Tidak Perlu Jauh-jauh Ke Luar Negeri

Tidak Perlu Jauh-jauh Ke Luar Negeri
DOM di Wihara Buddhasena Bogor

Pertama kali mengenal Retret dan Hari Hidup Berkesadaran ialah sejak tahun 2010 ketika Master Zen Thich Nhat Hanh datang ke Indonesia. Karena retret tersebut telah menyentuh hati saya yang terdalam, sejak saat itu saya aktif mengikuti kegiatan Retret dan Hari Hidup Berkesadaran. Setiap ada kegiatan seperti ini, saya biasanya selalu bersemangat dan usahakan untuk datang.

Hari Hidup Berkesadaran, atau dalam bahasa Inggrisnya ialah Day of Mindfulness (DOM) biasanya mempunyai jadwal yang selalu sama: Registrasi, Orientasi, Meditasi Duduk, Meditasi Jalan, Dharma Talk, Meditasi Makan, Relaksasi Total, Sharing, Foto-foto, selesai.

DOM Special
Nah, ternyata DOM yang diadakan di Wihara Buddhasena Bogor tanggal 27 Januari 2018 kemarin mempunyai jadwal yang berbeda dari biasanya: Registrasi, Orientasi, Meditasi Duduk, Chanting Namo Avalokiteshvara, Gerak Badan Berkesadaran, Dharma Talk, Meditasi Makan, Qi Gong, Relaksasi Total, NoBar film Walk With Me, Foto-foto, selesai.

Day of Mindfulness kemarin itu sungguh sangat spesial karena adanya Chanting Namo Avalokiteshvara, Qi Gong, dan NoBar film Walk With Me. Bagi saya yang paling berkesan ialah NoBar film Walk With Me nya. Tidak hanya itu, peserta DOM kemarin ada yang berasal dari Columbia dan Myanmar juga. Saya pun kebetulan ditunjuk menjadi volunteer translator untuk mereka.

Film Walk With Me merupakan film dokumenter yang menceritakan mengenai kehidupan para monastik di Plum Village: Upacara penahbisan monastik, cukur rambut, kegiatan sehari-hari di Plum Village, retret yang diadakan di Plum Village, chanting Namo Avalokiteshvara, Meditasi Jalan dan Duduk di jalanan umum, dan lain sebagainya.

Batal Menonton
Sejak film Walk With Me tayang di bioskop di Eropa, saya pun berpikir kapan film itu bisa tayang di Indonesia. Saya sangat ingin menonton film tersebut. Ketika saya di Eropa bulan September – Oktober 2017 kemarin, saya rencananya ingin menonton film Walk With Me di Amsterdam tanggal 1 Oktober 2017. Awalnya saya bersemangat sekali untuk nonton film Walk With Me di Amsterdam, namun karena sudah lelah jalan-jalan dan orangtua juga kurang minat nonton, jadi akhirnya batal.

Tidak patah semangat, saat saya ke Thailand bulan Desember 2017 kemarin, saya mencari informasi mengenai penayangan film Walk With Me di Bangkok. Namun saya tidak berhasil mendapatkan informasi penayangan nya. Eh kemarin ini akhirnya film Walk With Me ditayangkan juga di Indonesia! Suatu keberuntungan saya akhirnya bisa menonton film Walk With Me ini di Bogor, kota kelahiran saya sendiri. Tidak perlu jauh-jauh lagi untuk menonton film tersebut.

Menonton Film Walk With Me

Suasana Damai
Tujuan utama saya ke Eropa kemarin ialah untuk mengunjungi Samanera Bhadrawarman (sepupu saya yang sudah menjadi Samanera dan sedang berlatih di Plum Village Perancis). Saya tinggal di Plum Village Perancis selama 5 hari. Lalu 5 hari nya lagi dipakai untuk jalan-jalan. Selama di Plum Village, saya merasakan betapa damai nya tinggal disana. Saya juga berkesempatan untuk mengikuti Day of Mindfulness di sana.

Tinggal selama 5 hari di Plum Village meninggalkan jejak yang cukup mendalam bagi saya. Oleh karena itu, ketika saya menonton film Walk With Me ini yang mayoritas di-shoot di Plum Village Perancis, saya bisa mengenang kembali bagaimana suasana damai di Plum Village, bagaimana suasana kehidupan para monastik di Plum Village.

Bertemu Zen Master
Karena film itu juga, saya bisa mengenang kembali bagaimana perasaan saya ketika pertama kali ikut Retret Hidup Berkesadaran yang dibimbing langsung oleh Master Zen Thich Nhat Hanh pada tahun 2010 lalu. Bagian yang paling menyentuh dari film Walk With Me ialah saat chanting Namo Avalokiteshvara. Di film itu diperlihatkan seorang wanita yang menangis tersedu-sedu saat mendengar chanting tersebut.

Saya pun langsung merasa wanita itu seperti diri saya sendiri saat pertama kali mendengar chanting Namo Avalokiteshvara di Retret Hidup Berkesadaran tahun 2010 lalu. Saat itu saya juga menangis tersedu-sedu saat mendengar chanting tersebut. Sungguh sebuah chanting yang sangat indah yang menyentuh hati terdalam!

Berkelanjutan
Karena saya ditunjuk menjadi volunteer translator, saya jadi berkesempatan untuk memperkenalkan Plum Village kepada orang Columbia dan Myanmar. Karena yang Columbia sudah 2 tahun di Indonesia, jadi bisa berbicara bahasa Indonesia walaupun masih belum terlalu lancar. Kalau yang Myanmar, karena baru 5 bulan di Indonesia, jadi hanya bisa mengerti beberapa kata dalam bahasa Indonesia. Saya pun kebanyakan menjadi translator untuk kedua orang Myanmar ini.

Sebenarnya lebih tepatnya sih menjadi teman yang menjelaskan kepada mereka, bukan hanya sebatas translate apa yang sedang dijelaskan oleh Bhante Nyanabhadra dan Sister Rising Moon. Saya jelaskan juga kepada mereka bagaimana pentingnya ikut retret atau DOM secara berkelanjutan.

