Apakah Ada yang Salah Baju?

Apakah Ada yang Salah Baju?
Saraswati: Dewi Kearifan dalam tradisi Hindu, Museum New Delhi

Melayari kehidupan seperti layaknya mengarungi samudra, kadang arus bergerak perlahan, tiada angin, kadang permukaan air tenang dengan angin sepoi-sepoi, kadang arus mengganas dengan badai yang terjadi akibat panas dan udara yang lembap dari permukaan laut naik ke atmosfer Bumi, melewati kehidupan berarti bertahan dari perubahan.

Freud menyebut naluri sebagai dorongan internal, ada dorongan untuk bertahan hidup atau melanjutkan keturunan. Kemudian Freud juga menyebutkan dorongan agresi atau kehendak merusak. Naluri atau dorongan ini berkaitan erat dengan insting.

Well-being
Berbicara religiositas maka otomatis mengarah pada psikologis positif (Well-being psychological), psikologis ini sebenarnya menjadi kekuatan untuk menghadapi agresi, karena semua makhluk ingin terus bertahan hidup dan mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kematian. Tak heran jika muncul istilah religius insting yaitu naluri untuk menyembah kekuatan eksternal.

Tak heran banyak pakar setuju bahwa kehidupan religius hendaknya menurunkan kecemasan, kegelisahan, dan ketegangan, membawa ketenangan kalbu. Jika kehidupan religius tidak mampu mentransformasi kecemasan dan ketakutan yang berasal dari ketidakpastian hidup, maka sia-sia manusia menempuh kehidupan religius.

Penulisan Kitab Suci
Sistem penyebaran Agama Buddha pada zaman dahulu selalu melalui lisan, namun akhirnya muncullah dorongan untuk menuliskan semua ajaran itu. Mencermati alasan di balik penulisan Tipitaka, seorang cendekiawan menulis The Story of Buddhis in Ceylon menyebutkan beberapa hal yang menarik berikut ini:

Sri Lanka yang saat itu disebut sebagai Pulau Lanka sering menjadi sasaran empuk serangan dari kelompok non buddhis. Pada saat itu Mahavihara merupakan pusat penyebaran Agama Buddha, jika banyak terjadi pertempuran dan gejolak politik, tentu saja semua aktivitas di Mahavihara akan terganggu dan ditelantarkan. Guru dan murid mengalami kesulitan bahkan karena satu dan lain hal akan memisahkan mereka sehingga proses pewarisan akan putus.

Sistem pewarisan ajaran secara lisan akan menjadi kelemahan yang signifikan, apalagi berbagai bencana kelaparan mengakibatkan jumlah kematian akan meningkat. Para monastik menyadari sepenuhnya kondisi kelaparan membuat proses penyebaran Dharma menjadi macet, mereka sudah mengalaminya berkali-kali situasi seperti ini.

Kualitas manusia yang bergabung dalam sanggha monastik juga makin hari makin menurun. Mereka yang hanya menumpang hidup atau bahkan tidak bertanggung jawab, mereka tidak bisa menjadi pewaris Dharma. Kitab mahavamsa menyebutkan inilah salah satu alasan penting untuk menuliskan Tipitaka (Mahavamsa 33, 101).

Perpecahan dalam sebuah sekte menjadi sekte baru menjadi pemicu berbahaya juga. Sebut saja perpecahan dalam tubuh Mahavihara sehingga lahirlah Abhayagirivihara dan Raja yang berkuasa saat itu berpihak pada salah satunya, yang seharunsya membantu rekonsiliasi. Para monastik lainnya memilih untuk menulis Tipitaka di pinggiran propinsi, di tempat yang lebih sepi.

Beda Prinsip
Saya cukup lama malang melintang di dunia organisasi buddhis, saya juga sudah bertemu dengan beraneka sifat dari orang yang ikut aktif dalam organisasi demikian. Lumrah melihat semangat mereka naik dan turun, ketika melihat ke dalam diri sendiri, saya juga menyadari bahwa semangat latihan saya juga serupa, sering naik, turun atau malah nyaris hilang.

Perpecahan terjadi berawal dari prinsip yang berbeda. Hal ini tidak bisa dipungkiri, bahkan ada sekte yang terus berpecah menjadi puluhan sekte baru, ada yang melepaskan diri karena idealisme personal. Pertanyaannya adalah apakah jika seseorang tidak berada di sebuah organisasi besar lagi, lalu dia dicap sebagai orang yang keliru?

Salah Baju
Ketika kita bersama-sama dalam sebuah organisasi, maka kita menyebutnya sebagai satu keluarga spiritual, dengan menggunakan “baju” yang sama. Ketika seseorang mengundurkan diri dari organisasi itu, kedua pihak dianggap sudah putus hubungan keluarga, lalu ketika masing-masing sudah berbeda baju, sehingga satu pihak merasa organisasinya lah yang paling benar, oleh karena itu patutkah pihak sana melontarkan kalimat “kamu salah baju”?.

Sungguh ironis menyebut bajunya sendiri yang paling benar, lalu baju orang lain salah. Ini yang disebut sebagai terjebak pada baju (bungkus) atau container, dan melupakan isi (content). Tampaknya ini kanker yang berpotensi menghadirkan perpecahan makin besar lagi.

Buddhadharma Universal
Saya tetap berpegang pada etika universal, kejernihan batin serta keyakinan saya atas Buddhadharma. Ada beberapa pertanda keyakinan saya tersebut misalnya, saya sangat tersentuh dengan hanya membaca tulisan dalam sebuah video klip singkat yang berjudul Buddha My Father, saat itu seluruh urat nadi saya bergetar dari kepala sampai ke ujung-ujung jari kaki dan tangan, air mata pun berlinang keluar.

Ada beberapa hal lain yang masih membuat saya setia pada Buddhadharma, sebut saja kisah suatu malam saya berpapasan dengan seorang Biksu tradisi Vajrayana, tampaknya beliau barusan selesai memberikan wejangan Dharma, sayang sekali saya tidak ikut program itu, lalu muncul perasaan sedih.

Malam itu ketika saya tidur, saya justru bermimpi mengikuti wejangan Dharma itu. Ada adegan saya berjalan dari kamar kecil kembali ke aula besar tapi saya malah tersesat dan tiba pada ruang sanggha yang mewah dan indah. Saya juga melihat labirin dengan penuh lukisan dan simbol-simbol buddhis berwarna merah muda.

Potongan mimpi selanjutnya terlihat saya sedang berupaya keluar dari labirin dan tiba di lapangan luas di Bodhgaya tempat Yang Mulia Dalai Lama sedang memberikan wejangan Dharma. Dari kejauhan tertampak bangunan khas Bhutan dan Nepal. Ternyata saya terlahir sebagai orang Bhutan pada zaman dahulu. Mimpi saya berakhir di sana.

Fungsi Baju
Saya merasa jejak yang ditinggalkan oleh ajaran Buddha memberi dampak besar, ada benih dalam diri saya yang tersentuh sehingga muncul visualisasi demikian dalam mimpi.

Terserah Anda berada di sekte yang mana, terserah Anda berada di organisasi yang mana, terserah baju apa pun yang Anda kenakan, kita perlu selalu ingat bahwa baju untuk melindungi diri dari panas, sengatan serangga, dan menutupi bagian-bagian tertentu.

