Mengatasi Kemarahan

Mengatasi Kemarahan

Sewaktu energi marah dan kekesalan muncul, sebagai praktisi meditasi kita harus segera kembali ke bernapas secara sadar dan melakukan meditasi berjalan, untuk menghasilkan energi keadaan sadar-penuh supaya kita dapat mengenali dan mengatasi kemarahan itu.

Napas masuk, aku tahu ada marah yang sedang berada di dalam diriku
Napas keluar, kuatasi energi marah dalam diriku ini dengan baik

Lanjutkan praktik dengan cara itu untuk memproduksi energi keadaan sadar-penuh, untuk mengenali dan memeluk energi marah itu.

Kita sebaiknya jangan membiarkan energi marah itu membesar sendiri; kita harus mengerahkan energi sadar-penuh untuk datang dan menanganinya. Keadaan sadar-penuh itu mirip seorang ibu yang datang memeluk deritanya sendiri yakni bayinya yang sedang menangis. Bila sang ibu sudah mengangkat si bayi yang nangis itu dan dengan lembut menggendongnya, si bayi sudah mulai merasa nyaman. Bila marah dipeluk oleh keadaan sadar-penuh, dia mulai tenang kembali.

Setiap kali marah muncul, silakan praktikkan cara itu, dan jangan mengatakan atau melakukan apa pun atas situasi yang Anda hadapi. Bayangkanlah Anda sedang berada jauh dari rumah, tengah membereskan suatu urusan di luar, dan Anda baru saja kembali dan menemukan rumah Anda terbakar. Hal pertama yang perlu Anda lakukan bukanlah berlari ke lingkungan sekitar Anda untuk mencari biang keladinya, memarahinya, dan menyeretnya ke pengadilan. Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengatasi kebakaran itu sendiri, supaya tidak menghanguskan semuanya. Bila marah sedang mendera Anda, jangan menunduk pada dorongannya untuk mengeluarkan marah dan bertindak. Kembalilah pada pernapasan Anda dan atasi lebih dulu emosi Anda sendiri.

Begitu marah mulai mereda, kita bisa mulai melihat akar masalahnya. Mungkin persepsi keliru yang telah memicunya. Mungkin kita merasa yakin bahwa ada orang yang dengan sengaja telah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati kita, padahal sebenarnya dia tidak bermaksud demikian. Setelah merenungkannya, kita mungkin dapat mengenali persepsi kita yang keliru, yang akan meredakan marah kita. Bila setelah dua puluh empat jam setelah mempraktikkan itu, kita masih belum menemukan jalan keluar maka kita perlu menyampaikan kepada orang itu apa yang terjadi. Bila kita tidak mampu melakukannya dengan tenang secara langsung, kita dapat menulis pesan. Ada tiga hal yang perlu kita sampaikan:

1. Aku marah kepadamu, dan aku ingin tahu kamu tahu
2. Aku berusaha sebisaku untuk bersabar
3. Bantulah aku.

Begitu selesai menuliskan ketiga kalimat itu saja, meski pesan itu belum dikirim, kemarahan kita sudah sedikit mereda.

Bila kita merasa kesal, kita bertanggung jawab untuk memberitahu orang yang membuat kita kesal itu. Orang itu bisa jadi adalah ayah, ibu, kakak atau abang, anak-anak, teman, kolega, atau rekan kerja kita.

Bila orang itu tahu bahwa kita merasa kesal, dia akan menengok ke belakang dan berpikir, “Apa yang telah kulakukan? Apa yang telah kukatakan yang membuatnya kesal?” Maka ketiga kalimat kita tadi juga bisa berfungsi sebagai undangan bagi orang itu untuk berkesempatan belajar pula. Orang itu akan menghargai dan menghormati Anda karena tidak bertindak gegabah karena marah, seperti yang biasa dilakukan oleh orang lain, dan juga menghargai Anda karena tahu apa yang harus dilakukan ketika sedang marah, dan Anda berkesempatan untuk kembali ke pernapasan sadar penuh dan merenungkan situasinya.