Jeane Rooseline (Baris pertama, nomor dua dari kiri)

Bersama Komunitas
Retret atau DOM harus dilakukan secara berkala, agar kita ingat akan latihan Mindfulness. Tanggapan mereka pun baik. Mereka bilang mau ikut acara seperti ini lagi. Saya pun sebagai yang menjelaskan kepada mereka menjadi turut senang. Sungguh suatu hal yang baik jika kita bisa latihan Mindfulness secara berkala bersama dengan komunitas. (Jeane Rooseline)*

*Volunteer dan anggota dari Wake Up Bogor

When There Is A Will, There Is A Way

When There Is A Will, There Is A Way
Photo bersama. Edwin (baris kedua, dari kanan pertama)

“When there is a will, there is a way..”

Mungkin begitulah kalimat yang paling tepat menggambarkan hal yang saya rasakan. Hidup di hiruk pikuk kota ini, tekanan demi tekanan sudah menjadi makanan sehari–hari, baik itu pekerjaan, hubungan dengan teman, keluarga, pasangan dan lain sebagainya.

Tapi, dari semua itu, ada satu hal yang sangat mengganggu saya. Kemacetan!! Kenapa?? Ketika macet, begitu banyak orang yang melanggar lalu lintas, berkendara melawan arah, menerobos lampu merah, membunyikan klakson tiada henti, membawa kendaraan ugal–ugalan, angkutan umum yang berhenti untuk mencari penumpang di jalan yang sempit. Belum lagi kalau ditambah derasnya hujan!

Ingin marah rasanya melihat semua itu. Ketika pikiran kalut tak karuan, saya pun menarik napas dalam. Hm…..(tarik napas) Ah..(hembus napas)…. Dan dari hati kecil saya berkata… ting!! Sudah saatnya, saya berlatih hidup berkesadaran!

Ah, benar! Sudah lama, saya tak berlatih hidup lebih berkesadaran. Pengendalian emosi yang kurang merupakan pertanda saya harus me-recharge batin ini. Tapi kapan??

Dan tiba–tiba saja, selang beberapa hari, Darwin, seorang aktivis di Wihara Ekayana Arama mengajak saya menjadi volunteer Day of Mindfulness (DOM), Sabtu tanggal 3 Feb 2018.

Kebetulan yang keren sekali! Selain bisa berlatih, saya juga bisa berbuat lebih untuk komunitas. Tanpa pikir panjang, saya terima tawaran tersebut! Tugas saya hanya mengumpulkan teman–teman di hari Jumat pukul 19:00 untuk bersama–sama mempersiapkan tempat dan perlengkapan yang akan digunakan acara DOM.
Di mana ada keinginan, di sana ada jalan!! Di mana ada jalan, di sana ada rintangan!!

Mungkin pepatah lengkapnya begitu. Tiba–tiba, jumat pagi, telepon saya berdering dan muncul hal yang tak terduga, pekerjaan dadakan yang deadline-nya senin pagi. Luar biasa! Ketika tidak ada DOM, tidak pernah ada permintaan lembur, begitu mau ikut DOM, tiba–tiba diminta lembur!

Dengan pikiran yang cukup kaget, saya mulai mengerjakan pekerjaan saya. Tapi, rasanya tidak mungkin untuk menyelesaikannya dalam waktu 1 hari. Saya pun di minta lembur Jumat itu. Dan bila tidak selesai, maka harus di anjutkan Sabtu dan Minggu!

Aduh, bagaimana ini?!

Saya bulatkan tekad, untuk tetap pulang jam 5 agar bisa mempersiapkan DOM. Sabtu pagi, seperti biasa, saya harus mengajar dahulu sampai pukul 10, baru segera menyusul ke wihara untuk mengikuti DOM. Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali bukan? Urusan pekerjaan dadakan, mau tak mau, Minggu pun saya harus lembur mengerjakannya. Berlatih itu penting, dan tanggung jawab pekerjaan juga penting.

Mungkin teman–teman bertanya, apa yang saya rasakan? Let me share, ini 3 manfaat yang saya dapatkan selama berlatih hidup sadar:

Pengendalian Diri
Jalanan adalah pemicu stress yang cukup tinggi bagi saya. Tapi mengikuti DOM dan mempraktikannya di kehidupan sehari-hari membuat pengendalian emosi jauh lebih baik. Saya belajar untuk sadar ketika melakukan sesuatu. Ketika berjalan, saya sadar saya sedang berjalan. Ketika makan, saya sadar saya sedang makan. Efeknya, ketika saya mau marah, akan muncul kesadaran ketika mau marah, sehingga, sebelum saya mengambil tindakan yang mungkin akan saya sesali, kemarahan itu sudah bisa saya atasi.

Lebih Tenang
In the here, in the now, No After, No Before”. Dengan mengingat kata–kata itu, saya menyadari, bahwa diri saya, berada di sini, saat ini. Sering kali, pikiran saya, berkelana, entah ke masa lalu, atau ke masa depan. Melalui praktik hidup sadar, saya berlatih untuk menyadari saat ini, di sini. Saya tak perlu memikirkan masa lalu atau masa depan. Cukup menikmati saat ini. Apa pun kondisi yang terjadi saat ini, itulah yang saya nikmati.

Rasa Syukur
Ketika relaksasi total, ada beberapa kalimat yang cukup berkesan,seperti :

“Melihat orang yang kita sayangi, adalah harta.”

“Mendengar kicauan burung adalah harta.”

Sering kali saya tidak bersyukur, padahal sebenarnya saya sudah memiliki segalanya untuk bahagia.
Ada orang yang mungkin tak bisa melihat, tapi saya bisa. Banyak orang yang mungkin terlahir tuli dan tak pernah mengerti indahnya kicau burung, sedangkan saya bisa.

