and reverently, as if it is the axis on which the world earth revolves – slowly, evenly, without rushing toward the future.” ~ Thich Nhat Hanh

Ketika diumumkan akan diadakan “biscuit meditation” untuk siswa SD, mereka sangat antusias dan penasaran. Ini kali pertama bagi mereka. Bagi siswa SMP, mereka sudah pernah melakukannya. Agar bervariasi untuk siswa SMP, saya memakai sistem potluck yang mana setiap anak diminta untuk membawa satu bungkus kecil biskuit yang akan kami nikmati bersama ditemani segelas teh. Biskuit yang terkumpul menjadi sangat bervariasi sehingga mereka lebih bersemangat.

Karena ini pertama kali bagi kelas SD, mereka dijelaskan terlebih dahulu bagaimana melakukan meditasi ini. Dari mulai memberi bow ketika biskuit diberikan secara bergiliran, mengedarkan biskuit dengan sadar penuh, menghirup wangi teh dan mencicipinya secara perlahan, menggigit biskuit secara perlahan dan membiarkannya melembut di mulut, menikmati biskuit bersama teh dan merasakan sensasinya, hingga menutup meditasi dengan melakukan bow bersama-sama.

Anak-anak terlihat sangat antusias dan berusaha melakukannya dengan sungguh-sungguh. Jika ada temannya yang lupa memberi bow, mereka akan saling mengingatkan dengan berbisik, “Bow dulu.”

Saat mereka menikmati biskuit, ada yang sangat serius melakukannya, ada yang sambil berpandang-pandangan dengan temannya lalu tersenyum. Ketika lonceng diundang kembali sebagai tanda selesai, meditasi kami tutup dengan bow bersama-sama. Setelah itu anak-anak berbagi pengalaman mereka bagaimana rasanya melakukan meditasi ini.

Lain halnya dengan siswa SMP. Dalam kelas ini, mereka bukan hanya belajar menikmati makan dalam hening dan tidak terburu-buru, tetapi mereka juga dilatih agar dapat melihat sifat ‘interbeing‘ dari makanan yang mereka konsumsi.

“Elemen-elemen apa saja yang ada dalam biskuit dan teh yang mereka makan dan minum?”

“Apakah mereka bisa membayangkan perjalanan yang dibutuhkan oleh makanan itu hingga terhidang di hadapannya?”

“Bagian mana dari snack ini yang membutuhkan waktu paling lama untuk ditanam? Bagian mana yang membutuhkan perjalanan paling jauh untuk tiba di hadapan kita?”

“Apakah mereka dapat melihat adanya peran cacing, matahari, awan, hujan, petani coklat, peternak sapi, supir truk, dan orang yang mengangkutnya?

Setelah memahami adanya saling keterkaitan ini, mereka akan belajar untuk tidak meremehkan apapun. Belajar untuk tahu bersyukur dan berterima kasih, menjadi lebih peduli dan lebih sadar akan lingkungan sekitarnya.(Rumini Lim)*

“Karena dalam sebuah piring makanan, terdapat banyak tangan, hati dan jiwa yang terlibat dalam penyiapannya.” ~ Thich Nhat Hanh

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class

Selamat Datang Sister Trang Giac Minh

Selamat Datang Sister Trang Giac Minh
Monastik Indonesia; Sister Trang Giach Minh (dari kiri ke-4)

Plum Village Perancis menyambut kedatangan monastik baru pada tanggal 14 Desember 2017. Mereka terdiri dari aspiran pria yaitu: Rupert dari Austria, Gabriele dari Italia, Khoa dari Vietnam-Australia, Marvin dari Jerman-Suriname, and Hernando who is Colombia-Perancis. Aspirant wanita ada Marie dari Perancis, Suriyana dari Indonesia, Linh dari Singapura, dan Thuy dari Vietname-Australia. Mereka ditahbiskan dalam keluarga penahbisan “Poplar Tree“.

Penahbisan samanera-samaneri kali ini mengikutsertakan seorang aspiran dari Indonesia. Ia bernama Suriyana, sekarang bernama Sister Trang Giac Minh (The Moon of Awakened Brightness). Sister Giac Minh telah menjadi aspiran sekitar setahun, kakak kandungnya (Suryani) juga telah ditahbiskan sebagai samaneri tahun 2016 dengan nama Sister Trang Tinh Mac.

Di Plum Village Thailand juga pada saat bersamaan melakukan penahbisan total sebanyak 13 samanera dan samaneri.

Lebih banyak foto bisa dilihat di sini dan sini juga di sini

Watering Seeds of Joy

Watering Seeds of Joy

Download MP3 klik sini

My mother, my father, they are in me.
And when I look, I see myself in them.

The Buddha, the patriarchs, they are in me.
And when I look, I see myself in them.

I am a continuation of my mother and my father
I am a continuation of all my blood ancestors.
It is my aspiration to preserve and continue to nourish
seeds of goodness, seeds of skill, seeds of happiness
which I have inherited.

