Sutra Vajracchedika Prajñaparamita

Sutra Vajracchedika Prajñaparamita

1
Demikian yang telah kudengar, suatu ketika Buddha bersemayam di Wihara Anathapindika-arama di Hutan Jeta, dekat Shravasti, disertai oleh serombongan biksu yang jumlahnya 1.250 orang, para biksu yang telah menerima penahbisan penuh.
Hari itu, tatkala tiba saatnya untuk mengumpulkan makanan, Buddha mengenakan jubah sanghati, dengan membawa mangkuk, pergi ke kota Shravasti untuk mengumpulkan sedekah makanan dari rumah ke rumah. Seusai pengumpulan makanan, Beliau kembali ke wihara, menyantap sarapan tengah hari. Kemudian Beliau menanggalkan jubah sanghati, menyimpan mangkuk-Nya, mencuci kaki, menata alas duduk, dan duduk di atasnya.

2
Pada kesempatan tersebut, Bhante Subhuti bangkit berdiri, bahu kanannya terbuka, berlutut, serta merangkapkan kedua telapak tangannya dengan penuh hormat berkata kepada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, sungguh langka menjumpai orang seperti-Mu. Engkau senantiasa mendukung dan menaruh kepercayaan istimewa kepada para Bodhisattwa.”
“Bhagawa Junjungan Dunia, jika putra-putri dari keluarga berbudi luhur ingin merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, apa yang hendaknya mereka andalkan? Dan apa yang hendaknya mereka lakukan untuk mengendalikan pikiran mereka?”
Buddha menjawab, “Pernyataan yang bagus, Subhuti! Apa yang engkau katakan itu sepenuhnya benar. Tathagata senantiasa mendukung dan menunjukkan kepercayaan yang istimewa kepada para Bodhisattwa. Dengarkanlah dengan penuh perhatian dan Tathagata akan menjawab pertanyaanmu. Jika putri dan putra keluarga berbudi luhur ingin merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, mereka hendaknya mengandalkan dan mengendalikan pikirannya berdasarkan cara berikut ini.”
Yang Mulia Subhuti berkata, “Bhagawa, dengan gembira kami akan mendengarkan ajaran-Mu.”

3
Buddha berkata pada Subhuti, “Beginilah hendaknya para Bodhisattwa Mahasattwa mengendalikan pikirannya. ‘Berapa pun banyaknya spesies makhluk—entah terlahir melalui telur, kandungan, kelembapan, atau secara spontan; entah mereka memiliki wujud yang terlihat atau yang tak terlihat; entah mereka memiliki persepsi atau tak memiliki persepsi; atau entah tak dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki persepsi atau mereka tidak memiliki persepsi, kita harus membimbing semua makhluk tersebut menuju Nirwana yang tertinggi, sehingga mereka dapat terbebaskan. Begitu para makhluk yang jumlahnya tak terhingga, tak terbilang, tak terhitung ini telah terbebaskan, kita sesungguhnya tidak berpikir bahwa ada satu makhluk yang telah terbebaskan.’
“Mengapa demikian? Subhuti, jika seorang Bodhisattwa melekat pada gagasan bahwa suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan sungguh-sungguh ada, ia bukanlah Bodhisattwa yang sejati.”

4
“Lebih jauh lagi, Subhuti, jikalau seorang Bodhisattwa mempraktikkan kedermawanan (dana), ia tidaklah mengandalkan objek apa pun—dengan kata lain, ia tidak bergantung pada apa pun wujud yang terlihat, suara, bebauan, cita rasa, objek sentuhan, dan objek pikiran—untuk mempraktikkan kedermawanan. Subhuti, demikianlah hakikat bagaimana seharusnya seorang Bodhisattwa mempraktikkan kedermawanan, yakni tidak bergantung pada ciri-ciri apa pun. Mengapa demikian? Apabila seorang Bodhisattwa mempraktikkan kedermawanan tanpa mengandalkan ciri-ciri apa pun, kebahagiaan yang timbul tak dapat dibayangkan atau diukur. Subhuti, apakah engkau berpikir bahwa ruang angkasa di sebelah timur dapat diukur?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
“Subhuti, dapatkah ruang angkasa di sebelah barat, selatan, utara, atas, dan bawah diukur?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
“Subhuti, jika seorang Bodhisattwa tidak bergantung pada konsep apa pun sewaktu mempraktikkan kedermawanan, maka kebahagiaan yang timbul dari perbuatan bajik tersebut adalah seluas ruang angkasa. Ia tak dapat diukur. Subhuti, para Bodhisattwa hendaknya mengikhlaskan pikirannya sebagaimana ajaran-ajaran yang Aku babarkan.”

5
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Mungkinkah memahami Tathagata melalui ciri-ciri tubuh jasmani?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Ketika Tathagata menyatakan tentang ciri-ciri tubuh jasmani, bukan ciri-ciri yang dibicarakan.”
Buddha berkata pada Subhuti, “Di mana ada sesuatu yang bisa dibedakan berdasarkan ciri-ciri, di sana pula terdapat hal yang memperdaya. Jikalau engkau dapat memahami hakikat tiadanya ciri yang terdapat dalam ciri-ciri, maka engkau dapat melihat Tathagata.”

6
Yang Mulia Subhuti bertanya pada Buddha, “Di masa mendatang, akankah ada orang yang ketika mendengar ajaran ini, memiliki keyakinan sejati dan menaruh kepercayaan padanya?
Buddha menjawab, “Jangan berkata begitu, wahai Subhuti. Lima ratus tahun setelah Tathagata mangkat, masih akan ada orang-orang yang menikmati kebahagiaan karena mengamalkan aturan-aturan moralitas. Apabila mereka mendengarkan sabda-sabda ini, mereka akan memiliki keyakinan dan percaya bahwa inilah kebenaran. Hendaknya kita ketahui bahwa mereka telah menanam benih kebajikan tidak hanya semasa kehidupan satu Buddha saja, atau bahkan dua, tiga, empat, atau lima Buddha, melainkan sebenarnya pernah menanam benih kebajikan selama kurun waktu kehidupan puluhan ribu Buddha. Barangsiapa yang hanya dalam sekejap saja membangkitkan keyakinan yang murni dan tulus begitu mendengar sabda-sabda Tathagata ini, maka Tathagata akan melihat serta mengenali orang tersebut, dan mereka akan mencapai kebahagiaan yang tak terukur berkat pemahaman ini. Mengapa?”
“Karena orang semacam itu tidak terperangkap dalam gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Mereka tidak terperangkap dalam gagasan mengenai suatu fenomena atau gagasan mengenai bukan fenomena. Mereka tidak terperangkap dalam konsep bahwa inilah suatu ciri dan itu bukan suatu ciri. Mengapa? Jika engkau terperangkap dalam gagasan mengenai suatu fenomena, engkau juga akan terperangkap dalam gagasan-gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, dan suatu jangka kehidupan. Jika engkau terperangkap dalam gagasan mengenai bukan fenomena, engkau masih terperangkap dalam gagasan-gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, dan suatu jangka kehidupan. Oleh karena itu, kita hendaknya tidak terperangkap dalam dharma-dharma (fenomena-fenomena) atau dalam gagasan bahwa dharma-dharma tidaklah ada. Inilah makna tersembunyi dari sabda Tathagata, “Para Biksu, hendaknya kalian mengetahui bahwa seluruh ajaran yang Kubabarkan bagi kalian adalah laksana sebuah rakit. Seluruh ajaran harus ditinggalkan, terlebih lagi yang bukan ajaran.”

7
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata telah merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna? Apakah Tathagata telah membabarkan ajaran?”
Yang Mulia Subhuti menjawab, “Sejauh saya memahami ajaran Buddha, tidak ada objek pikiran yang berdiri sendiri yang disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, begitu pula tidak ada ajaran yang berdiri sendiri yang dibabarkan oleh Tathagata. Mengapa? Ajaran yang direalisasi dan dibabarkan oleh Tathagata tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang terpisah, berdiri sendiri tidak bergantung hal lainnya, sehingga tak dapat digambarkan. Ajaran Tathagata bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, bukan pula tidak berdiri sendiri. Mengapa? Karena guru-guru yang mulia hanya dapat dibedakan dari yang lainnya dalam konteks hal yang mutlak tak terkondisi.”

8
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mengisi tiga juta jagat raya dengan tujuh macam harta berharga yang dipersembahkan sebagai wujud kedermawanannya, apakah orang itu akan mendapatkan banyak kebahagiaan karena perbuatan bajik tersebut?”
Yang Mulia Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia. Karena hakikat yang paling mendasar dari kebajikan dan kebahagiaan adalah bukan kebajikan dan kebahagiaan yang menurut Tathagata dapat dibicarakan mengenai kebajikan dan kebahagiaan.”
Buddha berkata, “Di sisi lain, jika ada orang yang menerima ajaran-ajaran ini dan mempraktikkannya, walau hanya sebait gatha empat baris, serta menjelaskan maknanya pada orang lain, kebahagiaan yang diperoleh dari kebajikan ini jauh melampaui kebahagiaan mempersembahkan tujuh macam permata berharga. Mengapa? Karena, Subhuti, semua Buddha dan dharma dari pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna pada semua Buddha timbul dari ajaran-ajaran ini. Subhuti, apa yang disebut Buddhadharma adalah segala sesuatu yang bukan Buddhadharma.”

9
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah seorang Pemasuk Arus (Srotapanna) berpikir, ‘Aku telah merealisasi buah tingkatan Memasuki Arus’?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Pemasuk Arus berarti memasuki arus, namun sesungguhnya tiada arus yang dimasuki. Ia tidaklah memasuki arus yang berupa wujud, ataupun arus yang berupa suara, bebauan, cita rasa, sentuhan, atau objek pikiran. Itulah maksudnya ketika kita mengatakan memasuki arus.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah seorang Yang Kembali Sekali Lagi (Sakrdagamin), berpikir ‘Aku telah merealisasi buah tingkatan Yang Kembali Sekali Lagi’?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Yang Kembali Sekali Lagi berarti pergi dan kembali terlahir sekali lagi, namun sesungguhnya, tiada yang pergi serta tiada yang kembali. Itulah maksudnya ketika kita mengatakan Yang Kembali Sekali Lagi.”
“Bagaimana pendapatmu, Subhuti? Apakah seorang Yang Tidak Kembali Lagi (Anagamin) berpikir seperti ini, ‘Aku telah merealisasi buah tingkatan Tidak Kembali Lagi’?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Yang Tidak Kembali Lagi berarti tidak kembali terlahir di muka bumi ini, namun sesungguhnya mustahil ada Yang Tidak Kembali Lagi. Itulah maksudnya ketika kita mengatakan Yang Tidak Kembali Lagi.”
“Bagaimana pendapatmu, Subhuti? Apakah seorang Arahat (Arhant) berpikir seperti ini, ‘Aku telah merealisasi buah Kearahatan’?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Karena tidak ada sesuatu yang terpisah yang bisa disebut Arahat. Jika seorang Arahat memiliki pemikiran bahwa ia telah merealisasi buah Kearahatan, maka ia masih terperangkap dalam gagasan mengenai adanya suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, dan suatu jangka kehidupan. Bhagawa Junjungan Dunia, Engkau kerap mengatakan bahwa saya telah merealisasi konsentrasi ketenangan yang tak kunjung henti dan dalam Sanggha, saya adalah Arahat yang terunggul mengatasi hawa nafsu dan keinginan. Bhagawa Junjungan Dunia, jika saya berpikir bahwa saya telah merealisasi buah Kearahatan, pastilah Engkau tidak akan mengatakan bahwa saya gemar bersemayam dalam konsentrasi ketenangan yang tak kunjung henti.

10
Buddha bertanya pada Subhuti, “Di masa lampau sewaktu Tathagata berlatih di bawah bimbingan Buddha Dipankara, apakah Ia mencapai sesuatu?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Di masa lampau sewaktu Tathagata berlatih di bawah bimbingan Buddha Dipankara, Ia tidaklah mencapai apa pun.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah seorang Bodhisattwa menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah bukanlah sesungguhnya menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah. Itulah sebabnya, kenapa disebut menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah.”
Buddha bertanya, “Subhuti, seluruh Bodhisattwa Mahasattwa hendaknya membangkitkan niat yang murni dan tulus dengan semangat ini. Sewaktu mereka membangkitkan niat tersebut, mereka hendaknya tidak bergantung pada wujud, suara, bebauan, cita-rasa, objek-objek sentuhan, atau objek-objek pikiran. Mereka hendaknya membangkitkan niat dengan pikiran mereka yang tidak bercokol di mana pun juga.”
“Subhuti, jika ada orang yang tubuhnya sebesar Gunung Sumeru, apakah engkau akan mengatakan tubuhnya besar?”
Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, sangat besar. Mengapa? Apa yang Tathagata katakan bukan tubuh yang besar, itulah yang dikenal sebagai tubuh yang besar.”

