Mengenali Perasaan dan Emosi

Mengenali Perasaan dan Emosi

Begawan Buddha, berkat latihan kesadaran sepenuhnya dalam bernapas dan berjalan, aku sadar dengan apa yang sedang terjadi di sekelilingku. Aku dapat mengenali berbagai formasi mental pada saat formasi itu muncul. Aku tahu bahwa, luka yang ada dalam leluhur dan orang tuaku, juga merupakan luka aku sejak kecil hingga saat ini, masih berada di dalam kesadaranku. Kadangkala rasa sakit bercampur dengan kesedihan muncul dalam hatiku, dan jika aku tidak tahu bagaimana mengenali, merangkul dan membantunya menjadi tenang, aku bisa saja mengatakan dan melakukan sesuatu yang menyebabkan perpecahan dalam keluarga atau komunitasku. Ketika aku menyebabkan perpecahan di sekitar, aku juga merasa terpisah dari yang lain. Begawan Buddha, aku tekun mengingat ajaranmu, untuk berlatih kesadaran sepenuhnya dalam bernapas dan berjalan, dan menghasilkan lebih banyak energi positif dalam kehidupan sehari-hari. Aku dapat menggunakan energi ini untuk mengenali rasa sakit dalam diriku dan membantunya menjadi tenang. Aku mengetahui bahwa membekap berbagai perasaan dan emosi ketika mereka muncul hanya akan membuat situasi menjadi makin sulit.

Begawan Buddha, berkat ajaranMu, aku tahu perasaan dan emosi ini sebagian besar berasal dari pandangan sempit dan pengertian tidak utuh. Aku mempunyai gagasan keliru mengenai diriku dan orang lain. Aku mempunyai gagasan tentang kebahagiaan dan penderitaan yang tidak dapat aku lepaskan. Aku telah membuat diriku menderita karena gagasan-gagasan tersebut. Sebagai contoh, aku mempunyai gagasan bahwa kebahagiaan dan penderitaan berasal dari luar diriku dan bukan karena pikiranku sendiri. Caraku melihat, mendengar, mengerti dan menilai telah membuatku menderita dan membuat orang yang aku cintai menderita juga. Aku tahu bahwa dengan melepaskan gagasan ini, aku akan lebih bahagia dan lebih damai dalam tubuh dan batin. Dengan melepaskan gagasan sempit dan persepsi keliru, perasaan menderita dan emosiku tidak mempunyai landasan lagi untuk muncul.

Begawan Buddha, aku tahu bahwa aku masih mempunyai banyak persepsi keliru yang mencegahku melihat segala sesuatu apa adanya. Aku berjanji mulai momen ini aku akan berlatih menatap secara mendalam bahwa kebanyakan penderitaanku muncul dari persepsi dan gagasanku. Aku mestinya tidak menyalahkan orang lain ketika aku menderita, tetapi mesti kembali kepada diriku dan mengenali akar dari penderitaan yang sesungguhnya adalah persepsiku yang keliru dan kekuranganku dalam pengertian yang mendalam. Aku mesti berlatih menatap secara mendalam, melepaskan persepsi keliru, dan membantu orang lain melepaskan persepsi kelirunya sehingga mereka juga dapat mengatasi penderitaan.

Menyentuh bumi

Bersujud kepada Bodhisattwa Pengertian Agung, Manjushri (Genta).
Bersujud kepada sesepuh Pengertian Agung, Shariputra (Genta).
Bersujud kepada sesepuh yang mencatat semua ajaran, Ananda (Genta)