It’s also my desire to recognize
the seeds of fear and suffering I have inherited,
and, bit by bit, to transform them, transform them.
I am a continuation of the Buddha and the patriarchs
I am a continuation of all my spiritual teachers.

It is my deep aspiration to preserve, develop, and nourish
seeds of understanding, seeds of love, seeds of freedom
which they have transmitted to me.

In my daily life, I also want to sow
seeds of love and compassion
in my own consciousness and in the heart of other people.

I am determined not to water
seeds of craving, aversion, and violence in me
seeds of craving, aversion, and violence in others
With resolve and with compassion,
I give rise to this aspiration:

May my practice be an off’ring of the heart
May my practice be an off’ring of the heart

Mindfulness Class: Meditasi Jeruk

Mindfulness Class: Meditasi Jeruk

“Meditation is a matter of enjoyment. When you are offered an orange, there must be a way to eat your orange that can bring you happiness. You can eat your orange in such a way that you are truly present.”

Selama dua minggu bulan Oktober 2017 yang lalu, seluruh kelas SD dan SMP bergiliran melakukan meditasi jeruk. Ternyata banyak anak yang menyukai proses ini, proses menikmati sebuah jeruk dengan sadar penuh. Melihat dan merasakan kulit luar dan dalam, mencium wanginya, mengunyah dan merasakan manis asamnya buah tersebut serta menikmati setiap potongan secara perlahan.

Meditasi Jeruk

Terinspirasi dari Br. Pháp Khởi, materi meditasi jeruk kali ini saya bawakan dengan cara mendongeng pada anak-anak. Anak-anak sempat terkejut ketika melihat saya seolah-olah dapat mendengar suara buah jeruk yang ada di tangan saya berbisik di telinga saya. Mungkin mereka berpikir, “Bisa-bisanya laoshi mengajak bicara buah jeruk.”
Tapi yang terpenting mereka menangkap materi yang saya sampaikan. Hahaha..

Setelah selesai saya meminta mereka menulis pengalaman mereka dalam kegiatan ini.

Ada seorang anak menuliskan, “Pengalaman ini menyenangkan karena membuatku tahu bahwa jeruk itu juga memiliki kehidupan mirip dengan manusia.

Seorang anak lain menulis, “Saya sangat terkesan dengan meditasi jeruk. Tidak disangka ternyata meditasi ini lebih nikmat. Tadi saya mendapat jeruk yang asam. Pada awalnya saya memakan jeruk ini terasa asam. Tapi lama kelamaan ketika saya makan dengan pelan dan nikmat, jeruk ini terasa manis + asam (sedikit).

Ada juga yang menulis, “Sangat menyenangkan bisa duduk tenang dan berkumpul bersama guru dan teman-teman sambil merasakan buah jeruk secara mendalam.

Semoga pengalaman ini membawa kesan yang mendalam bagi mereka. Andai ada yang mendapat jeruk yang asam, berulat atau bahkan yang tidak suka makan jeruk, paling tidak mereka akan mengingat kisah yang diceritakan. Kisah bagaimana buah jeruk yang berada di tangan kita itu adalah sebenarnya sedang melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan untuk bertransformasi dari sebuah bunga putih yang kecil dan wangi yang kemudian menjadi buah jeruk, hingga akhirnya berada di tubuh kita untuk memberi nutrisi bagi tubuh kita. (Rumini Lim)*

“And when the fruit is gone, let the experience linger, awakening gratitude and joy.”

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class

Mindfulness Class: Genta Kesadaran

Mindfulness Class: Genta Kesadaran

“Sesibuk apapun kita, ingatlah untuk selalu kembali ke napas.
Sadari setiap tarikan napas masuk dan keluar.
Karena saat inilah saat terpenting.
Bukan tadi, bukan nanti.”

Pada awal semester ganjil tahun 2017 yang lalu saya memperkenalkan teman baru pada semua murid, dari PG, TK, SD hingga SMP. Sebuah genta kesadaran mungil yang akan selalu menemani saya ketika bersama mereka. Ketika mendengar suara genta diundang, mereka dibiasakan untuk hening dan memperhatikan napas. Dan suara genta ini akan mereka dengar setiap harinya terutama ketika saat berkumpul makan pagi bersama.

Sebelum kontemplasi makanan dibacakan, mereka akan hening mendengar suara indah ini. Begitu juga setelah selesai bersantap. Sejak itu guru-guru tidak perlu berteriak lagi agar mereka hening sebelum makan. Suara genta ini sangat membantu mereka untuk hening sejenak dan kembali ke napas.

Siswa mengundang genta

Sekarang, bahkan murid-murid berebutan meminta izin untuk dapat belajar mengundang genta secara bergiliran saat makan pagi bersama. Terkadang saya sengaja memilih anak yang aktif untuk melakukannya, agar mereka belajar memperhatikan napas ketika mengundang genta. Terkadang saya memilih anak yang terlihat kurang percaya diri untuk melakukannya, atau untuk membacakan kontemplasi makanan, agar memupuk rasa percaya diri mereka. Sekarang saat makan pagi bersama menjadi salah satu momen yang menyenangkan bagi kami (para guru dan murid) setiap pagi.