11
“Subhuti, sehubungan dengan seluruh butiran pasir di Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya, akankah engkau katakan bahwa butiran-butiran pasir dari Sungai Gangga tersebut sangat banyak?”
Subhuti menjawab, “Sungguh-sungguh sangat banyak, Bhagawa Junjungan Dunia. Jika Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya sudah sangat banyak jumlahnya, betapa jauh lebih banyak lagi jumlah butiran pasir di Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya.”
“Subhuti, kini Aku hendak bertanya padamu: jikalau seorang putri atau putra keluarga berbudi luhur mengisi tiga juta jagat raya dengan permata-permata berharga sebanyak butiran pasir di Sungai Gangga beserta seluruh anak sungainya, yang dipersembahkan sebagai wujud kedermawanannya, apakah orang itu akan mendapatkan banyak kebahagiaan karena perbuatan bajik tersebut?”
Subhuti menjawab, “Sangat banyak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
Buddha berkata pada Subhuti, “Jikalau seorang putri atau putra keluarga berbudi luhur terampil menerima, mempraktikkan, dan menjelaskan Sutra ini pada orang lain, walau hanya sebait gatha empat baris, kebahagiaan yang diperoleh dari kebajikan ini adalah jauh lebih besar.”

12
“Lebih jauh lagi, Subhuti, di kawasan mana pun tempat Sutra ini dibabarkan, walau hanya sebait gatha empat baris, akan menjadi kawasan tempat para dewa, manusia, dan asura hadir menghaturkan persembahan sebagaimana mereka menghaturkan persembahan di hadapan stupa Buddha. Jikalau kawasan tersebut dianggap sebagai tempat yang suci, terlebih lagi orang yang mempraktikkan dan mendaras Sutra ini. Subhuti, hendaknya engkau ketahui bahwa orang yang sanggup mewujudkannya telah mencapai sesuatu yang sungguh langka dan berharga. Di mana pun tempat Sutra ini dipelihara akan menjadi suci dan Buddha atau salah seorang siswa utama-Nya hadir di sana.”

13
Kemudian Subhuti bertanya pada Buddha, “Apa namanya Sutra ini dan bagaimanana seharusnya kami berbuat memperhatikan ajarannya?”
Buddha menjawab, “Sutra ini hendaknya dinamakan Intan Pemotong Ilusi, karena ia sanggup memotong sepenuhnya seluruh ilusi dan penderitaan serta membawa kita menuju pantai pembebasan. Gunakanlah judul tersebut dan praktikkanlah sesuai dengan maknanya yang terdalam. Mengapa? Apa yang Tathagata sebut sebagai pemahaman kebijaksanaan transenden yang tertinggi, sesungguhnya bukanlah pemahaman kebijaksanaan transenden yang tertinggi. Karena itulah yang benar-benar pemahaman kebijaksanaan transenden yang tertinggi.”
Buddha bertanya, “Bagaimana pendapatmu, Subhuti? Apakah ada barang sesuatu dharma yang Tathagata ajarkan?”
Subhuti menjawab, “Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata tidak mengajarkan apa pun.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah ada banyak butiran debu dalam ketiga juta jagat raya?”
“Sangat banyak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
“Subhuti, Tathagata mengatakan bahwa butiran-butiran debu ini bukanlah butiran-butiran debu. Itulah sebabnya mereka benar-benar adalah butiran-butiran debu. Apa yang Tathagata sebut sebagai jagat raya sesungguhnya bukanlah jagat raya. Itulah sebabnya mereka disebut jagat raya.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata dapat dikenali karena memiliki ketiga puluh dua tanda fisik?”
Yang Mulia Subhuti menjawab, “Tidak. Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Karena apa yang Tathagata sebut sebagai ketiga puluh dua tanda, pada dasarnya bukanlah tanda-tanda, dan itulah sebabnya Tathagata menyebutnya sebagai ketiga puluh dua tanda.”
“Subhuti, jika seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur mengorbankan hidupnya berkali-kali sebanyak jumlah butiran pasir di Sungai Gangga sebagai wujud kedermawanan (dana paramita) dan jikalau seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur lainnya mengetahui bagaimana menerima, mempraktikkan dan membabarkan Sutra ini pada orang lain, walau hanya sebait gatha empat baris, kebahagiaan yang timbul sebagai buah membabarkan Sutra ini adalah jauh lebih besar.”

14
Sewaktu Subhuti mendengarkan dan menyelami makna mendalam Sutra ini, ia begitu tergugah hatinya sehingga meneteskan air mata. Ia berkata, “Bhagawa Junjungan Dunia, Engkau sungguh adalah sosok yang langka di muka bumi ini. Semenjak saya memperoleh mata pengertian, saya belum pernah mendengar ajaran yang begitu mendalam dan menakjubkan seperti ini, terima kasih atas bimbingan Buddha. Bhagawa Junjungan Dunia, jikalau seseorang mendengarkan Sutra ini, memiliki keyakinan yang murni dan tulus terhadapnya, serta memasuki wawasan kebenaran, orang itu akan merealisasi kebajikan yang paling langka. Bhagawa Junjungan Dunia, wawasan memahami kebenaran pada dasarnya bukanlah wawasan. Itulah yang Tathagata sebut sebagai wawasan memahami kebenaran.
“Bhagawa Junjungan Dunia, saat ini tidaklah sulit bagi saya mendengar Sutra yang menakjubkan ini, membangkitkan keyakinan padanya, memahami, menerima, dan mempraktikkannya. Namun di masa mendatang, lima ratus tahun kemudian, jikalau ada orang yang bisa mendengar Sutra ini, membangkitkan keyakinan padanya, memahami, menerima, dan mempraktikannya, maka tentulah orang semacam itu sungguh agung serta langka adanya. Mengapa? Orang itu tidak akan dikuasai oleh gagasan mengenai adanya suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Mengapa? Gagasan mengenai adanya suatu diri bukanlah suatu gagasan, begitu pula sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, dan suatu jangka kehidupan, bukanlah suatu gagasan. Mengapa? Para Buddha disebut para Buddha karena Mereka bebas dari gagasan-gagasan.”
Buddha berkata pada Subhuti, “Benar demikian adanya. Jika seseorang mendengar Sutra ini dan tidak merasa takut atau khawatir, orang itu sungguh langka di muka bumi ini. Mengapa? Subhuti, apa yang Tathagata sebut parama-paramita, transendensi yang tertinggi, pada hakikatnya bukanlah transendensi yang tertinggi, dan itulah sebabnya ia disebut transendensi yang tertinggi.
“Subhuti, Tathagata mengatakan bahwa apa yang disebut kesabaran transenden bukanlah kesabaran transenden. Itulah sebabnya ia disebut kesabaran transenden. Mengapa? Subhuti, ribuan kelahiran yang lampau sewaktu tubuh-Ku dipotong-potong oleh Raja Kalinga, Aku tidaklah terperangkap dalam gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Jikalau pada saat itu, Aku terperangkap dalam gagasan-gagasan tersebut, Aku akan merasa marah dan sakit hati terhadap raja itu.
Aku juga ingat di masa lampau, selama lima ratus kali kehidupan, Aku mempraktikkan kesabaran transenden tanpa terperangkap oleh gagasan mengenai adanya suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Karenanya, Subhuti, jika seorang Bodhisattwa membangkitkan kesadaran pencerahan yang tiada bandingannya, ia harus melepaskan diri dari segenap gagasan. Ia tak dapat bergantung pada wujud sewaktu ia membangkitkan kesadaran tersebut, dan tidak pula pada suara, bebauan, cita rasa, objek-objek sentuhan, atau objek-objek pikiran. Ia hanya dapat membangkitkan kesadaran itu dengan tidak terikat oleh apa pun.
Tathagata menyatakan bahwa segenap konsep bukanlah konsep dan semua makhluk bukanlah makhluk. Subhuti, Tathagata mengatakan tentang segala sesuatu sebagaimana adanya, mengatakan apa yang benar, dan mengatakan sesuai dengan realitas. Ia tidaklah memperdayakan atau demi menyenangkan orang lain. Subhuti, jika kita mengatakan bahwa Tathagata telah merealisasi suatu ajaran, maka ajaran itu bukanlah dapat dimengerti atau sukar untuk dipahami.
Subhuti, seorang Bodhisattwa yang masih bergantung pada konsep-konsep agar dapat mempraktikkan kedermawanan adalah laksana seseorang yang berjalan dalam kegelapan. Ia tak akan melihat apa pun. Namun jikalau seorang Bodhisattwa tidak bergantung pada konsep apa pun untuk mempraktikkan kedermawanan, ia adalah laksana orang yang penglihatannya normal berjalan di bawah terangnya sinar mentari. Ia akan sanggup melihat segala bentuk wujud dan warna.
Subhuti, jika di masa mendatang terdapat putri atau putra dari keluarga berbudi luhur yang sanggup menerima, membaca, dan mempraktikkan Sutra ini, Tathagata akan melihat orang itu dengan mata pengertian. Tathagata akan mengenali orang itu, dan orang itu akan merealisasi buah perbuatan bajiknya yang tak terukur, tak terbatas.”

15
“Subhuti, jika di satu pihak, seorang putri atau putra dari keluarga berbudi luhur mengorbankan hidupnya di pagi hari berkali-kali sebanyak jumlah butiran pasir di Sungai Gangga sebagai wujud kedermawanan, dan sama banyaknya mengorbankan hidupnya di siang hari, begitu pula di malam hari, serta mereka terus-menerus melakukannya dalam masa yang tak terhitung lamanya; sementara itu, di pihak lain, jika ada orang yang mendengarkan Sutra ini dengan penuh keyakinan tanpa penyangkalan, kebahagiaan yang dialami orang itu adalah jauh lebih besar. Namun kebahagiaan dari orang yang menyalin kembali Sutra ini, menerima, mendaras, dan membabarkannya pada orang lain, tidaklah dapat dibandingkan dengannya.
“Subhuti, secara ringkas, Sutra ini mendatangkan kebajikan beserta kebahagiaan yang tak terhingga, yang tak dapat dibayangkan maupun diukur. Jika ada seseorang yang mampu menerima, mempraktikkan, mendaras, dan berbagi Sutra ini dengan insan lain, Tathagata akan melihat serta mengenali orang tersebut. Ia akan memiliki kebajikan yang tak terbayangkan, tak tergambarkan, dan tiada bandingannya. Orang semacam itu akan sanggup mengemban karier dari Tathagata yang tercerahkan, yang tertinggi, yang paling sempurna. Mengapa? Subhuti, jika seseorang sudah puas dengan ajaran-ajaran kecil, jika ia masih terperangkap dalam gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan, ia tak akan sanggup mendengarkan, menerima, mendaras, dan membabarkan Sutra ini pada orang lain. Subbhuti, di mana pun Sutra ini dijumpai, kawasan itu merupakan tempat para dewa, manusia, beserta asura menghaturkan persembahan. Tempat semacam itu adalah tempat yang suci dan hendaknya dihormati dengan upacara, pradaksina, dan persembahan bunga beserta dupa.”

16
“Subhuti, lebih jauh lagi, jika seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur, sewaktu mendaras dan mempraktikkan Sutra ini, dihina atau difitnah, akibat karma buruknya yang dilakukan di masa lampau, termasuk yang bakal membuahkan kelahiran yang menyedihkan, akan terhapuskan, dan orang itu akan merealisasi hasil pencerahan yang paling sempurna. Subhuti, di masa lampau sebelum Aku berjumpa dengan Buddha Dipankara, Aku telah melakukan persembahan serta menjadi pengikut dari 84.000 jutaan Buddha. Apabila seseorang mampu menerima, mendaras, mempelajari, dan mempraktikkan Sutra ini di masa akhir zaman, kebahagiaan yang dihasilkan oleh kebajikan ini adalah ratusan ribu kali lebih besar dibandingkan dengan apa yang pernah Kulakukan di masa lampau. Pada kenyataannya, kebahagiaan semacam itu tidak dapat dibayangkan atau dibandingkan dengan apa pun, bahkan tak dapat pula dihitung. Kebahagiaan semacam itu adalah tak terukur.
“Subhuti, kebahagiaan yang berasal dari kebajikan putra atau putri dari keluarga baik-baik yang menerima, mendaras, mempelajari, dan mempraktikkan Sutra ini di masa akhir zaman adalah begitu agungnya, sehingga jika Aku menjelaskannya sekarang secara terperinci, beberapa orang akan merasa sangsi dan tidak percaya, serta pikiran mereka mungkin kehilangan arah. Subhuti, hendaknya engkau ketahui bahwa makna Sutra ini melampaui pengertian konsepsi dan diskusi. Begitu pula, buah yang berasal dari menerima serta mempraktikkan Sutra ini melampaui pengertian konsepsi dan diskusi.”