Melalui relaksasi total, saya juga diajarkan untuk mensyukuri setiap bagian dari tubuh, yang secara tidak langsung sudah menopang kehidupan setiap harinya.

Terkadang saya terlalu banyak keinginan yang pada akhirnya membuat saya sulit untuk berbahagia.
Demikianlah sudah selesai sudah sharing singkat dari saya. Itulah manfaat yang bisa saya bagikan kepada teman–teman.

Tak perlu dipercaya, silakan buktikan dulu sendiri. Ingat, ketika ingin berlatih, kuatkan tekad karena walaupun jalan sudah terbuka lebar, masih banyak rintangan di depan sana.

Be happy and be mindful, always! (Edwin Halim)*

*Musisi dan sekaligus pakar IT

Bersyukur Mengenal Praktik Hidup Sadar

Bersyukur Mengenal Praktik Hidup Sadar

Pagi itu saya lagi berias seperti biasa mau ke kantor, tiba-tiba hp saya berdering. Krrring-krrring, waktu saya lihat teryata dari adik laki-laki saya.

Halooo dia berkata “Maafkan saya ya mungkin waktu hidup saya sekarang ini sudah tinggal sedikit lagi.” Jantung saya mulai berdegup kencang. Saya bertanya, “Kamu kenapa?” Saya mulai membatin kacau, karena saya tahu dia lagi kerja urus renovasi rumah tante saya, lalu saya berpikiran apakah dia jatuh dari atas rumahnya?

Ternyata saya keliru, dia bilang “Saya sakit”, ini sudah tidak sanggup hidup lagi. Saya bertanya lagi “Kamu kenapa?” Ternyata dia demam panas tinggi dan tidak mau dibawa ke rumah sakit.

Pukul 10 pagi, saat itu juga saya segera meluncur ke rumah orang tua saya untuk melihat keadaannya dan apa yang sebenarnya terjadi. Sesampai di sana, saya melihat dia mengoceh terus dan ngomonganya ngelantur berkata dia sudah mau mati. Dia merasa sudah tidak sanggup menahan rasa sakit atau rasa panas di tubuhnya.

Waktu itu saya hanya duduk dan berpikir apa yang perlu saya lakukan ya? Ok,saya coba! Saya masuk ke kamar dan meminta dia meletakkan jari manisnya di bawah hidung. Saya bilang, “Tarik napas masuk, hembuskan napas keluar.” Saya minta dia ulangi beberapa kali. Lalu saya bertanya apa yang dia rasakan, dia bilang, “Dada saya sesak”.

Saya kembali meminta dia untuk bernapas lagi seperti tadi, napas masuk, napas keluar. Beberapa saat kemudian ruangan kamar pun menjadi hening.

Saya pun berlalu keluar kamar dan duduk di ruang tamu sambil menunggu. Tak terasa 15 menit berlalu, adik saya keluar dari kamarnya menuju toilet. Setelah dari toilet dia berjalan menuju kembali ke kamar untuk istrahat.

Saya melihat dia di kamar sudah tidak berselimut lagi dan sudah Relaks “Breathe you are alive!” Keadaannya sudah lebih baik, saya pun memutuskan untuk lanjut pergi ke kantor. Saya bersyukur dapat mengenal mindfulness ini beberapa bulan sebelum kejadian ini. (Sri)*

*Wanita karir, bersuami satu dan dua orang anak.

Mindfulness Class: Meditasi Jalan

Mindfulness Class: Meditasi Jalan
Meditasi Jalan siswa-siswi SD

“Take my hand we will walk,
we will only walk.
We will enjoy our walk without thinking of arriving anywhere.”
~Thich Nhat Hanh

Anak-anak senang sekali berlari atau tergesa-gesa. Oleh karena itu, meditasi jalan bukan saja dilakukan untuk siswa SD dan SMP, tapi juga oleh murid PG dan TK.

Dalam sesi bersama anak TK, saya tidak menjelaskan secara panjang lebar kepada mereka. Saya hanya menjelaskan secara singkat bagaimana nanti berjalan dengan tenang dan hening, sambil berucap ‘Terima kasih, Bumi’ atau ‘Thank you, Earth’ di dalam hati, dalam setiap langkah. Kalimat ini sengaja dipilih agar mereka perlahan dapat memahami betapa bumi telah sangat berjasa dalam perjalanan kehidupan kita.

Awalnya mereka dapat berjalan pelan. Tapi setengah perjalanan mereka sudah mulai tidak sabar dan kembali berjalan seperti biasa (baca: cepat). Tapi ada beberapa anak yang benar-benar serius melangkah dengan perlahan sambil mengamati langkahnya. Sambil bergandengan tangan, mereka mengatur langkah agar tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat bersama temannya.

Lain halnya dengan siswa SD dan SMP. Saya sengaja mencari lokasi di luar sekolah agar mereka dapat menikmati suasana baru. Kebetulan di sebelah sekolah ada kebun yang sangat luas dan memiliki kolam. Anak-anak sangat antusias mengetahui akan bermeditasi jalan di sana. Setelah selesai melakukan meditasi jalan, mereka diberi kesempatan untuk menikmati suasana kebun. Mereka juga diingatkan untuk dapat mempraktikkan ini di rumah atau di mana saja. Dari gerbang sekolah hingga ke kelas pada pagi hari, dari kelas ke kamar mandi sekolah.

Setiap langkah sadar penuh adalah seperti kita sedang mencetak jejak kaki kita ke bumi. Menjejakkan kaki seperti mencium bumi dengan kaki. Kita seharusnya tidak mencetak kesedihan, kecemasan, dan ketakutan kita pada bumi, tapi cetaklah kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian di setiap langkah kita. Kita dapat melakukannya sebanyak kita mau. Kapan saja ketika kita melangkah, kita dapat melakukan ini dengan penuh sadar.