“Listen, listen.. this wonderful sound, it brings me back to my true home. ~ Thich Nhat Hanh”


Aaron Carter mengundang lonceng

Namanya Aaron Carter Sahdat, duduk di kelas 1 SD. Aaron anak baik, tidak suka mengganggu temannya juga tidak cengeng. Satu kepolosan dia, dia tidak bisa duduk tenang di kelas dan selalu ingin mencari perhatian ibu gurunya.

Ketika makan pagi, Aaron selalu duduk paling ujung depan, jadi dia biasa melihat saya mengundang genta. Ketika kakak-kakak kelasnya bergiliran membaca kontemplasi makanan setiap pagi, dia lebih tertarik dengan suara genta. Berkali-kali dia bilang, “Laoshi, Aaron mau ngundang lonceng.”

Awalnya saya ragu. Tapi satu pagi saya panggil dia ke depan menemani saya mengundang genta. Telapak tangannya berada di antara genta dan telapak tangan saya. Saya memintanya untuk menarik napas sebelum membangunkan genta. Kembali bernapas tiga kali setiap kali genta diundang. Dan ternyata dia bisa mengikuti dengan baik. Dan dia sangat senang diperbolehkan melakukan itu.

Tidak disangka, sekarang dia sudah bisa mengundang genta sendiri tanpa ditemani lagi. Dan kata wali kelasnya, Aaron sekarang berubah banyak. Sudah mau menulis dan belajar di kelas. Kedewasaannya mulai bertumbuh tampaknya. (Rumini Lim)*

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class

Lima Tahun Pelatihan Monastik

Lima Tahun Pelatihan Monastik

Ketika kita berlatih sebagai monastik, kita memiliki kesempatan untuk menemukan akar dari kebebasan, soliditas, kegembiraan, dan kebahagiaan diri sendiri, dan kita dapat membantu komunitas. Ketika kita ditahbiskan dan selanjutnya mengenakan jubah cokelat, kita belajar untuk memotong ilusi dan penderitaan. Kita belajar untuk mentransformasikan penderitaan kita yang terdalam menjadi masa depan yang cerah dan masa kini yang lebih cerah lagi. Hal ini merupakan sebuah proses yang alami, karena saat kita menemukan akar kebajikan dalam hidup, kita juga akan mampu membantu orang lain untuk berhenti menciptakan penderitaan bagi dirinya sendiri dan dunia.

Pelatihan monastik selama lima tahun ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi Anda untuk belajar bagaimana menjalani hidup Anda dengan penuh makna, menemukan tali persaudaraan, dan membuat perubahan sosial yang selama ini selalu kita impikan menjadi mungkin untuk diwujudkan di sini dan sekarang. Dengan merasakan kehidupan sederhana yang dijalani oleh biksu dan biksuni serta mengembangkan kehidupan spiritual, Anda akan mampu membantu biksu dan biksuni senior Anda dalam menyelenggarakan retret dan kegiatan di seluruh dunia.

Anda akan mampu untuk berbagi tentang praktik dan transformasi diri, serta menolong banyak orang, termasuk anak-anak, pasangan, dan keluarga. Ketika kita melepaskan pencarian kita akan kekayaan, kekuasaan, kenikmatan sensual, dan mengenakan jubah cokelat milik monastik, kita tidak perlu menunggu hingga lima tahun untuk dapat membantu orang lain. Sejak hari pertama, kita dapat menginspirasi orang-orang di sekitar hanya dengan berjalan dengan penuh kesadaran, soliditas, dan kebebasan.

Silakan kunjungi salah satu pusat latihan kami di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, dan Thailand untuk menanyakan tentang program ini dan mempelajari lebih lanjut mengenai proses pendaftarannya.

Persyaratan Umum:
Usia 17 – 32 tahun. Jika Anda berusia di bawah 18 tahun Anda harus mendapatkan persetujuan dari orang tua Anda.
Single atau telah bercerai. Hubungan Anda dengan orang-orang yang dekat dengan Anda telah selesai, dan keputusan Anda selaras dengan mereka, sehingga mereka tidak akan menjadi hambatan bagi latihan Anda sebagai monastik.

Tidak menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau kondisi medis yang serius. Kestabilan mental dan kesehatan fisik Anda harus dalam kondisi yang sewajarnya sehingga tidak menjadi hambatan atau tantangan bagi latihan Anda dan juga bagi komunitas. Akan dilakukan pemeriksaan darah dan kesehatan sebelum Anda mengikuti program ini.

Tidak memiliki hutang atau beban finansial. Sebagai monastik, kita berlindung kepada Sangha, dan tidak memiliki hutang, atau memiliki rekening bank dan atau kartu kredit. Jika diperlukan, Anda dapat menutup rekening bank dan kartu kredit yang Anda miliki, sehingga Anda dapat berlindung pada Sangha sepenuhnya untuk seluruh kebutuhan Anda, termasuk makanan, pakaian, obat-obatan, dan tempat tinggal.