Saya yakin, fungsi baju untuk melindungi manusia, sungguh tak bijak apabila hanya sekadar digunakan untuk memupuk sang “aku-organisasi” lalu menuding orang lain salah baju.

*CHÂN MINH TUYỀN (真明泉) anggota Ordo Interbeing Indonesia, volunteer retret mindfulness, wanita karir, sekaligus adalah apoteker yang juga meraih gelar master di bidang manajemen pendidikan

Teruslah Berlatih Teruslah Berbuat Kebaikan

Teruslah Berlatih Teruslah Berbuat Kebaikan

Wihara Ekayana Serpong (WES) kembali mengadakan kegiatan DOM (Day of Mindfulness), pada tanggal 3 Mar 2018, kegiatan yang bertujuan agar para pesertanya dapat berlatih sadar penuh sepanjang sesi latihan. DOM kali ini, dibimbing oleh Sister Rising Moon.

DOM kali ini punya kesan tersendiri bagi saya, karena saya berhasil, membawa serta kedua orang tua saya untuk ikut berlatih. Dan ini juga kali pertama saya mengikuti DOM di WES.

Sepanjang latihan awal, ketika meditasi duduk, orientasi dan ceramah, jujur hati saya tak begitu tenang, karena saya juga mengamati kedua orang tua saya. Membantu mengingatkan mereka ketika bel untuk menarik napas. Membantu membukakan halaman agar mendukung mereka untuk berlatih.

Jam istirahat pun tiba, orang tua saya bercerita. Mama kakinya cepat pegal. Papa juga agak terkantuk karena bangun terlalu pagi. Saya bersyukur, saya yang masih “lebih muda” sudah mulai mengenal praktik latihan ini. Dan saya sadar, tanpa adanya mereka, tak akan ada tubuh ini, dan tidak mungkin saya bisa berlatih. Sudah tugas saya untuk mengenalkan mereka latihan ini. Semoga dukungan komunitas dapat membantu mereka dalam latihan.

No Mud, No Lotus
itulah tema DOM kemarin, yang bisa di artikan, tak ada kebahagiaan (Lotus = Teratai) tanpa penderitaan (Mud = lumpur).

Seperti yang di ceritakan sister, kadang kita tidak menghargai gigi kita, kita tidak bersyukur ketika gigi kita baik dan tidak sakit. Harusnya kita bahagia. Tapi begitu kita sakit gigi, baru kita menyadari sebenarnya ketika gigi kita sehat, itulah kebahagiaan.

Begitu juga dalam hidup saya ini. Saya sadar betul, hal yang menarik saya kembali untuk latihan, salah satunya karena mengalami penderitaan kehidupan.

Saya letih akan kebahagiaan semu. Makan, bermain, karaoke, jalan–jalan, nonton bioskop, semua itu memang asyik. Tapi tidak juga memberikan jawaban atas permasalahan kehidupan saya. Setelah melakukan itu semua, saya tetap harus menghadapi permasalahan hidup ini. Bagi saya, hal itu hanyalah pengalih perhatian, maka dari itu, saya menganggap hal semacam itu hanyalah kebahagiaan yang palsu.

Pikiran saya dulu
Melihat keadaan kedua orang tua saya, saya menyadari, pentingnya berlatih selagi muda. Kadang pun masih bisa ada rasa menyesal yang timbul, kenapa tidak dari kecil saya berlatih. Tapi kembali, penyesalan tak ada gunanya.
Saya mencoba menelusuri dan mengingat, pola pikir saya ketika kecil. Aaah, saat itu memang hidup saya masih “baik-baik” saja. Tak ada masalah, tak ada yang perlu dipusingkan.

Ternyata oh ternyata. Terima kasih masalah, you save my life!

Apa lagi ya yang jadi alasan ketika muda saya tak berlatih?

Oo.. dulu saya merasa, meditasi itu menjenuhkan. Duduk diam. Ngapain coba? Tapi saya sekarang sadar, dulu pengertian saya kurang tepat. Meditasi ternyata tidak harus duduk, tapi bisa hanya dengan cukup sadar dan menyadari napas.

Apalagi ya pikiran yang membuat saya tak berlatih dulu?

Mmm… Oo, karena rasa “malas”. Nanti ajalah, mau happy–happy duluan. Namanya juga bocah, masih pengen main game, masih ingin haha hihi. Jalan–jalan. Nonton. Dan ternyata satu kata “nanti” itu lamaaaaa sekali. Bertahun–tahun lamanya.

Yap, no mud no lotus, penderitaan yang membawa saya ke jalan ini. Dengan merasakan penderitaan, saya berusaha mencari sebabnya, dan mulai mengubah bentuk mental. Dengan mendengar ceramah dan berlatih hidup sadar, perlahan saya mengerti dan hidup terasa lebih berarti.

Kematian tak dapat diprediksi
Berpikir tentang kematian, menjadi sebuah cambuk dalam diri saya untuk terus berbuat baik. Saya sadar, cepat lambat, kematian adalah pasti. Saya tidak tahu, siapa yang berangkat lebih duluan. Mungkin saya, atau keluarga. Tapi dengan menyadari ini, saya tetap berusaha mawas diri dan melakukan kebaikan.

Waktu berjalan cepat, terutama bila tidak kita sadari. Dengan menyadari hidup, setiap tarikan napas itu berarti. Setiap tindakan kita, yang mungkin kecil, pasti ada membawa perubahan. Baik atau buruk, tergantung yang kita lakukan.

Kematian bukanlah hal yang kita takutkan. Tapi penting sekali untuk mengetahui, amat sulit terlahir menjadi manusia. Bayangkan seekor penyu yang muncul 100 tahun sekali untuk menarik napas di tengah samudra, dan ketika muncul ke permukaan, ada gelang berbentuk lingkaran yang ukurannya pas dengan leher penyu tersebut. Ketika penyu itu muncul dan masuk ke dalam gelang, kelahiran sebagai manusia terjadi.

Tidak ada salahnya mengejar kebahagiaan materi dan duniawi, tapi seimbangkan dengan berlatih. Bayangkan ada seorang kaya, dengan kekayaan 5 miliar. Tapi sudah meninggal, Anda diminta bertukar tempat dengannya, Anda dapat 5 miliar tapi langsung mati, apakah Anda mau ?

Dengan mengetahui sulitnya menjadi manusia, kiranya kita bisa lebih menghargai setiap detik dalam hidup ini. Karena waktu yang telah pergi tak akan pernah kembali. Jadikanlah hidupmu, selalu berarti..

Teruslah berlatih, teruslah berbuat kebaikan.

Be mindful and be happy! (Edwin Halim)*

 

*Musisi dan sekaligus pakar IT

Bangga Menyatakan bahwa Komunitasku adalah Keluargaku

Bangga Menyatakan bahwa Komunitasku adalah Keluargaku
Foto bersama retret pembina GABI Wihara Buddhayana Surabaya

Perjalanan hari ini ternyata cukup panjang. Saya baru pulang dari Palu dan secepatnya ke wihara Buddhayana di Putat Gede, Surabaya. Di sana saya sudah ditunggu. Saya merasa beruntung karena tidak perlu berangkat sendiri.