17
Saat itu, Bhante Subhuti berkata pada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, perkenankanlah saya bertanya lagi, jika putra-putri dari keluarga berbudi luhur ingin merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, apa yang hendaknya mereka andalkan? Dan apa yang hendaknya mereka lakukan untuk mengendalikan pikiran mereka?”
Buddha menjawab, “Subhuti, seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur yang ingin merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna hendaknya berbuat sebagai berikut: “Kita hendaknya membimbing semua makhluk menuju pantai pencerahan, namun setelah semua makhluk ini terbebaskan, kita sesungguhnya tidak berpikir bahwa ada satu makhluk yang telah terbebaskan.’ Mengapa demikian? Subhuti, jika seorang Bodhisattwa masih terperangkap dalam gagasan mengenai adanya suatu aku, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan, orang itu bukanlah Bodhisattwa yang sejati. Mengapa demikian?
“Subhuti, sesungguhnya tidak ada objek pikiran yang berdiri sendiri yang disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna. Subhuti, bagaimana pendapatmu? Di masa lampau, sewaktu Tathagata hidup bersama Buddha Dipankara, apakah Ia merealisasi sesuatu yang disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Menurut pemahaman saya atas ajaran Buddha, tidak ada realisasi sesuatu yang disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna.”
Buddha berkata, “Subhuti, engkau benar. Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna yang direalisasi oleh Tathagata. Karena jika ada hal semacam itu, Buddha Dipankara tidak akan bernubuat tentang Aku, ‘Di masa mendatang, Engkau akan menjadi Buddha bernama Sakyamuni.’ Nubuat ini dikemukakan karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang dapat dicapai yang disebut dengan pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna. Mengapa? Maksud Tathagata ‘kedemikian segala sesuatu (dharma).’ Seseorang akan keliru kalau mengatakan bahwa Tathagata mencapai pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, karena tidak ada pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna yang dicapai. Subhuti, pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna yang direalisasi Tathagata bukanlah dapat dimengerti atau sukar untuk dipahami. Inilah sebabnya mengapa Tathagata berkata, ‘Semua dharma adalah Buddhadharma.’ Apa yang disebut seluruh dharma sesungguhnya bukanlah seluruh dharma. Itulah sebabnya mereka dinamakan semua dharma.
“Subhuti, kita dapat membandingkannya dengan gagasan mengenai tubuh manusia besar.”
Subhuti berkata, “Apa yang Tathagata sebut sebagai tubuh manusia besar, sesungguhnya bukan tubuh manusia besar.”
“Subhuti, begitu pula halnya dengan para Bodhisattwa. Jikalau seorang Bodhisattwa berpikir bahwa ia harus membebaskan semua makhluk, ia bukanlah seorang Bodhisattwa. Mengapa? Subhuti, tidak ada objek pikiran yang berdiri sendiri yang disebut Bodhisattwa. Itulah sebabnya, Buddha berkata bahwa semua dharma tidak mengandung suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Subhuti, jika seorang Bodhisattwa berpikir, ‘Aku harus menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah,’ ia bukanlah seorang Bodhisattwa. Mengapa? Apa yang Tathagata sebut sebagai Tanah Buddha yang tenteram dan indah, sesungguhnya bukanlah Tanah Buddha yang tenteram dan indah. Itulah sebabnya ia dinamakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah. Subhuti, Bodhisattwa yang memahami sepenuhnya prinsip tiada-diri dan bukan-dharma disebut oleh Tathagata sebagai Bodhisattwa sejati.”

18
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata memiliki mata manusia?”
“Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata memang memiliki mata manusia.”
Buddha bertanya, “Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Buddha memiliki mata dewa?”
Subhuti berkata, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata memang memiliki mata dewa.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata memiliki mata waskita?”
Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia. Tathagata memang memiliki mata waskita.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata memiliki mata kebijaksanaan yang melampaui segalanya?”
“Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata memang memiliki mata kebijaksanaan yang melampaui segalanya.”
Buddha bertanya, “Apakah Tathagata memiliki mata Buddha?”
“Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata memang memiliki mata Buddha.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Buddha melihat pasir di Sungai Gangga sebagai pasir?”
Subhuti berkata, “Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata juga menyebutnya pasir.”
“Subhuti, jika terdapat sebanyak butiran-butiran pasir di Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya dan terdapat Tanah Buddha untuk setiap butiran pasir di seluruh Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya itu, apakah Tanah-Tanah Buddha itu dapat dikatakan banyak?”
“Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, sangat banyak.”
Buddha berkata, “Subhuti, betapapun banyaknya para makhluk yang ada di keseluruhan Tanah Buddha ini, meskipun mereka masing-masing mempunyai mentalitas berbeda, Tathagata memahami mereka semuanya. Mengapa demikian? Subhuti, apa yang Tathagata sebut sebagai mentalitas-mentalitas yang berbeda sesungguhnya bukanlah mentalitas-mentalitas yang berbeda. Itulah sebabnya, mereka disebut mentalitas-mentalitas yang berbeda.”
“Mengapa? Subhuti, pikiran masa lalu tidaklah dapat digenggam, begitu pula pikiran sekarang ataupun mendatang.”

19
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mengisi tiga juta jagat raya dengan tujuh macam harta berharga yang dipersembahan sebagai wujud kedermawanannya, apakah orang itu akan mendapatkan banyak kebahagiaan karena perbuatan bajik tersebut?”
“Ya, sangat banyak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
“Subhuti, jika kebahagiaan semacam itu dibayangkan sebagai sesuatu yang terpisah dari seluruh hal lainnya, Tathagata tak akan menyebutnya banyak, namun karena ia tak dapat digenggam, Tathagata mengatakan bahwa kebajikan orang itu membawa banyak kebahagiaan.”

20
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagata dilihat dari tubuh fisik-Nya yang sempurna?”
“Tidak,
Bhagawa Junjungan Dunia. Apa yang Tathagata sebut sebagai tubuh fisik yang sempurna sesungguhnya bukanlah tubuh fisik yang sempurna. Itulah sebabnya ia disebut sebagai tubuh fisik yang sempurna.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagata dilihat dari raut wajah-Nya yang sempurna?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mustahil melihat Tathagata dari raut wajah apa pun yang sempurna. Mengapa? Karena apa yang Tathagata sebut sebagai raut wajah yang sempurna sesungguhnya bukanlah raut wajah yang sempurna. Itulah sebabnya disebut raut wajah yang sempurna.”

21
“Subhuti, janganlah mengatakan bahwa Tathagata membentuk gagasan dalam pikiran bahwa “Aku akan membabarkan ajaran.” Janganlah berkesimpulan demikian. Mengapa? Jika seseorang mengatakan bahwa Tathagata memiliki sesuatu untuk diajarkan, orang itu meremehkan Buddha karena ia tak memahami apa yang Kukatakan. Subhuti, membabarkan Dharma sesungguhnya berarti tiada pembabaran yang disampaikan. Inilah pembabaran Dharma yang sejati.”
Selanjutnya, Bhante Subhuti berkata pada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, di masa mendatang, akankah ada makhluk-makhluk hidup yang menaruh keyakinan sepenuhnya sewaktu mendengarkan sabda-sabda ini?”
Buddha berkata, “Subhuti, Makhluk-makhluk tersebut bukanlah makhluk-makhluk hidup maupun bukan-makhluk-makhluk hidup. Mengapa demikian? Subhuti, apa yang Tathagata sebut bukan-makhluk-makhluk hidup sesungguhnya adalah makhluk-makhluk hidup.”

22
Subhuti bertanya pada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, Apakah pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna yang dicapai oleh Buddha bukan pencapaian?”
Buddha berkata, “Benar sekali, Subhuti. Sehubungan dengan pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, Aku tidaklah mencapai apa pun. Itulah sebabnya, ia disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna.”

23
“Lebih jauh lagi, Subhuti, pikiran itu di mana pun sama. Karena ia tidaklah tinggi, tidak juga rendah, maka ia disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna. Hasil dari pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna direalisasi dengan mempraktikkan seluruh kebajikan berdasarkan semangat tiadanya diri, tiadanya sosok pribadi, tiadanya sosok makhluk hidup dan tiadanya jangka kehidupan. Subhuti, apa yang disebut berbuat kebajikan sesungguhnya bukanlah berbuat kebajikan. Itulah sebabnya itu disebut berbuat kebajikan.”

24
“Subhuti, jika seseorang mengisi tiga juta jagat raya dengan tujuh macam harta berharga hingga setinggi Gunung Sumeru yang dipersembahkan sebagai wujud kedermawanan, kebahagiaan yang dihasilkannya masih lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang terampil menerima, mempraktikkan, dan menjelaskan Sutra Vajracchedika Prajñaparamita pada orang lain. Kebahagiaan yang dihasilkan dari kebajikan orang yang mempraktikkan Sutra ini, walau hanya sebait gatha empat baris, tidaklah dapat digambarkan memakai perumpamaan atau bilangan .”

25
Subhuti, janganlah mengatakan bahwa Tathagata memiliki gagasan, “Aku akan menyeberangkan para makhluk menuju pantai pembebasan.” Janganlah berpikir demikian, Subhuti. Mengapa? Sesungguhnyalah tiada satu makhluk pun yang Tathagata seberangkan ke pantai seberang. Jikalau Tathagata berpikir demikian, Ia masih terperangkap dalam gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Subhuti, apa yang Tathagata sebut sebagai diri, pada hakikatnya bukanlah diri sebagaimana yang dipahami oleh orang awam mengenai adanya suatu diri. Subhuti, Tathagata tidaklah memandang barang seorang pun sebagaimana orang awam. Itulah sebabnya, Ia dapat menyebut mereka orang awam.”

26
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah seseorang merenung mengenai Tathagata melalui ketiga puluh dua tanda fisik?”
Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia. Kita hendaknya menggunakan ketiga puluh dua tanda fisik dalam perenungan mengenai Tathagata.”
Buddha berkata, “Jikalau engkau mengatakan bahwa engkau dapat menggunakan ketiga puluh dua tanda fisik untuk mengenali Tathagata, lalu apakah seorang Cakravartin juga adalah Tathagata?”
Subhuti berkata, “Bhagawa Junjungan Dunia, saya memahami ajaran-Mu. Seseorang hendaknya tidak menggunakan ketiga puluh dua tanda fisik dalam perenungan mengenai Tathagata.”
Lalu Bhagawa Junjungan Dunia mengucapkan gatha sebagai berikut:
“Seseorang yang mencari Aku dalam wujud jasmaniah atau mencari Aku dalam suara ia telah menapaki jalan yang salah dan tak dapat melihat Tathagata.”

27
“Subhuti, jika engkau berpikir bahwa Tathagata merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, serta tidak perlu memiliki seluruh tanda-tanda fisik tersebut, engkau keliru. Subhuti, janganlah menganggap demikian. Janganlah mengira bahwa jika seseorang merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, ia perlu memandang seluruh objek pikiran sebagai tidak ada, menyingkir dari kehidupan. Janganlah menganggap demikian. Seseorang yang merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna tak berpandangan bahwa seluruh objek pikiran tidak ada serta menyingkir dari kehidupan.”

28
“Subhuti, jika seorang Bodhisattwa mengisi tiga juta jagat raya dengan tujuh macam harta berharga sebanyak butiran pasir di Sungai Gangga beserta seluruh anak sungainya, yang dipersembahkan sebagai wujud kedermawanan, kebahagian yang berasal dari kebajikan tersebut masih kurang dibanding kebahagiaan seseorang yang memahami dan sepenuh hati menerima kebenaran bahwa seluruh dharma pada hakikatnya tiada mengandung inti yang kekal, serta sanggup hidup bersesuaian dengan kebenaran ini. Subhuti, mengapa demikian? Karena seorang Bodhisattwa tidaklah perlu mengumpulkan kebajikan maupun kebahagiaan.
Subhuti bertanya pada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, apakah yang Engkau maksudkan bahwa seorang Bodhisattwa tidaklah perlu mengumpulkan kebajikan maupun kebahagiaan?”
“Subhuti, seorang Bodhisattwa merealisasi kebajikan dan kebahagiaan, namun tidak terperangkap dalam gagasan mengenai kebajikan dan kebahagiaan. Itulah sebabnya Tathagata mengatakan bahwa seorang Bodhisattwa tidak perlu mengumpulkan kebajikan dan kebahagiaan.”

