Sudahlah, Makan Dahulu Buburmu

Sudahlah, Makan Dahulu Buburmu
Retret @VipassanaCenter Sibolangit

Retret Mindfulness barusan merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Komunitas DOM Menara Air bersama Siddhi dengan dukungan dari Wihara Borobudur Medan. Lokasinya di Sibolangit, Wihara Vipassana Center, dari tanggal 24 sampai dengan 26 November 2017.

Beberapa hari mengikuti retret membuat saya merasa segar kembali, tidak hanya pengetahuan bertambah juga sekaligus memperkuat latihan secara formal dan kemudian dibawa kembali ke latihan sehari-hari yaitu latihan non formal.

Lanjut Tidur
Hari Jumat sore sekitar pukul 15:00an, saya bersama suami berangkat ke lokasi retret dari kantor. Kami berdua meluncur ke Sibolangit dengan kendaraan pribadi, sedangkan peserta lainnya berkumpul di Wihara Borobudur untuk berangkat bersama dengan bus yang telah disewa oleh panitia.

Malam pertama tiba di lokasi, acara dimulai dengan orientasi singkat oleh Suhu Nyanabhadra, kemudian diakhiri dengan mengumpulkan handphone dan pengumuman tambahan dari panitia tentang beberapa hal yang perlu diketahui, setelah itu kami berlatih hening bening (noble silent).

Keesokan harinya, semua peserta bangun pada pukul 05:00 pagi, setelah itu 05:30 sudah berkumpul di aula meditasi untuk memulai sesi meditasi duduk. Maaf, saya tidak bisa ikut pada waktu itu karena saya masih batuk. Saya melihat ke samping tempat tidur melihat anak perempuan saya juga masih tidur, dia tidak ikut meditasi duduk pagi. Anak dan ibu melanjutkan meditasi “tidur”.

Kegiatan berlanjut dengan meditasi jalan pelan di ruangan, mendengarkan pembacaan sutra lalu meditasi jalan pelan di pekarangan wihara. Para peserta biasanya diajak meditasi gerak badan kemudian melanjutkan meditasi jalan menuju ruang makan.

Nikmatnya Bubur
Saya lihat jam sarapan sudah hampir tiba, lalu bergegas ke ruang makan untuk ikut sarapan bersama-sama. Setiap sesi meditasi makan, semua akan duduk dengan hening mendengarkan lima renungan sebelum makan. Pagi itu sungguh beruntung, menunya adalah bubur, dalam hati berkata “Wow, nikmat sekali…..”.

Sarapan pagi itu terasa indah dan nikmat karena ditemani suami, anak, dan semua keluarga besar seperjuangan dalam retret. Saya senang bisa ikut retret bersama keluarga. Saya juga senang dengan meditasi makan (mindfulness eating), setiap orang diwajibkan untuk mengunyah sebanyak 32 kali, dalam hati berkata “Wow, ini kan bubur!”.

Suhu mengangkat pelantang suara (microphone) lalu menyampaikan, “Hari ini kita akan berlatih makan berkesadaran dengan mengunyah 32 kali sebelum ditelan, cukup satu sendok saja, lalu kunyah. Namun, berhubungan hari ini menunya bubur, jadi Anda semua mendapat diskon, boleh kunyah 20 kali saja”.

Di saat itu, kenangan saya muncul begitu saja. Saya ingat bahwa hal ini pernah saya lakukan ketika berusia 8 tahun, waktu itu saya masih kecil. Ketahuilah bahwa pada saat itu kami sekeluarga sering makan bersama-sama. Kakak, adik, dan kedua orang tua. Sekarang saya merasakan perasaan yang serupa makan bersama keluarga. Bayangan itu muncul seketika, lalu saya kembali lagi kepada aktivitas utama saya yaitu mengunyah bubur. Saya sempat membatin, “Sudahlah, makan dahulu buburmu”.

Kamu adalah Dharma
Selesai makan bubur, saya masih duduk merenungkan hal apa yang menarik ketika sedang makan bersama tadi. Doa tadi, doa yang disebut Lima Perenungan Sebelum Makan. Selama ini ketika saya makan yah sudah makan saja. Ternyata apa yang saya makan tadi adalah anugerah dari alam semesta dan hasil kerja keras semua makhluk.

Ya ampun, selama ini saya sering tidak terlalu peduli. Saya sering kesal ketika apa yang mau saya makan tidak sesuai dengan keinginan. Saya selalu merasa ada saja yang kurang, kurang ini, kurang itu, kurang kecap, kurang kerupuk, dan segala jenis kekurangan. Bahkan ketika selesai makan juga masih saja berpikir kurang ini dan itu, merasa tidak puas.

Perenungan sejenak itu membuat saya merasa bahwa sebetulnya kondisi untuk berbahagia sudah tersedia saat ini. “Wahai bubur, terima kasih, hari ini saya mendapatkan pelajaran yang berharga. Wahai bubur, kamu adalah Dharma saya saat itu”.

Sebelum beranjak dari meja makan, saya dengan hening berkata dalam hati, “Semoga apa yang saya makan hari ini dan saat ini menjadi berkah bagi saya atas hasil kerja keras dari semua makhluk dan semoga semua makhluk berbahagia, sadhu…sadhu…sadhu”.