Untuk siswa SMP pernah saya siapkan materi secara visual yang menerangkan tentang jalan berkesadaran ini sebelum mereka mulai mempraktikkannya. Beberapa video saya kumpulkan, diantaranya tentang flash mob meditation di Hong Kong dan trailer film ‘Walk With Me’. Sebagian besar kelas antusias menonton. Ini adalah pengetahuan baru bagi mereka.

Saat berjalan sadar penuh bersama para remaja ini, ternyata jauh lebih baik. Kami berjalan dalam hening, dengan perlahan, mengamati setiap langkah. Hanya ada dua atau tiga anak yang kurang konsentrasi. Tapi secara keseluruhan, saya senang mereka bisa mengikuti kegiatan ini. Hingga kembali ke kelas, suasana masih tetap tenang untuk beberapa saat. Beberapa anak mengakui menikmati jalan berkesadaran ini.

”I have arrived, I’m home
In the here, in the now
I’m solid, I’m free
In the ultimate, I dwell.”

Memberi pengetahuan dan pengalaman baru selalu deg-degan, harap-harap cemas tapi antusias. Saya tidak tahu seberapa banyak yang mereka serap dan ingat akan pelajaran-pelajaran ini. Tapi seperti kata guru saya, andaikan mereka tidak mendapat manfaatnya, paling tidak masih ada satu orang yang mendapatkannya. Saya. Ya, saya selalu mendapat pengalaman baru pada setiap kali kesempatan berbagi dengan mereka di kelas.

Di semester depan, telah saya siapkan beberapa materi baru lagi bagi mereka. Meditasi kerikil, meditasi kerja, meditasi gerakan, dan mengulangi beberapa materi sebelumnya. Mereka akan belajar bahwa meditasi tidaklah hanya berupa duduk diam dan memejamkan mata.

Meditasi adalah berlatih melakukan kegiatan keseharian kita dengan sadar penuh, baik dalam duduk, berjalan, berbaring, makan, kerja, bahkan mendengar suara lonceng atau genta. Sama halnya seperti sedang menanam benih kesadaran dan menyiraminya dengan baik setiap hari sehingga dapat tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan berguna, berlatih hidup sadar penuh sejak masa kanak-kanak akan membangun banyak karakter positif dalam diri mereka tumbuh hingga dewasa kelak. (Rumini Lim)*

“When we are mindful, deeply in touch with the present moment, our understanding of what is going on deepens, and we begin to be filled with acceptance, joy, peace and love.” ~Thich Nhat Hanh

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class

Mulailah Dengan Napas Masuk dan Napas Keluar

Mulailah Dengan Napas Masuk dan Napas Keluar

Tahun 2015 sebuah organisasi buddhis yag bernama SIDDHI (Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia) mengadakan acara yang bernama SMS (Siddhi Mindfulness Sharing), Waktu itu saya bersama dengan suami saya memutuskan untuk mengikuti acara tersebut.

Tema kali ini membahas sebuah Buku yang berjudul “The Art of Power” bersama Pak Adi Putra dari Jakarta, yang kebetulan teman seperguruan waktu di jakarta.

Jujur acara ini adalah acara yang pertama kali saya ikuti di komunitas ini, acaranya dimulai dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, saya tidak punya gambaran sama sekali acaranya seperti apa sebelumnya. Suasana di sana sungguh menarik, penuh dekorasi yang indah dan sejuk.

Nah waktu itu ada 2 orang biksu yang ikut hadir di acara tersebut. Acaranya dimulai dengan duduk hening. Saya hanya duduk dan melihat ke kanan dan ke kiri, saya berkata dalam hati ini duduknya mau seperti apa ya? Saya tidak tau kalau itu duduk meditasi. Saya juga belum pernah tau apa itu meditasi, lalu terdengar suara pemukulan Gong, Gong nya Besar sekali. Suasana pun langsung hening selama 15 menit. Setelah itu dilanjutkan dengan mendengarkan sharing mengenai buku” the art of power” yang disampaikan oleh Pak Adi Putra

Makan Siang Prasmanan
Pukul 12 siang tiba, ini adalah waktu yang paling saya tunggu-tunggu yaitu makan siang. Hati ini senang sekali. Nah waktu makan tiba kita semua mulai antri untuk ambil makanan kan, wahhh sayurnya enak sekali, o iya kita makan vegetarian ya, kata salah satu panitia. oh ok, no problem buat saya, tapi masalah buat suami saya, karena dia tidak suka makan sayur (senyum kecut).

Setelah selesai antri ambil makanan kita kembali duduk untuk makan bersama. Ini lebih seru lagi, panitia menjelaskan bagaimana cara makan di sesi makan bersama ini, teman-teman dalam sesi makan bersama ini, kita makan dengan hening ya selama 20 menit, dan kunyah sebanyak 32 kali, jadi tidak usah terburu-buru.

Dimulai dengan bunyi gong dan perenungan sebelum makan, waktu itu Saya tersenyum kecil sambil berpikir kunyah 32 kali. Saya masih belum mengerti apa ini. Saya tidak memperhatikan maksud dari semuanya ini. saya makan saja seperti biasa sambil melihat ke kiri dan ke kanan, serta sesekali senyum-senyum… melihat sekitar karena merasa aneh, dan lucu aja.

Napas Masuk, Napas Keluar
Kali ini adalah sesi penjelasan dari seorang Biksu (Brother), Sebelum mulai dengan apa yang mau dijelaskan brother bertanya, siapa saja yang baru ikut acara ini dan ternyata ada sekitar 50% dari para peserta yang baru pertama kali ikut acara ini.