Hidup Pada Saat Ini

Hidup Pada Saat Ini

Begawan Buddha, aku menyadari energi kebiasaan paling dominan dalam diriku adalah pelupa. Aku sering membiarkan batinku memikirkan masa lampau, sehingga aku terbawa ke dalam kesedihan dan penyesalan. Hal demikian menjadi penyebab aku kehilangan banyak kesempatan untuk bersentuhan dengan hal-hal yang menakjubkan dari hidup di masa sekarang, pada saat ini. Aku tahu banyak di antara kita yang terperangkap oleh masa lalu. Kita menghabiskan waktu untuk mengeluh dan menyesali sesuatu yang telah hilang. Ini merampas kesempatan kita untuk merasakan dengan kesegaran, keindahan dan hal-hal menakjubkan yang dapat memperkuat dan mentransformasikan kita pada saat ini. Kita tidak bisa merasakan langit biru, awan putih, pohon hijau, bunga kuning, suara angin pada pohon cemara, suara aliran sungai, suara burung bernyanyi, dan suara anak-anak tertawa di bawah sinar mentari pagi. Kita juga tidak dapat merasakan hal-hal menakjubkan yang ada dalam diri kita.

Kita tidak dapat melihat bahwa kedua mata merupakan dua permata yang menakjubkan. Ketika membuka mata, kita dapat bersentuhan dengan dunia yang terdiri dari aneka warna dan bentuk yang berbeda. Kita tidak mengenali bahwa kedua telinga kita merupakan organ yang menakjubkan. Jika kita mendengar dengan sadar penuh melalui kedua telinga, kita dapat mendengar suara angin semilir pada dahan pohon, kicauan burung, atau suara ombak yang merdu di pagi hari. Jantung, paru-paru, dan otak kita, beserta kapasitas kita untuk merasakan, berpikir dan mengamati juga merupakan keajaiban hidup. Gelas yang berisi air segar atau jus jeruk di tangan juga merupakan keajaiban hidup. Kendati aku sering tidak dapat bersentuhan dengan cara hidup sadar penuh pada saat ini, karena aku tidak latihan bernapas dan berjalan dengan sadar sepenuhnya untuk kembali pada saat ini.

Begawan Buddha, mohon Engkau menjadi saksiku. Aku berjanji untuk berlatih merealisasikan ajaran yang telah Engkau babarkan. Aku tahu bahwa tanah suci bukanlah sebuah janji ilusi di masa depan. Tanah suci yang menakjubkan dalam semua aspek tersedia untukku saat ini juga. Jalan pada tanah merah dengan batasan rumput hijau merupakan tanah suci. Bunga violet juga merupakan tanah suci.  Suara aliran sungai yang kecil, batu karang yang bercahaya pada tempatnya juga merupakan tanah suci.  Tanah suci kita bukan hanya harum aroma bunga teratai dan kumpulan bunga krisan saja, melainkan juga lumpur yang menumbuhkan akar teratai dan juga pupuk kompos yang menjadi asupan bagi bunga krisan.

Tanah suci memiliki wujud luar yang mencerminkan kehidupan dan kematian, tetapi ketika melihat secara mendalam aku melihat kehidupan dan kematian keduanya saling terkait. Yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lainnya. Jika kulihat lebih dalam lagi, aku melihat tidak ada kehidupan dan kematian; hanya ada manisfestasi. Aku tidak perlu menunggu sampai tubuh ini hancur untuk masuk ke tanah suci Buddha. Melalui cara aku melihat, berjalan, dan bernapas, aku dapat menghasilkan energi kesadaran penuh dan konsentrasi, mengizinkan aku untuk hadir di tanah suci dan merasakan langsung berbagai keajaiban hidup yang ditemukan di sini dan saat ini.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, aku menyentuh bumi secara mendalam agar bersentuhan denganmu dan tanah suci pada saat ini.

Bersatu dengan Alam

Bersatu dengan Alam

Oh Begawan Buddha, melihat lebih dalam pada alam ini, aku melihat ada cahaya, kehangatan dari sinar matahari yang memungkinkan segala sesuatu di bumi ini bisa tumbuh dan berkembang. Aku juga melihat bahwa sungai jernih yang mengalir di planet ini menjadi urat nadi kehidupan. Aku juga merasakan kehadiran atmosfer dan semua elemen di angkasa seperti oksigen, karbon dioksida, hidrogen, dan nitrogen. Tanpa atmosfer maka air, dedaunan hijau, bambu, bunga kuning, semua ini tidak mungkin ada untuk menghiasi alam yang indah ini.