Komitmen untuk belajar, berlatih, dan melayani. Latihan kami mengajak Anda untuk mengalir menjadi satu kesatuan sebagai Sangha. Anda berkomitmen untuk belajar bagaimana berlatih sebagai sebuah komunitas dan mengikuti bimbingan Sangha, termasuk menghadiri seluruh kegiatan. Monastik yang tidak dapat berkomitmen untuk mengikuti jadwal dan latihan Sangha dipersilakan untuk meninggalkan komunitas.

Melepaskan barang-barang milik pribadi. Sebagai bagian dari latihan, Anda akan diminta untuk melepaskan barang-barang tertentu seperti laptop, ponsel, dan lain-lain, dan diminta masuk ke dalam komunitas dengan tangan kosong.
Kunjungan keluarga. Anda dapat mengunjungi anggota keluarga Anda selama 14 hari setelah berlatih selama 2 tahun sebagai novis (samanera atau samaneri). Anda tetap dapat menghubungi mereka, memperhatikan mereka, dan berbagi kebahagiaan dengan mereka dengan menulis surat/email untuk mereka atau menelpon mereka dari waktu ke waktu.

Periode pengajuan mengikuti program pelatihan: Datanglah ke salah satu dari pusat latihan kami untuk mengikuti retret selama dua minggu sebelum Anda mengajukan diri untuk mengikuti program pelatihan. Anda dapat berkonsultasi dengan biksu atau biksuni tentang kehidupan mereka untuk mempelajari lebih banyak tentang kehidupan monastik dan hidup berkomunitas.

Jika Anda menemukan bahwa cara hidup ini selaras dengan aspirasimu dan Anda dapat menemukan kebahagiaan dalam latihan sehari-hari, Anda dapat menulis surat untuk menceritakan tentang keinginan Anda untuk mengikuti program pelatihan lima tahun ini. Komunitas akan bertemu untuk mendiskusikan permintaan Anda dan mengundang Anda untuk mengikuti program aspiran ketika terdapat dukungan yang selaras dengan permintaan Anda dan ketika kondisi yang menunjang Anda untuk mengikuti program pelatihan ini telah tercukupi.

Periode pelatihan sebagai Aspiran (3 bulan hingga 1 tahun): Setelah permintaan Anda untuk mengikuti program pelatihan telah disetujui, Anda akan diberikan jubah berwarna abu-abu untuk Anda gunakan selama masa pelatihan sebagai aspiran. Anda akan diajak untuk berpindah ke tempat tinggal aspiran bersama dengan aspiran lainnya. Seorang mentor yang telah ditugaskan akan membimbing Anda dalam masa awal latihan dan masa transisi ke dalam kehidupan monastik.

Latihan Anda bukan hanya tentang belajar pengetahuan dan gagasan-gagasan semata. Ini merupakan praktik yang Anda pelajari untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Anda mampu mentransformasikan penderitaan Anda, serta mengembangkan pengertian dan cinta kasih. Dalam periode ini, Anda akan diminta untuk melepaskan harta benda dan komitmen duniawi Anda sehingga Anda cukup bebas untuk memulai kehidupan Anda sebagai seorang monastik.

Setelah menjalani masa latihan sampai dengan satu tahun, komunitas monastik akan bertemu untuk melihat secara mendalam latihan dan aspirasi Anda. Atas dasar tersebut, komunitas akan memutuskan apakah Anda sudah siap untuk ditahbiskan sebagai novis (samanera/samaneri) atau apakah Anda lebih cocok untuk melanjutkan latihan Anda sebagai umat awam di dalam komunitas.

Periode pelatihan sebagai Novis (3 tahun): Ketika Anda sudah ditahbiskan sebagai novis (samanera/samaneri), Anda akan diajak pindah ke kediaman monastik, untuk tinggal bersama dengan biksu dan biksuni lainnya.

Latihan Anda akan lebih berfokus pada kehidupan monastik, berdasarkan buku latihan untuk pemula, Stepping Into Freedom, dan buku panduan untuk hidup berkomunitas, Joyfully Together. Penting untuk selalu diingat bahwa pelatihan monastik pada dasarnya berbeda dengan pencarian akademis di universitas. Alih-alih sekedar memperoleh pengetahuan dan mengembangkan keahlian semata, sebagai monastik kita diingatkan untuk selalu kembali ke latihan dasar yaitu bernapas, berjalan, dan makan dengan sadar penuh, serta mendengarkan genta, meskipun kita telah berlatih selama lima, sepuluh, atau tiga puluh tahun.

Anda akan melatih dan mengembangkan perhatian penuh, konsentrasi, dan pengertian berdasarkan pada tata krama dan sila yang menjadi pedoman perilaku bagi samanera dan samaneri, yang diwujudkan secara konkret melalui perbuatan, ucapan, dan pikiran Anda dalam kehidupan sehari-hari.

