Sang Nelayan dan Ikan

Sang Nelayan dan Ikan

aku seorang nelayan, menarik jaring ikan

kulitku beraroma asin seperti laut

otot-ototku berlilit di bawah terik matahari

aku seekor tenggiri berisisik kemilau

Menggelepar putus asa bersama ribuan ikan lainnya

Dalam jeratan jaringmu

Aku terkapar tak berdaya di geladak kapal itu

Engkau terpaksa menangkapku demi bertahan hidup

Aku juga seorang wanita paruh baya

di pasar menenteng kantong sambil melirak-lirik

Aku sudah mati tapi mataku belum terpejam

Dagingku masih begitu segar

Insangku masih kemerahan

Engkau membeliku, memotong menjadi bongkahan kecil

dimasukkan ke dalam panci

Makan malam begitu hangat di musim dingin

Ada engkau, anak-anakmu dan nasi hangat

Di bawah atap jerami, perut juga terasa hangat

Siapa yang masih mengenaliku?

Ketika badan dan sunyata adalah realitas sama

100 ribu kalpa sebagai ikan di sungai dan laut

Aku berenang keluar masuk dengan leluasa

Rumah berpintu ruang hampa lebih indah daripada giok

Duniaku penuh dengan warna hijau, merah, dan pink

Hatiku telah mendapatkan pelajaran

Pelajaran berlatih dan mencoba mengerti

agar setiap kali terjerat dalam jaring

Aku rela mati dengan lapang dada

Tidak membenci, tidak putus asa

karena aku tahu kehidupan terbentuk dari kematian

Eksis (ada) terbentuk dari noneksis (tiada)

segala sesuatu saling berkaitan

Aku dan kamu saling mengerti

Makan Bersama

Makan Bersama

Makan makanan bersama-sama adalah sebuah latihan yang meditatif. Seharusnya kita berusaha untuk mempersembahkan kehadiran kita di setiap saat makan. Selagi kita menyajikan makanan kita sudah bisa memulai latihan. Melayani diri kita, kita menyadari bahwa banyak elemen, seperti hujan, sinar mentari, bumi, udara, dan kasih, semuanya telah menyatu untuk membentuk makanan yang hebat ini. Kenyataannya, melalui makanan ini kita melihat bahwa seluruh alam semesta tengah menyokong keberadaan kita.

Kita sadar akan keseluruhan Sangha seperti kita melayani diri kita dan seharusnya kita mengambil sejumlah makanan yang baik bagi kita. Sebelum makan genta akan dibunyikan sebanyak tiga kali dan kita bisa menikmati pernafasan masuk dan keluar sementara mempraktikkan kelima perenungan.

  1. Makanan ini adalah anugerah dari alam semesta: Bumi, Langit, berbagai makhluk hidup, dan hasil kerja keras
  2. Semoga kita makan dengan sadar-penuh dan syukur sehingga kita layak menyantap makanan ini
  3. Semoga kita mengenali dan mengubah bentuk-bentuk mental yang tidak sehat, terutama keserakahan, dan belajar makan secukupnya
  4. Semoga kita bisa terus menjaga welas asih agar tetap hidup dengan makan sedemikian rupa sehingga dapat meringankan penderitaan semua makhluk, melestarikan planet kita, dan mengurangi efek perubahan iklim
  5. Kita menerima makanan ini supaya dapat merawat tali persaudaraan, membangun komunitas, dan memupuk semangat ideal untuk melayani semua makhluk.

Kita seharusnya tidak makan dengan tergesa-gesa, dengan mengunyah masing-masing suap sedikitnya 30 kali, sampai makanan menjadi cair. Ini membantu proses pencernaan. Mari kita nikmati setiap potong makanan kita dan kehadiran para saudara-saudari se-Dharma di sekeliling kita. Mari tetapkan diri kita di saat sekarang, makan dengan cara seperti ini sehingga kekokohan, kegembiraan, dan kedamaian menjadi mungkin selama waktu makan. Makan dengan diam, makanan menjadi nyata dengan perhatian penuh kita dan kita benar-benar sadar akan makanannya. Untuk memperdalam latihan makan kita yang sadar dan untuk menyokong suasana yang damai, kita tetap duduk selama masa diam ini. Dua puluh menit setelah makan dengan diam, bunyi genta dua kali akan terdengar. Lalu kita boleh memulai percakapan penuh perhatian dengan teman kita atau mulai berdiri dari meja.

Saat tengah menghabiskan makanan kita, kita gunakan beberapa menit untuk memperhatikan bahwa kita sudah selesai, mangkok kita sekarang kosong dan kelaparan kita sudah terpuaskan. Rasa bersyukur menyelimuti kita karena kita menyadari betapa beruntungnya kita sudah makan makanan yang bergizi, menyokong kita di jalan kasih dan pengertian.

Sutra Empat Jenis Makanan

Sutra Empat Jenis Makanan

Inilah yang saya dengar, suatu hari, saat Buddha sedang berada di Wihara Anathapindika, di Hutan Jeta dekat kota Shravasti. Hari itu, Buddha memberitahu para bhiksu: “Ada empat jenis makanan yang memungkinkan makhluk hidup bertumbuh serta mempertahankan kehidupan. Apakah keempat jenis makanan tersebut? Pertama adalah makanan jasmani, kedua adalah makanan bagi persepsi, ketiga adalah makanan bagi kehendak, dan keempat adalah makanan bagi kesadaran.”