Cerita di atas adalah Dharma Sharing yang saya sampaikan pada sabtu sore, kebetulan waktu itu hanya di bagi 2 grup. Sebut saja grup Bunga, yang mana grup ini adalah semua peserta yang baru pertama kali mengikuti retret hidup berkesadaran. (Sri Astuti)*

*Istri dari 1 orang suami dan Ibu dari 2 orang anak, seorang putra dan putri.

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci
Retret WBI Prov Jambi @WihSakyakirti

Retret Hidup Berkesadaran yang baru dilaksanakan dari tanggal 30 November sampai dengan 3 Desember 2017 ini diadakan dalam lingkungan Wihara Sakyakirti Jambi. Lingkungan ini sudah lumrah bagi semua peserta yaitu pengurus Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Provinsi Jambi.

Peserta hadir pada sore hari, setelah menikmati makan malam, semua peserta mendapat orientasi singkat tentang berbagai latihan pokok yang akan dilakukan bersama-sama beberapa hari ke depan.

Sudut Berbeda
Hari berikutnya, kegiatan demi kegiatan diikuti dengan santai dan relaks. Ada sesi workshop, para peserta diminta untuk menggambar objek gabungan yang disusun secara acak di depan mata, kami dalam posisi duduk melingkar. Beberapa peserta tampak ragu dengan instruksi menggambar sambil bergumam bahwa tidak bisa menggambar.

Beberapa menit telah berlalu, satu persatu peserta mulai menghasilkan gambar proyeksi pikiran masing-masing. Setelah selesai menggambar, setiap peserta secara bergilir mengoper hasil karyanya ke kiri, sampai hasil karyanya kembali lagi kepada dirinya sendiri. Kami melihat bahwa setiap gambar mempunyai hasil yang unik dan berbeda-beda. Kegiatan ini menyadarkan kami bahwa cara kami melihat atau cara pandang kami ternyata berbeda-beda, padahal objek yang digambar adalah sama, hanya melihatnya dari sudut yang berbeda. Ini menjadi renungan sangat berharga bagi semua peserta.

Begitu Indah
Praktik jalan berkesadaran merupakan praktik harian, kami melewati tangga yang sudah sangat sering kami lewati. Namun pada hari itu ada seorang peserta yang berkata, “Jika kita berfoto di tangga ini pasti bagus.”

Saya tersenyum kecil, wah setelah sekian lama baru disadari ternyata tangga yang biasa-biasa ini tiba-tiba menjadi begitu indah, saya sadar karena pikiran kami indah, pikiran kami jernih, sehingga tangga itu tiba-tiba menjadi indah. Ternyata benar adanya kalau keindahan itu ada di mana-mana, hanya saja kita yang tidak menyadarinya.

Setiap pagi setelah sarapan, kami mempraktikkan meditasi kerja. Pada hari itu, ada peserta yang membersihkan kamar tidur bersama, ketika hendak masuk ke gedung itu mendapati gerbang utamanya terkunci, ternyata kuncinya tertinggal di dalam. Syukur saya mendapat informasi bahwa security memiliki kunci serep.

Setelah saya mendapatkan kunci serep, dalam perjalanan kembali ke tempat peserta yang masih menunggu dibukakannya pintu gedung tersebut, seorang panitia tergesa-gesa menemui saya, tampaknya ada sesuatu yang terjadi. Ia mengabarkan bahwa ada seorang peserta sedang menangis dan emosinya sedang tidak stabil. Saya menemui peserta tersebut dan merangkulnya untuk membantunya tenang kembali.

Meredakan Emosi
Saya mencoba untuk mempraktikkan mendengar dengan penuh kesabaran. Tampaknya dia cukup emosional, ia menceritakan kepedihan hatinya, menumpahkan air matanya beserta semua gundah di hati. Ia menceritakan bahwa ada seseorang menegur peserta lain dengan kata-kata yang kurang enak didengar. Teguran tersebut terdengar olehnya sehingga ia sedih dan menangis. Padahal yang ditegur adalah orang lain, kok dirinya yang merasa sangat tersinggung dan sedih.

Hati kesal pun tumbuh menjadi besar dalam dirinya, setiap kali bertemu dengan orang yang menegur itu, ia membuang muka tidak mau menatapnya. Pada saat bhante memberikan wejangan Dharma pas sekali berkaitan dengan bagaimana pikiran membesar-besarkan sesuatu sehingga sakit hati kecil bisa menjadi sakit hati besar, sakit hati itu bagaikan panah kedua dan seterusnya yang terus menerus menyakiti diri kita sendiri. Ia merasa bhante sedang menyinggung dirinya, sehingga dia merasa makin terpojokkan. Ia menduga bahwa ada seseorang telah mengadu kepada bhante sehingga bhante memberikan wejangan Dharma seperti itu. Emosi negatif dirinya tambah besar, apa pun yang muncul dalam dirinya makin negatif.

Dia menangis dan menangis. Setelah luapan airmata dan emosinya telah tertumpahkan, dia mulai tenang. Baru kemudian saya angkat bicara. Saya mencoba menceritakan sisi positif dari orang yang menegur tersebut, yang mana sisi positif ini yang dia tidak pernah ketahui, yang selama ini dia dengar hanya sisi-sisi negatifnya saja yang sudah seperti sampah yang menumpuk di pikirannya. Semua orang memiliki sisi baik dan kurang baik, namun manusia lebih sering mencatat sisi yang kurang baiknya, lalu melupakan sisi baiknya.