Anda akan berbagi kamar dengan dua, tiga, atau empat biksu dan biksuni lainnya dan akan diberikan seorang mentor untuk membimbing latihan Anda. Setelah tiga tahun, Anda dapat memenuhi syarat untuk ditahbiskan secara penuh menjadi komunitas biksu dan biksuni, dengan persetujuan Thay dan seluruh komunitas.

Penahbisan penuh (1 tahun): Pada periode ini, Anda akan memasuki Sangha Biksu, dan berlatih sebagai anggota seutuhnya dari komunitas monastik, menjalankan sila-sila yang lebih tinggi yang dilaksanakan oleh Biksu dan Biksuni.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kehidupan biksu dan biksuni di komunitas kami, Anda dapat membaca penjelasan kami tentang bagaimana kami hidup dan berlatih sebagai seorang monastik dengan komitmen seumur hidup.

[Link untuk penjelasan latihan sebagai monastik seumur hidup]

Silakan kunjungi website kami untuk penjelasan lebih lengkap mengenai program ini.

Rekomendasi buku untuk dibaca: Old Path White Clouds, Happiness, Stepping Into Freedom, Joyfully Together (tersedia di Parallax Press).

Menjadi Monastik

Menjadi Monastik

Monastik merupakan istilah umum untuk biksu, biksuni, samanera, dan samaneri. Anda memiliki kesempatan untuk bergabung dengan komunitas monastik Plum Village (PV). Anda dapat belajar dan berlatih di salah satu pusat latihan PV di Eropa, Amerika, atau Asia. Komunitas atau sangha monastik PV terus berkembang, saat ini berjumlah sekitar 700an orang yang tersebar dari tiga benua itu.

Komunitas Monastik PV
Komunitas monastik PV saat ini terdiri dari berbagai negara meliputi Perancis, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Spanyol, Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, Indonesia, India, Kanada, Swedia, Portugal, Amerika Serika, dan Australia. Usia mereka juga berkisar 15 sampai dengan 79 tahun, meskipun rata-rata berumur dari 20 hingga 30 tahun. Walaupun komunitas monastik PV terdiri dari berbagai negara, namun saat ini yang paling banyak adalah dari Vietnam, jadi hidup dalam komunitas yang beraneka ragam diperlukan kemampuan untuk merangkul budaya yang berbeda-beda. Bahasa yang dipergunakan secara umum adalah Vietnam, Inggris, dan Perancis, jadi seseorang minimal perlu menguasai salah satu Bahasa itu.

Persyaratan
Anda yang ingin bergabung dengan komunitas monastik PV harus berusia di bawah 50 tahun. Tidak ada prasyarat gelar akademik. Mereka yang berusia di bawah 18 tahun perlu mendapat persetujuan dari orang tua. Tidak mengidap penyakit yang serius dan fatal atau cacat berat. Komunitas monastik PV hidup selibat dan komitmen seumur hidup. Kehidupan komunitas menjadi elemen penting, bukan bersifat individualis. Seorang samanera atau samaneri wajib melewati program pelatihan selama 3 tahun sebelum menerima penahbisan penuh sebagai biksu atau biskusni.

Permohonan Penahbisan
Langkah pertama adalah Anda perlu tinggal di Plum Village minimal 3 bulan sebagai praktisi umat biasa. Anda bisa mendapatkan pengalaman langsung tentang kehidupan komunitas, kemudian para monastik juga punya kesempatan untuk mengamati Anda juga. Masa tinggal di pusat latihan PV adalah 2 minggu, setelah itu Anda boleh menulis surat permohonan untuk memperpanjang masa tinggal sekaligus mengungkapkan keinginan untuk bergabung dalam komunitas monastik. Komunitas monastik akan mempertimbangkan permohonan Anda.

Surat yang Anda tulis perlu mencantumkan latar belakang, pengalaman latihan, lalu aspirasi apa yang mendorong Anda sehingga ingin bergabung ke dalam komunitas monastik. Apabila komunitas monastik menyetujui permintaan Anda, maka Anda resmi menjadi aspiran (calon samanera atau samaneri).

Sebagai aspiran, Anda akan diberikan pelatihan bagaimana cara meningkatkan kualitas-kualitas positif, lalu bagaimana mengubah hal-hal negatif dalam dirimu. Anda juga dibebaskan dari biaya kontribusi akomodasi. Anda akan mendapat seorang mentor yang akan membantu Anda dalam pelatihan selanjutnya. Setelah melalui berbagai pelatihan dan dianggap siap, maka Anda bisa diajukan untuk menerima penahbisan menjadi samanera atau sameneri.

Sebagai Aspiran, Anda diwajibkan mengikuti semua aktivitas, kecuali ada aktivitas yang hanya untuk komunitas monastik saja.