Kemudian brother bertanya apa itu Mindfulness? ya kalau artinya sih Berkesadaran. Brother melanjutkan dengan bertanya lagi, kalau gitu yang dimaksud dengan berkesadaran itu apa? ya Sadar…???!!!! (jawab peserta)

Yang dimaksud dengan SADAR apa sih? Brother bertanya lagi. Suasana menjadi hening. Brother Menjelaskan cara atau proses kerja berkesadaran itu seperti apa

TUBUH:

  1. Identifikasi Napas Masuk, Napas Keluar
  2. Ikuti Napas Masuk, Napas Keluar
  3. Periksa Tubuh Napas masuk, Napas Keluar
  4. Relaks Napas masuk, Napas Keluar

PERASAAN:

  1. Nikmat Napas Masuk, Napas Keluar
  2. Bahagia Napas Masuk, Napas Keluar
  3. Periksa Perasaan Napas Masuk, Napas Keluar
  4. Relaks Perasaan Napas Masuk, Napas Keluar

Mulailah dengan Bernapas Masuk, dan Bernapas Keluar, melalui TUBUH dan PERASAAN. (Sri)*

*Wanita karir, bersuami satu dan dua orang anak.

Day of Mindfullness Sebagai Charger

Day of Mindfullness Sebagai Charger
Briefing sebelum chanting “Namo Avalokitesvaraya” oleh volunteers dan monastik

Bukan sekedar lima, enam, atau tujuh kali saya diajak ikutan DOM (Day of Mindfullness) yang diselenggarakan oleh teman-teman dari komunitas hidup berkesadaran Plum Village, bahkan saya sering melihat Informasi kegiatan ini muncul di wall Facebook saya, dan tentu saja ajakan itu selalu saya jawab dengan konsisten “kayaknya saya nggak bisa ikut deh”.

Sebenarnya bukan tidak bisa ikut, tapi ini soal “Mau atau tidak mau” ikut. Kalau sudah dari awal tidak mau ikut, maka akan muncul 1001 alasan untuk tidak ikut. Demikian sebaliknya, kalau sudah niat mau ikut, maka bagaimanapun godaan yang datang kita akan tetap berusaha untuk hadir”.

Kali ini saya diajak untuk jadi volunteer dalam kegiatan tsb bersama dengan teman saya, saya sanggupi, “okay saya ikut!”.

Bel Kesadaran
Hari sabtu pun tiba ditemani dengan hujan, Kegiatan dimulai pukul 08.30 dan saya tiba pukul 08.45. Saat saya masuk Sister Raising Moon sedang menjelaskan mengenai tata tertib, dan semua yang berkaitan dengan acara DOM ini. Instruksinya simpel, “Apabila anda mendengar bunyi bel, maka bawa kesadaran Anda kembali ke napas masuk, napas keluar di sini, dan saat ini”.

Sadari setiap aktivitas tubuh yang Anda lakukan, baik itu duduk, berjalan, makan, juga aktivas lainnya…. Berusaha untuk menyadarinya

Tentu saja semua peserta berusaha mengikuti instruksi yang diberikan, dalam kegiatan ini kita akan sering mendengar suara bel yang dibunyikan, seketika itu juga semua peserta diam. berusaha menyadari napas yang keluar dan masuk, berusaha untuk “kembali ke Rumah” ini, tubuh ini.

Ada kalanya saya tidak merasakan apa-apa, oh.. ternyata ini dikarenakan saya tidak hadir sepenuhnya pada present moment ini, tidak hadir sepenuhnya dalam napas ini.

Ada kalanya, saya merasa begitu nyaman, asik dan happy dengan napas ini, hadir bersama napas ini, damai. Namun kondisi tersebut timbul dan tenggelam, gambaran dari ketidakstabilan kesadaran saya.

Menyanyi Berkesadaran
Hal lainnya yang berbeda dalam kegiatan ini adalah peserta diajak untuk ikut menyanyikan lagu-lagu dari Plum Village, dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Lagunya singkat, namun padat bermakna. Dengan metode bernyanyi ini, kondisi relaksasi pun terbangun.

Dengan menggunakan metode bernyanyi ini, kita kembali diajak untuk sadar, hadir sepenuhnya di sini dan sekarang. Lirik lagunya menyejukkan hati, menenangkan dan menyadarkan, ini salah satunya :

“Happiness is here and now.
I have dropped my worries.
Nowhere to go, nothing to do. No longer in a hurry.

Happiness is here and now.
I have dropped my worries.
Somewhere to go, something to do.
But I don’t need to hurry”

Merasakan Makanan
Saat jam makan siang tiba, semua peserta perlahan berjalan menuju ke ruang makan di lantai dasar. Dengan perlahan menuruni tangga, berbaris rapi. Satu persatu peserta mengambil makanan dan masuk ke ruang makan, sambil menunggu peserta yang lainnya. Duduk dengan hening, sambil terus berusaha menjaga kesadaran. Memang bukan hal yang mudah, raut wajah boleh saja tampak tenang, namun belum tentu pikiran hadir di sini dan saat ini.

Makan dengan kesadaran adalah makan dengan dapat merasakan rasa makanan, tekstur makanan, dan semua aktivitas yang terjadi di dalam mulut kita. Saat mulut menyentuh makanan, lidah merasakan rasa, gigi yang saling bertautan sampai dengan tenggorokan yang merasakan makanan lewat.

Makan kali ini terasa lebih lama, lebih lamban namun lebih berarti. Menjadi berarti karena kita dapat merasakan rasanya makan, makan tanpa buru-buru. Acap kali ketika merasakan makanan enak saat makan, kita akan makan satu suap ke suapan berikutnya secara cepat, karena ingin segera merasakan rasa enak pada suapan berikutnya.

Namun dengan cara makan seperti itu, sebenarnya kita sama sekali tidak benar-benar merasakan rasa enaknya makan. Rasa enaknya makan hanya akan muncul saat kita makan dengan penuh kesadaran, hadir secara utuh di sini dan saat ini.

Kedengarannya memang mudah, tapi perlu latihan yang konsisten. Dalam kegiatan DOM ini, kembali kita diingatkan, dikondisikan dan diajarkan untuk makan secara berkesadaran.