Kalimat ketiga adalah kalimat yang paling sulit untuk dikatakan atau dituliskan, karena bila kita sedang marah pada seseorang, kita punya kecenderungan untuk menghukum orang itu dengan mengatakan bahwa kita tidak membutuhkannya sama sekali. Alih-alih melakukan itu, kita harus menemukan keberanian untuk meminta bantuan kepadanya. Kita tahu kenyataan yang sebenarnya—kita memang membutuhkannya—dan kita tidak boleh membiarkan kesombongan menghalangi kita melewati situasi-situasi yang sulit.

Maka setiap kali Anda berhasil mengatakan atau menuliskan kalimat ketiga itu, Anda mulai dapat merasakan kekesalan Anda sudah mulai berkurang.

Silakan tulis tiga kalimat itu dalam selembar kertas seukuran kartu kredit dan simpan dalam dompet Anda. Bila Anda sedang marah, dan terutama bila Anda marah pada seorang yang paling Anda cintai, keluarkanlah kertas itu dan bacalah. Kemudian bila Anda masih saja berada dalam cengkeraman marah, Anda akan tahu apa yang ingin Anda lakukan—dan tidak ingin lakukan.

Ribuan orang kini mempraktikkan ini dan, dengan menggunakan praktik ini, mereka sudah berhasil mengatasi berbagai kesulitan. Semoga Anda pun berhasil!

Membangun Komunitas

Membangun Komunitas

Membangun sebuah komunitas (sangha) seperti menanam bunga matahari. Kita mencari kondisi-kondisi yang bisa menyokong pertumbuhan bunga dan kondisi apa saja yang bisa menghambat pertumbuhannya. Kita membutuhkan bibit-bibit yang sehat, tukang kebun yang terampil, dan banyak sinar matahari serta lahan. Saat kita mulai bekerja dalam pembangunan komunitas, hal yang paling penting untuk diingat adalah bahwa kita sedang melakukannya bersama-sama.

Makin kita bersatu dalam komunitas, kita juga mulai merasakan bahwa keegoisan makin mengecil. Kita bisa relaks mulai menaruh kepercayaan pada kebijaksanaan dan wawasan kolektif komunitas. Kita dapat melihat dengan jelas bahwa mata dan tangan-tangan serta hati komunitas lebih besar daripada individu.

Kita punya kesempatan untuk membantu membangun komunitas setiap saat, dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan komunitas dan menyumbangkan tenaga serta wawasan-wawasan kita. Untuk menopang latihan kita sendiri bilamana kita meninggalkan pusat pelatihan, kita perlu mengetahui bagaimana membangun sebuah komunitas. Mari kita aktif dalam menjalin hubungan persaudaraan dengan mereka yang ada di sekitar kita. Bilamana kita menyadari sifat sejati kita yakni saling kebergantungan (interbeing), secara alami kita menjalin hubungan persahabatan dengan orang lain dengan berbagi latihan kita dan meminta dukungan serta bimbingan dari sesamanya.

Thay mengajarkan kita agar penuh semangat dalam latihan hidup berkesadaran. Masa lalu telah berakhir dan masa depan tidak pasti, hanya masa sekarang ini yang merupakan keajaiban hidup. Hidup dalam suasana ini, kita sudah menjadi anggota yang berharga dari komunitas. Kita akan terampil bekerja dalam proses yang terus-menerus dalam membangun sebuah tempat berlindung bagi banyak orang.

Thay mendorong kita semua untuk menjadi pendiri komunitas, mengikuti jejak Buddha, beliau seorang pendiri komunitas yang hebat. Bila kita dapat hidup dan berlatih dalam kerukunan di dalam komunitas kecil, maka kita bisa berbagi kerukunan ini dengan komunitas yang lebih besar, keluarga dan teman-teman kita, kerabat kerja dan para sesama praktisi. Bilamana ada sukacita dalam praktik pembangunan komunitas latihan, maka kita tahu cara yang kita lakukan sudah tepat.