Hidup sebagai samanera-samaneri
Anda sudah bisa sedikit membantu orang lain walaupun masih dalam status samenera-samaneri, tidak perlu menunggu menjadi Dharmacharya atau biksu/biksuni. Dalam beberapa bulan berlatih dengan tekun, praktik berjalan, bernapas, serta membangkitkan kedamaian dan kebahagiaan, itu saja sudah bisa banyak membantu orang lain. Sebagai praktisi muda Anda bisa mendukung komunitas dan membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

Setelah melewati masa latihan samanera-samaneri selama 3 tahun, Anda akan dipertimbangkan untuk ditahbiskan menjadi biksu atau biksuni. Pusat latihan PV adalah rumahmu. Walaupun Anda menghadapi berbagai kesulitan, kita tetap bertekad untuk mencari jalan keluar dan berusaha hidup harmonis dengan kakak dan adik dalam Dharma.

Keluarga Anda diperbolehkan mengunjungi Anda, dan setiap 2 tahun sekali Anda diperbolehkan mengunjungi keluarga, atau sesegera mungkin jika ada kondisi darurat.

Semoga Anda dapat memenuhi cita-cita mulia demi kepentingan semua makhluk.

Mindfulness Class: Hidup Sadar Penuh Bagi Murid Sekolah

Mindfulness Class: Hidup Sadar Penuh Bagi Murid Sekolah
Happy Teachers Change The World

Ada yang berbeda sejak awal tahun pelajaran bulan Juli lalu bagi murid-murid Sekolah Ananda. Sebuah kelas baru diperkenalkan kepada semua kelas SD dan SMP. Namanya ‘Mindfulness Class’. Terdapat dua ruang kelas khusus untuk mendukung program ini. Satu ruang khusus untuk kegiatan total relaksasi, dan satu lagi sebagai tempat pertemuan ketika pelajaran ini berlangsung. Dua minggu sekali murid-murid SD bergiliran akan mencicipi pengalaman baru di setiap pertemuannya. Bagi siswa SMP mereka mendapat jadwal lebih intens, seminggu sekali.

Materi yang diberikan adalah hampir sama dengan kegiatan retret hidup berkesadaran versi Plum Village, hanya saja ini tidak dilakukan sekaligus dalam kurun waktu tertentu. Meditasi jeruk, meditasi biskuit, meditasi jalan, meditasi gerak, meditasi berbaring, meditasi kerikil, dan meditasi kerja adalah bagian dari materi kelas ini sepanjang dua semester.

Satu semester telah berjalan dengan baik. Senang anak-anak banyak yang menyukai kelas ini. Sebagian materi utama telah dilaksanakan. Pada setiap pertemuan bukan hanya mereka yang berlatih, tapi saya juga. Kami berlatih bersama seperti sebuah sungai, sebagai sebuah komunitas, dan rasanya sangat menyenangkan. (Rumini Lim)*

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class

Sudahlah, Makan Dahulu Buburmu

Sudahlah, Makan Dahulu Buburmu
Retret @VipassanaCenter Sibolangit

Retret Mindfulness barusan merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Komunitas DOM Menara Air bersama Siddhi dengan dukungan dari Wihara Borobudur Medan. Lokasinya di Sibolangit, Wihara Vipassana Center, dari tanggal 24 sampai dengan 26 November 2017.

Beberapa hari mengikuti retret membuat saya merasa segar kembali, tidak hanya pengetahuan bertambah juga sekaligus memperkuat latihan secara formal dan kemudian dibawa kembali ke latihan sehari-hari yaitu latihan non formal.

Lanjut Tidur
Hari Jumat sore sekitar pukul 15:00an, saya bersama suami berangkat ke lokasi retret dari kantor. Kami berdua meluncur ke Sibolangit dengan kendaraan pribadi, sedangkan peserta lainnya berkumpul di Wihara Borobudur untuk berangkat bersama dengan bus yang telah disewa oleh panitia.

Malam pertama tiba di lokasi, acara dimulai dengan orientasi singkat oleh Suhu Nyanabhadra, kemudian diakhiri dengan mengumpulkan handphone dan pengumuman tambahan dari panitia tentang beberapa hal yang perlu diketahui, setelah itu kami berlatih hening bening (noble silent).

Keesokan harinya, semua peserta bangun pada pukul 05:00 pagi, setelah itu 05:30 sudah berkumpul di aula meditasi untuk memulai sesi meditasi duduk. Maaf, saya tidak bisa ikut pada waktu itu karena saya masih batuk. Saya melihat ke samping tempat tidur melihat anak perempuan saya juga masih tidur, dia tidak ikut meditasi duduk pagi. Anak dan ibu melanjutkan meditasi “tidur”.

Kegiatan berlanjut dengan meditasi jalan pelan di ruangan, mendengarkan pembacaan sutra lalu meditasi jalan pelan di pekarangan wihara. Para peserta biasanya diajak meditasi gerak badan kemudian melanjutkan meditasi jalan menuju ruang makan.

Nikmatnya Bubur
Saya lihat jam sarapan sudah hampir tiba, lalu bergegas ke ruang makan untuk ikut sarapan bersama-sama. Setiap sesi meditasi makan, semua akan duduk dengan hening mendengarkan lima renungan sebelum makan. Pagi itu sungguh beruntung, menunya adalah bubur, dalam hati berkata “Wow, nikmat sekali…..”.