Titik Balik
Sore hari ketika sesi Dharma Sharing, ternyata kasus menegur itu disampaikan oleh salah satu peserta, inilah titik balik yang saya rasakan. Semua yang sharing bisa menggunakan bahasa kasih, tidak menuduh, lalu menceritakan apa yang mereka ingat dan bahkan meminta maaf kalau ucapannya dianggap sebagai teguran, padahal tidak bermaksud menegur. Emosi masing-masing orang telah reda dan pengertian pun lahir dari sana.

Keesokan harinya, masih ada orang yang berkisah tentang insiden itu, namun dia sudah bisa senyum dan tidak terlalu terganggu lagi oleh insiden itu. Saya merasa inilah transformasi yang luar biasa. Ada kalanya kita perlu memberikan izin kepada seseorang menumpahkan air matanya, mengeluarkan isi hatinya yang sudah beku agar air pengertian bisa mengalir kembali. Sekuntum teratai telah tumbuh ketika air mata emosi berubah menjadi pupuk dan air hujan pengertian. Yang awalnya emosi itu dianggap sebagai sampah atau buntang (bangkai), kini telah menjadi pupuk untuk menumbuhkan teratai suci.

Terima kasih kepadamu para sahabat yang telah berlatih bersama-sama, memberikan kami pengalaman yang begitu berharga. Tentunya ini juga berkat bimbingan yang diberikan oleh Bhante Nyanabhadra dan Bhante Bhadraputra selama retret itu.

Semoga kita semua akan tumbuh menjadi kuncup-kuncup teratai yang indah. (elysanty)

Air Mata Semua Insan Berasa Asin

Air Mata Semua Insan Berasa Asin
Sunita bertemu dengan Buddha

Suatu hari, Buddha bersama para muridnya pergi memohon makanan di sebuah desa di pinggiran Sungai Gangga, Buddha melihat seorang pria sedang memikul keranjang berisi kotoran manusia. Pria itu adalah Sunita dari kaum terbuang (paria). Sunita sudah pernah mendengar tentang Buddha dan komunitasnya, namun ini adalah pertama kali bertemu dengan Buddha. Sunita menjadi awas, menyadari bahwa dirinya kotor dan pakainnya berbau tidak sedap. Ia segera meletakkan keranjang itu dan mencari tempat untuk bersembunyi. Dari belakang berdiri beberapa biksu yang mengenakan jubah safron, dan dari depan Buddha sedang berjalan mendekatinya bersama dua biksu. Sunita tidak tahu harus berbuat apa, Sunita terpojok menuju pinggiran sungai dan bersimpuh lutut serta beranjali.

Masyarakat sekitar merasa heran dan keluar dari rumah untuk melihat kejadian itu. Sunita bersembunyi karena takut dirinya mengotori para biksu. Dia tidak menyangka bahwa Buddha berjalan mendekatinya. Sunita tahu persis bahwa para biksu berasal dari kasta tinggi. Dia percaya bahwa apabila dirinya mengotori para biksu maka itu adalah pelanggaran berat. Sunita berharap Buddha dan muridnya pergi menjauh darinya. Tetapi Buddha tidak beranjak, bahkan Buddha terus berjalan hingga pinggiran sungai dan berkata, ”Wahai sahabat, naiklah ke sini dan lebih dekat, kita boleh berbincang-bincang.”

Sunita masih beranjali dan enggan, ”Yang Mulia, saya tidak berani!

Mengapa tidak?” Buddha bertanya.

Saya dari kaum terbuang, saya tidak mau mengotori Anda dan para biksu.

Buddha menjawab, ”Dalam semangat Dharma, tiada lagi perbedaan sistem kasta. Anda adalah manusia yang sama persis dengan kami. Kami tidak takut akan terkotori olehmu. Justru keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin yang bisa mengotori kami. Anda adalah seseorang yang membawa kebahagiaan bagi kami. Siapa namamu?

Yang Mulia, nama saya Sunita.

Sunita, apakah Anda ingin bergabung dengan pesamuhan biksu seperti kami?

Saya tidak boleh!

Mengapa tidak boleh?

Karena saya dari kaum terbuang.

Sunita, saya sudah sampaikan bahwa dalam semangat Dharma tiada sistem kasta. Jalan menuju pembebasan, sistem kasta itu tidak ada lagi. Seperti Sungai Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu, Mahi, dan Rohini. Ketika semua air sungai ini mengalir ke samudra, mereka tidak memiliki identitas pribadi lagi. Seseorang yang meninggalkan rumahnya menjadi petapa juga demikian, ia meninggalkan sistem kasta, apakah dia seorang Brahmana, ksatria, sudra, vaisya, maupuan paria. Sunita, jika Anda berkenan, Anda boleh bergabung dengan pesamuhan biksu.

Buddha menitipkan mangkok makan kepada Meghiya dan meraih tangan Sunita. Buddha berkata, ”Sariputra, mohon bantu saya membersihkan Sunita. Kita akan menahbiskannya sebagai biku di sini, di pinggir sungai ini.

