Wake Up

Wake Up

Generasi muda Buddhis dan Non-Buddhis demi masyarakat yang lebih sehat dan berwelas asih.

Thich Nhat Hanh

Wake Up merupakan komunitas global yang terdiri praktisi muda berusia dari 18 sampai dengan 35 tahun, komunitas ini terinspirasi oleh metode pengajaran Master Zen Thich Nhat Hanh. Kami berkumpul bersama mempraktikkan kewawasan (mindfulness) untuk merawat dirinya, memberikan kontribusi bagi terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan berwelas asih.

Kami ingin membantu dunia ini yang telah dibanjiri oleh intoleransi, diskriminasi, loba, kemarahan, dan putus asa. Kami menyadari bahwa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh masyarakat, dengan demikian kami memilih cara hidup agar bumi ini bisa bertahan lebih lama.

Mempraktikkan kewawasan, konsentrasi, dan keatifan (mindfulness, concentration, and insight) memungkinkan kita untuk menumbuhkan sikap toleransi, non diskriminasi, dan sikap welas asih di dalam diri sendiri dan dunia ini.

Praktik

Kami menjadikan 5 Latihan Sadar Penuh (Five Mindfulness Trainings) sebagai pedoman praktik konkrit tentang cinta sejati dan welas asih, dan jalan kehidupan harmonis dengan setiap orang dan bumi ini. Pedoman ini merupakan fondasi kehidupan dan mewakili pelayanan ideal kami.

Praktik yang kami lakukan berlandaskan upaya untuk membangkitkan kewaspadaan lewat napas dan hidup penuh kewawasan pada momen kekinian, menyadari apa yang sedang terjadi di dalam hati dan lingkungan sekitar. Praktik ini membantu kami menurunkan ketegangan (tension) dalam tubuh dan perasaan agar kami bisa hidup lebih bermakna dan bahagia, lalu menggunakan cara mendengar dengan penuh welas asih dan bahasa kasih untuk membangun kembali komunikasi dan rekonsiliasi dengan pihak lain.

Masa Depan Generasi Muda

Masa Depan Generasi Muda

Young monks and nuns from Plum Village @Borobudur May 2018

Terlepas dari apa pun pendapat seseorang tentang politik pengawasan senjata di Amerika Serikat (AS), gerakan pemuda March for Our Lives pada tanggal 24 Maret yang lalu memperlihatkan semangat besar, kemahiran dan ketelitian intelektual yang dimiliki oleh generasi muda, terutama ketika mereka memiliki semangat besar dalam menghadapi isu yang relevan terhadap kondisi dan masa depan mereka.

Generasi muda merupakan masa depan masyarakat; baik masa depan negara, komunitas religius, maupun keluarga. Untuk itu, generasi muda perlu diberikan pengarahan yang kuat, produktif, serta penuh empati.

Namun, pengarahan saja tidaklah cukup. Generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengeksplorasi bakat, mengembangkan keahlian, serta mengekspresikan diri mereka dalam komunitas Buddhis. Dengan demikian, generasi muda bisa berperan serta, menerima peluang dan tanggung jawab kepemimpinan, terutama mampu mendalami dan menjadikan agama Buddha sebagai pola pikir yang relevan dengan generasi mereka.

Gerakan generasi muda dalam menentang kekerasan senjata di seluruh AS bertepatan dengan tren-tren menarik seputar agama Buddha Amerika. Walaupun agama Buddha hanya merupakan sebagian kecil dari jumlah pemeluk agama di negara tersebut (contohnya, hanya terdapat 800.000 orang yang mengakui telah mempraktikkan agama Buddha di California), agama Buddha adalah satu-satunya agama yang mampu menarik pemeluk dari generasi muda – pada tahun 2007, 23% dari pemeluk agama Buddha berusia antara 18 sampai 29 tahun.

Sepuluh tahun kemudian, angka tersebut mencapai 34% (menurut Pew Research Center). Seorang akademisi di Universitas Berkeley, Layne R. Little, menyatakan bahwa agama Buddha mampu berkembang seperti ini berkat persepsi publik yang memandang Dharma sebagai ajaran pragmatis, berfokus pada pemahaman sifat sejati batin, kondisi manusia, serta cara mengurangi penderitaan.