Ingin hati kami segera berangkat, namun badan saya protes. Kecapekan membuat saya muntah. Jadi saya isi dulu perut saya, baru secepatnya tancap gas menuju Villa Dharma di Prigen, Pasuruan. Perjalanan lancar. Kami berangkat sebagai grup terakhir untuk mengikuti retret hidup berkesadaran bagi pembina GABI (Gelanggang Anak Buddhis Indonesia).

Kami tiba sudah cukup larut malam. Briefing sebentar mendengarkan pembagian kamar dan dijelaskan bahwa praktik pertama yang kami lakukan adalah noble silent. Setelah semuanya beres, kami juga sudah siap menuju dunia mimpi.

Makan Pagi Berkesan
Pagi hari, kami mulai dengan meditasi duduk sekitar 30 menit, kemudian dilanjutkan dengan meditasi jalan pelan mengelilingi area villa serta menikmati udara segar pagi dan pemandangan indah.

Kegiatan selanjutnya adalah sarapan, kami mengantri menggambil makan, setelah semuanya duduk, kami mendengarkan lonceng dan doa renungan singkat. Kami punya waktu makan dengan pelan dan hening selama 15 menit.

Makan pagi itu sangat berkesan bagi saya, udara pagi yang sejuk membuat hati menjadi lebih tenang. Sesekali saya mendengar ada kicauan burung merdu tak lupa sesekali juga mendengarkan suara bising dari kendaraan. Kala itu, saya menikmati dan merasakan suasana makan pagi yang sangat khidmat.

Kami diberikan waktu untuk istirahat dan bersih diri sebelum acara selanjutnya dimulai. Kegiatan menyanyi beberapa lagu mindfulness, mendengar sharing dari bhante dan gerak berkesadaran.

Membuka Mata
Workshop pagi itu sangat sederhana, kami diajak untuk jujur kepada diri sendiri dan menyadari sifat-sifat yang sudah ada dalam diri. Sungguh luar biasa, bahkan di luar dugaan. Workshop ini membuka mata saya lebih lebar tentang diri sendiri dan komunitas saya.

Semenjak SMA saya tidak memiliki hubungan akrab dengan kedua orangtua. Saya ternyata adalah anak pembangkang, itu bahkan makanan setiap hari. Saya sedang merefleksikan ulang, apa yang saya rasakan pada saat workshop itu.

Sesi workshop ini juga mengingatkan saya berbagai memori keluarga. Saya tiba-tiba merasa bersyukur dan sangat beruntung memiliki komunitas Pembina GABI. Spiritual saya berkembang secara signifikan, pola pikir saya juga sudah banyak berubah, bahkan perilaku dan cara pandang juga makin mengarah ke dunia yang lebih positif.

Pembelajaran Buddhis ternyata memberi efek positif yang baru saya rasakan, seperti menghargai, menghormati, dan mengasihi kedua orangtua. Saya mengalami pertumbuhan yang baik dalam komunitas ini.

Kami Berbeda
Benar, kami berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Kami juga memiliki karakter berbeda, permasalahan yang dihadapi juga sangat bervariasi. Satu hal yang membuat saya bersyukur adalah kami berkumpul layaknya sebuah keluarga besar. Saya bangga menyatakan bahwa komunitasku adalah keluarga.

Sesi retret juga diisi dengan minum teh di teras, kami menikmati teh dengan hening serta meditasi sejenak. Menyadari hembusan angin sejuk, mendengar gemericik air, nyanyian burung saling bersahutan, gesekan dedaunan, dan suara serangga. Kami seperti bersatu dengan alam.

Sekeliling Vila Dharma dihuni oleh penduduk, dan lokasinya cukup tinggi. Sehingga kami bisa mendengar banyak suara sekitar. Pada meditasi sore itu kami juga menyadari adanya suara adzan bersahut-sahutan di puncak perbukitan. Ini sungguh pengalaman meditasi di ruang terbuka yang pertama kali.

Kami semua memejamkan mata untuk bersatu dengan alam. Pada awal meditasi, saya merasa rileks. Suara kendaraan yang melintas membuat kesadaran saya terhadap alam mulai sirna. Saat sharing, ternyata teman-teman lain juga mengalami hal serupa ketika meditasi outdoor.

Memulai Lembaran Baru
Malam hari, kami mendapat kesempatan untuk mengikuti Beginning Anew. Judulnya saja sudah bikin penasaran dan jelas saja itu keren! Diawali dengan cerita tentang betapa pentingnya cinta kasih dalam mengomunikasikan dan menjalin suatu hubungan. Konteks hubungan tentu saja tidak terbatas pada suami istri saja, tapi juga termasuk keluarga kandung, komunitas, persahabatan, maupun relasi sosial.

Bhante memberikan tips mudah dalam praktik ini, dengan 3 langkah yang wajib diikuti. Langkah pertama adalah “flower watering”, kita memberikan apresiasi, menyampaikan terima kasih kepada orang yang kita ajak komunikasi. Kedua, “I regret” yaitu menyadari dan segera meminta maaf terhadap kekeliruan yang telah diperbuat. Ketiga “I hurt” yaitu menyampaikan bahwa diri kita juga terluka atau jujur atas perasaan sakit yang kita alami.

Sesi malam itu diakhiri dengan menyentuh bumi atau bersujud. Kami bersujud di depan altar Buddha sambil mendengarkan perenungan. Menyadari keberadaan bumi, menyadari keterkaitan manusia dengan bumi yang menjadi tempat yang kita tinggali ini.

Memanfaatkan Momen
Keesokan harinya kami mendapat presentasi “Everyday Mindfulness and Technology”. Topik ini memaparkan tentang bagaimana menyadari momen kekinian dalam kehidupan sehari-hari. Secara nalar, tampaknya sulit sekali karena saya belum terbiasa. Namun sesungguhnya dari bangun tidur hingga malam, sungguh banyak momen yang bisa dimanfaatkan untuk berlatih mengembangkan kekuatan kesadaran, berlatih come back to here and now.

Bangun pagi, boleh saja dimulai dengan bernapas kesadaran dan senyum, ini bisa menjadi momentum membangun komitmen. Bertekad untuk menatap semua makhluk dengan mata karuna, dan bertekad senyum kepada semua orang yang saya temui.

Gosok gigi yang telah menjadi rutinitas setiap hari juga bisa menjadi sebuah latihan. Sadari setiap gerakan menggosok. Saya sudah mencoba menerapkan meditasi gosok gigi, ternyata memberikan pengalaman yang sangat berbeda. Entah saya baru sadar atau kemarin sikat giginya ngawur. Saya merasakan sensasi segar yang lebih segar daripada hari-hari sebelumnya.

Praktik memang perlu realistis. Ambillah dari hal-hal yang sederhana seperti makan dengan hening dan sadar selama 5 menit, atau kita berusaha makan dengan menerapkan teknik kesadaran sampai ada orang ajak bicara, maka kita baru membalas pembicaraan. Intinya sadari setiap momen apa adanya. Teknik ini bisa diterapkan dalam aksi berjalan, menyantap makanan, meneguk minuman, bahkan duduk di mobil menunggu macet atau lampu merah.