29
“Subhuti, jika seseorang mengatakan bahwa Bhagawa datang, pergi, duduk, dan berbaring, orang itu tidak memahami apa yang Kukatakan. Mengapa? Makna dari Tathagata adalah “tidak datang dari mana-mana dan tidak pergi ke mana-mana.” Itulah sebabnya, Ia disebut Tathagata.”

30
“Subhuti, jika seorang putri atau putra dari keluarga berbudi luhur menggiling tiga juta jagat raya menjadi partikel-partikel debu, apakah engkau berpendapat bahwa partikel-partikel itu banyak sekali?”
Subhuti menjawab, “Tentu saja banyak sekali, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Jika partikel-partikel debu benar-benar ada dengan memiliki inti yang kekal, Buddha tidak akan menyebutnya sebagai partikel-partikel debu. Apa yang Buddha sebut sebagai partikel-partikel debu pada hakikatnya bukanlah partikel-partikel debu. Itulah sebabnya, semua itu dapat disebut partikel-partikel debu. Bhagawa Junjungan Dunia, apa yang Tathagata sebut sebagai tiga juta jagat raya adalah bukan jagat raya. Itulah sebabnya semua itu disebut jagat raya. Mengapa? Jikalau semua jagat raya sungguh-sungguh eksis, semua itu merupakan gabungan partikel-partikel yang terkondisi berpadu membentuk sebuah objek. Apa yang Tathagata sebut sebagai gabungan pada hakikatnya bukanlah sebuah gabungan. Itulah sebabnya fenomena itu disebut gabungan.”
“Subhuti, apa yang disebut gabungan itu hanyalah cara konvensional mengungkapkan sesuatu. Ia tidaklah memiliki landasan nyata. Hanya para awam saja yang terperangkap dalam istilah-istilah konvensional.”

31
“Subhuti, jika seseorang mengatakan bahwa Buddha menyatakan pandangan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan, apakah orang itu memahami apa yang Aku maksudkan?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Orang itu tidaklah memahami Tathagata. Mengapa? Apa yang Tathagata sebut sebagai pandangan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan, pada hakikatnya bukanlah pandangan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Itulah sebabnya mereka disebut sebagai pandangan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan.”
“Subhuti, seseorang yang merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna mengetahui bahwa inilah kebenaran semua dharma, hendaknya memandang bahwa seluruh dharma adalah demikian adanya, hendaknya meyakini pengertian mengenai seluruh dharma tanpa disertai konsepsi apa pun mengenai dharma. Subhuti, apa yang disebut konsepsi mengenai berbagai dharma, sebagaimana yang dikatakan Tathagata, bukanlah konsepsi mengenai berbagai dharma. Itulah sebabnya ia disebut konsepsi mengenai berbagai dharma.”

32
“Subhuti, jika seseorang mempersembahkan tujuh macam harta berharga yang tak terhingga jumlahnya mengisi seluruh jagat raya yang tiada batasnya sebagai wujud kedermawanan, kebahagiaan yang berasal dari kebajikan tersebut tidaklah dapat dibandingkan dengan kebahagiaan seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur yang merealisasi pencerahan serta menerima, membaca, mendaras, mempraktikkan Sutra ini, dan menjelaskannya pada orang lain, walau hanya sebait gatha empat baris. Apakah makna penjelasan ini? Tanpa terperangkap oleh berbagai ciri, sesuai dengan apa adanya saja, tanpa tersinggung. Mengapa demikian?
“Segala sesuatu yang terbentuk dari paduan unsur adalah laksana mimpi,
bayangan, tetesan embun, sebesit kilat. Demikianlah cara merenungkan semua itu, Begitulah cara mengamati semua itu.”
Setelah mendengarkan Buddha membabarkan Sutra ini, Bhante Subhuti, para biksu, biksuni, upasaka, dan upasika, beserta para dewa dan asura, merasa gembira dan penuh keyakinan. Mereka bertekad mempraktikkan ajaran-ajaran ini.

Vajracchedika Prajñaparamita Sutra,
Taisho Revised Tripitaka 335

Sutra Usia Muda dan Kebahagiaan

Sutra Usia Muda dan Kebahagiaan

Demikianlah yang telah saya dengar, suatu Buddha sedang menetap di Wihara Hutan Bambu di kota Rajagriha. Pada waktu itu tersebutlah seorang biksu, pada suatu subuh, ia pergi ke pinggir sungai, melepaskan jubah bagian atas dan meletakannya di pinggir sungai, lalu ia turun ke sungai untuk mandi. Setelah selesai mandi, ia keluar dari sungai, menunggu sebentar agar badannya kering, lalu mengenakan kembali jubah bagian atasnya. Tiba-tiba seorang dewi muncul, tubuhnya bersinar terang menerangi seluruh pinggiran sungai itu. Sang Dewi bertanya kepada biksu itu, “Bhante, Anda barusan ditahbiskan menjadi biksu. Rambut Anda masih hitam, Anda masih begitu muda. Dalam usia muda begini, bukankah seharusnya Anda mendandani diri dengan minyak wangi, batu permata, untaian bunga indah, menikmati 5 jenis kenikmatan sensual? Mengapa Anda meninggalkan sang kekasih tercinta dan memilih hidup berlawan dengan arus duniawi serta hidup sendirian? Anda mencukur habis rambut dan jenggotmu, mengenakan jubah petapa, menaruh keyakinan penuh pada praktik monastik. Mengapa Anda meninggalkan momen kekinian demi mencari kenikmatan masa depan?”

Biksu itu menjawab, “Saya tidak meninggalkan momen kekinian demi mencari kenikmatan masa depan. Saya telah melepaskan kenikmatan agar bisa menghadirkan kebahagiaan pada momen ini.”

Sang dewi bertanya, “Apa maksud Bhante?”

Biksu itu menjawab, “Buddha telah mengajarkan: kesenangan yang berasal dari kenikmatan sensual mengandung sedikit rasa manis dan banyak rasa pahit, dan memiliki potensi besar mengakibatkan bencana. Sekarang, saya bersemayam dalam Dharma yang sudah tersedia di sini dan saat ini, saya telah meletakkan kekotoran batin yang bagaikan api membara. Dharma telah tersedia di sini dan saat ini. Tidak lekang oleh waktu, selalu mengundang kita untuk datang dan melihatnya langsung. Dharma perlu direalisasikan dan dialami oleh setiap orang untuk dirinya sendiri. Inilah yang disebut sebagai melepaskan kenikmatan agar bisa menghadirkan kebagiaan pada momen ini.”

Sang Dewi lanjut bertanya kepada biksu itu, “Mengapa Buddha mengatakan kesenangan yang berasal dari kenikmatan sensual mengandung sedikit rasa manis dan lebih banyak rasa pahit, manfaatnya kecil tapi memiliki potensi besar mengakibatkan bencana? Mengapa Buddha mengatakan bahwa bersemayam dalam Dharma yang sudah tersedia pada saat ini dan di sini sehingga kita bisa melepaskan kekotoran batin yang bagaikan api membara? Mengapa Buddha mengatakan bahwa Dharma demikian berada di momen kekinian, tidak lekang oleh waktu, kita selalu diundang untuk datang dan melihatnya sendiri, selalu tersedia di saat ini dan di sini, kemudian direalisasikan dan dialami oleh setiap orang untuk dirinya sendiri?”

Biksu itu menjawab, “Saya baru 2 tahun menerima penahbisan. Saya belum punya keterampilan cukup untuk menjelaskan ajaran sejati dan sila yang telah dibabarkan oleh Buddha. Yang Mulia Buddha berada tidak terlalu jauh dari sini, di Hutan Bambu. Barangkali Anda bisa pergi dan bertanya kepada beliau secara langsung. Tathagata akan membabarkan Dharma sejati, dan Anda berkesempatan menerima dan mempraktikkan nasihat beliau sebagaimana sesuai dengan diri Anda.”

Sang Dewi itu membalas, “Bhante, pada saat ini Tathagata sedang dikelilingi oleh dewa-dewi yang sangat kuat dan berpengaruh. Sungguh sulit bagi saya untuk bisa mendekati beliau dan bertanya langsung tentang Dharma. Apakah Bhante berkenan membantu saya menanyakan pertanyaan itu kepada Beliau langsung? Saya akan menemanimu.”

Biksu itu menjawab, “Iya, saya akan membantumu.”

Sang Dewi membalas, “Bhante, saya akan menemanimu.”

Biksu itu tiba di hadapan Buddha, bersujud dan menghormat, setelah itu mundur sedikit dan duduk di pinggir. Biksu itu mengulang semua percakapannya dengan sang dewi, lalu berujar, “Buddha Yang Mulia, Sang Dewi ini bertanya dengan sepenuh hati, oleh karena itulah dia mengikuti saya ke sini.” Tiba-tiba ada suara dari kejauhan, “Bhante, saya di sini, saya di sini.”

Buddha segera mempersembahkan gatha ini:
“Makhluk menghasilkan pikiran keliru
berkenaan dengan objek-objek nafsu keinginan.
Oleh karena itulah mereka terjebak dalam nafsu keinginan.
Karena mereka tidak tahu apa itu sesungguhnya nafsu keinginan,
mereka terdorong ke jalan menuju kematian.”

Lalu Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang Dewi itu menjawab, “Saya belum mengerti, Yang Mulia. Saya masih belum mengerti.”

Buddha kemudian melantunkan satu gatha lagi untuk dewi itu:
“Ketika engkau mengetahui hakikat nafsu keinginan,
maka nafsu pikiran tidak akan muncul.
Ketika tiada lagi nafsu keinginan, maka tiada persepsi bisa menjadi landasannya,
Pada saat itu, tiada orang yang bisa menggodamu.”

Kemudian Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang dewi itu menjawab, “Saya belum mengerti, Yang Mulia. Saya masih belum mengerti.”

Buddha kemudian melantunkan gatha lagi untuk dewi itu:
“Jika Anda merasa lebih besar, kecil, atau setara,
Anda telah menyebabkan perselisihan.
Ketika tiga kompleks itu telah berakhir,
Tiada lagi yang bisa menggoncang pikiranmu.”

Kemudian Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang dewi itu menjawab, “Saya belum mengerti, Yang Mulia. Saya masih belum mengerti.”

Lalu Buddha melantunkan gatha lagi untuk dewi itu:
“Mengakhiri nafsu keinginan, mengatasi tiga kompleks,
pikiran menjadi hening, tiada yang perlu didambakan lagi.
Kita meletakkan semua gangguan batin dan kesedihan,
Dalam kehidupan ini maupun akan datang.”

Buddha bertanya kepada dewi itu, “Apakah Anda mengerti gatha barusan? Jika tidak, mohon katakan demikian.”

Sang Dewi itu menjawab, “Saya sudah mengerti, Yang Mulia. Saya sudah mengerti sepenuhnya.”

Demikianlah Buddha telah selesai membabarkan ajaran ini. Sang dewi sangat berbahagia telah mendengar pembabaran itu. Ia bertekad untuk mempraktikkan ajaran itu, lalu ia menghilang. Jejaknya tidak ditemukan lagi di setiap sudut.

Samiddhi Sutta, Samyukta Agama 1078
(berkorespondensi dengan Samyutta Nikaya 1.20, juga Taisho 99)

Sutra Mengetahui Cara Lebih Baik Untuk Menangkap Ular

Sutra Mengetahui Cara Lebih Baik Untuk Menangkap Ular

Demikianlah yang telah saya dengar, suatu ketika Buddha berdiam di Wihara Anathapindika dekat Hutan Jeta, Kota Shrawasti. Pada saat itu, Bhante Arittha, sebelum ditahbiskan menjadi biksu ia adalah seorang pelatih burung heriang. Berdasarkan ajaran Buddha, ternyata Bhante Arittha memiliki pandangan keliru, ia menganggap bahwa kenikmatan sensual bukanlah penghalang latihan. Setelah mendengar pendapat demikian, beberapa biksu lain bertanya kepada Bhante Arittha, “Bhante Arittha, apakah Anda benar-benar yakin bahwa Buddha mengajarkan tentang kenikmatan sensual bukanlah penghalang latihan?”