Dengan keadaan dunia yang makin tidak stabil dan tidak menentu, makin banyak organisasi buddhis yang merasa bahwa pendekatan terhadap kepercayaan serta keimanan yang lebih humanis dan aktif, disertai dengan rasa kepedulian terhadap masyarakat, merupakan hal yang penting. Para pendukung ajaran Buddha humanis/aktif telah memimpin selama berpuluh-puluh tahun. Mereka berasal dari tradisi dan daerah yang berbeda-beda, dari Biksu Bodhi ke Thich Nhat Hanh ke Master Hsing Yun.

Kendati demikian gerakan agama Buddha maupun gerakan lainnya membutuhkan semangat, kreativitas, dan kecerdasan generasi muda untuk menyokongnya, terutama ketika dunia menyambut permasalahan-permasalahan baru. Ketika generasi muda diizinkan untuk mengembangkan potensi Bodhisatwa dengan sepenuhnya, maka masyarakat luas bisa merasakan berpuluh kali lipat manfaatnya.

Generasi muda dan institusi harus bekerja sama untuk saling memahami dan terbuka terhadap satu sama lainnya. Hubungan yang menguntungkan kedua belah pihak ini bisa jadi merupakan kunci untuk menyembuhkan penderitaan dan kegelisahan yang dirasakan pemuda masa kini, serta mungkin memperkenalkan kehidupan dan perspektif baru ke dalam struktur konvensional kita.

Generasi muda masa kini tenggelam dalam pertukaran pengetahuan yang terglobalisasi melalui internet dan media sosial. Karena informasi tentang agama bagi mereka tidak hanya berasal dari orangtua, guru, ataupun komunitas lokal, dan mereka akan terkepung oleh opini-opini yang saling bertentangan (tidak semua opini akan memihak pada agama), generasi muda tidak akan secara otomatis menghubungkan antara kepercayaan beragama dengan institusi yang menyatakan otoritas spiritual.

Walaupun kita mendukung generasi muda untuk mengeksplorasi tradisi Buddhis, kita percaya bahwa eksplorasi itu tidak perlu (atau tidak harus) memiliki penekanan doktrin yang sama dari generasi-generasi lalu. Hal ini dikarenakan walaupun inti Dharma tidak pernah berubah, agama Buddha terus-menerus merespon perkembangan kebutuhan sesuai dengan masyarakat yang berbeda-beda di seluruh dunia.

Pada tahun 1960, Master Zen Thich Nhat Hanh menulis surat detail kepada seorang pemuda mengenai bentuk latihan religius yang tidak akan bermanfaat baginya, dan yang menurut Thich Nhat Hanh harus ia hindari: “Bagi kebanyakan orang, agama hanyalah sekumpulan aturan dan ritual yang diwariskan oleh keluarga dan masyarakat. Akibat kemalasan atau kurangnya ketertarikan, banyak orang berpuas diri dengan pemahaman dangkal mengenai agama yang mereka peluk. Mereka tidak mempertimbangkan kebenaran ajaran agama tersebut berdasarkan pengalaman mereka sendiri, apalagi mempraktikkan ajaran-ajaran tersebut untuk mengembangkan dan menyembuhkan diri mereka. Orang-orang seperti ini lebih berpeluang untuk mengekspresikan kedogmatisan dan inteloransi.” (Plum Village)

Sebaliknya, Thich Nhat Hanh menyarankan generasi muda bahwa walaupun agama adalah sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri, agama juga merupakan cerminan perjalanan yang sangat personal, yang harus terus-menerus menjadi percakapan internal. “Jika kamu mengikuti suatu agama, jangan menjadi seperti mereka. Pelajari agamamu dengan kemampuan intelektualmu, sampai ke kedalaman dan keindahan ajaran-ajarannya, sehingga agamamu bisa menutrisi kehidupan spiritual.

Agama yang sehat adalah agama yang hidup. Agama harus bisa berkembang dan belajar merespon kesulitan-kesulitan masa kini… Agama harus melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya. Jangan biarkan siapapun menderita atau kehilangan nyawa atas nama agama.” (Plum Village)

Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, apa yang bisa diharapkan oleh generasi muda buddhis? Mereka seharusnya bisa mengharapkan agama Buddha yang menyadari dirinya sendiri, agama Buddha yang tidak memandang remeh pemuda, agama Buddha yang bersedia mengeksplorasi secara terbuka mengenai bagaimana memahami konsep-konsep tradisional.