Bersama Komunitas
Saya berkomitmen, ketika nanti ada retreat bersama komunitas ini lagi maka saya akan siap. Ini merupakan short escape, refreshing yang bermanfaat bagi saya bersama komunitas ini. Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sangat besar atas waktu dan kesediaan Bhante Nyanabhadra dalam membimbing kami selama retreat, Ce Ida yang sudah sangat rempong mengurus kami yang banyak urusan duniawinya, dan teman-teman komunitas yang sudah bertahan dan berjuang bersama.

Saya juga meminta maaf, jika ada kesalahan, tingkah laku saya yang terlalu sanguin yang mungkin dapat membuat kalian terganggu, juga ketidak disiplinan saya dalam berkomitmen dalam komunitas ini. Thank you (Victor).

*Pembina GABI juga Ayah dari satu orang anak dan suami dari satu orang istri

Napas Masuk Saya adalah Kerbau

Napas Masuk Saya adalah Kerbau
Program Anak DOM @Wihara Ekayana Serpong

Pada saat saya diminta untuk membantu DOM (Day of Mindfulness) di Wihara Ekayana Serpong pada tanggal 3 Maret 2018. Terus terang saya ada sedikit ragu. Tapi akhirnya saya ikut terjun sebagai voulenter program anak. Sempat stress sedikit karena saya harus sendiri menghadapi anak-anak. Walaupun saya pengajar di sekolah minggu tapi di DOM ini saya tidak pernah sendiri.

Selama 2 hari otak saya terus mutar berpikir, apa yang harus saya lakukan. Saya baca buku Planting Seed dan membongkar perlengkapan saya yang berkaitan dengan kerajinan tangan, lalu saya mempersiapkan semua hal yang bisa membantu saya dalam kegiatan nanti, ada buku, gunting, kain flanel, jarum jahit serta benang.

Ada Yang Berbeda
Pada hari H, ada sesuatu yang saya takut, saya takut anak-anak bertanya kok yang ikut program anak sedikit? ”

Bisa bosan nih…..

Anak lain bertanya, “Apakah kita akan ada mengumpulkan daun dan batu?
Saya jawab, “Untuk kali ini kita hanya di kelas“.

Lalu dia bilang “Jiaaa bosan dong……“.

Lalu ada 1 anak lagi bertanya, “Apakah kita akan minum soya dan biskuit?
Saya jawab, “Soya ada, tapi biskuit tidak ada“.

Lalu saya bilang, “Ada sesuatu yang berbeda loh“. Mereka menjadi penasaran dan bertanya, “Apa itu?
Saya bilang “Nah, itu kita liat saja nanti“.

Di otak saya berpikir, mau saya kasih apa ini anak-anak, programnya 1 hari looo? Akhirnya saya yakinkan diri gunakan saja semua yg ada di tas saya. Akhirnya kami pun melakukan orientasi mengenal bel dan napas. Kami menggambar semua anggota keluarga kami lalu bergiliran menceritakan tentang keluarga masing-masing.

Mereka cukup senang karena bisa saling kenal lebih baik lagi. Sekarang tibalah waktunya untuk mendengarkan ceramah. Saya lapor ke volunteer apakah anak-anak ikut ceramah? Dan ternyata tidak, karena sister tidak mempersiapkan ceramah untuk anak-anak. Saya langsung bingung, apa lagi yang harus saya lakukan? Saya buka buku dan menemukan meditasi kartu!

Siapa Diriku
Saya minta mereka mengambarkan “siapa diriku“, saya membimbing mereka dan menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya. Mereka mengerti akhirnya, lalu mereka menggambar “siapa diriku“. Setelah selesai menggambar, kami berjalan keluar luar kelas menuju ke tempat yang ada Jendela besar. Di sana kami duduk hening dan bergilir membacakan apa yang telah mereka gambar dan tulis.

Ada yang menulis napas masuk saya ada gunung, napas keluar saya kuat. Pohon napas keluar kokoh. Laut, saya tenang. Bidak catur saya akan memimpin pasukan untuk menang, ada juga yang bilang napas masuk saya adalah laut dan saya tenang dan masih banyak lagi.

Ada 1 anak paling kecil dia bilang dengan bahagianya napas masuk saya adalah kerbau, napas keluar saya bahagia. Saya terkejut dan sedikit takut apakah anak-anak lain akan tertawa dan ternyata mereka tidak ada yang tertawa dan mereka tetap menyimak dan mengikuti dengan ketenangan sampai kami masuk kelas lagi.

Karena masih ada waktu sampai makan siang saya penasaran kenapa ini anak bisa menggambarkan dirinya sebagai seekor kerbau? Karena hampir semua orang tidak mau menggambarkan dirinya sebagai binatang, lalu saya membahas kenapa mereka menggambarkan dirinya seperti itu.

Kebahagiaan Polos
Semua anak-anak bercerita, bahwa mereka senang melihat pohon ada yang bilang karena dia hobi bermain catur, ada juga yang melihat keindahan alam. Lalu si kecil menjawab kalau dia pernah naik kerbau dan pada saat itu dia begitu bahagianya. Dia menceritakan dengan bahagia dan anak-anak yang lebih dewasa juga tersenyum dan ikut bergembira dengan si kecil tidak ada yang menertawakan si kecil.

Pada saat itu saya merasakan apa yang dimaksud dengan tidak menghakimi, jangan memikirkan sesuatu hal yang negatif. Saya tersadarkan, jadilah anak-anak yang polos dengan tidak memikirkan terlalu jauh, maka saya akan merasakan kebahagiaan di sekitar dan kebahagiaan yang polos, serta kebahagiaan yang murni.

Akhirnya kami bergembira semua dengan keluhan, tangisan, tertawa anak serta kebahagiaan anak-anak karena mereka mendapatkan sesuatu sampai selesai program anak di DOM. (Nirata)*

*Volunteer mindfulness, aspiran Ordo Interbeing, guru sekolah minggu, dan praktisi Zen.

Menjadi Pelita Penerang Kegelapan

Menjadi Pelita Penerang Kegelapan


Saya sudah menjadi aktivis di wihara cukup lama. Saya sering melihat bahwa di setiap kepanitiaan sebuah acara sering ada air mata bercucuran, atau berbagai jenis gesekan-gesekan yang membuat banyak orang tidak nyaman atau kecewa.

Saya juga sudah beberapa kali ikut membantu dalam kegiatan Retret Hidup Berkesadaran. Saya tidak tahu apa bedanya secara persis, tapi kami menyebutnya volunteer (sukarelawan). Retret Hidup Berkesadaran ini menggunakan pintu Dharma dari tradisi Zen Plum Village.

Volunteer membantu mempersiapkan berbagai kebutuhan dalam retret. Wihara juga punya kegiatan namun mereka sering menyebutnya panitia. Dalam kegiatan retret, saya merasakan semua tugas dan pekerjaan menjadi damai dan mudah karena antara satu volunteer dengan yang lainnya bisa bekerja dengan lebih sadar sehingga lebih harmonis.

Ini merupakan kepanitiaan yang saya sukai, karena selain kita bisa memberikan pelayanan kepada peserta, kita juga bisa sekaligus berlatih, dan tidak pakai marah-marahan atau bahkan berurai air mata (antar sesama volunteer) hanya karena ada pekerjaan yang tidak sesuai harapan. Kadang juga ada beberapa orang yang bahkan tidak saling mendukung justru seringnya mencari kesalahan pihak lain.

