Kokoh bagaikan Gunung — Syair Paralel untuk Tahun Kuda

Kokoh bagaikan Gunung — Syair Paralel untuk Tahun Kuda

Dengan penuh sukacita Plum Village mempersembahkan syair paralel ini untuk menyambut Tết, Tahun Baru Imlek Tahun Kuda.

Tentang apakah Tradisi ini sesungguhnya?

Setiap malam Tahun Baru Imlek, guru kami yang tercinta, Thich Nhat Hanh, menciptakan sebuah tradisi menulis sebuah syair puisi sederhana dalam bentuk kaligrafi kepada sangha yang dapat menginspirasi dan memelihara praktik berkesadaran penuh kita sepanjang tahun. Inovasi Thay ini dibentuk untaian dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Vietnam (bukan dalam aksara Tionghoa). Komunitas Plum Village sangat senang melanjutkan tradisi indah ini.
Di pusat-pusat latihan Plum Village di seluruh dunia, kami mencetak kaligrafi ini (dengan tetap mempertahankan bentuk diamond atau belah ketupat), menempelkannya pada kartu berwarna-warni, dan memasangnya di sekitar ruang makan, aula meditasi, dan ruang tempat tinggal sebagai persiapan untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Kami juga menggantungnya di dahan pohon Japonica dan Plum yang berbunga lebih awal yang kami bawa masuk untuk mempercantik ruangan kami, sebagai simbol datangnya musim semi.
Saat melafalkan syair ini, kita dapat mengkombinasikan setiap baris dengan napas kita. Misalnya, kita dapat merenungkan “Kokoh bagaikan gunung” saat kita menarik napas, dan merenungkan “Bebas bagaikan awan putih” saat kita mengembuskan napas. Kata-kata ini bukanlah sebuah pernyataan, melainkan aspirasi hidup yang ingin kita tumbuhkan.
Kita dapat menempatkan dua bentuk yang saling melengkapi ini sebagai pasangan, berdekatan satu sama lain (di atas, bawah, atau di samping). Anda dapat mencetak dan menempelkan syair-syair tersebut di kulkas, pintu, atau di dekat sakelar lampu sebagai pengingat yang baik agar selalu mengingat pesannya, dan memperbarui diri kita dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Anda dapat berkreasi dengan tempat di mana ingin menempelkannya dan cara mempraktikkan syair-syair ini.

Bagaimana Cara Berlatih dengan Syair Tahun Ini?

Solid Bagaikan Gunung

Napas masuk, saya melihat diri saya bagai sebuah gunung.
Napas keluar, saya merasa kokoh.

Latihan ini membantu kita untuk berdiri kokoh ketika kita diliputi perasaan kuat yang menggangu. Setiap kali kita merasa putus asa, cemas, takut, atau marah, kita hanyut terbawa ke pusat pusaran angin. Kita seperti pohon yang berdiri di tengah badai. Jika kita melihat ke atas, kita akan melihat cabang-cabang kita merunduk seolah-olah akan patah dan terbawa badai. Akan tetapi jika kita melihat ke bawah pada batang dan akarnya, kita akan tahu bahwa akar pohon itu tertancap kuat di bumi, dan kita akan merasa lebih stabil dan rileks.

Tubuh dan pikiran seperti itu. Ketika ada badai emosi dalam diri kita, jika kita tahu bagaimana menarik diri dari badai—artinya, jika kita tahu bagaimana menarik diri dari kekacauan di otak kita—kita tidak akan tersapu. Kita harus mengalihkan perhatian kita ke satu tempat di perut kita yang disebut titik akupunktur dantien (sekitar empat jari di bawah pusar) dan bernapas dengan perlahan dan mendalam selaras dengan syair “gunung, kokoh.”

Dengan melakukan ini, kita akan melihat bahwa diri kita bukan terdiri dari emosi kita semata. Emosi datang dan pergi, tetapi diri kita akan tetap ada. Ketika kita tertekan oleh emosi kita, kita merasa sangat tidak aman dan rapuh; kita merasa seolah kita berada dalam bahaya kehilangan nyawa. Beberapa orang tidak tahu bagaimana menghadapi emosi mereka yang kuat. Ketika mereka sangat menderita karena keputusasaan, ketakutan, atau kemarahan, mereka berpikir bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan mereka adalah dengan mengakhiri hidup mereka. Tetapi mereka yang tahu bagaimana duduk bermeditasi dan berlatih bernapas dengan latihan “gunung, kokoh” dapat melewati masa-masa sulit dan penderitaan seperti itu.