Senam & Yoga
Aktivitas meditasi duduk dalam jangka waktu tertentu dapat membuat beberapa bagian tubuh kita menjadi pegal-pegal dan kurang nyaman. Namun jangan khawatir, dalam kegiatan DOM kita diajak untuk Senam berkesadaran dan Yoga. Saya sendiri merasakan hal ini sangat membantu merelaksasikan otot-otot tubuh yang tegang, dapat disebabkan karena aktivitas kerja sehari-hari kita maupun karena duduk terlalu lama.

Gerakan senam yang diajarkan tidaklah rumit, hanya berupa gerakan sederhana namun tepat sasaran. Gerakan tubuh harmoni dengan napas masuk dan napas keluar, sehabis mengikuti senam dan yoga saya merasakan otot-otot tubuh menjadi relaks dan nyaman saat kita kembali melakukan meditasi duduk.

Anton (Baris atas, nomor 2 dari kiri)

Walk With Me
Walk With Me” merupakan sebuah film yang dibuat di Plum Village, menceritakan kehidupan Monastik Zen di sana dengan aktivitas harian mereka mulai dari menyiapkan makanan, mencukur rambut, menyambut peserta retret/tamu, menghadiri wejangan Dharma dari Bhante Thich Nhat Hanh, dan duduk untuk meditasi. Menggambarkan perjuangan para monastik yang bertahun-tahun menjalani latihan sebelum menemukan kedamaian batin. Tidak banyak percakapan yang terjadi di film tersebut, namun pesannya jelas akan membuat kita tersadarkan betapa berharganya kedamaian batin.

Kesemua aktivitas yang dirancang dalam kegiatan DOM ini tidak lain adalah sebuah upaya untuk memunculkan kembali kesadaran kita di sini dan saat ini. Bagi kita yang selalu sibuk dengan semua rutinitas, tentu butuh sesekali “berhenti” sejenak dan kembali menyadari tubuh dan pikiran ini. Kebanyakan dari kita sering mendengar tentang meditasi, tau bagaimana bermeditasi, tau arti penting untuk selalu hidup sadar, namun seberapa baik praktik berkesadaran kita?

Kegiatan DOM ini ibarat Charger, charger untuk men-charge latihan kita untuk menyadari tubuh dan pikiran ini. Charger untuk kualitas diri yang lebih baik. (Anton Vijja Nanda)*

Marilah terus berlatih, hingga mencapai kesadaran tertinggi
Marilah terus berlatih, hingga mencapai kebuddhaan yang sempurna

*Peserta dan Voulentir DOM Pusdiklat Bodhidharma Jakarta, 20 Jan 2018

NoBar Perdana Walk With Me

NoBar Perdana Walk With Me
Kshantica: baris depan, kedua dari kiri

Ketika Bhante Nyanabhadra pertama kali menanyakan; “Indonesia, siapkah screening Film Walk With Me?

Saya sama sekali tidak tertarik, saya tidak berbakat untuk membuat video sependek apapun filmnya, sehingga saya tidak menjawab apa pun ketika itu.

Beberapa bulan berlalu, kembali topik film ini ditanyakan, akhirnya penasaran saya bertanya, “Siap apa sebenarnya?

Ternyata kesiapan yang dimaksud adalah kesiapan untuk tayang di bioskop seperti peruntukan film ini dibuat oleh Marc J. Francais & Max Pugh, menyusul negara-negara lain yang sudah tayang di sinema umum seperti di Perancis, Thailand, Taiwan, dan Selandia Baru.

Ini bukanlah referensi film, jadi saya tidak akan mengulas film dokumenter Walk With Me namun menceritakan rasa yang timbul saat menontonnya.

Akhirnya nobar (nonton bareng) film ini diadakan perdana dalam Day of Mindfullness di Pusdiklat Bodhidarma, pada Hari Sabtu tanggal 20 Januari 2018. Membludaknya pendaftar dibandingkan kapasitas umum Pusdiklat tidak menyurutkan semangat berlatih mempraktikkan meditasi terapan ini.

Film ini sungguh luar biasa, selama menonton saya berdoa, semoga suatu hari nanti ketika semangat belajar ajaran Guru sudah jauh menyusut, ketika orang-orang sudah melupakan cara berlatih, lupa cara hidup dalam komunitas, ketika orang-orang lupa bahwa monastik juga memiliki orang tua dan mereka diizinkan untuk bertemu sanak keluarga, ketika orang-orang sudah lupa bahwa belajar ajaranNya bukan berarti hanya duduk memegang dupa, mendaraskan doa sepanjang hari, saat itulah film ini ditemukan kembali. Haru biru menyelimuti hati, luar biasa… Luar biasa… Luar biasa…

Dalam ceramahnya, Bhante Nyanabhadra mengingatkan bahwa Kita saat ini berlatih menerapkan kesadaran dalam setiap kegiatan keseharian, kita menyadari bernapas mendalam dan lambat. Berperilaku kalem dan ease, selalu hidup present moment (kekinian), dan tahu saat ini adalah saat terindah. Saya menjadi mengerti hidup berkesadaran adalah sebuah sebuah seni, bisa dipelajari, seiring latihan maka makin terasah.

Sepanjang berlatih, energi kolektif positif dari semua peserta, volunteer dan Sanggha menular, sungguh sangat meditatif, saya hidup sekarang, saat ini, I am joy! (Kshantica)

Berhenti di Saat Ini

Berhenti di Saat Ini
Foto bersama, kebaya Indonesia. Sri (barisan depan, dari kanan pertama)

Cerita ini adalah perjalanan saya ketika mengikuti retret di Plum Village Thailand, retret ini merupakan hadiah terindah dari orang yang saya sayangi. Retret ini bertemakan “Walk With Me“, ini adalah retret pertama saya di Thailand. pada tanggal 23 desember saya berangkat dari Bandara Kualanamu Medan menuju Thailand.

Kita ada 14 orang yang berangkat pada waktu itu, ada hal menarik yang terjadi ketika kita tiba di bandaraThailand untuk ambil koper, Sudah keliling mencari koper, ternyata 20 koper kita ketinggalan di bandara Kuala Lumpur.