Di setiap sudut alam ini aku melihat empat elemen, yaitu: tanah, air, api, dan udara. Aku sadar sepenuhnya bahwa elemen-elemen tersebut sangat erat kaitannya dengan diriku. Aku hendaknya menyentuh bumi agar bisa tetap memiliki hubungan dekat dengan bumi yang sering dianggap sebagai ibunda bumi, ibu pertiwi. Sesungguhnya aku dan ibunda bumi merupakan satu kesatuan. Aku adalah cahaya matahari, aku adalah sungai, aku adalah danau, aku adalah samudra, aku adalah awan di langit.

Empat elemen terkandung dalam badan jasmaniku dan elemen-elemen itu juga terkandung di seluruh alam semesta.

Aku bertekad untuk kembali lagi ke bumi ini, kembali ke Ibunda bumi, serta  menjadikan bumi ini tempat berlindung. Aku merasakan bumi yang kokoh dan tegar ini dan juga kekokohan dan ketegaran yang ada dalam diriku.

Menyentuh Bumi

Aku menyentuh bumi dihadapan Bodhisattwa Dharanimdhara, Bodhisattwa alam semesta. Aku menyentuh bumi di hadapan Bodhisattwa Ksitigarbha, bodhisatwa harta karun bumi.

Melindungi Bumi

Melindungi Bumi

Oh Begawan Buddha, Engkau adalah anak dari bumi ini dan Engkau memilih terlahir di bumi ini sebagai tempat untuk mengajarkan Dharma. Begawan Buddha yang mulia, melalui semua proses berlatih dan mengajar, Engkau telah memberi semangat kepada para bodhisattwa untuk melindungi bumi ini, bumi yang indah ini. Aku ingat dalam Sutra Sadharmapundarika, Engkau mengundang semua bodhisattwa, ribuan bahkan jutaan bodhisattwa bermunculan dari bumi. Para bodhisattwa bertekad untuk tetap tinggal di bumi ini untuk melindungi dan sekaligus menjadi pelindung Dharma agar cinta kasih dan pengertian bisa terus disebarkan.

Oh Begawan Buddha, aku juga merupakan anak dari bumi ini, aku juga ingin melindungi bumi yang indah menawan ini. Aku juga ingin mengikuti jejak para bodhisattwa untuk melindungi bumi. Aku bertekad untuk tetap belajar dan berlatih bersama-sama dengan para sahabat Dharma demi membantu membebaskan semua makhluk dari penderitaanya.

Saat ini, aku memohon gunung dan sungai menjadi saksiku. Aku membungkukkan badan dan kepala memohon Begawan Buddha untuk menerima serta mendukung tekadku ini. Aku lahir di bumi ini dan nanti akan kembali lagi ke bumi ini. Aku akan terlahir kembali berulang kali di bumi ini, bahkan berjuta-juta kali tak terhitung sebagai bagian dari komunitas berlatih bersama para sahabat Dharma, terus-menerus melanjutkan tugas mulia dalam mengubah sampah kompos menjadi pupuk untuk bunga, melindungi kehidupan, membangun tanah suci di bumi ini. Aku tahu persis bahwa pengertian dan cinta kasih merupakan kondisi dasar untuk membangun tanah suci, oleh karena itu dari detik ini aku bertekad untuk membangkitkan energi kesadaran penuh, cinta kasih, dan pengertian dalam kehidupan sehari-hari.

Menyentuh Bumi

Buddha yang mulia, aku menyentuh bumi tiga kali demi mengukuhkan tekadku untuk melindungi bumi. (Genta)

Sutra tentang Delapan Realisasi Para Makhluk Agung

Sutra tentang Delapan Realisasi Para Makhluk Agung

Dengan sepenuh hati, siang dan malam, para siswa-siswi Buddha seharusnya melafalkan dan memeditasikan delapan realisasi yang telah ditemukan oleh para makhluk agung.