Tidak pernah dalam sejarah Kerajaan Kosala bahwa sebuah komunitas spiritual menerima kaum terbuang. Banyak orang mengutuk keputusan Buddha yang dianggap melanggar norma suci leluhurnya. Ada di antara mereka yang menuduh bahwa Buddha sedang membuat plot untuk memporak-porandakan sistem yang ada kemudian membuat kekacauan di negeri ini.

Buddha menyampaikan, ”Menerima kaum terbuang ke dalam pesamuhan hanyalah urusan waktu saja. Semangat Dharma adalah semangat kesetaraan. Pesamuhan kita tidak mengenal sistem kasta. Kita akan menghadapi kesulitan atas penahbisan Sunita, namun ini akan menjadi momentum membuka pintu pertama kali dalam sejarah dan generasi mendatang akan berterima kasih atas kebijakan ini. Kita hendaknya tetap bersemangat.

Peristiwa penahbisan Sunita akhirnya sampai di telinga Raja Pasenadi. Sejumlah guru spiritual zaman itu meminta audiensi dengan raja dan menyampaikan kekhawatiran atas peristiwa itu. Argumen mereka telah membuat raja merasa kecewa, walaupun raja merupakan pengikut setia dari Buddha, raja berjanji akan menyelesaikan masalah itu, raja kemudian berkunjung ke Jetavana.

Raja turun dari kereta kuda dan berjalan di halaman wihara. Para biksu berjalan di bawah rindangnya pohon. Raja terus berjalan menuju gubuk Buddha. Raja memberi salam kepada setiap biksu disepanjang perjalanan. Menatap wajah setiap biksu yang begitu damai membuat keyakinan kepada Buddha makin kokoh. Di pertengahan perjalanan raja melihat ada seorang biksu yang duduk di atas batu besar di bawah pohon pinus, dia sedang memberikan pelajaran kepada grup kecil biksu dan praktisi awam. Sungguh pemandangan yang indah. Biksu itu tampaknya belum genap berusia 40 tahun, namun wajahnya terpancarkan kedamaian dan kebijaksanaan. Para pendengar mencurahkan perhatian sepenuhnya dan mengingat pelajaran yang sedang diberikan. Raja berhenti sebentar dan mendengarkan, baginda sangat terkesan dengan apa yang disampaikannya, tetapi tiba-tiba baginda teringat tujuan untuk bertemu dengan Buddha, lalu melanjutkan perjalanannya.

Buddha menyambut kedatangan raja, mengundang baginda masuk ke dalam gubuk dan duduk di atas kursi bambu. Setelah saling menyapa dan memberi salam, Raja bertanya kepada Buddha, siapakah biksu yang duduk di atas batu besar itu? Buddha tersenyum dan menjawab, ”Biksu itu bernama Sunita, ia berasal dari kaum terbuang, pekerjaan sehari-harinya adalah memikul keranjang kotoran manusia untuk dibuang. Menurut baginda, bagaimana pelajaran Dharma yang ia dengar tadi?

Raja merasa malu. Sungguh sulit dipercaya, biksu yang memancarkan kecemerlangan itu adalah Suntia yang berasal dari kaum terbuang yang pekerjaannya adalah memikul keranjang kotoran manusia. Saya hampir tidak percaya. Buddha melanjutkan, ”Biksu Sunita telah berlatih sepenuh hati sejak hari pertama penahbisannya. Dia adalah seorang yang tulus, pintar, dan memiliki tekad kuat. Walaupun dia baru 3 bulan ditahbiskan, dia telah menjadi biksu yang dihormati banyak orang karena kebajikan dan ketulusan hatinya. Apakah Baginda ingin bertemu dan memberikan persembahan kepadanya?

Raja membalas dengan jujur, ”Tentu saja saya ingin bertemu dengan Bhante Sunita dan memberikan persembahan kepada beliau. Guru, ajaranmu sungguh dalam dan luar biasa! Saya tidak pernah bertemu dengan guru spiritual yang hati dan pikirannya terbuka. Saya yakin semua makhluk akan mendapatkan manfaat dari ajaranmu. Jujur saja, saya ke sini sebenarnya untuk menyampaikan keberatan atas penahbisan Sunita. Namun setelah melihat dengan mata kepala sendiri, saya sekarang sudah mengerti. Saya tidak perlu lagi bertanya tentang hal itu. Mohon izinkan saya untuk bersujud padamu.” (alih bahasa: Phap Tu)

Sumber: http://www.mindfulnessbell.org/archive/2015/12/everyones-tears-are-salty

Great Big Smile

Great Big Smile

unduh MP3 klik sini

I am a bird, a beautiful bird,
I am the sun, the golden sun,
I am the wind, blowing in
the beautiful bird in the sun, we are one in our wonderful world.

I am a seed, a tiny seed,
I am the rain, gentle rain,
I am a stream, carrying,
A tiny seed in the rain as we change in our wonderful world.

I am a note, a beautiful note,
I am a song, a beautiful song,
I am a child, great big smile,
I’m a note in a song sing along in our wonderful world.