Bhante Arittha menjawab, “Sahabatku, benar apa adanya, saya yakin Buddha tidak menganggap bahwa kenikmatan sensual merupakan penghalang latihan.”

Para biksu menyampaikan dengan tegas, “Bhante Arittha, Anda telah keliru dalam menginterpretasikan ajaran Buddha, bahkan telah menghina beliau. Buddha tidak pernah mengajarkan bahwa kenikmatan sensual bukanlah penghalang latihan. Justru, Buddha banyak menggunakan contoh-contoh untuk menerangkan bahwa kenikmatan sensual merupakan penghalang latihan. Anda seharusnya meninggalkan pandangan keliru itu.” Walaupun para biksu telah menyampaikan dengan tegas kepada Bhante Arittha, dia tetap tidak mau mengubah pandangannya. Para biksu mengulang sebanyak tiga kali, dan sebanyak tiga kali juga Bhante Arittha menolak, bahkan terus menyatakan bahwa pandangannya benar, justru pandangan para biksu yang keliru.

Setelah memberikan nasihat demikian dan tidak berhasil, para biksu meninggalkannya. Mereka datang menghadap Buddha dan menceritakan seluruh kejadian yang mereka lihat dan dengar.

Buddha kemudian memanggil Bhante Arittha, menegurnya dengan halus, dan kemudian mengajarkan kepada semua biksu, “Para sahabat, penting sekali untuk mengerti ajaran saya secara menyeluruh sebelum Anda mempraktikkannya. Jika Anda belum mengerti makna dari ajaran yang telah saya babarkan, mohon datang bertanya kepada saya atau kakak senior dalam Dharma atau siapa saja yang telah mengerti dengan baik dalam latihan. Ketahuilah bahwa selalu ada orang yang tidak mengerti secara harfiah maupun semangat inti dari sebuah ajaran, pada kenyataannya, justru Anda-lah yang perlu mengerti secara menyeluruh, apakah ajaran itu disampaikan dalam bentuk syair atau prosa, prediksi, syair rangkuman, kondisi saling berkaitan, perumpamaan, ucapan spontan, kutipan, kisah dari kehidupan sebelumnya, kejadian luar biasa, komentar secara detail, klarifikasi definisi. Ketahuilah bahwa selalu ada di antara mereka yang belajar suatu ajaran hanya demi memuaskan rasa ingin tahunya saja atau untuk memenangkan suatu argumen, bukan demi pembebasan sepenuhnya. Dilandasi dengan niat demikian, maka dia telah melenceng dari semangat orisinal ajaran. Mereka bisa saja berupaya keras, menghadapi berbagai kesulitan yang alih-alih tidak memberikan banyak manfaat, dan hanya membuat dirinya lelah.

“Para biksu, seseorang yang belajar seperti itu bisa diumpamakan sebagai orang yang mencoba menangkap ular berbisa di dalam hutan belantara. Jika dia menjulurkan tangannya, maka ular itu akan berbalik mematuk tangan, kaki, atau bagian lain dari badannya. Mencoba menangkap ular dengan cara demikian tidak akan memberi manfaat dan hanya akan mengakibatkan banyak penderitaan.

“Para biksu, belajar mengerti Dharma dari sudut pandang keliru juga demikian. Jika Anda tidak praktik Dharma dengan tepat, maka sudut pandang pemahaman Dharma Anda akan terbalik yaitu tidak sebagaimana mestinya. Namun, apabila Anda praktik Dharma dengan rajin, Anda bisa mengerti secara harfiah maupun semangat inti dari ajaran itu dan juga bisa menjelaskannya dengan tepat. Janganlah mempraktikkan Dharma demi pamer kepintaran atau memenangkan argumen. Praktikkanlah ajaran ini demi pembebasan, jika demikian yang Anda lakukan, maka tidak akan menyebabkan terlalu banyak penderitaan dan tidak melelahkan.

“Para biksu, seorang murid yang cerdas dalam Dharma seperti seseorang yang menggunakan stik bercabang untuk menangkap ular. Ketika dia melihat ular berbisa di dalam hutan belantara, dia menancapkan stik itu tepat di atas kepala ular itu lalu menggunakan tangan satu lagi untuk mencengkeram lehernya. Walaupun ular itu melilit tangan, kaki, atau bagian dari badan orang itu, ular itu tidak akan bisa mematuk orang tersebut. Inilah cara terbaik menangkap ular, dan cara demikian tidak akan menyebabkan terlalu banyak penderitaan dan tidak kelelahan.

“Para biksu, anak dari keluarga berbudi luhur, mereka belajar Dharma hendaknya dipraktikkan dengan melandasi dengan pengertian secara harafiah dan semangat inti dari ajaran itu. Dia hendaknya jangan menggunakan pembelajaran Dharma demi meyombongkan diri, berdebat atau beradu argumen dengan orang lain, tapi Dharma dipraktikkan hanya untuk pembebasan. Belajar Dharma dengan cara demikian, belajar dengan kecerdasan, maka tidak akan menyebabkan terlalu banyak pederitaan dan tidak melelahkan.

“Para biksu, saya sudah sering menyampaikan bahwa betapa pentingnya untuk mengetahui kapan waktunya untuk meletakkan rakit dan tidak menggotongnya tanpa kebutuhan jelas. Ketika air sungai dari gunung mengalir luber dan menjadi aliran deras banjir membawa segala jenis puing-puing, seseorang yang ingin menyeberangi sungai itu akan berpikir, ‘Cara baik seperti apa yang bisa digunakan untuk menyeberangi sungai deras ini?’ Dia memeriksa sekeliling, lalu dia mengumpulkan kayu dan rumput, kemudian membuat sebuah rakit yang ia gunakan untuk menyeberangi sungai itu. Tapi, setelah ia tiba di seberang sungai, dia berpikir, ‘Saya menghabiskan banyak waktu dan energi untuk membuat rakit ini. Sungguh rakit yang sangat berharga, saya akan menggotong rakit ini bersamaku sepanjang perjalanan ini.’ Jika dia menggotong, menenteng, atau meletakkan rakit itu di kepalanya sepanjang perjalanan di daratan, wahai biksu, menurut Anda, apakah orang tersebut bisa disebut cerdas?”

Para biksu menjawab, “Tidak, Yang Mulia.”

Buddha melanjutkan, “Bagaimana agar dia bisa bertindak lebih bijaksana? Dia bisa saja berpikir, ‘Rakit ini telah membantu saya menyeberangi sungai ini dengan selamat. Sekarang saya akan meletakkan rakit ini di pinggir sungai agar nanti ada orang lain juga bisa menggunakannya.’ Apakah pemikiran seperti ini lebih cerdas?”

Para biksu menjawab, “Iya, Yang Mulia.”

Buddha mengajarkan, “Saya telah sering mengajarkan tentang rakit ini untuk mengingatkanmu tentang betapa pentingnya untuk melepaskan bahkan semua ajaran yang benar, apalagi ajaran yang tidak benar.”


“Para biksu, ketahuilah bahwa ada enam landasan pandangan. Ini berarti terdapat enam dasar persepsi keliru yang perlu kita lepaskan. Apa saja keenam dasar itu?

“Pertama, adanya wujud. Apakah itu wujud masa lalu, masa depan, atau masa sekarang; apakah itu wujud diri sendiri atau wujud pihak lain; apakah itu wujud halus atau kasar; jelek atau indah; dekat atau jauh, wujud ini punya saya, bukan punya saya, bukanlah sang aku yang berdiri sendiri. Para biksu, mohon lihatlah lebih dalam agar Anda bisa mengerti kebenaran di balik wujud itu.

“Kedua, adanya perasaan.

“Ketiga, adanya persepsi.

“Keempat, adanya bentuk-bentuk mental. Apakah fenomena ini merupakan bagian dari masa lalu, masa depan, atau juga masa sekarang, apakah itu milik kita atau orang lain, apakah itu halus atau kasar, jelek atau indah, dekat atau jauh, fenomena demikian bukan milik saya, bukanlah saya, dan bukanlah sang aku yang berdiri sendiri.

“Kelima, adanya pencerapan indra. Apa pun yang kita lihat, dengar, cerap, ketahui, dicerap secara mental, pantau, atau dipikirkan pada waktu ini atau waktu lain bukanlah milik kita, bukanlah sang aku yang berdiri sendiri.

“Keenam, adanya dunia. Ada di antara mereka berpikir, ‘Dunia ini adalah sang aku yang berdiri sendiri. Sang aku yang berdiri sendiri adalah dunia ini. Dunia ini milikku. Aku akan terus berlanjut eksis tanpa berubah bahkan setelah mati sekalipun. Aku kekal. Aku tidak akan menghilang.’ Mohon meditasikan hal demikian agar Anda bisa melihat bahwa dunia ini bukan milik saya, bukan saya, bukan sang aku yang berdiri sendiri. Mohon lihat lebih dalam agar Anda bisa melihat kebenaran berkenaan dengan dunia ini.”


Setelah mendengar pembabaran itu, seorang biksu berdiri, membuka bahu sebelah kanan, beranjali dengan penuh hormat bertanya kepada Buddha, “Yang Mulia, apakah ketakutan dan kecemasan bisa berasal dari sumber internal?”

Buddha menjawab, “Iya, ketakutan dan kecemasan bisa berasal dari sumber internal. Jika Anda berpikir, ‘Segala sesuatu yang yang tidak eksis di masa lalu telah eksis, tetapi saat ini sudah tidak eksis lagi,’ Anda akan merasa sedih atau menjadi binggung dan putus asa. Demikianlah ketakutan dan kecemasan bisa berasal dari sumber internal.”

Biksu yang sama melanjutkan, “Yang Mulia, apakah ketakutan dan kecemasan yang berasal dari sumber internal bisa dicegah kemunculannya?”

Buddha menjawab, “Ketakutan dan kecemasan yang berasal dari sumber internal bisa dicegah kemunculannya. Jika Anda tidak berpikir, ‘Segala sesuatu yang tidak eksis di masa lalu telah eksis, tetapi saat ini sudah tidak eksis lagi,’ Anda tidak akan merasa sedih atau menjadi binggung dan putus asa. Demikianlah ketakutan dan kecemasan yang berasal dari sumber internal bisa dicegah kemunculannya.”

“Yang Mulia, apakah ketakutan dan kecemasan bisa berasal dari sumber eksternal?”

Buddha menyampaikan, “Ketakutan dan kecemasan bisa berasal dari sumber eksternal. Anda bisa saja berpikir demikian, ‘Inilah aku yang berdiri sendiri. Inilah dunia. Inilah diriku sendiri. Aku akan eksis selamanya.’ Lalu, jika Anda bertemu dengan Buddha atau murid Buddha yang telah mengerti sepenuhnya dan cerdas, dia yang bisa mengajarkanmu bagaimana cara melepaskan semua pandangan yang berkenaan dengan kemelekatan terhadap badan, aku yang berdiri sendiri, dan objek sang aku yang bisa berdiri sendiri, dengan cara melepaskan kesombongan, simpul internal (samyojana), dan kebocoran energi, dan Anda berpikir, ‘Inilah berakhirnya dunia. Aku harus melepaskan semuanya. Aku bukanlah dunia ini. Aku bukanlah saya. Aku bukanlah aku yang bisa berdiri sendiri. Aku tidak akan eksis selamanya. Ketika aku mati, maka aku akan hilang total. Tidak ada harapan lagi, tidak ada yang perlu digembirakan lagi, tidak ada lagi yang perlu dikenang,’ Anda akan merasa sedih dan menjadi binggung dan putus asa. Demikianlah ketakutan dan kecemasan bisa berasal dari sumber eksternal.”


Buddha bertanya, “Para biksu, bagaimana menurut pendapatmu tentang 5 skandha beserta aku adalah permanen, tidak berubah, dan tidak pernah hancur?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Apakah ada sesuatu yang bisa Anda pegang dengan kemelekatan yang akan menyebabkan kecemasan, kelelahan, kesedihan, penderitaan, dan keputus-asaan?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Apakah ada pandangan tentang aku yang berdiri sendiri yang mana bisa Anda jadikan tempat berlindung yang tidak akan menyebabkan kecemasan, kelelahan, kesedihan, penderitaan, dan keputus-asaan?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Para biksu, Anda hampir benar. Kapanpun ada gagasan tentang aku yang bisa berdiri sendiri, maka juga ada gagasan tentang sesuatu milik sang aku yang berdiri sendiri. Ketika tidak ada gagasan tentang sang aku yang berdiri sendiri, tidak ada gagasan sesuatu milik sang aku yang berdiri sendiri. Sang aku yang berdiri sendiri dan apa pun milik sang aku yang berdiri sendiri merupakan dua pandangan yang berlandaskan cara untuk mencoba mengenggam sesuatu yang tidak bisa digenggam dan membentuk sesuatu yang tidak bisa dibentuk.” Persepsi keliru demikian menyebabkan kita terikat pada simpul internal yang muncul dari momen ketika kita terjebak dalam gagasan yakni sesuatu yang tidak bisa digenggam atau sesuatu yang tidak bisa dibentuk dan tiada basis dalam realitas. Apakah Anda melihat ada persepsi keliru? Apakah Anda melihat konsekuensi dari persepsi keliru dalam kasus Bhante Arittha?”