Sebagai contoh, apakah makna sadar penuh (mindfulness) di era media sosial dan reaksi serta penilaian seketika? Bagaimanakah seseorang menerima pengalaman-pengalaman emosional yang dialami di masa remaja (juga dalam kehidupan) sambil melatih ketidakmelekatan dengan tulus? Kita tidak mampu memberikan jawabannya di sini. Namun, adalah sekolah-sekolah dan para guru yang melibatkan generasi muda dan bersedia mengeksplorasi isu-isu masa kini yang akan mengekspresikan agama Buddha yang tidak lekang oleh waktu.

Dunia makin tidak terduga. Perubahan iklim mengancam masa depan umat manusia. Ini adalah era dominasi teknologi data dan perusahaan-perusahaan raksasa. Tantangan-tantangan yang dihadapi para pendidik, pemimpin dan penyembuh masa depan akan makin penting. Namun jika pemimpin dan institusi spiritual mendukung generasi muda dan sebaliknya, maka tidak ada yang tidak bisa dicapai bersama-sama.

Sumber: Buddhistdoor View: Our Young Future
Terjemahan Bebas oleh: Aya Muhartono

Sutra Usia Muda dan Kebahagiaan

Sutra Usia Muda dan Kebahagiaan

Demikianlah yang telah saya dengar, suatu Buddha sedang menetap di Wihara Hutan Bambu di kota Rajagriha. Pada waktu itu tersebutlah seorang biksu, pada suatu subuh, ia pergi ke pinggir sungai, melepaskan jubah bagian atas dan meletakannya di pinggir sungai, lalu ia turun ke sungai untuk mandi. Setelah selesai mandi, ia keluar dari sungai, menunggu sebentar agar badannya kering, lalu mengenakan kembali jubah bagian atasnya. Tiba-tiba seorang dewi muncul, tubuhnya bersinar terang menerangi seluruh pinggiran sungai itu. Sang Dewi bertanya kepada biksu itu, “Bhante, Anda barusan ditahbiskan menjadi biksu. Rambut Anda masih hitam, Anda masih begitu muda. Dalam usia muda begini, bukankah seharusnya Anda mendandani diri dengan minyak wangi, batu permata, untaian bunga indah, menikmati 5 jenis kenikmatan sensual? Mengapa Anda meninggalkan sang kekasih tercinta dan memilih hidup berlawan dengan arus duniawi serta hidup sendirian? Anda mencukur habis rambut dan jenggotmu, mengenakan jubah petapa, menaruh keyakinan penuh pada praktik monastik. Mengapa Anda meninggalkan momen kekinian demi mencari kenikmatan masa depan?”

Biksu itu menjawab, “Saya tidak meninggalkan momen kekinian demi mencari kenikmatan masa depan. Saya telah melepaskan kenikmatan agar bisa menghadirkan kebahagiaan pada momen ini.”

Sang dewi bertanya, “Apa maksud Bhante?”

Biksu itu menjawab, “Buddha telah mengajarkan: kesenangan yang berasal dari kenikmatan sensual mengandung sedikit rasa manis dan banyak rasa pahit, dan memiliki potensi besar mengakibatkan bencana. Sekarang, saya bersemayam dalam Dharma yang sudah tersedia di sini dan saat ini, saya telah meletakkan kekotoran batin yang bagaikan api membara. Dharma telah tersedia di sini dan saat ini. Tidak lekang oleh waktu, selalu mengundang kita untuk datang dan melihatnya langsung. Dharma perlu direalisasikan dan dialami oleh setiap orang untuk dirinya sendiri. Inilah yang disebut sebagai melepaskan kenikmatan agar bisa menghadirkan kebagiaan pada momen ini.”

Sang Dewi lanjut bertanya kepada biksu itu, “Mengapa Buddha mengatakan kesenangan yang berasal dari kenikmatan sensual mengandung sedikit rasa manis dan lebih banyak rasa pahit, manfaatnya kecil tapi memiliki potensi besar mengakibatkan bencana? Mengapa Buddha mengatakan bahwa bersemayam dalam Dharma yang sudah tersedia pada saat ini dan di sini sehingga kita bisa melepaskan kekotoran batin yang bagaikan api membara? Mengapa Buddha mengatakan bahwa Dharma demikian berada di momen kekinian, tidak lekang oleh waktu, kita selalu diundang untuk datang dan melihatnya sendiri, selalu tersedia di saat ini dan di sini, kemudian direalisasikan dan dialami oleh setiap orang untuk dirinya sendiri?”