Sr Chan Đức’s Mewakili Thay di Union Medal Award Ceremony

Sr Chan Đức’s Mewakili Thay di Union Medal Award Ceremony
Sr. Chân Đức mewakili Thay di Seremoni Union Medal Award @NewYork
*Pidato pada tanggal 6 September 2017

 

Ibu Ketua, fakultas, para mahasiswa, dan sahabat sekalian, saya merasa ini sebuah kehormatan dapat mewakili Plum Village dan Thay, guru kami. Thay mengalami stroke pada tahun 2014, sehingga beliau tidak bisa hadir di sini bersama-sama kita. Namun Thay hadir bersama kita di sini secara semangat. Saya bisa merasakan kehadiran beliau berjalan di koridor gedung ini. Pada tahun 2001, Thay berkesempatan menginap di sini selama beberapa hari sesudah peristiwa 11 September (9/11). Beliau menyampaikan nasihat kepada masyarakat negeri ini bagaimana cara baik merespon kejadian yang menyayat hati itu di Gereja Riverside.

Jika Thay dapat berbicara pada hari ini, beliau pasti akan memberikan pesan yang sama persis seperti yang telah beliau sampaikan, ketika kita berada dalam ancaman begitu banyak kesulitan, tentang Korea Utara dan juga respon terhadap Korea Utara, bagaimana kita dapat mempraktikkan mendengar secara mendalam terutama terhadap diri sendiri, mendengar penderitaan kita sendiri, mengerti luka kita, mengerti luka mendalam kita. Kemudian, bagaimana kita dapat mendengarkan penderitaan dan luka dari mereka yang ada di sekitar kita. Bagaimana kita dapat mendengarkan penderitaan dan luka dari orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai musuh. Melalui mendengar secara mendalam dan mampu mengekspresikan dan mendengar diri kita sendiri, kita dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang terbentang dari homo sapiens dan bumi kita pada saat itu. Daripada menghancurkan homo sapiens, kita dapat mengubah homo sapiens menjadi homo conscious, makhluk yang paham bagaimana untuk hidup secara bermakna dalam kehidupan sehari-hari, hidup dengan belas kasih, dengan cinta kasih, dengan gembira, kebahagiaan mendalam, dan cinta mendalam.

Medali ini akan dikirimkan ke Thailand, tempat Thay sedang menjalani masa pemulihannya. Atau mungkin ke Vietnam, saat ini (cat: 22 Okt) Thay sedang mengunjungi Wihara akar Plum Village, Tu Hieu, disitulah Thay pertama kali ditahbiskan menjadi samanera. Saat itu, keinginan mendalam beliau adalah memperbarui Agama Buddha, sehingga Agama Buddha bisa menjadi sebuah jalan yang terbuka untuk kita agar bisa menghadapi penderitaan masa kini. Ketika Thay tinggal di New York, beliau mampu menyembuhkan banyak luka yang beliau alami di masa perang Vietnam. Saat itu, beliau kembali kepada dirinya sendiri, dan mempraktikkan meditasi jalan, napas berkesadaran, agar bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Penyembuhan itu terjadi, seperti yang beliau katakan dalam jurnalnya di tahun 1962, ketika beliau membaca catatan harian menjelang akhir dari Dietrich Bonhoeffer, yang juga pemilik seminari ini. Pengorbanan, pengertian, dan kasih dari Dietrich Bonhoeffer sangat diapresiasi oleh Thay, dan membantu Thay menyadari betapa ketulusan dan keberanian dibutuhkan untuk memperbarui Agama Buddha.

Thay selalu berpikir bahwa beliau akan dapat mengajar di Vietnam, memperbarui Agama Buddha di Vietnam. Namun, sebab dan kondisi membawanya ke Amerika Serikat, yang berarti bahwa selama lebih dari empat puluh tahun (beliau dalam pengasingan selama empat puluh tahun), sejak beliau datang pada tahun 1962 sampai hari ini, Thay telah mempersembahkan sebuah Agama Buddha baru bagi dunia Barat. Sejak itu, kita dengan penuh keberanian dapat terus maju dan dapat terus maju di jalan ini yang membantu kita bertransformasi dari homo sapiens menjadi homo conscious. Jenis makhluk yang tidak hanya peduli dengan spesies manusia akan tetapi mampu menjaga seluruh makhluk, khususnya bumi tercinta yang kita pijak ini, sekeliling kita, dan atmosfer yang berada di atas kita.

Kami sangat bersyukur dapat hadir di sini hari ini, bersama-sama dengan Anda semua, dapat menerima medali yang luar biasa ini. Kami akan membawanya untuk Thay. Thay akan selalu di sini bersama dengan Anda di dalam hati Anda semua. Kapanpun Anda mempraktikkan jalan penuh kedamaian di sepanjang koridor ini, Anda semua berada dalam sentuhan Thay.

Sebagai ungkapan terima kasih kepada fakultas dan seluruh mahasiswa di institut ini, kami ingin mempersembahkan sebuah kado kecil. Ini adalah kaligrafi karya Thay. Kami berharap kado ini bisa sedikit memperkuat Socially Engaged Buddhism yang dipopulerkan oleh Thich Nhat Hanh untuk Agama Buddha yang lebih aktif terjun ke dalam masyarakat. Ketika program itu telah mendapatkan kondisi yang sesuai, maka kado itu bisa ditempatkan di ruang itu. (Ang)

Sumber: https://plumvillage.org/news/2017-union-medal/

Napas Untuk Mudik

Napas Untuk Mudik
Foto bersama peserta Day of Mindfulness di Wihara Ekayana Serpong

Rumah identik dengan suasana damai yang menyejukan hati. Rumah adalah tempat yang paling nyaman juga untuk melepas kepenatan dan kelelahan yang mendera kehidupan. Di era digital yang serba terkoneksi dengan hiper dan cepat luar biasa, tak jarang membuat kita menjadi lebih cepat. Ibarat kualitas baterai pada gawai di masa kini yang lebih cepat habis karena penggunaan data yang berat dan terus menerus, kondisi “low battery” juga mudah sekali dialami oleh manusia di kehidupan masa kini. Dan rumah adalah semacam “power outlet” untuk kita dapat melepas lelah dan mengisi ulang energi kita.