“Oh bhikkhu, bagaimanakah seorang praktisi seharusnya memandang makanan jasmani? Imajinasikan sepasang suami istri muda yang memiliki bayi laki-laki, yang mereka jaga serta besarkan dengan sepenuh kasih. Mereka harus melewati kesulitan dan bahaya di padang pasir. Selama perjalanan, mereka kehabisan bekal serta sangat kelaparan. Tidak ada jalan keluar, dan mereka mendiskusikan rencana berikut: ‘Kita hanya memiliki satu anak yang sangat kita kasihi sepenuh hati. Jika kita memakan dagingnya, maka kita akan bertahan hidup, serta bisa berjuang untuk mengatasi situasi berbahaya ini. Jika tidak memakan dagingnya, maka kita bertiga semuanya akan mati.’ Setelah melakukan diskusi itu, mereka membunuh bayinya, dengan air mata kepedihan serta gemertak gigi, mereka memakan daging bayi lelakinya, hanya demi bisa hidup serta menembus padang pasir.”

Buddha bertanya: “Apakah menurut kalian, pasangan tersebut memakan daging anaknya karena ingin menikmati kelezatannya, juga karena ingin agar tubuh mereka mendapatkan makanan yang akan membuatnya lebih rupawan?”

Para bhiksu menjawab: “Tidak, Yang Mulia.”

Buddha bertanya: “Apakah kedua pasangan tersebut terpaksa memakan daging anaknya, demi bertahan hidup serta selamat dari bahaya padang pasir?”

Para bhiksu menjawab: “Ya, Yang Mulia.”

Buddha mengajarkan: “Oh bhikkhu, setiap kali kita mencerna makanan jasmani, kita harus melatih diri untuk memandangnya seolah [sedang memakan] daging anak kita. Jika memeditasikannya dengan cara seperti ini, maka kita akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan jasmani, serta kemelekatan terhadap kenikmatan-kenikmatan indrawi akan melenyap. Begitu kemelekatan terhadap kenikmatan-kenikmatan indrawi sudah tertransformasi, maka tidak akan ada lagi formasi-formasi internal sehubungan dengan kelima obyek kenikmatan indrawi, pada para siswa-suci [sekkha; orang-orang suci yang sedang belajar] yang mendedikasikan dirinya untuk latihan dan praktik. Ketika formasi-formasi internal masih mengikat kita, maka kita akan harus terus kembali ke dunia ini.”

“Bagaimana seharusnya seorang praktisi memeditasikan makanan bagi persepsi? Imajinasikan seekor sapi yang kehilangan kulitnya. Kemanapun pergi, serangga serta belatung yang hidup di tanah, debu, dan pada tanaman, akan menempel ke sapi tadi serta menghisap darahnya. Jika sapi tadi berbaring di tanah, maka belatung di tanah akan melekat padanya serta menggerogotinya. Baik ketika berbaring maupun berjalan, sapi tadi akan terganggu dan menderita kepedihan. Saat sedang mencerna makanan bagi persepsi, kalian seharusnya berpraktik untuk melihatnya dengan cara ini. Kalian akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman, yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan bagi persepsi. Ketika memiliki pandangan-jernih ini, maka kalian tidak akan lagi melekat pada ketiga jenis perasaan. Ketika sudah tidak lagi melekat pda ketiga jenis perasaan, maka para siswa-suci tidak perlu lagi berjuang-keras, karena apa pun yang perlu dilaksanakan sudahlah terlaksana.”

“Bagaimana seharusnya seorang praktisi memeditasikan makanan bagi kehendak? Imajinasikan ada sebuah perkampungan atau kota besar di samping lubang tungku arang. Hanya tersisa bara api hangat tanpa asap. Sekarang, ada pria cerdik yang memiliki kebijaksanaan memadai, yang tidak ingin menderita serta hanya menginginkan kebahagiaan dan kedamaian. Dia tidak ingin mati, dia hanya ingin hidup. Dia pikir: “Di sana panasnya sangat tinggi, meskipun tidak ada asap dan api. Namun tetaplah, jika aku harus masuk ke dalam tungku itu, tidak diragukan lagi aku pastilah mati.” Mengetahui hal tersebut, dengan mantap dia meninggalkan kota besar atau perkampungan itu, serta pergi ke tempat lain. Praktisi harus bermeditasi seperti ini berkenaan makanan bagi kehendak. Dengan bermeditasi seperti ini, dia akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman, yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan bagi kehendak. Ketika mencapai pemahaman ini, maka ketiga jenis nafsu akan berakhir. Saat ketiga jenis nafsu berakhir, maka siswa-mulia yang berlatih serta berpraktik, tidak akan lagi memiliki apa pun untuk dilaksanakan, karena apa pun yang perlu dilaksanakan sudahlah terlaksana.”

“Bagaimana seharusnya seorang praktisi memeditasikan makanan bagi kesadaran? Imajinasikan para prajurit raja telah menangkap seorang penjahat. Mereka mengikat serta membawa penjahat tersebut ke hadapan raja. Karena sudah melakukan pencurian, maka dihukum dengan menusuk tubuhnya menggunakan tiga ratus pisau. Dia didera ketakutan dan kepedihan sepanjang siang dan sepanjang malam.

Praktisi harus memandang makanan bagi kesadaran dengan cara ini. Jika dia melakukannya, maka dia akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman, yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan bagi kesadaran. Ketika memiliki pemahaman seperti ini berkenaan makanan bagi kesadaran, maka para siswa-suci yang berlatih serta berpraktik, tidak akan perlu lagi untuk berjuang-keras, karena apa pun yang perlu dilaksanakan sudahlah terlaksana.”

Begitu Buddha selesai berbicara, para bhiksu dengan sangat berbahagia menghadirkan ajaran-ajaran ini ke dalam praktik.

Samyukta Agama, Sutra 373* 「雜阿含經 三七三,子肉