Sarapan pagi itu terasa indah dan nikmat karena ditemani suami, anak, dan semua keluarga besar seperjuangan dalam retret. Saya senang bisa ikut retret bersama keluarga. Saya juga senang dengan meditasi makan (mindfulness eating), setiap orang diwajibkan untuk mengunyah sebanyak 32 kali, dalam hati berkata “Wow, ini kan bubur!”.

Suhu mengangkat pelantang suara (microphone) lalu menyampaikan, “Hari ini kita akan berlatih makan berkesadaran dengan mengunyah 32 kali sebelum ditelan, cukup satu sendok saja, lalu kunyah. Namun, berhubungan hari ini menunya bubur, jadi Anda semua mendapat diskon, boleh kunyah 20 kali saja”.

Di saat itu, kenangan saya muncul begitu saja. Saya ingat bahwa hal ini pernah saya lakukan ketika berusia 8 tahun, waktu itu saya masih kecil. Ketahuilah bahwa pada saat itu kami sekeluarga sering makan bersama-sama. Kakak, adik, dan kedua orang tua. Sekarang saya merasakan perasaan yang serupa makan bersama keluarga. Bayangan itu muncul seketika, lalu saya kembali lagi kepada aktivitas utama saya yaitu mengunyah bubur. Saya sempat membatin, “Sudahlah, makan dahulu buburmu”.

Kamu adalah Dharma
Selesai makan bubur, saya masih duduk merenungkan hal apa yang menarik ketika sedang makan bersama tadi. Doa tadi, doa yang disebut Lima Perenungan Sebelum Makan. Selama ini ketika saya makan yah sudah makan saja. Ternyata apa yang saya makan tadi adalah anugerah dari alam semesta dan hasil kerja keras semua makhluk.

Ya ampun, selama ini saya sering tidak terlalu peduli. Saya sering kesal ketika apa yang mau saya makan tidak sesuai dengan keinginan. Saya selalu merasa ada saja yang kurang, kurang ini, kurang itu, kurang kecap, kurang kerupuk, dan segala jenis kekurangan. Bahkan ketika selesai makan juga masih saja berpikir kurang ini dan itu, merasa tidak puas.

Perenungan sejenak itu membuat saya merasa bahwa sebetulnya kondisi untuk berbahagia sudah tersedia saat ini. “Wahai bubur, terima kasih, hari ini saya mendapatkan pelajaran yang berharga. Wahai bubur, kamu adalah Dharma saya saat itu”.

Sebelum beranjak dari meja makan, saya dengan hening berkata dalam hati, “Semoga apa yang saya makan hari ini dan saat ini menjadi berkah bagi saya atas hasil kerja keras dari semua makhluk dan semoga semua makhluk berbahagia, sadhu…sadhu…sadhu”.

Cerita di atas adalah Dharma Sharing yang saya sampaikan pada sabtu sore, kebetulan waktu itu hanya di bagi 2 grup. Sebut saja grup Bunga, yang mana grup ini adalah semua peserta yang baru pertama kali mengikuti retret hidup berkesadaran. (Sri Astuti)*

*Istri dari 1 orang suami dan Ibu dari 2 orang anak, seorang putra dan putri.

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci
Retret WBI Prov Jambi @WihSakyakirti

Retret Hidup Berkesadaran yang baru dilaksanakan dari tanggal 30 November sampai dengan 3 Desember 2017 ini diadakan dalam lingkungan Wihara Sakyakirti Jambi. Lingkungan ini sudah lumrah bagi semua peserta yaitu pengurus Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Provinsi Jambi.

Peserta hadir pada sore hari, setelah menikmati makan malam, semua peserta mendapat orientasi singkat tentang berbagai latihan pokok yang akan dilakukan bersama-sama beberapa hari ke depan.

Sudut Berbeda
Hari berikutnya, kegiatan demi kegiatan diikuti dengan santai dan relaks. Ada sesi workshop, para peserta diminta untuk menggambar objek gabungan yang disusun secara acak di depan mata, kami dalam posisi duduk melingkar. Beberapa peserta tampak ragu dengan instruksi menggambar sambil bergumam bahwa tidak bisa menggambar.

Beberapa menit telah berlalu, satu persatu peserta mulai menghasilkan gambar proyeksi pikiran masing-masing. Setelah selesai menggambar, setiap peserta secara bergilir mengoper hasil karyanya ke kiri, sampai hasil karyanya kembali lagi kepada dirinya sendiri. Kami melihat bahwa setiap gambar mempunyai hasil yang unik dan berbeda-beda. Kegiatan ini menyadarkan kami bahwa cara kami melihat atau cara pandang kami ternyata berbeda-beda, padahal objek yang digambar adalah sama, hanya melihatnya dari sudut yang berbeda. Ini menjadi renungan sangat berharga bagi semua peserta.