Kita hanya tertawa saja dan lanjut untuk mengurus proses pengantaran koper, lalu kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Plum Village yang berjarak 3 jam dari bandara Svarnabhumi Thailand dan bermalam tanpa baju ganti. Koper kami tiba di Plum Village pukul 2 pagi dini hari.

Aku Rindu
Ketika saya tiba di Plum Village, saya menikmati keindahan suasana di sana, tempatnya begitu sejuk karena berada di antara gunung dan ada perbukitan.

Dalam hati ini berkata “saya mau bersama keluarga berada di sini” karena saat ini saya hanya seorang diri hadir untuk mengikuti retret ini, hati ini menjadi sedikit sedih.

Jantung saya mulai berdegup kencang, lalu saya teringat untuk bernapas masuk dan napas keluar. Saya tau saat ini saya sendiri di sini, saya berhenti di saat itu juga untuk bernapas. Aku tak mau lukai hati ini, tubuh, dan pikiran ini, tapi saat ini aku sendiri. Aku sadari aku bernapas, aku bahagia, aku tahu napasku untukmu.

Bertemu Kembali
Pagi itu sangat cerah sekali, saya memutuskan untuk berjalan pagi untuk melihat sekeliling tempat saya menginap, karena waktu itu saya tiba di sana sudah malam dan langsung tidur. Tempat ini ternyata begitu luas, berada di puncak dan dikelilingi beberapa bukit dan ada gunung. Pemandangannya begitu indah sehingga membuat udara di sini dingin di malam hari dan sejuk di siang hari.

Saya berhenti sejenak dan duduk di atas sebuah batu untuk menikmati pemandangan, langit, suara burung, awan, dan burung yang beterbangan di atas, serta angin yang berhembus dingin menerpa wajah saya.

Bernapas masuk, bernapas keluar, saya melihat langit yang cerah dan burung berterbangan.

Bernapas masuk, bernapas keluar, saya mendengar suara-suara burung berkicau
Bernapas masuk, bernapas keluar, hatiku terasa damai.

Saya merasakan sesuatu yang hilang telah kembali lagi, ya, perasan hati ini, hati yang selama ini saya rindukan, akhirnya saya temukan kembali, dan sekarang saya mengerti bagaimana cara saya agar dapat kembali, dengan berhenti sejenak untuk melihat dan mendengar apa pun itu sehingga aku dapat merasakan hati yang damai. Perlahan kulepaskan lipatan kakiku dan turun dari atas batu untuk melanjutkan perjalanan pagi ku mengelilingi lokasi tempat saya retret dengan senyum pagi yang indah, SMILE….

Jasmine Tea
Kegiatan Reret selama beberapa hari, yang diawali dengan bangun pagi untuk meditasi duduk, meditasi berjalan, meditasi sarapan pagi, meditasi kerja, Dharma talk, meditasi makan siang, relaksasi total. Sesi yang membuat saya paling setresss adalah Dharma sharing group.

Baru disadari bahwa saya berada di grup yang pesertanya adalah orang dari berbagai Negara. Saya tidak pandai berbahasa Inggris, dan saya hanya punya satu teman di dalam grup yang juga tidak begitu lancar berbahasa Inggris.

Grup saya adalah “Jasmine Tea“, saya hanya dapat menyebutkan nama dan beberapa kata saja yang dapat saya ucapkan, di sini saya ingin bercerita tentang kegiatan kita, setiap grup perlu membuat sebuah pertunjukan untuk menyambut malam tahun baru. Waktu kita hanya ada 3 jam untuk mempersiapkan latihan sebelum tampil.

Kekacauan
Grup saya memutuskan untuk membuat drama tentang “KEKACAUAN“ yang terjadi ketika ingin sampai di Plum Village Thailand untuk mengikuti retret, yang pertama di mulai dengan kekacaun dari naik taksi yang mana teman saya bernama George sebagai penumpang dan Mr. Bunn sebagai supir taksi Thailand yang tidak mengerti bahasa Inggris.

Kekacauan pun terjadi ketika supir salah mengantar George ke bandara, di Thailand ada 2 bandara penerbangan keributan pun terjadi, tiba–tiba terdengar suara bel dan mereka berdua pun hening, lalu George menuliskan di sebuah kertas ke bandara mana yang dia mau.

Sekarang masuk dengan KEKACAUAN di imigrasi, kini giliran saya yang berperan sebagai staf wanita imigrasi. Di imigrasi sering terjadi kekacauan tentang VISA dan berebut antrian untuk cap paspor, bukankah begitu?

Saya mengambil peran ini karena keterbatasan saya berbahasa Inggris, jadi saya hanya perlu mengucapkan kata No No No… you need VISA. Kekacauan timbul, terdengar suara bel .. silent dan saya memutuskan semua pengunjung untuk masuk tidak pakai visa.

Semua berjalan happy sampai di penjemputan menuju ke Plum Village. Walaupun degan keterbatasan saya dalam berbahasa kita adalah satu keluarga “Jasmine Tea” we are happy.

Terima kasih, dengan Latihan Retreat Mindfulness ini saya dapat belajar dan mengerti, hingga saya memahaminya, dengan keterbatasan berbahasa inggris, yang membuat saya benar–benar pasang telinga dan mata untuk dapat mengerti apa yang sedang mereka bicarakan dalam sharing group, serta saat mereka bertanya ke saya. (Sri)

Foto-foto dari Core Sangha Retreat @ThaiPlumVillage

Foto Core Sangha Retreat Des 2017

Foto Core Sangha Retreat Des 2017

Mindfulness Class: Relaksasi Total

Mindfulness Class: Relaksasi Total
Ruang relaksasi total untuk anak sekolah

Apa yang terpikirkan anak-anak ketika saya umumkan bahwa pelajaran mendatang adalah meditasi tidur? Ya, mereka berpikir akan tidur. Apalagi saya memperbolehkan mereka membawa baju tidur dan selimut. Mereka berpikir, “Asyik, akan bisa tidur siang.”