Namun sayangnya bagi sebagian besar masyarakat, terutama di perkotaan metropolitan seperti Jakarta dapat pulang ke rumah setiap saat terutama pada saat kita sibuk, stress, kehabisan energi tidaklah semudah itu. Padahal hampir seluruh masyarakat membutuhkan sebuah solusi yang instan juga untuk dapat mengikuti tuntutan kehidupan yang ekspres dan instan juga. Akhirnya yang sering kali terjadi untuk mendapat kedamaian yang instan adalah dengan menenggelamkan diri ke media sosial, alkohol, makan berlebihan, rokok, kehidupan dunia gemerlap bahkan obat-obatan terlarang. Walaupun kedamaian tersebut bisa didapatkan pada saat tersebut, namun kualitasnya kurang baik dan tak jarang memberikan efek samping yang negatif terdahadap kesehatan mental, jasmani, sosial bahkan finansial.

Padahal sebetulnya terdapat sebuah solusi yang sangat mudah dan aman serta cukup instan efeknya bilamana dipraktikkan secara rutin dan konsisten. Solusi ini tidak menimbukan efek samping ketergantungan yang negatif. Bahkan sebaliknya pada saat kita mengalami “ketergantungan” pada solusi ini lebih banyak efek positif yang bisa didapatkan. Dan kabar baiknya, solusi ini tersedia untuk setiap manusia baik mereka yang memiliki gaya hidup modern, tradisional bahkan purba sekalipun. Solusi ini mampu membawa kita kembali pulang ke rumah kita yang sejati, kapan saja dan di mana saja.

Solusi tersebut adalah gaya hidup dengan penuh kesadaran dengan menunggangi napas sebagai kendaraan untuk dapat membawa kita pulang ke rumah kita yang sejati kapan saja dan di mana saja dengan ekspres dan instan.

Di hari Sabtu, 04 November 2017 yang lalu bertempat di Wihara Ekayana Serpong terdapat puluhan orang berkumpul bersama untuk melatih diri mempraktikkan indahnya seni hidup dengan penuh kesadaran melalui napas masuk dan napas keluar sebagai kendaraan ekspres untuk membawa mereka pulang ke rumah sejati. Bersama-sama mereka duduk dalam keheningan menikmati setiap hembusan napas, bernyanyi dengan penuh kesadaran, menikmati berkah alam semesta melalui makanan dan minuman hingga saling berbagi cerita pengalaman dalam praktik dengan penuh kasih.

Dan di saat bersama-sama mereka menikmati setiap hembusan napas masuk dan napas keluar, sontak seketika mereka semua tiba ke rumah sejati. Bersama-sama mudik ke kampung halaman yang penuh cinta kasih dan kedamaian. Mendapatkan kembali energi untuk recharge diri setelah sekian lama tenggelam dalam kesibukan sehari-hari.

Di penghujung kegiatan, mereka semua pun berdoa agar latihan bersama yang telah dilakukan seharian penuh, dapat memberikan manfaat yang lebih luas lagi pada kehidupan yang kita semua jalani bersama. Tak lupa mereka berjanji bertemu berlatih bersama kembali setelah satu purnama untuk dapat kembali bersama mudik ke kampung halaman sejati. (Astrid Maharani)

Jadwal DoM (Day of Mindfulness)
08.00 – 08.30 Persiapan
08.30 – 09.00 Registrasi dan Song of Mindfulness
09.00 – 09.45 Kebaktian Bahasa Indonesia dan Meditasi duduk dipandu
09.45 – 10.00 Meditasi Gerak & Toilet Break
10.00 – 12.00 Menonton Video Ceramah Thay
12.00 – 13.00 Meditasi Makan
13.00 – 13.45 Relaksasi Total
13:45 – 14:00 Istirahat
14.00 – 15.45 Meditasi Teh dan Sharing
15.45 – 16.00 Pelimpahan Jasa dan Penutup

Patriak Zen Pertama dari Vietnam

Patriak Zen Pertama dari Vietnam

Khuong Tang Hoi: Patriak Pertama dari Vietnam

Plum Village memiliki patriak zen pertama bernama Khương Tăng Hội (康僧會, pinyin: Kāng Sēnghuì). Menurut catatan Vietnam, tanggal 1 November 2017 merupakan hari untuk mengenang kembali jasa-jasanya dalam menyebarkan ajaran Buddha.

Pagi itu, di Plum Village Thailand, empat lapisan sangha berkumpul di aula utama. Semuanya duduk dengan hening sekitar 20 menit, lalu dimulai dengan membacakan gatha pembukaan dan Sutra Hati dalam bahasa Vietnam, dilanjutkan dengan menyentuh bumi untuk menghormati Buddha Shakyamuni beserta sesepuh Zen dari Maha Kasyapa, Sariputra, Maha Moggalyana, Upali, Ananda, hingga Master Tang Hoi, dan beberapa sesepuh zen dari Tiong Kok hingga para guru besar kontemporer Vietnam.