Di sini terlihat bahwa jika kita sadari, ketika badan lelah dan pikiran capek, maka akibatnya emosi pun cepat memuncak. Terkadang hanya karena masalah sepele kita bisa mengeluarkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Sebetulnya orang yang melontarkan kata-kata pahit juga sedang lelah fisik dan capek pikiran.

Dalam keadaan ini apakah hanya kita yang kelelahan? Apakah hanya kita yang pantas untuk membuang sampah emosi kita ke orang lain?

Dalam sebuah kegiatan panitia atau volunteer, mereka telah bekerja dengan sedemikian rupa, dan banyak yang telah mereka korbankan, mereka meninggalkan pekerjaan rumah dan keluarganya serta waktu santainya. Banyak hal lainnya yang telah dikorbankan. Bukan hanya kita, sehingga jika kita bisa melihat dengan jernih bahwa dalam sebuah kegiatan alangkah indahnya jika kita bisa bekerja sama dengan penuh sukacita dan damai harmonis.

Ya itu baru saya temukan dalam kepanitiaan Retret Hidup Berkesadaran.

Saya berharap jika bagian dari komunitas mindfulness yang telah sama-sama berlatih, kelak bila mereka membantu di kepanitiaan lainnya seperti kegiataan wihara, seharusnya bisa menciptakan kepanitiaan yang damai dan harmonis juga.

Begitu juga bila bagian dari komunitas juga merupakan pengurus di organisasi wihara, hendaknya juga dapat menjadi pengurus yang selalu rukun, harmonis, bahagia dan mampu menyalakan pelita kedamaian untuk yang lainnya. Mari kita menjadi pelita yang bisa menerangi kegelapan serta mampu menyalakan banyak pelita lainnya. (Ely)*

*Volunteer Day of Mindfulness dan Retret Hidup Berkesadaran dari Jambi

Ternyata Kebahagiaan Bisa Dibeli dengan Uang

Ternyata Kebahagiaan Bisa Dibeli dengan Uang


Ada tanggapan dari sebagian besar orang menyebutkan bahwa yang namanya kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan uang, bahkan tidak ternilai harganya. Apakah benar kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang?

Saya menjawab BISA! Iya benar, kebahagiaan bisa dibeli dengan Uang. Saya akan berbagi pengalaman yang saya alami sendiri, tentu saja ini pengalaman pribadi, Anda boleh setuju juga boleh tidak setuju dengan saya.

Sabtu lalu, ketika saya naik ojek online mau ke Mall Grand Indonesia ketemu teman saya. Saat saya turun dari ojek online dan mau jalan masuk ke Mall Grand Indonesia, saya lihat di tepi jalan banyak pangkalan ojek online juga, dan ada satu moment yang saya perhatikan ada seorang mbak yang mengeluarkan uang 50ribu untuk membayar abang ojeknya dan ternyata abang ojeknya tidak ada uang kembalian.

Waktu itu saya pikir, mungkin beberapa saat lagi ada yang bisa menukarkan uangnya. Ternyata sudah lewat semenit tetap saja uang 50ribunya belum berhasil ditukarkan. Lantas saya tidak tahu kenapa tiba-tiba saya berbalik arah nyamperin mbaknya, biasanya saya cuek dan langsung masuk Mall 🙂

Saya bertanya, “Mbak butuh bayar berapa ke abang ojeknya?”. Mbaknya bilang, “Harganya 12ribu tapi saya mau bayar 15ribu.”, terus saya langsung keluarkan 15 ribu dari dompet dan segera membayar abang ojeknya. Mbaknya kemudian memberi 50ribu buat nukarin uang ke saya, dan saya dengan senyum bilang, ”Ga perlu Mbak”. Mbaknya juga tersenyum sambil bilang, “Terima kasih banyak ya”. Setelah itu saya langsung masuk ke Mall.

Entah mengapa sehabis kejadian itu perasaaan saya begitu bahagianya, bahkan sampai saya malam mau tidur pun saya merasa bahagia sekali. Jika saat itu saya menerima uang dari mbaknya, saya tidak begitu merasakaan kebahagiaan yang begitu luar biasa karena cuma sekedar membantu menukarkan duitnya saja.

Tapi, justru saat saya memberi dan tidak mengharapkan imbalan; saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Coba saat itu saya tidak punya uang 15ribu, saya tidak mungkin bisa membeli kebahagiaan yang tidak ternilai itu.

Lantas apa yang mendorong saya untuk tidak menerima uang dari mbak itu? Alasannya ada 2 :

Yang pertama karena saya pikir namanya berbuat baik ya tidak mengharapkan orang lain untuk membalasnya, kalau kita membantu orang lain dan mengharapkan orang lain membalasnya itu namanya perjanjian.

Yang kedua karena saya ingin memberikan harapan bahwa di dunia ini masih ada lho orang yang tidak kita kenal yang mau membantu kita tanpa mengharapkan imbalan apa pun. (Yuyong Chia)*

*Anggota dari Ordo Interbeing Indonesia, praktisi meditasi, ahli bahasa mandarin dan membuat boneka dari balon

A Cloud Never Dies

A Cloud Never Dies


Empat bulan lalu, ketika mendapat kabar bahwa papa mengidap sakit serius, saya langsung pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, saya sempat menghubungi seorang guru saya, Bhante Bao Tang, dan menceritakan keadaan ini. Lalu saya bertanya, “Apa yang harus saya lakukan jika terjadi hal yang terburuk karena saya belum pernah kehilangan orang terdekat yang dikarenakan kematian, Bhante?

Beliau menjawab, “Dalam menghadapi kematian orang terdekat, kita harus hadapi dengan cara yang terbaik buat diri kita dan keluarga kita.

Kemudian beliau menceritakan pengalaman saat beliau kehilangan mamanya beberapa bulan lalu.

“Ketika saya tiba di sisi beliau yang telah meninggal, saya berdiri dan bernapas dan berkonsentrasi, melihat secara mendalam. Saya melihat bahwa mama saya sudah membelah dirinya menjadi 6 (anak) dan keluarga kandungnya. Bagian kecil dari dirinya telah meninggal, tetapi bagian besarnya masih hidup. Saya juga melihat bahwa bagian kecil dari diri saya telah meninggal tetapi masih ada bagian besar saya yang masih hidup. Dengan perenungan ini rasa sedih kita dapat diatasi.”

“Kemudian saya melakukan perenungan pertanyaan:

  1. Apakah saya sudah memaafkan kesalahan orangtua saya?
  2. Apakah saya menjengguk beliau setiap saya pulang ke Indonesia?
  3. Apakah saya sudah dapat menerima kekurangan beliau?
  4. Apakah yang beliau inginkan sudah terpenuhi?”

“Ketika saya bisa menjawab ‘iya’ atas semua pertanyaan itu, saya bisa melepas. Kesedihan karena kehilangan sosok itu tidak seberapa, karena kita tahu beliau masih dapat ditemukan di dalam diri kita dan keluarga kita.”

Dapat memahami hal ini membuat hati saya tenang dalam mempersiapkan sebuah kehilangan terbesar dalam hidup saya. Empat bulan terakhir ini saya belajar memahami arti sebuah kehilangan, memahami tentang anicca, melihat langsung bagaimana proses tua, sakit, dan mati, memahami betapa pentingnya kita mengetahui bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kesakitan dan kematian dan betapa pentingnya kita belajar berdamai dengan rasa sakit dan ketika saat ajal menjelang.