Buddha melanjutkan, “Jika, seseorang menganggap enam landasan yang mengakibatkan munculnya pandangan keliru, seorang biksu tidak memunculkan gagasan tentang “Aku” atau “milikku”, dia tidak terjebak dalam rantai kehidupan. Sejak dia tidak terjebak dalam rantai kehidupan, maka tiada ketakutan dalam dirinya. Tiada ketakutan adalah ketibaan di nirwana. Orang demikian tidak lagi gelisah atas urusan lahir dan mati; kehidupan suci telah dijalani; apa pun yang perlu dilakukan telah selesai; tiada lagi kelahiran kembali, tiada lagi kematian; dan kebenaran dari segala sesuatu terlihat apa adanya. Biksu demikian telah menutupi parit yang mengelilingi benteng, dia sudah menyeberanginya, menghancurkan benteng kota, melepaskan sekrup pintu, ia mampu melihat secara langsung pada cermin pengertian tertinggi.

“Para biksu, inilah jalan para Tathagata dan mereka yang telah mencapai pembebasan. Indra, Prajapati, Brahma, dan dewa lainya beserta pesamuhannya, seberapa besar pun upaya yang mereka kerahkan untuk melihat jejak atau basis kesadaran Tathagata, mereka tidak bisa menemukannya. Tathagata merupakan sumber luhur dari kesegaran dan kesejukan. Tiada kepanasan dan kesedihan pada kondisi itu. Jika para petapa dan brahmana mendengar kata-kata ini, mereka bisa saja mencerca bahwa saya berbohong, Petapa Gotama dengan sengaja mengajarkan teori nihilisme dan mengajarkan teori non eksistensi absolut, sementara faktanya adalah makhluk hidup itu eksis. Para biksu, Tathagata tidak pernah mengajarkan apa yang barusan mereka katakan. Pada kenyataanya, Tathagata mengajarkan bagaimana penderitaan bisa berakhir agar bisa mencapai keadaan tiada ketakutan. Jika Tathagata disalahkan, dikritik, dijelek-jelekkan, atau dipukul, dia sudah tidak tergoyahkan lagi. Tathagata tidak marah, atau pergi dengan penuh kebencian, atau melakukan sesuatu untuk balas dendam. Jika ada orang yang menyalahkan, mengkritik, memukul Tathagata, bagaimana reaksinya? Tathagata akan berpikir, ‘Jika ada orang yang menghormati, menyanjung, memberikan persembahan kepada Tathagata, maka Tathagata tidak akan merasa nikmat. Dia hanya akan berpikir bahwa orang itu melakukan kebaikan seperti itu karena Tathagata telah mencapai pencerahan penuh dan transformasi.’”

Setelah mendengar pembabaran dari Buddha, para biksu berkenan mempraktikannya dengan penuh sukacita.

Arittha Sutra, Madhyama Agama 220
Alagaddupama Sutta, Majjima Nikaya 22

Sutra Jalan Tengah

Sutra Jalan Tengah

Aku mendengar sabda Buddha ini, suatu ketika beliau sedang menetap di hutan Nala. Pada saat itu, Bhante Kacchayana datang berkunjung kemudian berujar: Tathagata pernah menyebutkan tentang pandangan benar. Mohon Tathagata mendefinisikan tentang pandangan benar”

Buddha menyampaikan kepada Bhante Kacchayana, “Manusia di dunia ini cenderung percaya akan dua pandangan berikut ini: Pertama adalah pandangan tentang keberadaan dan kedua pandangan tentang non-keberadaan. Hal ini dikarenakan mereka terjebak dalam pandangan keliru. Pandangan keliru inilah yang menyebabkan mereka terjebak dalam konsep keberadaan maupun non-keberadaan. Kacchayana, sebagian besar manusia terikat oleh bentuk-bentuk mental diskriminasi dan keberpihakan, nafsu, dan kemelekatan. Mereka yang tidak terikat pada simpul internal nafsu dan kemelekatan adalah mereka yang tidak lagi terkurung oleh imajinasi dan terbelenggu dalam gagasan akan sang aku. Mereka telah mengerti bahwa penderitaan muncul karena ada kondisi yang matang, dan penderitaan akan sirna apabila kematangan kondisi telah usai.

Mereka tidak lagi ragu-ragu. Pemahaman mereka bukan berasal dari pemberian orang lain, namun pemahaman mereka lahir dari hasil latihan yakni pemahaman mendalam. Pemahaman inilah yang disebut pandangan benar, dan demikianlah cara Tathagata mendefinisikan pandangan benar.

“Bagaimana bisa demikian?” Apabila seseorang memiliki pemahaman benar kemudian dia mengobservasi bagaimana dunia ini terbentuk, gagasan tentang non-keberadaan tidak akan muncul dalam dirinya, demikian juga ketika dia mengobservasi bagaimana dunia ini terurai, gagasan tentang keberadaan juga tidak muncul dalam dirinya. Kacchayana, pandangan seseorang yang menyatakan bahwa dunia ini “ada” merupakan pandangan ekstrem; pandangan bahwa dunia ini “tiada” juga sisi lain dari ekstrem. Tathagata menghindari dua pandangan ekstrem tersebut dan mengajarkan Dharma yang selaras dengan Jalan Tengah.

“Pandangan Jalan Tengah menyatakan demikian, sesuatu ini terjadi demikian karena itu demikian; sesuatu ini tidak demikian karena itu tidak demikian. Karena ketidaktahuan, maka ada dorongan, karena ada dorongan, maka ada kesadaran; karena ada kesadaran maka ada psiko-soma; karena ada psiko-soma maka ada enam organ, karena ada enam organ maka ada kontak; karena ada kontak maka ada perasaan; karena ada perasaan maka ada nafsu; karena ada nafsu maka ada kemelekatan; karena ada kemelekatan maka ada pembentukan; karena ada pembentukan maka ada kelahiran; ketika ada kelahiran maka ada usia tua dan mati, kesedihan, dan kesengsaraan. Demikianlah semua penderitaan muncul. Tetapi ketika ketidaktahuan sirna, maka dorongan juga sirna, ketika dorongan sirna maka kesadaran juga sirna;…dan akhirnya lahir, usia tua, kematian, kesedihan, dan kesengsaraan juga akan sirna. Dengan demikianlah semua penderitaan ini sirna.”

Setelah mendengar penjelasan Buddha, Bhante Kacchayana tercerahkan, terbebaskan dari penderitaan. Bhante Kacchayana telah meletakkan semua simpul internal kemudian mencapai kesucian Arahat.

Samyukta Agama 301

Sutra Empat Jenis Makanan

Sutra Empat Jenis Makanan

Inilah yang saya dengar, suatu hari, saat Buddha sedang berada di Wihara Anathapindika, di Hutan Jeta dekat kota Shravasti. Hari itu, Buddha memberitahu para bhiksu: “Ada empat jenis makanan yang memungkinkan makhluk hidup bertumbuh serta mempertahankan kehidupan. Apakah keempat jenis makanan tersebut? Pertama adalah makanan jasmani, kedua adalah makanan bagi persepsi, ketiga adalah makanan bagi kehendak, dan keempat adalah makanan bagi kesadaran.”

“Oh bhikkhu, bagaimanakah seorang praktisi seharusnya memandang makanan jasmani? Imajinasikan sepasang suami istri muda yang memiliki bayi laki-laki, yang mereka jaga serta besarkan dengan sepenuh kasih. Mereka harus melewati kesulitan dan bahaya di padang pasir. Selama perjalanan, mereka kehabisan bekal serta sangat kelaparan. Tidak ada jalan keluar, dan mereka mendiskusikan rencana berikut: ‘Kita hanya memiliki satu anak yang sangat kita kasihi sepenuh hati. Jika kita memakan dagingnya, maka kita akan bertahan hidup, serta bisa berjuang untuk mengatasi situasi berbahaya ini. Jika tidak memakan dagingnya, maka kita bertiga semuanya akan mati.’ Setelah melakukan diskusi itu, mereka membunuh bayinya, dengan air mata kepedihan serta gemertak gigi, mereka memakan daging bayi lelakinya, hanya demi bisa hidup serta menembus padang pasir.”

Buddha bertanya: “Apakah menurut kalian, pasangan tersebut memakan daging anaknya karena ingin menikmati kelezatannya, juga karena ingin agar tubuh mereka mendapatkan makanan yang akan membuatnya lebih rupawan?”

Para bhiksu menjawab: “Tidak, Yang Mulia.”

Buddha bertanya: “Apakah kedua pasangan tersebut terpaksa memakan daging anaknya, demi bertahan hidup serta selamat dari bahaya padang pasir?”

Para bhiksu menjawab: “Ya, Yang Mulia.”

Buddha mengajarkan: “Oh bhikkhu, setiap kali kita mencerna makanan jasmani, kita harus melatih diri untuk memandangnya seolah [sedang memakan] daging anak kita. Jika memeditasikannya dengan cara seperti ini, maka kita akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan jasmani, serta kemelekatan terhadap kenikmatan-kenikmatan indrawi akan melenyap. Begitu kemelekatan terhadap kenikmatan-kenikmatan indrawi sudah tertransformasi, maka tidak akan ada lagi formasi-formasi internal sehubungan dengan kelima obyek kenikmatan indrawi, pada para siswa-suci [sekkha; orang-orang suci yang sedang belajar] yang mendedikasikan dirinya untuk latihan dan praktik. Ketika formasi-formasi internal masih mengikat kita, maka kita akan harus terus kembali ke dunia ini.”

“Bagaimana seharusnya seorang praktisi memeditasikan makanan bagi persepsi? Imajinasikan seekor sapi yang kehilangan kulitnya. Kemanapun pergi, serangga serta belatung yang hidup di tanah, debu, dan pada tanaman, akan menempel ke sapi tadi serta menghisap darahnya. Jika sapi tadi berbaring di tanah, maka belatung di tanah akan melekat padanya serta menggerogotinya. Baik ketika berbaring maupun berjalan, sapi tadi akan terganggu dan menderita kepedihan. Saat sedang mencerna makanan bagi persepsi, kalian seharusnya berpraktik untuk melihatnya dengan cara ini. Kalian akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman, yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan bagi persepsi. Ketika memiliki pandangan-jernih ini, maka kalian tidak akan lagi melekat pada ketiga jenis perasaan. Ketika sudah tidak lagi melekat pda ketiga jenis perasaan, maka para siswa-suci tidak perlu lagi berjuang-keras, karena apa pun yang perlu dilaksanakan sudahlah terlaksana.”

“Bagaimana seharusnya seorang praktisi memeditasikan makanan bagi kehendak? Imajinasikan ada sebuah perkampungan atau kota besar di samping lubang tungku arang. Hanya tersisa bara api hangat tanpa asap. Sekarang, ada pria cerdik yang memiliki kebijaksanaan memadai, yang tidak ingin menderita serta hanya menginginkan kebahagiaan dan kedamaian. Dia tidak ingin mati, dia hanya ingin hidup. Dia pikir: “Di sana panasnya sangat tinggi, meskipun tidak ada asap dan api. Namun tetaplah, jika aku harus masuk ke dalam tungku itu, tidak diragukan lagi aku pastilah mati.” Mengetahui hal tersebut, dengan mantap dia meninggalkan kota besar atau perkampungan itu, serta pergi ke tempat lain. Praktisi harus bermeditasi seperti ini berkenaan makanan bagi kehendak. Dengan bermeditasi seperti ini, dia akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman, yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan bagi kehendak. Ketika mencapai pemahaman ini, maka ketiga jenis nafsu akan berakhir. Saat ketiga jenis nafsu berakhir, maka siswa-mulia yang berlatih serta berpraktik, tidak akan lagi memiliki apa pun untuk dilaksanakan, karena apa pun yang perlu dilaksanakan sudahlah terlaksana.”