Realisasi pertama adalah menyadari sepenuhnya bahwa dunia itu tidak kekal. Semua rezim politik suatu hari nanti akan jatuh jua; segala sesuatu yang terbentuk dari empat elemen (padat, cair, gas, dan panas) adalah ‘kosong’ dan mengandung benih-benih penderitaan.  Manusia terbentuk dari lima agregat (skandha) dan tanpa diri tunggal yang terpisah.  Semua itu selalu dalam proses berubah—secara terus menerus lahir dan mati. Semua itu kosong akan diri tunggal sejati, tidak bisa eksis secara mandiri. Batin adalah sumber dari semua kebingungan, dan badan jasmani merupakan hutan belantara dari semua tindakan tidak murni. Apabila kita memeditasikan fakta-fakta ini, kita bisa secara pelan-pelan terlepas dari samsara, lingkaran kelahiran dan kematian.

Realisasi kedua adalah menyadari sepenuhnya bahwa makin banyak nafsu keinginan mendatangkan makin banyak penderitaan. Semua kesukaran di dalam kehidupan sehari-hari muncul dari keserakahan dan nafsu keinginan. Mereka yang memiliki sedikit keinginan dan sedikit ambisi bisa relaks, badan jasmani dan batin mereka terbebas dari jebakan duniawi.

Realisasi ketiga adalah menyadari sepenuhnya bahwa batin manusia selalu mencari sesuatu untuk dimiliki dan tidak pernah merasa puas. Ini menyebabkan makin banyak tindakan-tindakan tidak murni. Akan tetapi, para bodhisatwa selalu mengingat akan prinsip memiliki sedikit keinginan . Mereka melakoni kehidupan sederhana dengan damai untuk berlatih dalam sang Jalan, dan menjadikan realisasi atas pemahaman sempurna sebagai satu-satunya karir mereka.

Realisasi keempat adalah menyadari sepenuhnya akan dampak kemalasan yang bisa menjadi rintangan latihan (kenikmatan sensual, kemelekatan, kemalasan, kecemasan, dan keragu-raguan). Berdasarkan alasan inilah, kita harus berlatih dengan rajin untuk mengurangi faktor-faktor mental tidak sehat yang melilit kita, dan menaklukkan keempat jenis Mara, guna membebaskan diri kita dari penjara kelima agregat (skandha) dan ketiga alam .

Realisasi kelima adalah menyadari sepenuhnya bahwa ketidaktahuan adalah penyebab dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada akhir. Oleh karena itu, para bodhisatwa selalu ingat untuk mendengar dan belajar guna mengembangkan pemahaman dan upaya mahir. Ini memungkinkan mereka untuk mendidik para makhluk hidup dan membawa mereka ke alam yang penuh sukacita.

Realisasi keenam adalah menyadari sepenuhnya bahwa kemiskinan menciptakan kebencian dan kemurkaan, menciptakan siklus keji atas pikiran dan aktivitas negatif. Ketika mempraktikkan kedermawanan, para bodhisatwa menganggap semua orang setara, apakah itu teman maupun musuh. Mereka tidak mengutuk kesalahan masa lalu siapapun, demikian juga tidak membenci mereka yang sekarang sedang melakukan kejahatan.

Realisasi ketujuh adalah menyadari sepenuhnya bahwa kelima jenis nafsu (harta kekayaan, kecantikan, ambisi, makanan enak, dan tidur) menjerumuskan kita ke dalam kesulitan. Walaupun kita hidup di dunia ini, kita mencoba untuk tidak terjebak dalam hal-hal keduniawian. Seorang biksu, contohnya, hanya memiliki tiga set jubah dan satu mangkuk. Dia hidup sederhana guna mempraktikkan sang Jalan. Sila membebaskan dia dari kemelekatan terhadap hal-hal duniawi, dan dia memperlakukan semua orang dengan welas asih dan tanpa diskriminasi.

Realisasi kedelapan adalah menyadari sepenuhnya bahwa api kelahiran dan kematian sedang membara, menyebabkan penderitaan tiada akhir di mana-mana. Hendaknya kita membangkitkan ikrar mulia untuk membantu semua makhluk, memikul beban mereka, dan membimbing semua makhluk merealisasi kebahagiaan tertinggi.