Air mata tetap mengalir ketika saat itu tiba, tapi hati saya sudah jauh lebih tenang dan siap dalam menghadapi proses ini. Ketika melihat awan ataupun telapak tangan saya, saya tahu bahwa papa tetap ada dalam diri saya dan saya akan melanjutkan hidup papa dalam diri saya.

A cloud never dies…

“When conditions are sufficient, a cloud transforms into rain, snow, or hail. The cloud has never been born and it will never die. This insight of signlessness and interbeing helps us recognize that all lives continue in different forms. Nothing is created, nothing is destroyed, everything is in transformation. There is no real death because there is always a continuation.”
~Thich Nhat Hanh

Saya sangat bersyukur mendapat pemahaman yang sangat berharga ini sejak beberapa bulan lalu karena sangat membantu saya memahami dan melewati proses ini. (Rumini Lim)

Sayangi Bumi Bersihkan Dari Sampah

Sayangi Bumi Bersihkan Dari Sampah

Sahabat terkasih,

Melindungi bumi sudah menjadi tugas semua anak-anak bumi. Mari kita berusaha praktik hidup berkesadaran dengan menyanyangi bumi dan bersihkan bumi dari sampah-sampah yang membahayakan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bidang Pengelolaan Kebersihan 9 tips untuk mengurangi penggunaan plastik dalam keseharian, mari kita jadikan setiap hari menjadi hari peduli sampah nasional.

Simak visualgrafi berikut ini:

Mengembalikan Energi Positif

Mengembalikan Energi Positif
Dharma sharing bersama

Day Of Mindfulness (DOM) ini adalah kegiatan rutin yang diadakan 2 bulan sekali di Wihara Ekayana Arama. Hanya sehari saja dapat mengembalikan energi positif saya balik lagi ke dalam tubuh saya. Mengikuti DOM seperti menambah nutrisi ke dalam tubuh saya. Saya merasa segar kembali saat mengikuti acara ini setelah lelah menjalani hari weekday dengan tugas yang sekian banyak dan dihantui dengan deadline.

Fokus pada objek
Fokus pada objek tertentu adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh banyak orang termasuk saya. Fokus pada objek dapat dilakukan dengan bermeditasi, memusatkan pikiran pada suatu objek. Meditasi duduk dapat merasa pegal dan kesemutan hanya dalam beberapa menit. Tetapi, meditasi duduk yang dilakukan di DOM ini berbeda yaitu dengan dipandu oleh pembimbing sehingga kita semua yang berada di ruangan yang sama dapat mengikuti instruksi yang diberikan oleh pembimbing.

Pikiran juga tidak mengembara ke mana-mana karena telah dikendalikan untuk mengikuti semua instruksi yang diberikan. Meditasi seperti ini akan berbeda dengan meditasi yang dilakukan sendiri tanpa instruksi. Bagi pemula, cocok untuk mengikuti arahan tersebut.

Setelah meditasi duduk, saya mengikuti meditasi jalan dan sebelumnya akan dipandu oleh pembimbing. Saya harus memperhatikan langkah demi langkah yang sama berikan kepada kaki saya sehingga saya dapat mengontrol langkah kaki sambil memperhatikan napas masuk dan napas keluar.

Breathing in I am arrived, Breathing out I am home”. Hal yang paling terpenting dalam diri adalah napas. Jika tidak ada napas, berarti kita sudah mati. Saya sangat bersyukur karena masih bisa bernapas. Dengan melaksanakan meditasi ini, saya dapat mengendalikan emosi yang muncul tanpa disadari.

Makan Berkesadaran
Terkadang, saat sedang terburu-buru, saya melupakan tentang makan pelan-pelan. Padahal itu diwajibkan untuk usus kita. Saya memang kurang menyayangi usus saya. Saya seringkali makan hanya 5-6 kunyahan lalu telan. Lambung dan usus saya sering sakit dan usus karena makanan yang tidak hancur, saya pernah dirawat di rumah sakit gara-gara itu.

Dari DOM ini, saya dapat kembali ke tubuh saya sendiri dan berusaha untuk sadar dan menyadari bahwa lambung dan usus adalah harta. Saya diajari untuk makan dengan sadar penuh dan mensyukuri bahwa saya masih bisa makan dengan normal dan merenungi asal makanan yang ada di depan saya.

Banyak orang yang terlibat agar makanan di depan saya dapat tersaji. Dari petani yang memanen padi untuk diolah menjadi nasi, sayuran yang dipanen, orang yang memasak makanan dan sebagainya. Dari situ saya menjadi sadar bahwa sulit sekali untuk mendapatkan semua.

Biasanya saya makan suka request, mau makan ini, mau makan itu. Tidak suka sayur, tidak suka buah. Tapi di sini, saya diajarkan untuk makan apa yang telah disediakan, jika tersedia makanan yang tidak disukai, disarankan untuk diambil tetapi jangan terlalu banyak. Setidaknya dapat merasakan rasa makanan itu. Jika makan dipenuhi dengan kesadaran, rasa makanan itu akan menjadi enak dan saya merasakannya.

Saya makan makanan yang saya tidak suka dari kecil. Rasanya ternyata berbeda dengan yang saya bayangkan. Entah kenapa, makanan itu enak sekali. Coba saja Anda praktikkan. Pasti akan merasakan hal yang berbeda dalam makanan yang awalnya tidak suka mungkin akan menjadi suka.

Relaksasi Total
Relaksasi total adalah cara untuk kita dapat beristirahat dengan total, membaringkan tubuh kita dengan relaks dan damai. Relaksasi total dapat menyegarkan tubuh kita kembali dan tidak menghasilkan mimpi. Tubuh ini membutuhkan istirahat karena telah seharian melakukan kegiatan yang membuat tubuh kita menjadi lelah dan capek.

Relaksasi total biasanya sesi yang disukai sama anak-anak dan remaja. Mereka dapat relaksasi sepenuhnya hingga kadang kebablasan. Kita harus menyayangi tubuh, mengetahui kapan tubuh ini lelah, kapan tubuh ini capek dan sebagainya. Praktik ini akan bermanfaat jika dilakukan secara rutin.

Biasanya saat relaksasi total akan dipandu oleh relawan sehingga pikiran kita diarahkan untuk memperhatikan apa saja yang harus diperhatikan. Dilengkapi dengan musik-musik yang dapat membuat pikiran nyaman dan menikmati musik berkesadaran yang bisa membuat suasana hati menjadi relaks.

Relaksasi total walaupun sebentar tetapi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, setelah bangun akan terasa segar seperti sudah tidur selama 6 jam.

Sharing Dharma
Sebelum acara penutup, DOM biasanya suka mengadakan Dhamma Sharing yang mana peserta dapat berkenalan satu sama lain bagi yang belum kenal dan dapat memberikan pengalaman apa yang dirasakan selama seharian mengikuti acara ini.