“Bagaimana seharusnya seorang praktisi memeditasikan makanan bagi kesadaran? Imajinasikan para prajurit raja telah menangkap seorang penjahat. Mereka mengikat serta membawa penjahat tersebut ke hadapan raja. Karena sudah melakukan pencurian, maka dihukum dengan menusuk tubuhnya menggunakan tiga ratus pisau. Dia didera ketakutan dan kepedihan sepanjang siang dan sepanjang malam.

Praktisi harus memandang makanan bagi kesadaran dengan cara ini. Jika dia melakukannya, maka dia akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman, yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan bagi kesadaran. Ketika memiliki pemahaman seperti ini berkenaan makanan bagi kesadaran, maka para siswa-suci yang berlatih serta berpraktik, tidak akan perlu lagi untuk berjuang-keras, karena apa pun yang perlu dilaksanakan sudahlah terlaksana.”

Begitu Buddha selesai berbicara, para bhiksu dengan sangat berbahagia menghadirkan ajaran-ajaran ini ke dalam praktik.

Samyukta Agama, Sutra 373* 「雜阿含經 三七三,子肉

Sutra Lima Cara Memadamkan Api Kemarahan

Sutra Lima Cara Memadamkan Api Kemarahan

Suatu ketika aku mendengar kata-kata ini dari Buddha ketika Beliau sedang menetap di Wihara Anathapindika, di Hutan Jeta daerah Shrawasti.

Suatu hari Bhante Shariputra berkata kepada para biksu, “Sahabatku, hari ini saya ingin menyampaikan kepada Anda semua tentang lima cara memadamkan api kemarahan. Mohon dengarkan dan praktikkanlah dengan sepenuh hati.”

Para biksu menjawab iya dan mendengarkan dengan sepenuh hati.

Bhante Shariputra lalu berkata, “Apakah lima cara memadamkan api kemarahan itu?”

“Cara pertama. Sahabatku yang bijaksana, jika ada seseorang yang tindakannya tak baik namun ucapannya baik, jika kamu marah kepadanya, maka kamu akan tahu bagaimana cara memeditasikannya agar dapat mengakhiri kemarahanmu”

“Sahabatku, seandainya ada seorang biksu yang mempraktikkan pertapaan yang hanya memakai jubah sederhana yang ditambal sulam. Suatu hari ia bepergian keluar dan melihat ada sebuah wadah penuh sampah berisi tinja, urin, lendir, dan banyak kotoran lain, dan dia melihat di situ ada sehelai kain yang masih utuh. Dengan menggunakan tangan kirinya, dia mengambil sehelai kain itu, dan kemudian dengan menggunakan tangan kanan ia memegang dan merentangkannya. Ia mengamati bahwa potongan kain itu tidak robek dan tidak ternoda oleh tinja, urin, lendir, atau kotoran-kotoran lainnya. Jadi, ia melipat dan menyimpannya untuk dibawa pulang, dicuci, dan menjahitnya menjadi bagian dari jubah luarnya. Sahabat-sahabatku, jika kita bisa bersikap bijaksana, ketika seseorang yang tindakannya tak baik tetapi ucapannya baik, kita seharusnya tidak menaruh perhatian pada tindakannya tetapi hanya memperhatikan ucapannya. Hal ini akan membantu memadamkan api kemarahan.

“Sahabatku yang bijaksana, inilah cara kedua. Jika kamu terpancing marah oleh seseorang yang ucapannya tak baik tetapi tindakannya baik, maka kamu akan mengetahui bagaimana memeditasikannya agar dapat mengakhiri kemarahanmu.

“Sahabatku, andaikan saja tidak jauh dari desa ini ada sebuah danau yang dalam dan permukaannya tertutup alga dan rumput. Ada seseorang yang kehausan, menderita kepanasan, datang mendekati danau tersebut. Dia menanggalkan pakaiannya, melompat ke dalam danau itu dan menggunakan tangannya untuk menyingkirkan alga dan rumput, menikmati mandi sembari meminum air segar. Demikian juga, sahabatku, sama halnya dengan seseorang yang ucapannya tak baik tetapi tindakannya baik. Jangan menaruh perhatian pada ucapannya. Tetapi menaruh perhatian pada tindakannya yang baik akan bisa memadamkan api kemarahanmu. Orang bijak seharusnya mempraktikkan cara ini.

“Ini adalah cara ketiga, sahabatku yang bijaksana. Jika ada seseorang yang tindakan dan ucapannya tidak baik tetapi dia masih memiliki sedikit kebaikan di hatinya seandainya kamu marah kepadanya, maka kamu akan tahu bagaimana memeditasikannya untuk mengakhiri kemarahanmu.

“Sahabatku, seandainya ada seseorang tiba di persimpangan jalan. Dia lemah, kehausan, miskin, kepanasan, tertekan, dan dipenuhi dengan penderitaan. Ketika dia tiba di persimpangan, dia melihat jejak kaki seekor banteng dengan sedikit genangan air hujan di dalamnya. Dia berpikir, “Ada secuil air di dalam jejak kaki banteng. Jika aku menggunakan tanganku atau daun untuk menciduk air itu, aku bisa saja dengan tidak sengaja mengaduk air tersebut, maka air itu akan keruh dan tidak dapat diminum lagi. Oleh sebab itu, aku harus berlutut dan merebahkan tangan di atas tanah, menyentuhkan bibir ke air itu dan langsung meminumnya. Seketika itu dia melakukannya. Sahabatku, ketika kamu melihat seseorang yang tindakan dan ucapannya tidak baik, tetapi masih ada sedikit kebaikan hati, jangan menaruh perhatian pada tindakan dan ucapannya, tetapi perhatikanlah kebaikan yang sedikit itu sehingga kamu bisa memadamkan api kemarahanmu. Orang bijak seharusnya mempraktikkan cara ini.

“Ini adalah cara keempat, Sahabatku yang bijaksana. Jika ada seseorang yang tindakan dan ucapannya tidak baik, juga di dalam hatinya tidak ada kebaikan walaupun hanya sedikit, kamu marah kepadanya, apabila kamu cukup bijaksana, maka kamu akan tahu bagaimana memeditasikannya untuk memadamkan api kemarahanmu.

“Sahabatku, andaikan ada seseorang jatuh sakit dalam perjalanan. Dia sendirian, kelelahan, dan tidak ada desa di sekitarnya. Dia akan putus asa, mengetahui dia akan segera mati sebelum dapat menuntaskan perjalanannya. Jika saat itu, ada seseorang datang dari jauh dan melihat keadaan laki-laki tersebut, dia segera memapahnya dan membimbingnya menuju desa terdekat, di mana dia dapat merawat, mengobati, dan memastikan bahwa dia mendapatkan segala hal yang dibutuhkan, dari pakaian, obat-obatan, dan makanan. Berkat belas kasih dan welas asih, hidup laki-laki tersebut terselamatkan. Jadi Sahabatku, ketika engkau melihat seseorang yang ucapan dan tindakannya tidak baik, dan di dalam hatinya tidak ada kebaikan walaupun hanya sedikit, munculkan pikiran: ‘Seseorang yang ucapan dan tindakannya tidak baik dan di dalam hatinya tidak ada kebaikan walaupun hanya sedikit, sesungguhnya dia adalah orang yang benar-benar menderita. Kecuali ia bertemu sahabat spiritual yang baik, jika tidak, maka tak ada kesempatan baginya untuk bertransformasi dan merealisasikan kebahagiaan.’ Membangkitkan pola pikiran demikian, engkau akan mampu membuka pintu hatimu dengan cinta dan belas kasih terhadap orang tersebut. Engkau akan mampu memadamkan api kemarahanmu dan menolongnya. Orang bijak seharusnya mempraktikkan cara ini.

“Sahabatku yang bijaksana, inilah cara kelima. Jika ada seseorang yang tindakan, ucapan, dan pikirannya baik, lalu kamu marah kepadanya, maka kamu akan tahu bagaimana cara memeditasikannya untuk memadamkan api kemarahanmu.

“Sahabatku, seandainya tidak jauh dari desa ada sebuah danau yang sangat indah. Air di danau tersebut sangat jernih dan manis, dasar danau itu datar, pinggiran danau banyak tumbuh rumput hijau, dan di sekeliling pohon-pohon segar dan indah menaunginya. Seseorang yang kehausan, menderita karena kepanasan, yang tubuhnya penuh dengan peluh, datang ke danau tersebut, menanggalkan pakaiannya lalu melompat ke air, dan ia merasakan kenyamanan dan menikmati minum dan mandi di air jernih. Panas, haus, dan derita tiba-tiba lenyap. Sama halnya, sahabatku, ketika engkau melihat seseorang yang tindakan, ucapan, dan pikirannya baik, berikan perhatianmu terhadap semua kebaikan tubuh, ucapan, dan pikiran, dan jangan biarkan kemarahan dan keirihatian menyelimutimu. Jika engkau tidak tahu bagaimana hidup bahagia dengan seseorang yang segar seperti yang dijelaskan di atas, engkau tidak patut disebut orang bijaksana.

“Sahabatku terkasih, saya telah menyampaikan tentang lima cara memadamkan api kemarahan.”
Ketika para biksu selesai mendengar nasihat Bhante Shariputra, mereka berbahagia, menerimanya, dan mempraktikkannya.

Madhyama Agama 25
Sesuai dengan Aghata Winaya Sutta
[Ceramah Tentang Air Sebagai Contoh], Anguttara Nikaya 5.162

Sutra Mengetahui Cara Baik Untuk Hidup Sendirian

Sutra Mengetahui Cara Baik Untuk Hidup Sendirian

Aku mendengar sabda ini dari Buddha, suatu ketika beliau tinggal di Wihara Hutan Jeta di kota Sawatthi. Beliau mengundang semua biksu datang dan memberikan petunjuk
“Para biksu”
Dan kemudian para biksu menjawab, “Ya kami sudah hadir di sini”

Buddha menyampaikan, “Saya akan menjelaskan makna dari “mengetahui cara baik untuk hidup sendirian.” Saya akan mulai dengan garis-garis besarnya, dan saya akan memberikan penjelasan mendetail kemudian. Biksu mohon dengarkanlah secara seksama”

“Buddha, kami sudah siap”

Buddha bersabda:
“Jangan mengejar masa lalu
Jangan terhanyut oleh masa depan
Masa lalu sudah pergi
Masa depan belum juga tiba
Menatap secara mendalam atas kehidupan sebagaimana adanya
Di saat ini dan di sini,
Praktisi bersemayam
Dalam stabilitas dan kebebasan.
Hari ini kita harus rajin.
Jangan menunggu sampai besok, karena terlambat sudah
Kematian datang secara mendadak
Bagaimana engkau bisa tawar-menawar degannya?
Para orang suci menyebut mereka yang
Bersemayam dengan penuh kesadaran
Siang dan malam adalah
Mereka yang tahu cara baik untuk hidup sendirian.’

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘Mengejar masa lalu’? Ketika seseorang memikirkan bahwa demikianlah bentuk badan jasmani pada masa lalu, demikianlah perasaan pada masa lalu, demikianlah persepsi pada masa lalu, demikianlah bentuk-bentuk mental pada masa lalu, demikianlah kesadaran pada masa lalu, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya terbebani dan melekat pada hal-hal yang telah terjadi pada masa lalu, maka orang tersebut sedang mengejar masa lalu”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘tidak mengejar masa lalu’? Ketika seseorang memikirkan bahwa demikianlah bentuk badan jasmani pada masa lalu, demikianlah perasaan pada masa lalu, demikianlah persepsi pada masa lalu, demikianlah bentuk-bentuk mental pada masa lalu, demikianlah kesadaran pada masa lalu, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya tidak diperbudak oleh kemelekatan dan juga tidak melekat pada hal-hal yang telah terjadi pada masa lalu, maka orang tersebut tidak mengejar masa lalu”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘terhanyut oleh masa depan’? Ketika seseorang memikirkan seperti apa bentuk badan jasmani di masa depan, memikirkan seperti apa perasaan di masa depan, memikirkan seperti apa persepsi di masa depan, memikirkan seperti apa bentuk-bentuk mental di masa depan, memikirkan seperti apa kesadaran di masa depan, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya terbebani dan melamun akan hal-hal di masa depan, maka orang tersebut terhanyut oleh masa depan”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘tidak terhanyut oleh masa depan’? Ketika seseorang memikirkan seperti apa bentuk badan jasmaninya di masa depan, memikirkan seperti apa perasaannya di masa depan, memikirkan seperti apa persepsinya di masa depan, memikirkan seperti apa bentuk-bentuk mentalnya di masa depan, memikirkan seperti apa kesadarannya di masa depan, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya tidak terbebani dan tidak melamun akan hal-hal di masa depan, maka orang tersebut tidak terhanyut oleh masa depan”

“Para biksu, apa yang dimaksud ‘terlena jauh oleh masa kini’? ketika seseorang tidak studi atau tidak belajar sesuatu tentang Buddha, atau ajaran tentang cinta kasih dan pengertian, atau komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan kesadaran, ketika orang tesebut tidak tahu apa pun tentang guru mulia dan ajaran-ajarannya, dan tidak berlatih ajarannya, kemudian dia merasa bahwa ‘badan jasmani ini adalah diriku; diriku adalah jasmani ini, perasaan ini adalah diriku; diriku adalah perasaan ini. Persepsi ini adalah diriku, diriku adalah persepsi ini. Bentuk-bentuk mental ini adalah diriku, diriku adalah bentuk-bentuk mental ini. Kesadaran ini adalah diriku, diriku adalah kesadaran’ maka orang tersebut sedang terlena jauh oleh masa kini.’