Kedelapan realisasi ini adalah penemuan para makhluk agung, para Buddha dan bodhisatwa, dengan semangat tiada Lelah mereka telah mempraktikkan jalan welas kasih dan pemahaman. Mereka telah mengarungi perahu Dharmakaya  ke pantai nirwana, namun demikian mereka kembali lagi ke dunia ini, setelah melepaskan kelima nafsu itu, dengan pikiran dan hati tertuju pada jalan agung, mendandalkan kedelapan realisasi ini untuk menolong semua makhluk mengenali penderitaan di dalam dunia  ini.

Apabila para siswa-siswi Buddha mendaraskan kedelapan realisasi ini dan memeditasikannya, mereka akan mengakhiri kesalahpahaman dan kesulitan-kesulitan yang tak terhitung dan merealisasi pencerahan, meninggalkan dunia kelahiran dan kematian, berdiam dalam kedamaian sejati.


Sumber: Taisho Revised Tripitaka, No. 779


Diterjemahkan oleh Thích Nhất Hạnh dari bahasa Mandarin ke bahasa Inggris, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Chân Pháp Tử.

Pelampung Penyelamat

Pelampung Penyelamat

“ Saya percaya bahwa guru yang bahagia akan mengubah dunia. Jika seorang guru memiliki banyak kebahagiaan dan banyak cinta dalam dirinya, dia pasti bisa membuat murid-muridnya bahagia.”

Thich Nhat Hanh

DOM di Sekolah Ananda Bagan Batu, Verawaty Manik, kedua dari kiri.

Happy teachers will change the world. Kalimat tersebutlah yang menjadi alasan diselenggarakannya retret mindfulness untuk pendidik. Retret seperti ini memberikan bekal kebahagiaan kepada guru. Bekal itu juga menjadi hadiah bagi anak-anak di kelas. Saya yakin guru yang bisa memiliki kebahagiaan autentik bisa melahirkan generasi penerus bangsa yang baik dan berakhlak mulia.

Akhir Juni 2019, sebelum tahun ajaran lama berakhir, kami diberitahukan bahwa akan diadakan retret bagi guru-guru. Retret tersebut akan diselenggarakan pada tanggal 15-17 Juli 2019 dan dipandu langsung oleh Bhante Nyanabhadra.

Bagi saya, ini adalah retret kedua. Saya adalah seorang Katolik yang sebelumnya pernah mengikuti retret ala agama yang saya anut dan terdapat beberapa kesamaan dari kegiatan yang diselenggarakan dalam retret tersebut, seperti sharing.

Solusi Tepat

Mindfulness adalah hal baru yang saya peroleh ketika mengikuti kegiatan DOM (Day of Mindfulness) yang diselenggarakan di sekolah Ananda setiap bulan. Hasil dari kegiatan tersebut memiliki manfaat yang cukup saya rasakan dalam kehidupan saya.

Misalnya, saya sudah mampu berdamai dengan rasa panik dan khawatir yang berlebihan. Banyak hal dalam hidup ini yang berpontensi memicu munculnya banyak masalah, dan efek yang ditimbulkan di antaranya adalah rasa cemas, gelisah, stres, bahkan bisa mengakibatkan depresi dan gangguan kejiwaan.

Pola berpikir yang salah, perbedaan sudut pandang dan berpikiran berlebihan (over thinking) cenderung menimbulkan rasa cemas dan gelisah dalam diri. Ketika perasaan tersebut sudah menghampiri seseorang maka apa pun yang kita lakukan sering hasilnya tidak cukup baik. 

Mindfulness adalah salah satu solusi yang tepat untuk menghindari perasaan kompleks tersebut. Mindfulness atau kesadaran diri akan momen kekinian persis di depan mata. Kekuatan ini layaknya pelampung, yang dapat menolong agar tidak terhanyut akibat derasnya arus pikiran.

Menyanyi adalah Ibadah

Kegiatan yang dilakukan selama retret sama seperti yang dilakukan dalam DOM, jadi sudah cukup terbiasa untuk berlatih, hanya saja durasi waktu dalam retret lebih lama.