Biksu itu menjawab, “Saya baru 2 tahun menerima penahbisan. Saya belum punya keterampilan cukup untuk menjelaskan ajaran sejati dan sila yang telah dibabarkan oleh Buddha. Yang Mulia Buddha berada tidak terlalu jauh dari sini, di Hutan Bambu. Barangkali Anda bisa pergi dan bertanya kepada beliau secara langsung. Tathagata akan membabarkan Dharma sejati, dan Anda berkesempatan menerima dan mempraktikkan nasihat beliau sebagaimana sesuai dengan diri Anda.”

Sang Dewi itu membalas, “Bhante, pada saat ini Tathagata sedang dikelilingi oleh dewa-dewi yang sangat kuat dan berpengaruh. Sungguh sulit bagi saya untuk bisa mendekati beliau dan bertanya langsung tentang Dharma. Apakah Bhante berkenan membantu saya menanyakan pertanyaan itu kepada Beliau langsung? Saya akan menemanimu.”

Biksu itu menjawab, “Iya, saya akan membantumu.”

Sang Dewi membalas, “Bhante, saya akan menemanimu.”

Biksu itu tiba di hadapan Buddha, bersujud dan menghormat, setelah itu mundur sedikit dan duduk di pinggir. Biksu itu mengulang semua percakapannya dengan sang dewi, lalu berujar, “Buddha Yang Mulia, Sang Dewi ini bertanya dengan sepenuh hati, oleh karena itulah dia mengikuti saya ke sini.” Tiba-tiba ada suara dari kejauhan, “Bhante, saya di sini, saya di sini.”

Buddha segera mempersembahkan gatha ini:
“Makhluk menghasilkan pikiran keliru
berkenaan dengan objek-objek nafsu keinginan.
Oleh karena itulah mereka terjebak dalam nafsu keinginan.
Karena mereka tidak tahu apa itu sesungguhnya nafsu keinginan,
mereka terdorong ke jalan menuju kematian.”

Lalu Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang Dewi itu menjawab, “Saya belum mengerti, Yang Mulia. Saya masih belum mengerti.”

Buddha kemudian melantunkan satu gatha lagi untuk dewi itu:
“Ketika engkau mengetahui hakikat nafsu keinginan,
maka nafsu pikiran tidak akan muncul.
Ketika tiada lagi nafsu keinginan, maka tiada persepsi bisa menjadi landasannya,
Pada saat itu, tiada orang yang bisa menggodamu.”

Kemudian Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang dewi itu menjawab, “Saya belum mengerti, Yang Mulia. Saya masih belum mengerti.”

Buddha kemudian melantunkan gatha lagi untuk dewi itu:
“Jika Anda merasa lebih besar, kecil, atau setara,
Anda telah menyebabkan perselisihan.
Ketika tiga kompleks itu telah berakhir,
Tiada lagi yang bisa menggoncang pikiranmu.”

Kemudian Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang dewi itu menjawab, “Saya belum mengerti, Yang Mulia. Saya masih belum mengerti.”

Lalu Buddha melantunkan gatha lagi untuk dewi itu:
“Mengakhiri nafsu keinginan, mengatasi tiga kompleks,
pikiran menjadi hening, tiada yang perlu didambakan lagi.
Kita meletakkan semua gangguan batin dan kesedihan,
Dalam kehidupan ini maupun akan datang.”

Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang Dewi itu menjawab, “Saya sudah mengerti, Yang Mulia. Saya sudah mengerti sepenuhnya.”

Demikianlah Buddha telah selesai membabarkan ajaran ini. Sang dewi sangat berbahagia telah mendengar pembabaran itu. Ia bertekad untuk mempraktikkan ajaran itu, lalu ia menghilang. Jejaknya tidak ditemukan lagi di setiap sudut.

Samiddhi Sutta, Samyukta Agama 1078
(berkorespondensi dengan Samyutta Nikaya 1.20, juga Taisho 99)