Latihan ini juga dapat dipraktikkan saat kita berbaring. Kita dapat mengarahkan perhatian kita pada naik turunnya perut bagian bawah dan terus mengamatinya. Ini akan memungkinkan kita untuk meninggalkan badai dan tidak jatuh kembali ke dalamnya. Kita berlatih bernapas dengan perut ini sampai hati dan pikiran kita tenang dan badai berlalu.

Namun, kita tidak boleh menunggu sampai kita berada dalam kesulitan untuk berlatih. Jika kita belum membiasakan diri untuk berlatih, kita tidak akan tahu apa yang harus dilakukan, dan emosi kita mungkin akan kembali menguasai dan membuat kita tertekan. Untuk membentuk kebiasaan yang baik, kita dapat berlatih setiap hari; dengan cara itu, setiap kali perasaan menyakitkan muncul, kita akan tahu secara alami bagaimana mentransformasikannya.

Selain itu, kita dapat menjelaskan praktik ini kepada kaum muda untuk membantu mereka agar tidak menjadi korban emosi mereka yang kuat.

~ Thich Nhat Hanh (The Blooming of a Lotus: Essential Guided Meditations for Mindfulness, Healing, and Transformation)

Bebas bagaikan Awan Putih

Anda merasa tidak memiliki kebebasan, tetapi kebebasan dari apa? Kebebasan untuk melakukan hal yang Anda inginkan? Kebebasan paling utama adalah kebebasan dari amarah, kesedihan, kebingungan, dan dari keterikatan Anda. Karena semua hal ini membawa keburukan, semua hal ini membawa penderitaan.

Kebebasan adalah latihan kita, karena setiap menit latihan kita dapat membantu membawa kebebasan kepada kita—kebebasan dari kelalaian (forgetfulness). Kita lupa bahwa hidup adalah keajaiban. Hidup dan berada di planet ini—penuh kehidupan, penuh keajaiban—adalah kebahagiaan. Mengetahui bahwa Kerajaan Allah, Tanah Suci Buddha tersedia di sini dan saat ini. Terkadang akal pikiran kita menyadari bahwa keajaiban hidup, kerajaan itu, ada di sini dan saat ini, namun kita tidak dapat terhubung dengannya karena amarah, depresi, ketidakpastian, dan keputusasaan kita. Itulah kebebasan paling utama, kebebasan dari penderitaan kita. Kita berlatih berkesadaran penuh yang benar (right mindfulness, 正念) untuk kembali ke sini dan saat ini, sehingga kita dapat menyentuh Kerajaan Allah, Tanah Suci Buddha, keajaiban hidup.

~ Thich Nhat Hanh (Dikutip dari Dharma talk Thay pada tanggal 13 Mei 2004)

Komunitas yang terkasih, sungguh merupakan sumber sukacita yang luar biasa mengetahui bahwa kita saling memiliki satu sama lain dan memiliki satu jalan praktik yang indah. Semoga kita semua memiliki keberanian untuk menyembuhkan dan berdamai dengan masa lalu kita, sehingga kita dapat meraih lebih banyak kebebasan di masa kini dan terus melangkah indah ke masa depan. Semoga kita semua terus berlatih bersama, menciptakan kedamaian, stabilitas, dan kebebasan dalam setiap langkah dan setiap tarikan napas! (Penerjemah: RuminiTrue Spring Season)

Dari Plum Village, kami mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek yang penuh kedamaian dan kebahagiaan!


Unduh Syair Paralel yang Ditulis oleh Br. Phap Huu
Unduh syair paralel ini dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, atau Vietnam untuk dicetak di kertas A4. (Berbagai ukuran)

Coming Home To Myself

Coming Home To Myself
The song was written by Joseph Emet and published in the book “Basket of Plums Songbook: Music in the Tradition of Thich Nhat Hanh” (compiled by Joseph Emet). A new set of words by Michael Ciborski.

Breathing in, I go back
To the island within myself.
There are beautiful trees
Within the island.
There are clear streams
Of water, there are birds,
Sunshine and fresh air…
Breathing out, I feel safe.
I enjoy going back to my island.

Breathing in, I go back
To the ocean within myself.
There are dolphins and whales
Within the ocean.
there are strong tide
and currents there are shells
starfish seaweed
Breathing out, I feel joy
I enjoy going back to my ocean.