Retret kali ini saya merasa sangat beruntung sekali karena kehadiran Bhante, ternyata beliau adalah sosok yang sangat menarik. Awal melihat wajahnya sepertinya “jutek” dan “jaim”, kayak biksu “kolot”, tetapi ternyata beliau begitu murah senyum dan kocak juga.

Kemampuan beliau memainkan gitar mencairkan suasana. Bernyanyi bersama sebelum mengawali kegiatan juga merupakan hal yang menarik. Hal itu tentu menjadi pengingat bagi saya bahwa dia adalah Bhante yang mahir main gitar.

Menyanyi dalam ibadah di agama yang saya anut adalah hal yang sangat mulia sekali dilakukan sebelum beribadah dimulai, dan nilainya 10 kali lipat daripada doa. Hal menarik lain dari Bhante adalah mungkin karena beliau sudah begitu lama tinggal di Benua Eropa, saya merasa beliau sangat modern sekali.

Saya merasa cara berbicara, bahasa yang dipergunakan, dan cara penyampainnya pun mengalir dan tidak kaku. Sepanjang kegiatan, saya merasa sudah terjalin komunikasi yang hangat dan bahagia bagi semua peserta retret.

Berlatih Mendengarkan

Retret dan DOM adalah kegiatan yang dilakukan untuk melatih diri agar mampu menjadi lebih baik lagi. Hal menarik yang saya rasakan selama retret adalah pada saat Tea Meditation. Kami berkumpul bersama menikmati teh, dan setelah itu kita bisa saling sharing dan bercerita.

Sharing juga merupakan hal yang sangat menarik selama retret, menarik bagi saya karena saya bisa mendengarkan apa saja yang diceritakan oleh kawan- kawan. Walaupun sebenarnya saya tidak suka sharing tapi saya sangat suka mendengarkan orang-orang yang mau bercerita atau curhat.

Sesi pada saat berkumpul, saling bercerita tentang kelebihan teman juga merupakan hal yang sangat menarik. Kami hanya mendengarkan teman berbicara tentang kelebihan kita, tanpa harus menanggapi sedikit pun. Pada kehidupan nyata kita justru sebaliknya, terlalu sering bercerita kekurangan orang lain.

Dari kegiatan ini saya mengetahui bahwa ternyata saya memiliki banyak kelebihan yang tidak saya sadari selama ini, bahwa hal tersebut merupakan kelebihan saya. Tentunya setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kebaikan.

Rasa Syukur

Demikianlah hal yang dapat saya sampaikan mengenai hal yang paling menarik bagi saya selama mengikuti kegiatan retret yang diadakan oleh sekolah Anada, tempat saya mengajar.

Terima kasih saya ucapkan dengan penuh rasa syukur atas kesempatan baik yang telah saya lalui bersama dengan teman-teman semua. Semoga kita dapat menerapkan pola hidup mindful dalam kehidupan kita sehari- hari.

Verawaty Manik, guru sekolah Ananda, Bagan Batu – Riau.

I Take Refuge in the Buddha

I Take Refuge in the Buddha
I take refuge in the Buddha – Chi Sing

Unduh Mp3 klik sini

I take refuge in the Buddha,
the one who shows me the way in this life.
I take refuge in the Dharma,
the way of understanding and love.
I take refuge in the Sangha,
the community that lives in harmony and awareness.
I take refuge in these three jewels,
in perfect oneness of body, speech, and mind.

 Just go back to the island within yourself.
 Just go back to the island within.
 All it takes is one breath in mindfulness.
 All it takes is one step in mindfulness.

 I take refuge in the Buddha,
 the one who shows me the way in this life.
 I take refuge in the Dharma,
 the way of understanding and love.
 I take refuge in the Sangha,
 the community that lives in harmony and awareness.
 I take refuge in these three jewels,
 in perfect oneness of body, speech, and mind.
I take refuge in the Buddha – Chi Sing

Wake Up Camp for Millenial Empowerment

Wake Up Camp for Millenial Empowerment
Wake Up Camp @PekanBaru

Wake Up Camp for Millennial Empowerment di SMA Dharma Loka Pekanbaru adalah kegiatan untuk membantu mematangkan kekuatan mental agar seimbang secara kognitif dan spiritual. Perkembangan dari segala sisi kehidupan modern perlu dibarengi dengan persiapan-persiapan matang untuk generasi baru yang unggul. Acara dikemas dalam durasi 5 hari 4 malam, dari 30 Mei s.d. 3 Juni 2019.