Banyak orang yang memberikan pengalaman menarik dari yang lucu hingga yang benar benar mendapatkan manfaatnya. Semua peserta memberikan pengalaman apa yang dirasakan meskipun hanya sepatah dua patah kata. DOM biasa ditutup dengan berbagi jasa kebajikan kepada semua makluk. (Phinawati Tjajaindra, a.k.a Nuan*)

*Sedang menuntut ilmu di Sekolah Narada, Kelas 12

Damai Berawal Dari Senyum

Damai Berawal Dari Senyum
Praktik perenungan sebelum makan

Bermula dari membaca judul Walk With Me saya tahu tentang DOM (Day of Mindfulness) lalu saya cek kalender, ternyata saya belum ada acara. Kebetulan juga di tanggal yang sama, suami saya bertugas keluar kota. Saya bergegas mendaftar untuk 2 orang bersama anak saya. Syukurlah panitia mengizinkan saya membawa anak saya turut serta dalam latihan sehari itu.

Jujur, sebetulnya saat saya ikut DOM, saya sedang galau dan banyak konflik dalam diri. Saya memutuskan dalam hati untuk tetap menjalaninya, saya tetap hadir. Entah mengapa, tiba-tiba mood anak saya tiba-tiba berubah, mukanya seperti ada awan hitam, dia menyalahkan saya karena ajak dia ikut DOM tanpa izin dia terlebih dahulu.

Haduh, hati rasanya ingin pulang saja. Tapi sekali lagi, ada suatu kekuatan yang membuat saya tetap stay. Sembari terus berusaha mindful pada setiap acara, mendengarkan chanting Namo Avalokiteshvaraya, orientasi, wejangan Dharma, dan menonton film Walk With Me, saya perlahan-lahan mengumpulkan energi latihan kolektif yang baik dan sabar.

Ajaibnya, entah bagaimana dan keajaiban terjadi, mood anak saya mulai membaik setelah selesai makan siang. Ketika acara berakhir kita pulang dengan bahagia dan damai.

Akhir cerita, saya dan anak tercinta makan malam bersama sembari ngobrol asyik, tiada jutek-jutekan di antara kita.

Salam damai berawal dari senyum (Megawati Henry).

Tidak Perlu Jauh-jauh Ke Luar Negeri

Tidak Perlu Jauh-jauh Ke Luar Negeri
DOM di Wihara Buddhasena Bogor

Pertama kali mengenal Retret dan Hari Hidup Berkesadaran ialah sejak tahun 2010 ketika Master Zen Thich Nhat Hanh datang ke Indonesia. Karena retret tersebut telah menyentuh hati saya yang terdalam, sejak saat itu saya aktif mengikuti kegiatan Retret dan Hari Hidup Berkesadaran. Setiap ada kegiatan seperti ini, saya biasanya selalu bersemangat dan usahakan untuk datang.

Hari Hidup Berkesadaran, atau dalam bahasa Inggrisnya ialah Day of Mindfulness (DOM) biasanya mempunyai jadwal yang selalu sama: Registrasi, Orientasi, Meditasi Duduk, Meditasi Jalan, Dharma Talk, Meditasi Makan, Relaksasi Total, Sharing, Foto-foto, selesai.

DOM Special
Nah, ternyata DOM yang diadakan di Wihara Buddhasena Bogor tanggal 27 Januari 2018 kemarin mempunyai jadwal yang berbeda dari biasanya: Registrasi, Orientasi, Meditasi Duduk, Chanting Namo Avalokiteshvara, Gerak Badan Berkesadaran, Dharma Talk, Meditasi Makan, Qi Gong, Relaksasi Total, NoBar film Walk With Me, Foto-foto, selesai.

Day of Mindfulness kemarin itu sungguh sangat spesial karena adanya Chanting Namo Avalokiteshvara, Qi Gong, dan NoBar film Walk With Me. Bagi saya yang paling berkesan ialah NoBar film Walk With Me nya. Tidak hanya itu, peserta DOM kemarin ada yang berasal dari Columbia dan Myanmar juga. Saya pun kebetulan ditunjuk menjadi volunteer translator untuk mereka.

Film Walk With Me merupakan film dokumenter yang menceritakan mengenai kehidupan para monastik di Plum Village: Upacara penahbisan monastik, cukur rambut, kegiatan sehari-hari di Plum Village, retret yang diadakan di Plum Village, chanting Namo Avalokiteshvara, Meditasi Jalan dan Duduk di jalanan umum, dan lain sebagainya.

Batal Menonton
Sejak film Walk With Me tayang di bioskop di Eropa, saya pun berpikir kapan film itu bisa tayang di Indonesia. Saya sangat ingin menonton film tersebut. Ketika saya di Eropa bulan September – Oktober 2017 kemarin, saya rencananya ingin menonton film Walk With Me di Amsterdam tanggal 1 Oktober 2017. Awalnya saya bersemangat sekali untuk nonton film Walk With Me di Amsterdam, namun karena sudah lelah jalan-jalan dan orangtua juga kurang minat nonton, jadi akhirnya batal.

Tidak patah semangat, saat saya ke Thailand bulan Desember 2017 kemarin, saya mencari informasi mengenai penayangan film Walk With Me di Bangkok. Namun saya tidak berhasil mendapatkan informasi penayangan nya. Eh kemarin ini akhirnya film Walk With Me ditayangkan juga di Indonesia! Suatu keberuntungan saya akhirnya bisa menonton film Walk With Me ini di Bogor, kota kelahiran saya sendiri. Tidak perlu jauh-jauh lagi untuk menonton film tersebut.

Menonton Film Walk With Me

Suasana Damai
Tujuan utama saya ke Eropa kemarin ialah untuk mengunjungi Samanera Bhadrawarman (sepupu saya yang sudah menjadi Samanera dan sedang berlatih di Plum Village Perancis). Saya tinggal di Plum Village Perancis selama 5 hari. Lalu 5 hari nya lagi dipakai untuk jalan-jalan. Selama di Plum Village, saya merasakan betapa damai nya tinggal disana. Saya juga berkesempatan untuk mengikuti Day of Mindfulness di sana.

Tinggal selama 5 hari di Plum Village meninggalkan jejak yang cukup mendalam bagi saya. Oleh karena itu, ketika saya menonton film Walk With Me ini yang mayoritas di-shoot di Plum Village Perancis, saya bisa mengenang kembali bagaimana suasana damai di Plum Village, bagaimana suasana kehidupan para monastik di Plum Village.

Bertemu Zen Master
Karena film itu juga, saya bisa mengenang kembali bagaimana perasaan saya ketika pertama kali ikut Retret Hidup Berkesadaran yang dibimbing langsung oleh Master Zen Thich Nhat Hanh pada tahun 2010 lalu. Bagian yang paling menyentuh dari film Walk With Me ialah saat chanting Namo Avalokiteshvara. Di film itu diperlihatkan seorang wanita yang menangis tersedu-sedu saat mendengar chanting tersebut.

Saya pun langsung merasa wanita itu seperti diri saya sendiri saat pertama kali mendengar chanting Namo Avalokiteshvara di Retret Hidup Berkesadaran tahun 2010 lalu. Saat itu saya juga menangis tersedu-sedu saat mendengar chanting tersebut. Sungguh sebuah chanting yang sangat indah yang menyentuh hati terdalam!