Begitu Indah
Praktik jalan berkesadaran merupakan praktik harian, kami melewati tangga yang sudah sangat sering kami lewati. Namun pada hari itu ada seorang peserta yang berkata, “Jika kita berfoto di tangga ini pasti bagus.”

Saya tersenyum kecil, wah setelah sekian lama baru disadari ternyata tangga yang biasa-biasa ini tiba-tiba menjadi begitu indah, saya sadar karena pikiran kami indah, pikiran kami jernih, sehingga tangga itu tiba-tiba menjadi indah. Ternyata benar adanya kalau keindahan itu ada di mana-mana, hanya saja kita yang tidak menyadarinya.

Setiap pagi setelah sarapan, kami mempraktikkan meditasi kerja. Pada hari itu, ada peserta yang membersihkan kamar tidur bersama, ketika hendak masuk ke gedung itu mendapati gerbang utamanya terkunci, ternyata kuncinya tertinggal di dalam. Syukur saya mendapat informasi bahwa security memiliki kunci serep.

Setelah saya mendapatkan kunci serep, dalam perjalanan kembali ke tempat peserta yang masih menunggu dibukakannya pintu gedung tersebut, seorang panitia tergesa-gesa menemui saya, tampaknya ada sesuatu yang terjadi. Ia mengabarkan bahwa ada seorang peserta sedang menangis dan emosinya sedang tidak stabil. Saya menemui peserta tersebut dan merangkulnya untuk membantunya tenang kembali.

Meredakan Emosi
Saya mencoba untuk mempraktikkan mendengar dengan penuh kesabaran. Tampaknya dia cukup emosional, ia menceritakan kepedihan hatinya, menumpahkan air matanya beserta semua gundah di hati. Ia menceritakan bahwa ada seseorang menegur peserta lain dengan kata-kata yang kurang enak didengar. Teguran tersebut terdengar olehnya sehingga ia sedih dan menangis. Padahal yang ditegur adalah orang lain, kok dirinya yang merasa sangat tersinggung dan sedih.

Hati kesal pun tumbuh menjadi besar dalam dirinya, setiap kali bertemu dengan orang yang menegur itu, ia membuang muka tidak mau menatapnya. Pada saat bhante memberikan wejangan Dharma pas sekali berkaitan dengan bagaimana pikiran membesar-besarkan sesuatu sehingga sakit hati kecil bisa menjadi sakit hati besar, sakit hati itu bagaikan panah kedua dan seterusnya yang terus menerus menyakiti diri kita sendiri. Ia merasa bhante sedang menyinggung dirinya, sehingga dia merasa makin terpojokkan. Ia menduga bahwa ada seseorang telah mengadu kepada bhante sehingga bhante memberikan wejangan Dharma seperti itu. Emosi negatif dirinya tambah besar, apa pun yang muncul dalam dirinya makin negatif.

Dia menangis dan menangis. Setelah luapan airmata dan emosinya telah tertumpahkan, dia mulai tenang. Baru kemudian saya angkat bicara. Saya mencoba menceritakan sisi positif dari orang yang menegur tersebut, yang mana sisi positif ini yang dia tidak pernah ketahui, yang selama ini dia dengar hanya sisi-sisi negatifnya saja yang sudah seperti sampah yang menumpuk di pikirannya. Semua orang memiliki sisi baik dan kurang baik, namun manusia lebih sering mencatat sisi yang kurang baiknya, lalu melupakan sisi baiknya.

Titik Balik
Sore hari ketika sesi Dharma Sharing, ternyata kasus menegur itu disampaikan oleh salah satu peserta, inilah titik balik yang saya rasakan. Semua yang sharing bisa menggunakan bahasa kasih, tidak menuduh, lalu menceritakan apa yang mereka ingat dan bahkan meminta maaf kalau ucapannya dianggap sebagai teguran, padahal tidak bermaksud menegur. Emosi masing-masing orang telah reda dan pengertian pun lahir dari sana.

Keesokan harinya, masih ada orang yang berkisah tentang insiden itu, namun dia sudah bisa senyum dan tidak terlalu terganggu lagi oleh insiden itu. Saya merasa inilah transformasi yang luar biasa. Ada kalanya kita perlu memberikan izin kepada seseorang menumpahkan air matanya, mengeluarkan isi hatinya yang sudah beku agar air pengertian bisa mengalir kembali. Sekuntum teratai telah tumbuh ketika air mata emosi berubah menjadi pupuk dan air hujan pengertian. Yang awalnya emosi itu dianggap sebagai sampah atau buntang (bangkai), kini telah menjadi pupuk untuk menumbuhkan teratai suci.

Terima kasih kepadamu para sahabat yang telah berlatih bersama-sama, memberikan kami pengalaman yang begitu berharga. Tentunya ini juga berkat bimbingan yang diberikan oleh Bhante Nyanabhadra dan Bhante Bhadraputra selama retret itu.

Semoga kita semua akan tumbuh menjadi kuncup-kuncup teratai yang indah. (elysanty)