Program ini secara khusus memantapkan integritas diri melalui metode “mindful living”. Teknik ini merupakan pendekatan kewawasan (mindfulness) dari Plum Village. Peserta diajak untuk menyadari apa yang dimiliki saat ini, menyadari apa yang ingin dicapai. Cara-cara sederhana seperti breathing, eating in silent, loving myself, dan deep relaxation.

Anak-anak memiliki kesempatan untuk pulang ke hati masing-masing, merasakan stabilitas pribadi, kokoh di masa kini, tidak memenjarakan diri di masa lalu, kemudian siap menyambut masa depan. Mental demikian menjadi landasan pemantapan integritas peserta.

Mindful breathing merupakan teknik penting. Peserta dibantu untuk sering-sering kembali menyadari napas. Mereka mencurahkan atensi pada napas masuk dan keluar sekaligus mengendurkan seluruh badan jasmani. Napas adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa, sungguh suatu berkah yang perlu disyukuri dari waktu ke waktu.

Rasa syukur (gratitude) sangatlah penting. Peserta mendapat bekal penyadaran, walaupun dalam kondisi sulit sekali pun, sebetulnya mereka masih memiliki berkah karena napas masih mengalir lancar. Selain breathing, mereka juga mempraktikkan makan dengan hening. Sumber energi dari makanan menjadi kekuatan pendorong untuk hidup harmonis dengan diri sendiri, pihak lain, dan alam semesta.

Program ini juga membantu peserta untuk menumbuhkan kepercayaan diri melalui mencintai diri sendiri (self love). Anak-anak hadir di sekolah berasal dari latar belakang berbeda-beda, memang sejak awal beda, tidak bisa disama-ratakan. PBB pernah merilis penelitian bahwa sekitar 60% anak-anak tumbuh pada lingkungan yang kurang ideal.

Pengalaman kurang baik, kepahitan, rasa tidak diterima, rasa diabaikan dan kurang diperhatikan adalah beberapa kasus sering terjadi dan sangat mempengaruhi perkembangan anak. Oleh sebab itu, agar masalah-masalah tersebut bisa diatasi pada saat remaja menuju dewasa maka sangat penting untuk bisa menerima diri sendiri. Mereka juga perlu menerima apa yang telah terjadi supaya tidak menjadi batu sandungan di masa yang akan datang.

Sebagai penutup adalah deep relaxation. Hingar bingar dunia dengan segala aktivitas dan daya tariknya maupun tekanannya sering membuat tubuh menjadi lelah. Apabila hal itu tidak disikapi dengan baik maka akan berpengaruh kepada kualitas fisik dan mental. Sesungguhnya, tubuh yang stres memang tidak baik untuk kesehatan maupun pikiran, sehingga diperlukan istirahat yang berkualitas ataupun deep relaxation.

Deep relaxation membantu menurunkan detak jantung untuk lebih santai, dan membuat peredaran darah lebih lancar, serta lebih baik dalam mengeluarkan zat-zat sisa di dalam tubuh. Ini adalah manfaat utama melakukan relaksasi, melepas stres. Tubuh akan lebih tenang dan bisa mengontrol hormon stres ketika tubuh relaks atau santai.

Ketika seseorang berada dalam suasana hati atau mood relaks, dia juga kan lebih tenang dan damai. Anda akan menjadi lebih bahagia dan bisa mengendalikan kemarahan. Ini adalah manfaat bagi mental dari relaksasi.