Berkelanjutan
Karena saya ditunjuk menjadi volunteer translator, saya jadi berkesempatan untuk memperkenalkan Plum Village kepada orang Columbia dan Myanmar. Karena yang Columbia sudah 2 tahun di Indonesia, jadi bisa berbicara bahasa Indonesia walaupun masih belum terlalu lancar. Kalau yang Myanmar, karena baru 5 bulan di Indonesia, jadi hanya bisa mengerti beberapa kata dalam bahasa Indonesia. Saya pun kebanyakan menjadi translator untuk kedua orang Myanmar ini.

Sebenarnya lebih tepatnya sih menjadi teman yang menjelaskan kepada mereka, bukan hanya sebatas translate apa yang sedang dijelaskan oleh Bhante Nyanabhadra dan Sister Rising Moon. Saya jelaskan juga kepada mereka bagaimana pentingnya ikut retret atau DOM secara berkelanjutan.

Jeane Rooseline (Baris pertama, nomor dua dari kiri)

Bersama Komunitas
Retret atau DOM harus dilakukan secara berkala, agar kita ingat akan latihan Mindfulness. Tanggapan mereka pun baik. Mereka bilang mau ikut acara seperti ini lagi. Saya pun sebagai yang menjelaskan kepada mereka menjadi turut senang. Sungguh suatu hal yang baik jika kita bisa latihan Mindfulness secara berkala bersama dengan komunitas. (Jeane Rooseline)*

*Volunteer dan anggota dari Wake Up Bogor

When There Is A Will, There Is A Way

When There Is A Will, There Is A Way
Photo bersama. Edwin (baris kedua, dari kanan pertama)

“When there is a will, there is a way..”

Mungkin begitulah kalimat yang paling tepat menggambarkan hal yang saya rasakan. Hidup di hiruk pikuk kota ini, tekanan demi tekanan sudah menjadi makanan sehari–hari, baik itu pekerjaan, hubungan dengan teman, keluarga, pasangan dan lain sebagainya.

Tapi, dari semua itu, ada satu hal yang sangat mengganggu saya. Kemacetan!! Kenapa?? Ketika macet, begitu banyak orang yang melanggar lalu lintas, berkendara melawan arah, menerobos lampu merah, membunyikan klakson tiada henti, membawa kendaraan ugal–ugalan, angkutan umum yang berhenti untuk mencari penumpang di jalan yang sempit. Belum lagi kalau ditambah derasnya hujan!

Ingin marah rasanya melihat semua itu. Ketika pikiran kalut tak karuan, saya pun menarik napas dalam. Hm…..(tarik napas) Ah..(hembus napas)…. Dan dari hati kecil saya berkata… ting!! Sudah saatnya, saya berlatih hidup berkesadaran!

Ah, benar! Sudah lama, saya tak berlatih hidup lebih berkesadaran. Pengendalian emosi yang kurang merupakan pertanda saya harus me-recharge batin ini. Tapi kapan??

Dan tiba–tiba saja, selang beberapa hari, Darwin, seorang aktivis di Wihara Ekayana Arama mengajak saya menjadi volunteer Day of Mindfulness (DOM), Sabtu tanggal 3 Feb 2018.

Kebetulan yang keren sekali! Selain bisa berlatih, saya juga bisa berbuat lebih untuk komunitas. Tanpa pikir panjang, saya terima tawaran tersebut! Tugas saya hanya mengumpulkan teman–teman di hari Jumat pukul 19:00 untuk bersama–sama mempersiapkan tempat dan perlengkapan yang akan digunakan acara DOM.
Di mana ada keinginan, di sana ada jalan!! Di mana ada jalan, di sana ada rintangan!!

Mungkin pepatah lengkapnya begitu. Tiba–tiba, jumat pagi, telepon saya berdering dan muncul hal yang tak terduga, pekerjaan dadakan yang deadline-nya senin pagi. Luar biasa! Ketika tidak ada DOM, tidak pernah ada permintaan lembur, begitu mau ikut DOM, tiba–tiba diminta lembur!

Dengan pikiran yang cukup kaget, saya mulai mengerjakan pekerjaan saya. Tapi, rasanya tidak mungkin untuk menyelesaikannya dalam waktu 1 hari. Saya pun di minta lembur Jumat itu. Dan bila tidak selesai, maka harus di anjutkan Sabtu dan Minggu!

Aduh, bagaimana ini?!

Saya bulatkan tekad, untuk tetap pulang jam 5 agar bisa mempersiapkan DOM. Sabtu pagi, seperti biasa, saya harus mengajar dahulu sampai pukul 10, baru segera menyusul ke wihara untuk mengikuti DOM. Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali bukan? Urusan pekerjaan dadakan, mau tak mau, Minggu pun saya harus lembur mengerjakannya. Berlatih itu penting, dan tanggung jawab pekerjaan juga penting.

Mungkin teman–teman bertanya, apa yang saya rasakan? Let me share, ini 3 manfaat yang saya dapatkan selama berlatih hidup sadar:

Pengendalian Diri
Jalanan adalah pemicu stress yang cukup tinggi bagi saya. Tapi mengikuti DOM dan mempraktikannya di kehidupan sehari-hari membuat pengendalian emosi jauh lebih baik. Saya belajar untuk sadar ketika melakukan sesuatu. Ketika berjalan, saya sadar saya sedang berjalan. Ketika makan, saya sadar saya sedang makan. Efeknya, ketika saya mau marah, akan muncul kesadaran ketika mau marah, sehingga, sebelum saya mengambil tindakan yang mungkin akan saya sesali, kemarahan itu sudah bisa saya atasi.

Lebih Tenang
In the here, in the now, No After, No Before”. Dengan mengingat kata–kata itu, saya menyadari, bahwa diri saya, berada di sini, saat ini. Sering kali, pikiran saya, berkelana, entah ke masa lalu, atau ke masa depan. Melalui praktik hidup sadar, saya berlatih untuk menyadari saat ini, di sini. Saya tak perlu memikirkan masa lalu atau masa depan. Cukup menikmati saat ini. Apa pun kondisi yang terjadi saat ini, itulah yang saya nikmati.

Rasa Syukur
Ketika relaksasi total, ada beberapa kalimat yang cukup berkesan,seperti :

“Melihat orang yang kita sayangi, adalah harta.”

“Mendengar kicauan burung adalah harta.”

Sering kali saya tidak bersyukur, padahal sebenarnya saya sudah memiliki segalanya untuk bahagia.
Ada orang yang mungkin tak bisa melihat, tapi saya bisa. Banyak orang yang mungkin terlahir tuli dan tak pernah mengerti indahnya kicau burung, sedangkan saya bisa.

Melalui relaksasi total, saya juga diajarkan untuk mensyukuri setiap bagian dari tubuh, yang secara tidak langsung sudah menopang kehidupan setiap harinya.

Terkadang saya terlalu banyak keinginan yang pada akhirnya membuat saya sulit untuk berbahagia.
Demikianlah sudah selesai sudah sharing singkat dari saya. Itulah manfaat yang bisa saya bagikan kepada teman–teman.

Tak perlu dipercaya, silakan buktikan dulu sendiri. Ingat, ketika ingin berlatih, kuatkan tekad karena walaupun jalan sudah terbuka lebar, masih banyak rintangan di depan sana.

Be happy and be mindful, always! (Edwin Halim)*

*Musisi dan sekaligus pakar IT