Breathing in, I go back
To the mountain within myself.
There are cliffs and waterfalls
Within the mountain.
There is deep solid rock
crystals and gems
sparkling caves and high peaks
Breathing out, I feel strange
I enjoy going back to my mountain.

Breathing in, I go back
to the bluesky within myself.
There are full moon and planets
within the big bluesky
there are wise owls and eagles
there are Sun
rainbows graceful bird
Breathing out, I feel peace
I enjoy going back to my bluesky.

At the Foot of the Mountain

At the Foot of the Mountain
At the Foot of a Mountain, by Sr. True Vow

Unduh Mp3 klik sini


At the foot of the mountain, there is a stream
Take the water from the stream and wash yourself
And you’ll be cured, you are cured.

Under the soles of your feet, there is the earth
Take a step on the earth, don’t you feel the stream
And you’ll be free, you are free

In the heart of great beings, there is a stream
Let it flow, let it be the ground of your being
And you’ll be loved, you are loved, you are loved, you are loved.

Ada Di Hatiku

Ada Di Hatiku

Sinar matahari
di wajah dan mataku
matahari bersi-nar terang (2x)

Sungai mengalir deras
dari gunung ke kakiku
sungai mengalir ke- hatiku (2x)

Chorus:
Dari gunung dan bunga
anak kecil dan rusa (rusa)
kasih sayang sesama
Ada ruang hatiku- untukmu

Pohon menari indah
menghasilkan oksigen
pohon menari di- hatiku (2x)

Burung berterbangan
ikan berenang bebas
semuanya ada di- hatiku (2x)

Dari gunung dan bunga
anak kecil dan rusa (rusa)
kasih sayang sesama
ada ruang hatiku (rumahku) untukmu (3x)

Kebahagiaan Masa Kini

Kebahagiaan Masa Kini

Buddha bersabda:
Masa lalu telah pergi,
masa depan belum juga tiba,
jangan biarkan hatimu tenggelam
dalam penyesalan akan masa lalu
atau khawatir akan masa depan.
Anda bisa hidup damai, bahagia, dan bebas
dalam setiap momen kekinian
”. (Genta)

Hari ini, dengarkanlah nasihat Buddha
uraikanlah ikatan kesedihan dan kecemasan
kembalilah ke hati masing-masing
hadir seutuhnya untuk menyambut apa pun
yang ada di depan mata saat ini
kenalilah semua kondisi kebahagiaan
semuanya sudah lengkap dalam diriku
juga di sekitarku.
Aku bisa mendengarkan kicauan burung
desiran angin menerpa pohon pinus,
aku menatap pegunungan hijau,
mega putih suci, candra keemasan
Tanah Suci sudah mewujud,
hadir dalam setiap detik kehidupan,
setiap hari aku bisa merasakan
kehadiran Tanah Suci Buddha.
Setiap napas dan langkah berkesadaran,
Membawaku kembali ke Tanah Suci,
Menyingkap keajaiban Dharmakaya. (Genta)


Aku bertekad meletakkan semua
ketergesa-gesa, keserakahan,
kesibukan, dan sifat kompetisi,
aku bertekad tidak mengejar
ketenaran, kekuasaan,
kekayaan, dan kenikmatan sensual
karena aku sudah tahu
semua itu tidak mengantarkanku
ke pintu kebahagiaan sejati,
justru membuatku makin
mendera duka nestapa. (Genta)


Aku ingin hidup sederhana,
aku ingin hidup bersahaja
aku bertekad melakoni hidup
dengan sepenuh hati
agar aku punya waktu untuk
menyelami setiap momen,
agar badan dan batin
bisa sembuh kembali
agar aku punya waktu untuk
mencurahkan perhatian kepada
mereka yang kucintai. (Genta)


Aku bertekad menumbuhkan
pengertian (Prajñā) dan welas asih (Karuṇā)
agar aku mampu menolong
semua makhluk di sepuluh-penjuru
mereka yang sedang tenggelam
dalam lautan keserakahan. (Genta)


Aku memohon kepada Buddha
di sepuluh-penjuru
lindungi dan tuntunlah aku,
dukunglah aku di sepanjang jalan ini,
agar setiap hari aku bisa hidup dengan
damai, sukacita, dan bebas
menunaikan aspirasiku yang terdalam
sebagai muridmu,
murid yang engkau percayai dan cintai. (Genta 2x)

–Thich Nhat Hanh, hiện pháp lạc trú , nhật tụng thiền môn; hal. 177-179