Moras Tenando Aji, Wakil Kepala Sekolah Bid. Kesiswaan, SMAS Dharma Loka Pekanbaru

Cara Baru Menyantap Tempe

Cara Baru Menyantap Tempe
Children Program @PondokSadhanaAmitayus

Setiap pertengahan tahun merupakan salah satu momen yang disenangi oleh anak sekolahan. Bukan hanya anak sekolah, para guru juga mendapat liburan yang cukup panjang berkisar 1-2 bulan. Saat ini, saya masih menekuni dunia pengajaran dan pendidikan alias guru, jadi dapat berkah bisa liburan panjang.

Umumnya orang menghabiskan waktu liburan untuk bersantai, berkumpul dengan keluarga ataupun jalan-jalan keliling Indonesia bahkan dunia. Saya memilih mengisi liburan dengan menjadi volunteer retret remaja setiap tahunnya selama 9 tahun belakangan ini.

Ada teman yang pernah bertanya : “Kok kamu nggak habisin waktu untuk traveling saja? Memangnya kamu nggak suka traveling ya?”. Saya pun menjawab: “Suka kok, traveling bisa memberikan pengalaman baru untuk kita terhadap dunia luar dan juga merelakskan tubuh dan pikiran kita dari kepenatan selama kita bekerja.”

Saya memilih untuk  membantu jadi volunteer retret remaja. Saya bisa berbagi kebahagiaan kepada adik-adik. Tidak hanya itu saja, saya juga mendapatkan nutrisi kebahagiaan dari mereka. Anak-anak kecil yang umurnya masih belia tampil apa adanya, tanpa dibuat-buat.

Setiap tahun saya mengikuti retret remaja. Saya mendapatkan banyak pengalaman dan kisah menarik. Retret kali ini juga demikian. Saya mendokumentasikan kegiatan ini, terutama dalam dalam program anak-anak.

Dhika sedang meditasi kerja (menyapu)

Salah satu cerita yang berkesan adalah adik kecil yang bernama Dika. Pada saat selesai meditasi makan, saya menghampiri Dika, di piringnya masih tersisa tempe yang tidak dimakan olehnya.

Saya ajak Dika ngomong: “Dika, nggak suka makan tempe ya?” Dika jawab: “Iya”, terus saya ngomong lagi: “Koko dulu juga nggak suka makan tempe, sekarang koko sudah bisa makan tempe, mau nggak koko ajari cara makan tempe dalam waktu sekejap?”, “Gimana Caranya?” Dika pun bertanya.  

Saya bilang ke Dika: ”Caranya gampang kok, ada 3 langkah, langkah pertama kamu suka yang manis kan? Dan kamu nggak suka tempe karena tempe nggak manis kan? Kalau begitu tempenya dikasih kecap manis saja, terus langkah ke 2 adalah potong kecil-kecil tempenya, dan langkah ke 3 campur makanan yang kamu suka dengan tempe yang kamu nggak suka.”, kemudian Dika pun langsung mempraktikkan dan hasilnya luar biasa, Dika senang sekali karena dalam sekejap dia bisa makan tempe tanpa penolakan.

Saat sesi menuliskan surat cinta ke papa mamanya, Dika menuliskan pengalaman makan tempenya kepada orang tuanya, saya pun terharu membacanya.

Walaupun mungkin kita tidak bertemu setiap hari, tapi bisa menjadi bagian kecil dalam masa pertumbuhan adik-adik itulah yang kadang merupakan momen terindah dalam hidup saya. Beginilah cerita liburan saya, bagaimana dengan cerita liburanmu?

Yuyong Chia

Yuyong Chia [Chân Hạnh Châu (真行州)], anggota Ordo Interbeing. Praktisi mindfulness, guru mandarin, public speaker, berkecimpung dalam dunia fotografi, dan balloon artist.

Home Is Where The Heart Is

Home Is Where The Heart Is
Home is where the heart is

Unduh Mp3 klik sini

Been travelling a day
Been travelling a year
Been travelling a lifetime,
to find my way home

Home is where the heart is
Home is where the heart is
Home is where the heart is
My heart is with you

Home is where the heart is from the album Songs of Awakening.
Produced by Milarepa and One Sky Music, 1993.

Perfume River, Hue, Vietnam