Menyentuh bumi pagi itu menjadi sesuatu yang sangat luar biasa, bukan karena jumlahnya tapi makna dari setiap sentuhan bumi untuk mengingat kembali para guru-guru besar hingga Buddha Sakyamuni. Kegiatan dilanjutkan dengan membacakan biografi singkat Master Tang Hoi dan menyanyikan tembang yang memuji nama besarnya.

Sesepuh Zen Tang Hoi meninggal pada tahun 208M, beliau merupakan biksu yang banyak berkecimpung dalam menerjemahkan kitab suci Tripitaka pada zaman Tiga Kerajaan (三國, pinyin: Sānguó. Beliau lahir di Jiaozhi (交趾, pinyin: Jiāozhǐ) yang merupakan bagian dari Vietnam pada zaman sekarang ini. Ayahanda beliau berasal dari pedagang Sogdian dan ibundanya berasal dari Vietnam. Wilayah Sogdian merupakan kawasan yang saat ini merupakan bagian dari Tajikistan dan Uzbekistan.

Kisah mencatat bahwa beliau banyak memberikan kontribusi dalam penerjemahan Tripitaka ke dalam bahasa mandarin kuno. Suatu ketika beliau meditasi dan berdoa dengan sepenuh hati sehingga relik Buddha muncul di sebuah vas bunga. Seorang Raja bernama Wu Sun Quan mencoba untuk menghancurkan relik itu tapi tidak berhasil.

Ternyata Anak-anak Juga Bisa

Ternyata Anak-anak Juga Bisa


Sekolah dasar Pusaka Abadi terletak di Jl. V No 26-28 Pejagalan, Penjaringan, Teluk Gong, Jakarta Utara di bawah naungan Yayasan Pendidikan Pusaka Abadi Mulia. Setiap tahun sekolah kami mengadakan kegiatan Kerohanian yang bertujuan untuk memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai religius pada siswa. Kegiatan kerohanian Buddha seperti perayaan hari besar Waisak dan Pekan Penghayatan Dhamma (PPD).

Tahun ini adalah kali kedua kerohanian Buddha SD Pusaka Abadi melaksanakan PPD di Pondok Sadhana Amitayus, Cipayung Bogor. Selain tempatnya sangat representatif untuk anak-anak, di sini kegiatan langsung dibimbing oleh monastik yang sudah berpengalaman dan dekat dengan anak.

Kegiatan-kegiatan menarik yang diikuti oleh siswa selama PPD seperti: pembiasaan meditasi makan, relaksasi total (meditasi baring), melatih sila, pembiasaan mencuci piring setelah makan, mendengarkan Dharma, belajar bernyanyi lagu Buddhis dalam bahasa Inggris dan Mandarin, dan pembiasaan memperhatikan keluar masuknya napas saat mendengar lonceng dan dentang jam dinding.

Selama kegiatan PPD di Pondok Sadhana Amitayus, kami mengharapkan murid-murid SD Pusaka Abadi menjadi anak yang baik, lebih disiplin dan bertanggung jawab sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami semua di sana sangat senang, tempatnya nyaman, suasananya tenang, pemandangannya indah, dan ajarannya luar biasa.

Kami sebagai guru merasa bangga melihat anak-anak bisa mengikuti kegiatan PPD dengan baik. Misalnya pada saat makan, mereka mau menghabiskan semua makanan yang sudah diambil tanpa sisa dan makan tanpa bersuara selama 15 menit, padahal ketika makan di sekolah mereka selalu terburu-buru, sambil ngobrol dan sering makanan tidak habis.

Memang untuk hari pertama anak-anak kaget dengan pembiasaan meditasi makan, tetapi hari berikutnya mereka semua memahami dan mengikutinya dengan baik. Kami berharap bimbingan seperti ini bisa berkelanjutan di tahun depan, supaya anak-anak menjadi manusia yang memiliki sila, kesadaran, kesabaran, dan lebih konsentrasi pada setiap kegiatan yang dilakukan.

Kami dari pihak SD Pusaka Abadi mengucapkan terima kasih kepada Wihara Ekayana dan Bhante Nyanagupta yang sudah memberikan izin untuk kami melaksanakan kegiatan PPD di Pondok Sadhana Amitayus. Kepada Bhante Nyanabhadra dan Samanera Bhadraprana. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk membimbing anak-anak kami dengan sabar. Apabila kami ada sikap yang tidak berkenan mohon dimaafkan dan untuk kekurangan, kami akan perbaiki sehingga tahun depan sikap kami akan lebih baik. Kami berdoa semoga ada karma baik bisa belajar kembali di Pondok Sadhana Amitayus. (Puji)

Hari Berkelanjutan Thay yang ke-91

Hari Berkelanjutan Thay yang ke-91


Setelah selesai Vassa, tanggal 08 Oktober 2017, Sangha di Thailand mempersiapkan beberapa acara untuk merayakan hari berkelanjutan Thay yang ke-91. Ini adalah kali pertama Thay merayakan hari berkelanjutannya di Thailand. Beberapa biksuni senior dari Hue (Vietnam) beserta biksuni dari Wihara akar Tu Hieu dan Dieu Tram juga ikut hadir. Banyak monastik dari Vietnam turut hadir untuk memberikan ucapan dan doa.