“Para biksu, apa yang dimaksud ‘tidak terlena jauh oleh masa kini’? ketika seseorang studi atau belajar sesuatu tentang dia yang telah tercerahkan, atau ajaran tentang cinta kasih dan pengertian, atau komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan kesadaran, ketika orang tesebut tidak tahu apa pun tentang guru mulia dan ajaran-ajarannya, dan tidak berlatih ajarannya, kemudian dia tidak merasa bahwa ‘badan jasmani ini adalah diriku; diriku adalah jasmani ini, perasaan ini adalah diriku; diriku adalah perasaan ini. Persepsi ini adalah diriku, diriku adalah persepsi ini. Bentuk-bentuk mental ini adalah diriku, diriku adalah bentuk-bentuk mental ini. Kesadaran ini adalah diriku, diriku adalah kesadaran’ maka orang tersebut tidak terlena jauh oleh masa kini.

“Para biksu, saya telah menyampaikan garis-garis besar dan penjelasan detail tentang bagaimana cara baik hidup sendirian.”

Demikianlah yang diajarkan oleh Buddha, dan para biksu dengan senang hati menerapkan ajaran.

Bhaddekaratta Sutta, Majjhima Nikaya 131

Sutra Kebahagiaan

Sutra Kebahagiaan

AKU MENDENGAR SABDA INI dari Buddha suatu ketika di saat Yang Agung sedang berdiam di sekitar Sravasthi di Wihara Ananthapindika di Hutan Jeta. Di larut malam, seorang dewa muncul dengan cahaya dan keindahannya menerangi seluruh Hutan Jeta. Setelah memberi hormat kepada Buddha, sang dewa menanyakan sebuah pertanyaan kepada Beliau dalam bentuk syair:

“Banyak dewa dan manusia ingin sekali mengetahui apakah berkah tertinggi yang membawa kehidupan damai dan bahagia. Mohon, Tathagata, sudikah Engkau mengajarkan kami?”

(Berikut ini jawaban dari Buddha):

“Tidak bergaul dengan orang dungu,
Hidup bersama dengan para bijaksana,
Menghormati mereka yang patut dihormati—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Hidup dalam lingkungan yang baik,
Menanam benih-benih yang baik
Dan menyadari bahwa anda berada di jalan yang tepat—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Mendapat kesempatan untuk belajar dan berkembang,
Terampil dalam profesimu atau keahlianmu,
berlatih sila dan berucap penuh cinta kasih—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Berkesempatan untuk melayani dan menyokong orang tuamu,
Menghargai keluargamu sendiri,
Memiliki pekerjaan yang membuatmu riang gembira—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Hidup jujur, murah hati dalam memberi,
Memberikan sokongan kepada sanak keluarga dan teman-teman,
Menjalankan kehidupan dengan tingkah-laku yang tidak tercela—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Menghindari tindakan-tindakan yang tidak bajik,
Tidak terjerat dalam minuman memabukkan dan obat-obatan berbahaya,
Dan rajin dalam melakukan hal-hal yang baik—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Rendah hati dan berkelakuan sopan,
Bersyukur dan puas dengan kehidupan sederhana,
Tidak melewatkan kesempatan untuk belajar Dharma—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Gigih dan terbuka untuk perubahan,
Tetap menjalin hubungan baik dengan para biksu dan biksuni,
Dan sungguh-sungguh berpartisipasi dalam diskusi Dharma—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Hidup dengan rajin dan penuh perhatian,
Memahami Empat Kebenaran Mulia,
Dan merealisasi nirvana—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Hidup di dunia
Dengan hatimu yang tidak terganggu oleh dunia,
Dengan semua kesedihan berakhir, berdiam dalam kedamaian—
Inilah kebahagiaan tertinggi.

“Bagi orang yang menyempurnakan ini,
Tidak terkalahkan di mana pun dia pergi;
Dia selalu aman dan bahagia—
Kebahagiaan selalu hadir di dalam dirinya.”

Stick Exercise Illustration

Stick Exercise Illustration

01: Opening to the sky

02: Looking at the earth

03: Twisting left and right

04: From left to right, from up to down

05: Kicking towards the sky

06: Kicking left and right

07: Worshiping the sun

08: Worshiping the earth

09: Watching the half moon

10: The bird flying

11: Looking back at the heel

12: Tortoise plays with magic sword

13: Stimulating the organs

14: Farmer working the paddy field

15: Moving all your body

16: Rowing to the other shore

Illustrator: Roy Tok

Versi Video bisa dilihat di sini

Sutra Cinta Kasih

Sutra Cinta Kasih

Ini yang harus dikerjakan oleh dia yang terampil
dalam kebaikan untuk mencapai ketenangan
harus mampu, jujur, sungguh jujur ikhlas,
lemah lembut, tiada sombong

Merasa puas dan mudah dilayani
tidak sibuk berlebihan dan hidup sederhana
tenang indranya dan waskita
rendah hati, tidak melekat pada keluarga

Tak berbuat kesalahan barang sekecil apa pun
yang dapat dicela oleh orang bijaksana
semoga kita bahagia dan sentosa
semoga semua makhluk berbahagia

Makhluk hidup apa pun juga
yang bergerak dan tidak bergerak, tanpa kecuali
yang panjang atau gemuk
yang sedang, pendek, kecil, atau besar

Yang terlihat atau yang tak terlihat
yang jauh atau yang dekat
yang telah lahir atau yang akan dilahirkan
semoga semua makhluk berbahagia

Tidak menipu orang lain
tidak menghina siapa saja di mana saja
jangan karena marah dan benci
mengharapkan orang lain celaka

Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan jiwanya
melindungi anaknya yang tunggal
demikianlah terhadap semua makhluk
cinta kasih dalam pikiran dipancarkan tanpa batas

Cinta kasih ke segenap alam semesta
dalam pikiran dipancarkan tanpa batas
ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling
tanpa rintangan, tanpa kebencian dan permusuhan

Selagi berdiri, berjalan, atau duduk
atau berbaring selama tiada lelap
dia tekun mengembangkan perhatian penuh kesadaran ini
yang disebut Kediaman Luhur

Tidak tergelincir pada pandangan yang keliru
dengan sila dan pandangan yang sempurna
setelah melepaskan kemelekatan nafsu indra
dia tidak akan pernah kembali lagi ke dalam rahim.

(GENTA 2x)

Metta Sutta

Ordo Interbeing

Ordo Interbeing

Ordo Interbeing 接現 (Viet: Tiếp Hiện, Pinyin: Jiē xiàn) merupakan komunitas monastik dan praktisi awam yang berkomitmen untuk hidup sesuai dengan 14 Latihan Sadar Penuh. Latihan ini merupakan ajaran bodhisatwa dari tradisi Mahayana.

Ordo Interbeing dibentuk pada tahun 1966 oleh Zen Master Thich Nhat Hanh (yang akrab disapa Thay) di Saigon. Ordo ini merupakan silsilah dari Linji, tradisi praktik meditasi yang mengetengahkan empat semangat utama yaitu:

  1. Non kemelekatan terhadap pandangan,
  2. Menyelami secara nyata sifat kesaling ketergantungan melalui meditasi,
  3. kesesuaian, dan
  4. upaya kausalya.

Pada tanggal 5 Februari 1966, ordo ini lahir dengan 6 anggota, mereka merupakan sahabat dan murid dari Thay yang bekerja sama untuk mengurangi penderitaan akibat perang melalui The School of Youth for Social Service. Dengan bergabung dalam ordo ini mereka mencurahkan hidupnya untuk praktik sadar penuh (mindfulness), etika, dan aksi welas asih dalam masyarakat.

Thay terdesak diasingkan karena perang di Vietnam, maka selama 15 tahun berikutnya tidak ada anggota baru dari Ordo Interbeing. Mulai pada tahun 1981, Thay mengundang beberapa murid monastik yang belajar dan praktik di dunia barat. Sejak 2006, ordo ini telah berkembang luas sekitar 1000an praktisi awam dan 250an monastik yang berada di luar Vietnam.

Pada tahun 2005, Thay pertama kali kembali ke Vietnam setelah diasingkan selama 39 tahun, beliau mentransmisikan 14 Latihan Sadar Penuh kepada praktisi serius dari Vietnam. Pusat latihan juga telah dibangun, Ordo ini berkembang pesat di Vietnam termasuk ratusan monastik dan praktisi awam.

Ordo Interbeing dibentuk oleh Zen Master Thich Nhat Hanh pada tahun 1960an, pada saat itu perang Vietnam sedang berkecamuk, pada saat itu ajaran Buddha sangat dibutuhkan untuk menjadi penawar kebencian, kekerasan, dan politik pecah belah yang sedang melanda negeri itu. Pada bulan purnama Februari 1966, Zen Master Thich Nhat Hanh menahbiskan 6 anggota baru masuk menjadi bagian dari Ordo tersebut, 3 pria dan 3 wanita usia mereka berkisar 22 s.d. 32. Mereka ber-enam merupakan anggota dari Youth for Social Service yang telah terbentuk pada setahun sebelumnya.

Sejak pembentukannya, Ordo Interbeing mencakup 4 lapisan kategori komunitas buddhis (Sangha), yaitu biksu dan biksuni, upasaka dan upasika. Dari 6 orang anggota pertama, 3 orang wanita memilih untuk hidup selibat seperti biksuni walaupun mereka tidak mencukur rambut atau mengambil sila biksuni. Tiga orang pria memilih untuk menikah dan praktik sebagai perumah tangga.

Penahbisan itu merupakan perayaan yang luar biasa. Setiap anggota memperoleh pelita yang memiliki tudung buatan Bhante Thich Nhat Hanh sendiri, juga ada kaligrafi dalam tulisan mandarin “Lamp of Wisdom”, “Lamp of the Full Moon” dan “Lamp of the World”. Pada seremoni itu, enam anggota pertama bertekad untuk belajar, berlatih, dan melaksanakan 14 latihan sadar penuh dari Ordo Interbeing, yang merupakan campuran dari moralitas tradisional buddhis dan hal berkaitan dengan isu sosial kontemporer.

Ordo Interbeing Indonesia

Ordo Interbeing Indonesia terbentuk pada 12 Januari 2010 ditandai dengan Yang Mulia Bhante Dharmavimala Mahathera dan Samanera Nyanabhadra (sekarang Biksu Nyanabhadra atau Br. Pháp Tử) menerima 14 Latihan Sadar Penuh langsung dari Master Zen Thich Nhat Hanh di Upper Hamlet.

Pada 2 Oktober 2010 di Kinasih Resort, Sukabumi. Sebanyak 13 orang yang menerima transmisi 14 Latihan sadar Penuh.

Diantaranya 6 monastik yang terdiri:

  1. Biksu Nyanagupta,
  2. Biksu Bhadraputra (saat ini Bhadravajra),
  3. Biksu Bhadravidya (telah kembali menjadi umat biasa),
  4. Biksu Bhadrajyoti,
  5. Biksuni Bhadrasatyani,
  6. Biksu Bhadrautama (telah kembali menjadi umat biasa).

Ada 7 umat perumah tangga yaitu

  1. Rohana,
  2. Liana,
  3. Kshantica,
  4. Ellyana,
  5. Yuliana,
  6. Jenny, dan
  7. Suryati (saat ini Sr. Tin Yeu).
Seremoni transmisi 14 Latihan Sadar Penuh pada 2 Oktober 2010 di Kinasih Resort, Sukabumi.