Tetapi ada juga yang bingung membayangkan bagaimana bisa meditasi sambil tidur? Haha..

Ternyata ketika dipraktikkan, tidak seperti yang saya dan mereka bayangkan. Saya membayangkan mereka akan seperti para guru yang dapat mengikuti dengan tenang saat pelatihan guru beberapa waktu lalu. Sedangkan mereka membayangkan dapat langsung tidur ketika meditasi dimulai. Mereka tidak menyangka akan mendengar suara saya membimbing mereka sepanjang meditasi berlangsung untuk merilekskan tubuh mereka.

Di kelas kecil, awalnya mereka bisa berbaring tenang. Tapi beberapa menit kemudian ada beberapa yang mulai gelisah. Ada yang bangun, lalu duduk dan tidak berbaring lagi. Karena saya sedang memimpin sesi ini sendirian, maka saya memilih untuk tetap melanjutkan sesi ini tanpa terpengaruhi oleh mereka. Tapi itu hanya satu dua orang saja.

Banyak yang dapat tertidur di tengah meditasi. Ada beberapa yang terjaga hingga selesai tanpa tidur tapi tidak mengganggu temannya. Mereka belum terbiasa. Ini pengalaman pertama buat mereka. Saya memahami keadaan mereka, jadi saya tidak marah pada mereka. Sebenarnya hanya beberapa anak yang tidak bisa mengikuti, masih banyak anak yang dapat mengikuti dengan baik. Bahkan ada beberapa anak yang benar-benar tertidur lelap.

Ketika sesi relaksasi selesai, saya membahas dengan mereka. Ada yang mengaku tidak terbiasa tidur siang, jadi mereka gelisah. Ada yang terganggu dengan temannya yang tidak mengikuti tadi. Tapi banyak yang mengatakan bahwa mereka menikmati sesi ini. Terutama menyukai ketika saya menyanyikan beberapa lagu, serasa dininabonokan. Haha.. Dan ketika saya menanyakan apakah mau jika ini diadakan lagi, mereka menjawab, “Mauuuuu..”

Ya, pengalaman pertama sering tidak sesuai dengan yang kita bayangkan. Saya tidak menyalahkan anak-anak itu. Mudah-mudahan di sesi berikutnya mereka akan lebih mengerti dan bisa mengikutinya dengan baik. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk membentuk diri mereka sesuai dengan yang kita inginkan. Biarkan mereka mengolah diri dan cara berpikir mereka sesuai kematangan masing-masing. Jika mereka paham, pasti mereka akan bisa mengikuti dengan sendirinya.

Berbanding terbalik dengan siswa SMP, meditasi ini merupakan salah satu kegiatan favorit mereka. Mungkin karena mereka telah melakukannya berkali-kali dan telah terbiasa sehingga dapat menikmatinya. Banyak yang dapat menggunakan waktu ini untuk rileks dan segar kembali ketika bangun untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya. (Rumini Lim)*

“And when I rise, let me rise
Like a bird, joyfully
And when I fall, let me fall
Like a leaf, gracefully
Without regret.”

Panduan relaksasi total tersedia di sini dan juga sini

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class

Happy Teachers Gathering

Happy Teachers Gathering
Happy Teachers Gathering @ThaiPlumVillage (Dec 2017)

Bayangkan 500an orang berkumpul di satu tempat, hanya satu kata, bising! Namun Plum Village punya cara untuk membuat semua orang hening dengan memancarkan secercah senyum, itu yang terjadi pada Retret Core Sangha penghujung tahun di Plum Village Thailand sejak 25 Desember 2017 s.d. 1 Januari 2018.

Plum Village Thailand menjadi pusat latihan bagi kawasan Asia Pasifik. Tradisi Zen yang diasuh oleh Zen Master Thich Nhat Hanh yang kerap disapa Thay (artinya guru), yang mana beliau sedang dalam tahap penyembuhan dari stroke yang mendera beliau sejak 2014.

Thay memberi pesan cukup jelas untuk membantu para guru, meminta para murid-murid monastik maupun sahabat awam untuk memberikan perhatian khusus kepada guru sekolah. Oleh karena itulah muncul program “Happy Teachers Change The World“. Program membawa “mindfulness” (sadar penuh) yang lebih praktis dan sekuler ke dunia pendidikan.

Penerbit Parallax telah menerbitkan buku “Happy Teachers Change The World” yang merupakan kerjasama dari Plum Village dan Katherine Weare yang merupakan pakar pendidikan dari Inggris. Buku ini bisa diperoleh dari sini.

Kesempatan berkumpul selalu dipergunakan untuk membangun jaringan, terutama yang berkaitan dengan misi pendidikan. Ho Gia Anh Le, guru yang berasal dari Vietnam, saat ini mengajar di Singapura; ia menginisiatifkan pertemuan para pendidik yang kebetulan hadir dalam retret core sangha tersebut.

Beberapa teman dari Indonesia juga tampak hadir, Ibu Linda Roesli dan Novi mewakili sekolah Nanyang Zhi Hui Medan, Shantum Seth mewakili jaringan pendidikan dari India, dan beberapa negara lainnya yaitu dari Vietnam, Thailand, Jerman, Perancis, dan lain-lain.

Masing-masing membagikan bagaimana mereka membawa “mindfulness” ke dunia pendidikan, bagaimana reaksi anak-anak terhadap program ini. Semua orang merasa pertemuan ini perlu sering dilakukan agar bisa saling memberikan semangat dan inspirasi segar.

Benih sudah ditanamkan, semoga jaringan “Happy Teachers” Asia bisa melakukan sesuatu lebih konkrit di kemudian hari. Nanti mungkin akan ada kegiatan bersama, seperti konferensi mindful teachers sebagaimana yang disarankan oleh Thay Phap Kham (Dharmacharya senior dari Asia Pasifik). Kita tunggu kabar berikutnya. (Pháp Tử)