Program untuk merayakan hari berkelanjutan Thay dimulai pada tanggal 9 Oktober. Thay Phap Ung memberikan orientasi latihan kepada praktisi awam yang hadir. Pada malam hari itu, pukul 19:30 semua berkumpul untuk memanjatkan doa dan mengucapkan selamat untuk Thay. Ada juga pameran yang telah dipersiapkan oleh para monastik di Aula meditasi, yang terbagi dalam beberapa kategori yaitu:

Sejarah dan perjalanan Thay
Berbagai terobosan baru dan pandangan Thay
Murid Thay dari berbagai negara
Alat yang dipergunakan Thay untuk menjelaskan Dharma
Komunitas diseluruh dunia
Reformasi ajaran Buddha dan kontribusi untuk dunia

Thay Phap Niem memperkenalkan secara ringkas tentang berbagai pameran tersebut, setelah itu ada barongsai. Semua yang hadir menikmati pameran dengan hening, setiap langkah di aula meditasi dilakukan dengan khusyuk. Semua orang memiliki kesempatan untuk bersentuhan dengan Thay lebih dalam lagi lewat pameran itu. Thay dari usia muda, kehendak masuk monastik, kehendak untuk memperbarui ajaran Buddha, kesulitan ketika perang, praktik di masa sulit, kontribusi terhadap agama Buddha secara internasional, sehingga lahirlah Pintu Dharma Plum Village.

Pada pagi tanggal 10 Oktober, Thay Phap Niem dan Thay Trung Hai memimpin sesi tanya jawab dengan topik praktik transformasi penderitaan dalam keluarga, bagaimana memanfaatkan latihan hidup penuh kesadaran dalam keluarga. Sore hari itu ada Be-In bersama-sama. Thay Tu Thong menyampaikan tentang berbagai kegiatan penting yang pernah Thay lakukan.

Pada tanggal 11 Oktober pagi, yaitu hari berkelanjutan Thay yang ke-91, setelah meditasi duduk, kemudian dilanjutkan meditasi jalan menuju kuti Thay untuk memberikan hormat dan ucapan selamat kepada Thay. Walaupun dalam kondisi kurang sehat, Thay turun dan menyambut semua yang telah hadir.

Sumber : http://langmaithailan.org/vi/sen-hai-dau-mua/ngay-tiep-noi-su-ong-2017/

Happiness is here and now mandarin

Happiness is here and now mandarin

Unduh MP3 klik sini

Happiness is here and now

Happiness is here and now,
I have dropped my worries.
Nowhere to go, nothing to do,
no longer in a hurry.
 
Happiness is here and now,
I have dropped my worries.
Somewhere to go, something to do,
but I don’t need to hurry.

快樂是此時此地

快樂是此時此地,我已放下煩惱,
沒處要去,無事要做,
再不須要匆忙。
 
快樂是此時此地,我已放下煩惱,
有地方去,有事要做,
但不再急忙。

Breathing in breathing out mandarin

Breathing in breathing out mandarin

Unduh MP3 klik sini

Breathing in, breathing out

Breathing in, breathing out (2x);
I am blooming as a flower;
I am fresh as the dew.
I am solid as a mountain,
I am firm as the earth;
I am free.
 
Breathing in, breathing out (2x);
I am water, reflecting
what is real, what is true,
and I feel there is space deep inside of me;
I am free, I am free, I am free.

吸進來,呼出去

吸進來,呼出去;吸進來,呼出去;
好似盛開一朵蓮花,
我清涼如一滴露,
一如高山屹立不移,
像大地一般穩厚。
我自在。

吸進來,呼出去;吸進來,呼出去;
我是淨水反照著,
甚麼是真,甚麼是實,
在我覺得心裡深處,
空間滿溢在其中。
我自在,我放下,我自在。

Joy Is Every Step

Joy Is Every Step
Day of Mindfulness: Joy is Every Step @Pusdiklat Bodhidharma

Joy is Every step adalah tema Day of Mindfulness hari Sabtu, 28 Oktober 2017, di Pusdiklat Boddhidharma, dibimbing oleh Sister Tin Yue merupakan hari latihan bersama hidup sadar oleh praktisi-praktisi lintas agama.

Beberapa praktisi sudah berlatih dengan metode Zen Plum Village, beberapa baru pertama kali berlatih mengikuti metode ini.

Diringkas dengan apik, semua kegiatan disesuaikan dengan kebiasaan hidup sehari-hari yang penuh dengan kesibukan.

Dalam sesi meditasi teh dan berbagi, diungkapkan bahwa latihan ini adalah latihan yang sesungguhnya karena berpraktik sesuai kondisi nyata keseharian.

Sesi yin yoga dan total relaksasi merupakan sesi favorit, sesi yang membawa praktisi untuk benar-benar relaks.

Ceramah Thay (Zen Master Thich Nhat Hanh) pada saat Retret Israel-Palestina, Oktober 2005 membawa pencerahan baru bahwa kita berlindung pada realitas absolut yang membuat kita damai dan bahagia setiap saat, setiap langkah. (Kshantica)